[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Astaga! Awal Yang sulit!
Di sebuah lorong sempit kota metropolitan yang sesak pada abad ke-21, Agus berlari dengan napas yang memburu, mencoba melepaskan diri dari kejaran tiga pria berstelan hitam yang memiliki dedikasi luar biasa dalam hal penagihan finansial.
"Agus! Hentikan langkahmu! Kewajiban atas pinjaman daring yang dilakukan rekanmu, Budi, kini telah beralih sepenuhnya ke pundakmu!" teriak salah satu penagih utang sembari melambaikan dokumen tagihan yang bunganya telah membubung tinggi melampaui logika akal sehat.
"Tuan-tuan yang terhormat, saya bersumpah demi langit dan bumi! Identitas saya disalahgunakan oleh Budi hanya untuk membeli aset digital di dalam gim dan mencicil kendaraan bermotor!" balas Agus sembari terengah-engah, nyaris tersungkur akibat tumpukan sampah.
"Keadaan ekonomi saya bahkan tidak memungkinkan untuk mengonsumsi makanan layak setiap akhir bulan!"
"Kami tidak menerima retorika! Jika hari ini pelunasan tidak dilakukan, maka organ tubuhmu akan menjadi jaminan yang sah secara sepihak!"
Agus menoleh ke belakang dengan penuh kengerian, menyadari salah satu dari mereka mengejarnya sembari membawa mesin EDC portabel, sebuah profesionalisme yang sangat mengintimidasi.
"Sungguh tidak ada berprikemanusiaan!"
Namun, fokusnya yang teralihkan membuatnya abai terhadap persampangan jalan besar di hadapannya.
Suara klakson truk kontainer bervolume berat memecah udara. Telolet... Telolet....
"Ditagih oleh perusahaan pinjaman daring jauh lebih baik daripada harus mengakhiri hidupku di bawah roda besi ini," itulah pemikiran terakhir Agus sebelum hantaman keras merenggut seluruh kesadarannya.
Dingin. Aroma jerami lembap dan kotoran ternak merasuki indra penciumannya yang baru saja pulih.
Simon Blake. perlahan membuka kelopak matanya. Sepasang mata merah menyala miliknya berpendar tipis di dalam kegelapan gubuk kayu yang reyot.
"Ha? Dimana ini? Aduhh!"
Ia terdiam sejenak memegang kepalanya, mencerna arus memori asing yang membanjiri benaknya: ia kini berada di Benua Varent, berusia 16 tahun, dan menyandang status paling hina sebagai budak paksa di sebuah benteng bandit!
"Sialan..." Simon mengumpat dengan nada rendah sembari menatap rantai besi yang membelenggu tungkai kakinya.
"Mengapa fenomena reinkarnasi ini begitu diskriminatif? Berdasarkan novel fiksi yang saya baca, seharusnya saya bangkit sebagai pangeran atau setidaknya putra bangsawan yang memiliki pengaruh.
Namun, realitas justru menempatkan saya sebagai budak yang harus berebut sisa makanan dengan anjing penjaga!".
"HOI, BUDAK TAMPAN! BERHENTI BERHALUSINASI!"
BRAK!
Pintu gubuk dihantam hingga terbuka. Seorang bandit dengan wajah penuh jaringan parut permanen berdiri di ambang pintu sembari mengayunkan cambuk kulit.
"Apa yang kau renungkan? Ingin melarikan diri?" bentak bandit tersebut sembari melangkah masuk. Ia berhenti tepat di depan Simon, lalu tiba-tiba mencengkeram dagu Simon dengan kasar, memaksa pemuda itu untuk menatapnya.
Tatapan bandit itu berubah dari amarah menjadi kilatan nafsu yang menjijikkan saat ia memperhatikan wajah tampan Simon yang luar biasa.
"Ckckck... dipikir-pikir, wajahmu ini terlalu berharga untuk sekadar mengangkut kayu. Bagaimana kalau malam ini kau melayaniku saja di kamar?"
Simon membeku.
'Brengsek! Orang ini gay!'
"Tidak bos, saya hanya baru bangun dari tidur, dan kesadaran saya belum sepenuhnya pulih" kata Simon.
Rasa dingin yang berbeda menjalar di punggungnya. Ia merasakan ketakutan yang begitu hebat hingga matanya berkaca-kaca, Simon ingin menangis karena merasa terhina dan terancam oleh perilaku menyimpang pria di depannya.
"Jadi begitu."
Bandit itu segera menjilat bibirnya sendiri sembari menatap Simon dari atas ke bawah dengan tatapan lapar.
"Cepat berdiri! Segera pergi ke gudang belakang dan angkut sepuluh balok kayu bakar ke dapur. Jika dalam waktu satu jam instruksi ini tidak terpenuhi, maka aku akan memberikan 'hukuman spesial' padamu di atas ranjangku malam ini. Paham?!"
Setelah memberikan satu usapan kasar pada pipi Simon yang membuat pemuda itu bergidik ngeri, bandit itu melangkah pergi dengan tawa mesum yang menggema.
"Oh tuhan! Dosa macam apa yang sudah kulakukan hingga kau mengirim ku ketempat seperti ini?." Ucap Simon
Begitu Simon sendirian, sebuah getaran halus muncul di dasar kesadarannya. Tanpa suara, sebuah panel transparan berwarna biru muda termanifestasi di depan pandangannya.
[ SISTEM KEMAHIRAN AKTIF ]
Nama: Simon Blake
Usia: 16 tahun
Pekerjaan: Budak bandit?
Keterampilan: tidak ada
Sepasang mata merah Simon yang tadinya basah kini berbinar penuh antusiasme yang tertahan.
"Ini adalah instrumen keberuntungan saya," batin Simon sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Meskipun tanpa bantuan instan, selama saya dapat memantau setiap kemajuan latihan secara presisi, saya akan merombak takdir saya di dunia yang biadab ini.
Tunggulah, suatu saat nanti, seluruh ksatria di benua ini akan bersujud di hadapan saya!".
Simon segera melangkah keluar dengan semangat baru untuk menyelesaikan tugasnya sesegera mungkin sambil juga memikirkan cara dia keluar dari sini.
Namun, tepat saat ia hendak memanggul balok kayu pertama, getaran hebat mengguncang fondasi tanah di bawah kakinya.
BUM!
Ledakan dahsyat mengguncang benteng bandit tersebut. Dari kejauhan, di bawah siraman cahaya rembulan, terlihat barisan kavaleri bersenjata lengkap dengan panji bergambar singa mengaum yang berkibar dengan gagahnya.
"SERANG! HANCURKAN SARANG KRIMINAL INI TANPA SISA! JANGAN BERIKAN TOLERANSI KEPADA SIAPA PUN!"
Teriakan pasukan Baron Wilde memecah keheningan malam. Para bandit yang sebelumnya sedang dalam keadaan tidak siaga mendadak kocar-kacir.
Api mulai melahap bangunan kayu di sekeliling Simon. Ia berdiri tegak di tengah kekacauan, sementara mata merah menyalanya menatap tajam ke arah pasukan Baron yang semakin mendekat dengan pedang terhunus...
Suasana di dalam benteng bandit berubah menjadi neraka dalam hitungan menit.
Simon Blake berdiri di tengah kepanikan, mengamati sekelilingnya dengan mata merah menyala yang tajam.
Para bandit yang biasanya berlagak tangguh kini tampak seperti tikus yang terjebak di dalam lubang yang terbakar.
"Sial! Itu pasukan kavaleri lapis baja Baron Wilde! Kita tidak punya peluang!" teriak salah satu bandit sambil menjatuhkan pedang berkaratnya.
"Lihat zirah perak itu... pedang kita bahkan tidak akan meninggalkan goresan! Kita tamat!" sahut yang lain dengan suara bergetar ketakutan, wajahnya pucat pasi tertimpa cahaya api yang melahap bangunan kayu.
Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah derap langkah berat terdengar. Sosok pria bertubuh kekar dengan bekas luka yang membelah wajahnya muncul.
Itulah sang ketua bandit, Scarface!
Berbeda dengan anak buahnya, ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sebagai seorang Magang Ksatria Tingkat 2, keberadaannya memberikan sedikit harapan bagi para kriminal itu.
"Berhenti merengek seperti pelacur!" bentak Scarface sembari menghunus pedang besarnya.
"Ingat siapa yang memberi kalian makan selama ini! Ambil senjata kalian atau aku sendiri yang akan memenggal kepala kalian sebelum pasukan Baron melakukannya!".
Melihat pemimpin mereka tetap tenang, para bandit mulai memungut senjata mereka kembali dengan tangan gemetar.
Scarface kemudian mengalihkan pandangannya ke gerbang benteng yang baru saja dijebol, di mana seorang ksatria dengan jubah biru tua berkibar berdiri di atas kuda perangnya.
"Ksatria Edward... pahlawan kebanggaan Baron Wilde," Scarface menyeringai licik, menjilat bibirnya yang kering.
"Aku selalu penasaran, apakah kekuatan Ksatria resmi sepertimu hanya bualan para penyair kedai, atau kau memang layak menjadi lawanku?".
Ksatria Edward menatap rendah ke arah Scarface dari atas pelananya, suaranya terdengar dingin dan penuh otoritas.
"Bandit rendahan yang bahkan belum memadatkan Benih Kehidupan berani menantangku? Kematianmu akan menjadi pesan bagi seluruh kriminal sepertimu di wilayah ini."
Tanpa banyak bicara, keduanya langsung berbenturan.
CLANG!
Suara hantaman baja mengguncang udara, memercikkan bunga api di tengah kegelapan malam.
Simon yang mengamati dari kejauhan terpaku di tempatnya. "Jadi... inikah kekuatan Ksatria?" batinnya dengan takjub.
Ia melihat bagaimana setiap ayunan pedang Edward membawa tekanan udara yang mampu membelah kayu di sekitarnya.
Ini bukan sekadar bela diri biasa, ini adalah level kekuatan yang melampaui batas manusia modern dari dunianya dulu.
Menyadari bahwa ini adalah celah yang ia butuhkan, Simon segera bergegas menuju ruang pribadi ketua bandit.
Mengandalkan ingatan dari pemilik tubuh aslinya, ia menyusup melalui koridor yang dipenuhi mayat dan asap.
Begitu sampai di ruangan yang berbau apek tersebut, ia langsung mencari di balik laci meja kayu yang kasar.
Tangannya gemetar saat menyentuh sebuah gulungan kulit domba tua yang berdebu dan sebuah kantong kecil yang terasa berat.
Inilahh Teknik pernafasan Ular Hitam!
Simon sangat senang. "Akhirnya! Dengan ini dan koin emas ini, aku bisa merubah takdirku!".
Namun, kebahagiaannya terhenti saat pintu ruangan ditendang terbuka. Seorang bandit berdiri di sana.
Itulah pria yang tadi mengancam Simon untuk tidur bersamanya ia berdiri di sana dengan nafas ngos-ngosan.
"Sialan, kenapa harus bertemu dia lagi? Apakah keberuntunganku sangat buruk?"
"Heh... budak cantik... kau mau lari membawa harta bos?" ucap bandit itu dengan suara mengoda.
Ia mencoba melangkah maju, tangannya menjilat bibirnya sendiri dengan nafsu yang menjijikkan meskipun perutnya mengucurkan darah segar akibat luka tebasan.
Simon menatapnya dengan pandangan dingin yang mematikan. Ia menyadari kondisi bandit ini sudah sangat parah, satu kakinya terseret dan ia terus memuntahkan darah.
"Matilah kau, gay sialan!" desis Simon dengan kemarahan yang tertahan.
Tanpa ragu, Simon meraih belati yang tergeletak di atas meja dan menghunjamkannya tepat ke leher bandit tersebut sebelum pria itu bisa bereaksi.
Bandit itu mencoba berteriak, namun hanya buih darah yang keluar. Ia roboh ke tanah, tewas seketika dalam kehinaan.
Simon menghela nafas lega, menyeka sisa darah di wajahnya. "Di kehidupan selanjutnya, jadilah orang normal," gumamnya datar.
Kembali ke medan perang utama, pertarungan antara Scarface dan Edward mencapai puncaknya. Awalnya, Scarface yang bertarung dengan nekat sempat mendominasi dengan kekuatan kasarnya. Namun, Ksatria Edward segera mengaktifkan Kekuatan Ksatria Formal miliknya.
Qi Pertempuran yang transparan menyelubungi pedangnya, memancarkan aura yang membuat jantung siapa pun yang melihatnya berdebar kencang.
Dalam satu gerakan kilat yang tidak bisa diikuti mata manusia, Edward menebas dada Scarface, menembus zirah kulitnya seolah-olah itu hanya kertas.
Scarface jatuh berlutut, matanya terbuka lebar penuh dendam dan keengganan untuk mati, sebelum akhirnya kepalanya terpisah dari tubuhnya.
"Bersihkan tempat ini! Jangan biarkan satu pun sampah ini tersisa!" perintah Edward kepada anak buahnya sembari menyarungkan pedangnya yang berlumuran darah.
"Baik pak!" Kata anak buahnya serempak.
Kekacauan itu tidak lagi ada hubungannya dengan Simon. Di bawah naungan bayangan hutan yang gelap di luar benteng, sosok pemuda tampan dengan sepasang mata merah itu perlahan menghilang.