NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penawaran Damai di Sudut Kafe

Lampu-lampu gantung berdesain warm white menyinari sudut-sudut kafe tempatku bekerja. Malam ini, suasana terbilang cukup lengang. Hanya ada dua atau tiga meja yang terisi di lantai dua, sementara area lantai satu benar-benar sepi. Aku berdiri di balik meja kasir seraya menyeka permukaan kayu lapis yang mengkilap dengan kain lap bersih.

Kring!

Lonceng kecil yang tergantung di atas pintu kaca depan berdentang halus, menandakan kedatangan seorang pengunjung baru.

“Selamat datang di Cafe Delights,” sapaku refleks dengan nada ramah khas pelayan, tanpa menaikkan pandangan dari meja kasir.

Namun, derap langkah kaki yang memasuki ruangan terasa amat berbeda. Langkah sepatu kulit mahal bersol tebal itu menginjak lantai keramik dengan bunyi bertempo tegas. Ketika aku mendongak, mataku membelalak heran.

Seorang pria berpostur jangkung melangkah masuk. Ia membalut tubuhnya dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana kain berpotongan tajam. Di pergelangan tangan kirinya melingkar sebuah jam tangan mewah berdesain elegan. Dan yang paling konyol, pria itu mengenakan kacamata hitam di dalam ruangan berlampu

remang pada jam delapan malam.

Pria itu menghentikan langkahnya di tengah ruangan, lalu melepas kacamata hitamnya dengan satu gerakan lambat yang sengaja dibuat dramatis.

“Varro?!” teriakku tertahan, mataku membelalak tak percaya. “Lo... lo ngapain di sini?”

Varro menyunggingkan senyum tipis yang amat santai, menyangkutkan tangkai kacamata hitamnya pada lipatan kerah kemejanya. “Gue ke sini ya mau makanlah. Masa mau numpang mandi?”

Tanpa menunggu undanganku, pria itu melangkah lebar menuju area paling sudut kanan kafe, sebuah area privat berisikan sofa kulit cokelat yang empuk. Ia menjatuhkan tubuhnya di sana, bersandar dengan santai seolah tempat itu milik nenek moyangnya.

Aku menarik napas panjang, mengurut pelipis yang mendadak berdenyut.

Cobaan apa lagi ini? batin frustrasiku. Meski rasa jengkel akibat kejadian di kampus tadi masih membekas, aku tetap harus profesional. Aku menyambar dua lembar buku menu dari atas kasir dan menyusul langkahnya.

“Nih menunya,” kataku seraya meletakkan buku menu bertepi kulit itu tepat di atas meja di hadapannya.

Varro sama sekali tidak menyentuh buku menu tersebut. Tangannya malah bersedekap di dada, matanya menatapku dari bawah ke atas dengan sorot yang sulit diartikan.

“Mau pesan apa?” tanyaku seraya membukakan halaman depan menu dengan gerakan kaku.

“Menurut lo... makanan apa yang paling enak di sini?” sahut Varro datar, memajukan tubuhnya sedikit.

Aku menghela napas pelan. “Mie goreng spesial!” seruku menyebutkan menu racikan koki kami yang paling laris.

“Yaudah, gue pesan itu aja,” kata Varro cepat tanpa ragu.

“Minumannya?” tanyaku lagi, jemariku bersiap menggoreskan pena di atas lembar catatanku.

Varro memiringkan kepala. “Minuman yang bisa lo bikin sendiri apa?”

“Gue cuma bisa bikin jus alpukat-"

“Oke, itu aja,” potong Varro cepat seraya menganggukkan kepala mantap.

Aku mengerutkan dahi. Ini orang bener-bener gak jelas banget. Untung sekarang dia posisinya pelanggan yang bawa uang. Kalau bukan pelanggan, pasti udah kuganjar pakai baki! pikirku dalam hati seraya menahan diri. Sebagai pekerja profesional, aku harus mengesampingkan kekesalan pribadiku.

“Jadi, pesanan lo itu mie goreng spesial satu porsi sama jus alpukat satu porsi, kan?” tanyaku mengulang pesanan untuk memastikan.

Varro menggeleng pelan. “Enggak. Mie goreng spesial sama jus alpukatnya dua porsi.”

Aku menaikkan sebelah alis, namun tetap mencatatnya. “Oke. Lo tunggu sekitar lima belas menit ya, makanannya bakal disiapin.” Aku membalikkan badan hendak melangkah menuju area dapur.

SRET!

Jemari kekar Varro mendadak mencekat pergelangan lengan kananku lembut. Tidak keras, namun cukup untuk menahan langkahku.

Aku menoleh cepat, menatap lenganku lalu menatap wajahnya. “Apa lagi sih, Varro?”

Varro berdehem pelan, memalingkan wajahnya sejenak ke samping sebelum kembali menatapku. Matanya menyiratkan keraguan yang teramat sangat. “Gue... gue minta...”

Aku menanti selama beberapa detik. “Lo mau minta apa lagi?”

“Ehem! Gue minta... lo yang masak makanannya sama bikin minumannya,” sahut Varro pelan, nada bicaranya mendadak terdengar menuntut namun canggung.

Aku menepis tangannya halus seraya memutar bola mata. “Varro! Jobdesk gue di sini itu jadi kasir dan pelayan, bukan koki! Udah deh, lo tenang aja. Masakan koki di sini dijamin enak dan higienis. Gue pergi dulu menyampaikan pesanan lo!”

Aku melangkah cepat meninggalkan mejanya menuju pintu dapur. Dari sudut mataku saat menyerahkan nota ke koki, aku sempat melirik ke arah meja sudut. Varro tampak menyandarkan punggungnya ke sofa seraya mengacak rambutnya frustrasi, wajah tampannya terlihat begitu muram.

"Dia kenapa sih? Apa dia lagi sakit? Ah... cowok sekuat dan searogan dia kalau sakit juga gak bakal kenapa-kenapa," gumamku dalam hati mencoba acuh.

Sepuluh menit berlalu. Aroma gurih mie goreng berbumbu segar menguar saat koki menyerahkan dua piring panas dan dua gelas tinggi jus alpukat padaku di atas nampan kayu. Aku membawa nampan tersebut kembali ke meja Varro.

“Ini pesanannya ya. Udah lengkap semua, gue permisi dulu,” kataku seraya menata dua piring mie dan dua gelas jus di atas meja kayu.

“Gisel,” panggil Varro seraya mendongak menatapku.

Aku menghentikan pergerakan nampanku. “Kenapa?”

“Lo gak mau nanya gitu, kenapa gue pesan makanan sampai dua porsi?” sahut Varro seraya menaikkan sebelah alisku.

Aku membalas tatapannya polos. “Gak tuh. Mungkin aja porsi satunya lagi buat teman lo atau pacar lo yang sebentar lagi mau datang.”

Mendengar jawabanku, Varro mendadak bangkit berdiri dari sofanya.

“Duduk,” katanya tegas, memegang kedua bahuku dan mendudukkanku secara paksa di sofa empuk tepat di hadapannya.

Aku tersentak kaget, refleks bangkit berdiri kembali. “Varro! Gue ini lagi kerja, gak bisa seenaknya duduk nongkrong begini!”

Varro menatapku mantap tanpa kedip. “Oke! Kalau gitu gue bakal nungguin lo sampai shift kerja lo selesai!”

Dahiku berkerut dalam. “Jam kerja gue baru selesai satu jam lagi! Buat apa lo nungguin gue selama itu di sini?”

“Gak apa-apa. Gue tetap bakal nungguin lo di sini,” jawab Varro santai, lalu menjatuhkan kembali tubuhnya ke sofa.

Aku mendesah pasrah. “Terserah lo deh. Gue balik kerja dulu,” sahutku seraya memutar badan melangkah pergi.

Namun, baru saja aku melangkah tiga tindak, suara berat Varro melayang dari belakang punggungku.

“Gisel... gue pesan dua porsi karena gue mau makan bareng sama lo.”

Langkah kakiku terhenti seketika. Aku membalikkan badan seraya menatapnya heran. “Kenapa lo harus makan sama gue sih? Gue udah makan malam tadi sebelum berangkat kerja.”

“Gisel...”

Sebuah suara wanita matang memanggil namaku dari balik bar. Itu Bu Maya, pemilik kafe ini. Beliau baru saja turun dari lantai dua. Meski usianya sudah menginjak empat puluh tahun, wajah Bu Maya tetap terlihat segar dan awet muda bagai wanita berusia tiga puluh tahunan karena keramahannya yang tak pernah surut.

“Iya, Bu?” sahutku menghampiri beliau.

Bu Maya tersenyum hangat, mengedipkan sebelah matanya padaku. “Kamu temenin aja pacar kamu itu makan. Gak apa-apa kok, biar lantai satu Ibu yang pegang sebentar.”

Wajahku seketika memerah kaget. “Bu! Dia bukan pacar saya!”

Bu Maya mengambil nampan dari tanganku lalu menepuk bahuku pelan. “Gisel... di dalam dunia bisnis kafe, kita gak boleh bikin pelanggan nunggu terlalu lama. Gih sana, temenin dia makan. Kelihatannya dia bela-belain datang cuma buat kamu.”

“Tapi, Bu-”

“Udah, sana,” dorong Bu Maya lembut seraya berlalu menuju meja kasir.

Aku menghembuskan napas kalah. Dengan langkah berat, aku berjalan kembali ke meja sudut dan mendaratkan tubuhku di sofa depan Varro.

“Eh, gue udah duduk di sini nih. Buruan makan mienya sebelum dingin,” kataku saat melihat piring di hadapannya masih utuh belum tersentuh sedikit pun.

Varro tersenyum tipis, meraih garpunya dan memutar seikat mie lalu memasukkannya ke dalam mulut. Namun baru satu gigitan, raut wajahnya berubah dramatis.

“Aduh, Gisel! Ini panas banget!” teriak Varro mengaduh seraya memegangi lidahnya dan mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.

Aku mengerutkan dahi, menatap piringnya heran. Makanan itu disajikan hangat, sama sekali tidak sampai mengepulkan uap membakar yang ekstrem. Pria ini jelas sedang bersandiwara untuk menguji batas kesabaranku!

“Panas banget darimana coba?! Ini tuh namanya hangat pas!” sahutku jengkel.

Varro bersedekap dada, menyandarkan punggungnya seraya bersungut-sungut bagai anak kecil. “Gue gak mau tahu! Pokoknya gue gak mau makan mie yang sepanas ini!”

“Terus lo maunya gimana, Pangeran Varro?” tanyaku pasrah, menahan erangan frustrasi.

“Ya tiupinlah!” jawab Varro menuntut seraya menunjuk piringnya.

Aku menatapnya tak percaya. “Lo itu udah gede tapi kelakuan makan aja masih kayak anak bayi, ya!”

Meski mengomel, aku tetap menarik piring mienya mendekat. Aku menggulung sedikit mie dengan garpu, mengangkatnya ke udara, lalu meniupnya perlahan selama beberapa detik hingga uap hangatnya menghilang.

“Nih! Buka mulut lo!” perintahku galak seraya menyodorkan garpu itu tepat di depan bibirnya.

Varro menyeringai puas. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan menerima suapan mie itu dengan sangat lahap.

“Enak, kan?” tanyaku memastikan.

Varro mengunyah pelan, berpura-pura berpikir keras seraya menaikkan alisnya. “Hmm... lumayanlah.”

“Nih, ini udah gak panas! Makan sendiri sana!” sahutku cepat seraya meletakkan kembali piring itu ke depan dadanya.

“Lo juga makanlah! Jangan cuma bengong meratapi nasib di sana,” perintah Varro seraya menunjuk piring mie di hadapanku yang masih utuh.

Aku menghela napas, meraih garpuku sendiri. “Iya, Pangeran Varro...”

Varro tertawa pelan, senyum lebar terukir manis di wajah tampannya. “Gue beneran seganteng pangeran, ya?”

Aku mengunyah mienku kaku, membalas tatapannya datar. “Iya.”

“Lo serius?” sahutnya memastikan, memajukan tubuhnya penasaran.

“Iya... menurut lo gue lagi serius atau enggak?” tanyaku balik tanpa sudi menatap matanya lama-lama.

Varro mengerucutkan bibirnya tipis. “Lo kenapa sih sinis banget sama gue dari tadi?”

“Sinis darimana coba? Udah deh, sana habiskan makanan lo,” sahutku memotong obrolan. Kami berdua pun akhirnya menyantap porsi masing-masing dalam keheningan yang cukup menenangkan.

Sepuluh menit berlalu. Aku meletakkan garpuku setelah menghabiskan setengah porsi mie. Di hadapanku, Varro sudah mengelap bibirnya dengan tisu.

“Gisel...” panggil Varro. Suaranya mendadak berubah. Tidak ada lagi nada memerintah, arogan, atau kekanak-kanakan di sana.

Aku mendongak, menatap matanya. “Apa?”

Varro menatap lurus ke dalam mataku. Ada binar penyesalan yang teramat tulus terpancar dari bola matanya yang cokelat gelap.

“Sorry...” ucap Varro lirih dan sangat lembut. “Gue minta maaf... atas semua kelakuan kasar dan kejahilan gue yang udah bikin lo jengkel dan terluka. Tolong... maafin gue, ya?”

Jantungku serasa melompati satu detakan. Mendengar permohonan maaf yang begitu tulus keluar dari mulut seorang ketua geng motor arogan yang dipuja sekampus membuat pertahananku runtuh seketika.

Aku menarik napas panjang, menetralkan desiran aneh di dadaku. “Karena lo udah niat dan berani minta maaf secara langsung... oke, gue maafin. Tapi lo harus janji, gak boleh ulangin kelakuan kasar lo itu lagi ke gue atau ke teman-teman gue!”

Varro terkekeh pelan, senyum menawan terbit di bibirnya. “Iya... gue janji gak bakal ulangin lagi. Makasih banyak ya, Gisel cantik.”

Suara tawanya yang renyah dan panggilan itu mendadak membuat dadaku berdesir hebat. Tatapan matanya yang hangat saat tertawa membuat wajah tampannya berlipat ganda lebih memikat.

Gisel! Sadar! bentak monolog batinku keras-keras. Inget, dia itu playboy cap kapak! Kenapa pipi lo harus terasa panas dan memerah cuma gara-gara dipuji cantik sama cowok kayak dia?!

Aku memalingkan wajah cepat ke samping, menyembunyikan rona merah di pipiku seraya berdehem kaku. “E-enggak apa-apa... Yaudah, lo langsung pulang aja kalau udah selesai. Makanan sama minuman lo hari ini... gue yang traktir.”

“Jangan! Biar gue yang bayar!” sahut Varro cepat seraya merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam.

Melihatnya hendak memamerkan kekayaannya lagi, aku refleks mengulurkan tangan dan menggenggam pergelangan tangan kanannya, menghentikan pergerakannya.

“Varro... gue seneng banget hari ini karena lo mau merendahkan ego lo buat minta maaf sama gue. Jadi sebagai gantinya, biar gue yang traktir lo hari ini,” kataku menatap matanya mantap.

Varro terpaku menatap genggaman tanganku di pergelangan tangannya. “Tapi, Sel-”

“Udah! Gak ada tapi-tapian, lo pulang sana,” potongku seraya berdiri dan mendorong pelan bahunya menuju pintu keluar.

Aku berlari kecil menuju meja kasir, menyerahkan uang tunai dari sakuku pada Bu Maya untuk membayar dua porsi mie dan jus alpukat tersebut, lalu mengambil tas punggungku karena shift-ku memang sudah berakhir.

Saat aku melangkah keluar menembus dinginnya angin malam di depan pintu kafe, langkahku kembali terhenti. Varro ternyata belum pergi. Pria itu menyandar santai di samping mobil sport mewahnya yang terparkir tepat di depan pelataran.

“Yuk! Gue antar lo pulang!” serunya riang saat melihat keberadaanku.

Aku membelalak kaget. “Hah?! Apa?”

Varro melempar senyum lebarnya. “Gue mau antar lo pulang sampai depan rumah, Gisel cantik.”

Aku menggeleng cepat seraya merogoh ponsel murahku dari dalam saku. “Gak usah, Varro. Gue bisa pulang sendiri naik ojek online.”

Varro melangkah mendekat, mematikan layar ponselku secara sepihak dengan ujung jarinya seraya menatapku tajam. “Lo mending pulang sama abang-abang ojek yang gak jelas... atau pulang aman sama gue?”

Aku menatapnya jujur. “Sama abang ojeklah! Gue lebih suka naik motor, biayanya lebih irit dan cepat

tembus macet.”

Raut wajah Varro berubah serius, nada suaranya memuncak penuh proteksi. “Tapi ini udah jam sembilan malam, Gisel! Cewek pulang sendirian malam-malam naik motor itu gak aman! Ayo ikut gue masuk ke mobil!”

“Gak perlu, Varro! Gue udah biasa pulang malam dan gue gak apa-apa!” sahutku menolak tegas tawarannya.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!