NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Bekerja

Faeyza menelan ludah. Untuk pertama kalinya, keraguan mulai muncul di wajahnya. “Memangnya dia kenapa?” tanyanya, kali ini suaranya tidak lagi setajam sebelumnya.

Ayah Mahendra menatap putranya dengan sorot mata yang penuh penyesalan. “Karena selama ini…” Ia berhenti sejenak.

“…kita semua terlalu sibuk menganggap Hasel baik-baik saja, sampai lupa bahwa anak yang paling jarang mengeluh sering kali adalah anak yang paling banyak terluka.”

Nisrina mengembuskan napas panjang. Suasana ruang keluarga terasa semakin berat, seolah udara di dalam rumah itu dipenuhi kenangan yang selama ini sengaja dikubur.

“Ayah maksudnya apa?” tanya Faeyza pelan. Untuk pertama kalinya, nada suaranya kehilangan ketegasan yang biasa ia tunjukkan.

Ayah Mahendra menatap putra sulungnya lama, lalu berkata dengan suara tenang, “Kamu masih ingat waktu Haselyn mau masuk SMP?”

Faeyza mengernyit.

“Dia ngotot ingin masuk SMP favorit di Jakarta. Sekolah itu mahal, seleksinya ketat, dan standar nilainya sangat tinggi. Mamamu melarang keras karena kita memang tidak mampu.”

Kalimat itu membuat Faeyza terdiam. Ia perlahan duduk di sofa, mencoba mengingat kembali masa-masa itu. “Iya, Yah… Faeyza ingat.” Tentu saja ia ingat.

Adiknya yang keras kepala itu pernah membuat suasana rumah berubah mencekam. Haselyn menolak semua pilihan yang diberikan keluarga. Gadis itu hanya menginginkan satu sekolah, dan tidak ada seorang pun yang bisa mengubah keputusannya.

“Haselyn bilang dia akan tetap sekolah di sana, suka atau tidak suka,” lanjut Ayah Mahendra. “Dan kamu juga pasti ingat apa yang mamamu katakan waktu itu.”

Faeyza menunduk. “Kalau mau sekolah di sana, bayar sendiri.” Kenangan itu menghantamnya begitu saja.

Dulu ia bahkan sempat memarahi Haselyn. Ia menganggap adiknya egois karena tidak mau mengalah, sementara kondisi keuangan keluarga sedang difokuskan untuk persiapan pernikahannya.

Faeyza menelan ludah. “Faeyza ingat… waktu itu aku memang marah sama Hasel.” Dadanya mulai terasa sesak.

Karena pernikahannyalah Haselyn diminta mengalah. Haselyn diminta melepaskan impiannya agar keluarga bisa memenuhi keinginannya. Padahal, baik dirinya maupun Nisrina sama-sama pernah bersekolah di sekolah favorit yang biayanya jelas tidak sedikit.

“Lalu Haselyn benar-benar masuk ke sekolah itu,” ujar Ayah Mahendra.

Faeyza mengangkat kepala.

“Dan dia tidak meminta uang sepeser pun dari Ayah maupun Mama.”

Mata Faeyza membulat. “Apa?”

Ia menatap kedua orang tuanya bergantian, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. “Faeyza pikir… Ayah sama Mama akhirnya menuruti keinginan Hasel.”

Selama bertahun-tahun ia percaya bahwa orang tuanya mencari pinjaman ke sana kemari demi membiayai sekolah Haselyn.

Ayah Mahendra menggeleng pelan. “Kamu tahu sendiri bagaimana kondisi keuangan kita waktu itu.” Suara beliau terdengar pahit. “Bagaimana mungkin kami mampu?”

Faeyza membeku.

“Untuk pernikahanmu saja kami menghabiskan uang miliaran.” Setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya terasa seperti palu yang menghantam dadanya.

“Belum lagi rumah yang ingin kamu beli setelah menikah. Kami benar-benar habis-habisan waktu itu.”

Ruang keluarga kembali sunyi.

“Nisrina saat itu juga masuk SMA elit. Biaya pendidikannya sangat besar. Jadi bagaimana mungkin kami sanggup menyekolahkan Haselyn di SMP itu?” Ayah Mahendra menghela napas panjang.

“Uang tabungan keluarga terkuras. Bahkan dana yang seharusnya dipersiapkan untuk sekolah Haselyn ikut terpakai.”

Faeyza menggigit bibirnya. Sekolah yang diinginkan Haselyn memiliki biaya masuk puluhan juta, uang daftar ulang yang mencapai puluhan juta, dan biaya semester yang jauh di luar kemampuan keluarga mereka saat itu.

Lalu bagaimana Haselyn membayarnya? Pertanyaan itu menggantung di kepalanya.

Faeyza dan Nisrina saling berpandangan. Wajah mereka sama-sama pucat. Selama ini mereka selalu merasa Haselyn adalah anak yang keras kepala dan egois. Namun kenyataan yang baru saja mereka dengar menghancurkan semua keyakinan itu. Ternyata yang dikorbankan sejak awal bukan mereka. Melainkan Haselyn.

Adik yang selama ini mereka anggap selalu menuntut, justru diam-diam memperjuangkan mimpinya sendirian tanpa membebani siapa pun.

Dan yang paling menyakitkan… Mereka tidak pernah mengetahuinya.

“Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu,” ujar Mama Mayrah dengan suara yang mulai bergetar. “Sejak kejadian itu, Hasel tidak pernah lagi meminta uang kepada Mama. Bahkan semua baju yang Mama belikan tidak pernah dia pakai. Dia malah memberikannya kepada pembantu. Semua pakaian dan barang yang dipakai Haselyn, dia beli dengan uangnya sendiri.”

Faeyza mengerutkan kening. “Uang dari mana, Mah?” Suaranya terdengar pelan, dipenuhi kebingungan.

“Kalau memang itu uang Haselyn, dari mana dia mendapatkannya? Waktu itu dia masih SMP. Mana mungkin anak seusianya punya uang sebanyak itu?”

Mama Mayrah menggeleng lemah. “Mama tidak tahu.” Jawaban itu justru terdengar lebih menyakitkan. “Mama tidak pernah bertanya.” Kalimat itu menggantung di udara, meninggalkan kesunyian yang menyesakkan.

Mama Mayrah menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya ia menyadari betapa asingnya kehidupan putrinya sendiri. Selama ini ia hanya melihat Haselyn sebagai anak yang keras kepala, tetapi tidak pernah benar-benar ingin memahami apa yang dijalani gadis itu.

Ayah Mahendra ikut menunduk. “Ayah juga tidak tahu.” Suara beliau nyaris tak terdengar.

Sebagai seorang ayah, seharusnya ia bertanya. Seharusnya ia mencari tahu dari mana putrinya mendapatkan uang untuk membayar sekolah semahal itu. Namun ia tidak pernah melakukannya.

Mama Mayrah menoleh perlahan ke arah suaminya. Matanya mulai dipenuhi air mata. “Kenapa kita tidak pernah bertanya, Yah?” Pertanyaan itu terdengar seperti penyesalan yang terlambat.

Ayah Mahendra mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak. “Karena kita terlalu sibuk menyalahkan sikap Haselyn.” Suara beliau tercekat.

“Kita terlalu fokus menganggap dia pembangkang, sampai lupa memperhatikan kehidupan anak kita sendiri.” Ruangan itu kembali sunyi.

Mama Mayrah menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. “Lalu… dari mana Haselyn membayar sekolah semahal itu?”

Matanya memandang kosong ke depan. “Anak kita tidak melakukan sesuatu yang salah, kan?”

Kecemasan mulai merayapi pikirannya. Bayangan-bayangan buruk bermunculan tanpa bisa ia hentikan. Bagaimana jika selama ini Haselyn harus melakukan hal-hal yang tidak seharusnya demi membiayai sekolahnya?

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku benar-benar gagal menjadi seorang ibu…” Suara itu nyaris hanya berupa bisikan.

Nisrina yang sejak tadi terdiam akhirnya membuka suara. “Haselyn dapat uang dari kerja, Mah.”

Mama Mayrah dan Ayah Mahendra serentak menoleh ke arahnya. “Kerja?”

Mama Mayrah mengernyit. “Kerja apa? Anak seusia Haselyn memang bisa kerja apa sampai mampu membayar sekolah yang biaya masuknya puluhan juta?” Tatapan mereka kini tertuju penuh pada Nisrina.

Mereka menunggu jawaban yang selama bertahun-tahun tidak pernah mereka cari. Jawaban tentang bagaimana putri bungsu mereka bertahan sendirian ketika keluarganya sendiri tidak lagi menjadi tempat bersandar.

Nisrina menoleh ke arah kedua orang tuanya secara bergantian “aku pikir kalian tahu kalau Haselyn bekerja” Nisrina tidak menyangka kedua orang tuanya tidak tahu kalau adiknya bekerja “dan mendapat izin dari kalian untuk kerja” kaget juga sampai orang tuanya tidak tahu kalau adiknya bekerja untuk mencari uang

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!