Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi hari yang cerah menyelimuti rumah baru mereka.
Sebelum berangkat ke kampus untuk menjalani hari pertamanya sebagai mahasiswa, Puja dengan sigap menyiapkan hidangan sarapan hangat di meja makan untuk suaminya.
Suasana dapur terasa begitu hangat dan damai, jauh dari bayang-bayang ketegangan kemarin.
Jeffry melangkah mendekat dengan pakaian yang sudah rapi, menyunggingkan senyum teduh menatap Puja yang sedang merapikan piring.
"Sudah siap masuk kuliah?" tanya Jeffry lembut, memperhatikan binar antusiasme yang terpancar di wajah istrinya.
"Insyaallah sudah siap, Mas," jawab Puja mantap, tersenyum tulus menatap Jeffry.
"Ayo kita sarapan dulu, setelah itu Mas antar ke kampus," ajak Jeffry seraya menarik kursi makan untuk Puja.
Puja menganggukkan kepalanya penurut. "Iya, Mas."
Mereka pun duduk bersama menikmati hidangan sarapan dalam keheningan yang nyaman.
Perhatian-perhatian kecil yang ditunjukkan Jeffry—seperti mengambilkan lauk dan memastikan minuman Puja terisi—makin menguatkan rasa percaya dan ketenangan di hati Puja.
Usai merapikan meja makan, Puja menyambar tas kuliahnya.
Jeffry menggandeng jemari istrinya menuju mobil, bersiap mengantarkan Puja melangkah menuju gerbang impian barunya dengan status dan komitmen baru yang kian kokoh di antara mereka.
"Nanti hubungi Mas kalau sudah selesai," ujar Jeffry mengingatkan seraya menghentikan mobilnya di depan gerbang utama kampus.
"Iya, Mas," jawab Puja lembut.
Jeffry tersenyum kecil, memandang wajah istrinya dengan penuh kasih dan sedikit rasa khawatir yang wajar seorang suami.
Ia meraih jemari Puja, mengelusnya perlahan.
"Jangan kecewakan Mas, ya. Mas percaya sama kamu," tutur Jeffry dengan nada suara yang dalam namun sarat akan kehangatan dan kepercayaan.
Puja menganggukkan kepalanya mantap. "Pasti, Mas. Puja janji akan selalu jaga kepercayaan Mas Jeffry."
Kemudian Puja mencium punggung tangan Jeffry dengan penuh hormat.
Jeffry membalasnya dengan mengecup dahi Puja lembut, mengalirkan doa dan ketenangan untuk hari pertama istrinya menuntut ilmu.
Dengan perasaan mantap dan dada yang berdesir bahagia, Puja membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Ia sempat berbalik sebentar, melambaikan tangan pada Jeffry hingga mobil suaminya itu perlahan menghilang di balik keramaian jalan raya.
Menghirup napas dalam-dalam, Puja memutar badannya dan melangkah masuk ke area kampus dengan senyum percaya diri, siap menghadapi babak baru dalam hidupnya.
Puja melangkah masuk ke dalam ruang kelas barunya, memperhatikan deretan bangku yang masih terisi sebagian oleh mahasiswa lain.
Saat ia hendak memilih tempat duduk di barisan tengah, sebuah suara familiar memanggil namanya.
"Puja! Sini, Ja!"
Andy sudah berdiri di sana, tersenyum lebar. Pria itu menyodorkan sebuah wadah bekal kecil berwarna biru ke hadapan Puja.
"Ini buat kamu, tadi ibuku bikin sarapan lebih. Aku dibawain bekal dua, jadi yang satu buat kamu aja," ucap Andy santai.
Puja tertegun sejenak. Bayangan pesan Jeffry tadi pagi—Jangan kecewakan Mas, ya.
Mas percaya sama kamu—langsung berkelebat di pikirannya, membuat Puja menatap bekal itu dengan canggung.
"Tapi, Mas Andy... nggak usah, terimakasih. Aku tadi sudah sarapan di rumah," tolak Puja halus seraya menggelengkan kepala.
"Sudah, kamu simpan dulu aja buat makan siang nanti," potong Andy tanpa memberikan kesempatan pada Puja untuk menolak lagi.
Ia meletakkan wadah bekal itu di atas meja Puja. "Aku masuk ke kelasku dulu, ya. Nanti kalau ada apa-apa, kabari aja!"
Tanpa menunggu tanggapan Puja, Andy melambaikan tangan lalu bergegas keluar dari ruang kelas.
Puja menatap wadah bekal di atas mejanya dengan napas terhela panjang.
Ada rasa serba salah yang mengusik hatinya. Di satu sisi ia tak ingin bersikap kasar pada teman lamanya, namun di sisi lain, ia sadar betul bahwa ia harus menjaga batasan demi menghormati kesetiaan dan rasa percaya suaminya.
Tak lama kemudian, dosen pengampu mata kuliah pertama masuk ke dalam kelas.
Puja menggeser wadah bekal dari Andy ke pinggir meja dan segera memfokuskan pikirannya pada materi perkuliahan.
Suara dosen yang menjelaskan di depan kelas serta coretan-coretan di papan tulis perlahan mengalihkan kegelisahannya, membawanya masuk ke dalam ritme dunia kampus yang selama ini ia impikan.
Sementara itu, di kompleks Pondok Pesantren Al-Hidayah, Jeffry baru saja memarkirkan mobilnya di pelataran rumah utama.
Pria itu menghela napas lega, bersyukur telah mengantarkan istrinya dengan selamat untuk memulai babak baru dalam hidupnya.
Namun, baru beberapa langkah Jeffry menaiki anak tangga teras, Ningrum tiba-tiba keluar dari balik pintu dapur dengan membawa sebuah mangkuk beraroma harum yang masih berasap tipis. Wajah sepupunya itu dipasang senyum seramah mungkin.
"Mas Jeffry!" panggil Ningrum dengan nada dibuat-buat riang.
"Pas banget Mas baru datang. Ningrum tadi masak sup ayam kesukaan Mas Jeffry, mumpung masih hangat... ayo makan dulu, Ningrum ambilkan nasi ya?"
Jeffry menghentikan langkahnya, menatap mangkuk yang disodorkan Ningrum dengan ekspresi datar dan tenang.
Kenangan akan sikap manis beracun sepupunya kemarin masih terekam jelas di ingatannya.
"Maaf, Ningrum, aku sudah sarapan," jawab Jeffry dingin namun tetap sopan, menolak tawaran itu tanpa ragu sedikit pun.
"Lho, kan cuma sarapan sedikit di rumah baru tadi, Mas? Sup ini beda, Ningrum masak khusus dari pagi..." bujuk Ningrum pantang menyerah, mencoba memangkas jarak seraya memasang raut memelas.
"Terima kasih, Ningrum, tapi perutku sudah kenyang. Lebih baik supnya dimakan sendiri atau diberikan ke Santri," potong Jeffry tegas.
Tanpa memberi celah bagi Ningrum untuk membalas, Jeffry melangkah melewatinya begitu saja menuju ke dalam rumah untuk menemui Kyai Ali.
Ningrum berdiri terpaku di teras, memegangi mangkuk sup dengan raut wajah memerah padam menahan malu dan kesal yang membakar dadanya.
Jeffry melangkah masuk ke dalam ruangan tempat ayahnya duduk.
Pria itu mendekat dengan takzim, lalu membungkuk untuk mencium punggung tangan ayahnya dengan penuh rasa hormat.
"Istrimu sudah mulai kuliah?" tanya Abah seraya menatap putra sulungnya dengan pandangan teduh.
"Sampun, Abah," jawab Jeffry lembut dengan mengangguk pelan.
"Jeffry juga siap-siap untuk mengajar santri."
Abah menganggukkan kepalanya dengan senyum mengembang bangga.
"Alhamdulillah. Ya sudah, persiapkan dirimu baik-baik. Niatkan semuanya karena Allah."
"Nggih, Abah. Jeffry pamit dulu," pamit Jeffry.
Sementara itu di kampus, jam kuliah pertama Puja baru saja usai. Suasana kelas berangsur riuh saat para mahasiswa mulai membereskan buku-buku mereka.
Puja menatap wadah bekal dari Andy yang masih tergeletak di sudut mejanya.
Perasaan tidak tenang kembali mengusik hatinya. Ia sadar, menerima bekal dari pria lain—terlebih teman lamanya yang tampak memendam perhatian—bukanlah hal yang bijak untuk dijaga.
Dengan ketetapan hati, Puja mengambil wadah bekal tersebut dan melangkah keluar kelas menuju area koridor, mencari keberadaan Andy untuk mengembalikan bekal itu secara sopan dan menegaskan batasannya.