NovelToon NovelToon
MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kerajaan / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 : Menebus Batas Dua Dunia

Pertemuan Dua Musim

Perjalanan menuju perbatasan Selatan bukan sekadar perpindahan jarak, melainkan sebuah transisi radikal antara dua dunia yang bertolak belakang. Selama tiga hari pertama, Legiun Serigala Perak bergerak membelah sisa-sisa badai es di dataran tinggi Valenica. Namun, begitu pasukan mulai menuruni lereng-lereng curam Pegunungan Taring Putih, lanskap di hadapan mereka berubah secara dramatis.

Salju tebal yang awalnya setinggi lutut perlahan menipis menjadi lapisan es tipis, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya, digantikan oleh hamparan tanah berlumpur dan padang rumput hijau yang luas. Udara dingin yang menusuk tulang berganti dengan embusan angin hangat yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan pinus Selatan.

Bagi para prajurit Utara yang terbiasa dengan hawa beku, perubahan iklim ini adalah tantangan fisik tersendiri. Banyak di antara mereka yang mulai membuka pelindung leher dari bulu tebal dan mengeluhkan hawa "panas" yang sebenarnya merupakan suhu normal bagi orang Selatan.

Aurelia memacu kudanya di samping Cassian, memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak terusik oleh keringat tipis yang mulai muncul di pelipisnya.

"Apakah hawa Selatan terlalu menyiksamu, Panglima?" goda Aurelia dengan senyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan di antara derap langkah ribuan pasukan.

Cassian mendengus rendah, melonggarkan sedikit kerah zirah kulitnya. "Udara di sini terlalu... tebal. Rasanya seperti berjalan di dalam ruangan yang dipenuhi uap air. Tapi aku akan terbiasa sebelum kita mencapai benteng pertahanan pertama mereka." Matanya kemudian beralih menatap hamparan hijau di depan mereka. "Kita sudah memasuki wilayah netral perbatasan bawah. Di depan sana adalah perbatasan luar Oakhaven."

Aurelia mengangguk, ekspresinya kembali berubah serius. Kehijauan tanah kelahirannya tidak membawa ketenangan, melainkan memicu ingatan pahit tentang sang ayah yang kini terbaring sekarat di bawah pengaruh racun Duke Valerius.

"Pos Penjaga Greenstone seharusnya berada dua mil dari sini," ujar Aurelia, menunjuk ke arah celah perbukitan batu yang tertutup vegetasi hijau lebat. "Itu adalah pos pertahanan terluar Oakhaven. Jika pamanku masih memiliki akal sehat, dia pasti menempatkan sisa-sisa pasukan pemanahnya di sana untuk menahan laju kita."

Taktik Senyap di Pos Greenstone

Jenderal Boros memacu kudanya mendekati pasangan kerajaan tersebut, membawa laporan dari para pengintai garis depan (scout) yang bergerak dengan menyamar.

"Yang Mulia, laporan dari pengintai membenarkan ucapan Putri Aurelia," Jenderal Boros melapor dengan nada rendah. "Pos Greenstone telah diperkuat. Ada sekitar dua ribu prajurit infantri Oakhaven yang bersiaga di atas dinding batu. Mereka memiliki keunggulan posisi tinggi di atas bukit, dan jalan menuju ke sana sangat sempit. Jika kita menyerang secara frontal, kavaleri kita akan menjadi sasaran empuk panah api."

Cassian menarik kekang kudanya, membuat seluruh legiun di belakangnya berhenti dengan kesiapan tempur yang senyap. Ia menatap topografi bukit di depannya, lalu menoleh ke arah Aurelia.

"Kau tahu jalur tikus di sekitar Pos Greenstone?" tanya Cassian.

"Ada jalur kuno yang biasa digunakan oleh para pemburu lokal untuk menghindari pajak pos penjaga," jawab Aurelia, matanya berbinar mengingat peta rahasia yang pernah ia pelajari di perpustakaan istana Oakhaven. "Jalur itu memutar melewati lembah kering di sebelah barat benteng, langsung menuju pintu belakang pos. Jalur itu sempit dan berbatu, tidak bisa dilewati oleh pasukan besar, tetapi cukup untuk satu detasemen kecil."

Cassian tersenyum mematikan. "Satu detasemen kecil adalah semua yang kita butuhkan untuk membuka gerbang dari dalam."

"Aku yang akan memimpin detasemen itu," seru Aurelia cepat, sebelum Cassian sempat memotongnya. "Para prajurit di pos itu adalah rakyat Oakhaven. Mereka dipaksa tunduk pada pamanku karena rasa takut. Jika mereka melihatku—Putri kandung Raja mereka yang sah—berdiri di depan mereka dengan spanduk kerajaan, sebagian besar dari mereka akan meletakkan senjata tanpa perlu menumpahkan darah yang tidak perlu."

Cassian terdiam, rahangnya mengeras. Ego protektifnya kembali berontak. Membiarkan Aurelia menyusup ke garis belakang musuh adalah risiko besar. Namun, ia juga tahu bahwa meminimalkan pertumpahan darah di awal invasi akan mempermudah legitimasi mereka saat merebut ibu kota nanti. Rakyat Oakhaven harus melihat mereka sebagai pembebas, bukan penjajah dari Utara.

"Baik," Cassian akhirnya mengalah, namun matanya menatap Aurelia dengan intensitas yang tidak bisa dibantah. "Tapi aku akan pergi bersamamu. Jenderal Boros akan memimpin pasukan utama untuk melakukan serangan tipuan dari depan guna mengalihkan perhatian, sementara kita memutar dari barat."

Menyusup ke Balik Dinding Batu

Malam pun jatuh, menyelimuti perbatasan Oakhaven dengan kegelapan yang pekat. Rencana dijalankan dengan presisi tinggi. Dari arah depan Pos Greenstone, pasukan utama Valenica mulai menyalakan ratusan obor dan memukul genderang perang, menciptakan ilusi seolah-olah mereka bersiap melakukan penyerangan skala besar dari jalur utama.

Sementara itu, di bawah kegelapan lembah barat, Aurelia dan Cassian memimpin lima puluh prajurit elite Nightstalkers—pasukan khusus Utara yang terlatih bergerak tanpa suara. Mereka merayap di antara semak-semak berduri dan bebatuan licin. Aurelia telah mengganti jubah bulunya dengan pakaian berburu hitam yang ringkas, bergerak dengan kelincahan yang membuat para prajurit Utara diam-diam kagum.

Setelah setengah jam mendaki dalam keheningan, mereka akhirnya tiba di depan gerbang kayu belakang Pos Greenstone. Hanya ada dua penjaga yang berjaga di menara kecil atas gerbang, pandangan mereka terdistraksi oleh riuh suara genderang dari arah depan benteng.

Sssiiut! Sssiiut!

Dua anak panah yang dilepaskan secara serentak oleh Cassian dan salah satu prajuritnya melesat tepat sasaran, menembus tenggorokan kedua penjaga tersebut tanpa sempat membuat mereka berteriak. Tubuh mereka jatuh terkulai di atas menara.

Cassian memberi isyarat tangan. Dua prajurit maju dengan alat pengungkit khusus, membuka selot gerbang kayu dengan suara gesekan yang sangat minim. Gerbang pun terbuka.

Detasemen kecil itu merangsek masuk ke dalam kompleks halaman dalam pos penjaga. Suasana di dalam pos cukup kacau; para prajurit Oakhaven berlarian menuju dinding depan, membawa persediaan anak panah dan minyak panas, mengira serangan utama akan segera datang dari luar.

Aurelia melangkah ke tengah halaman yang diterangi obor, mencabut belati berhulu safir miliknya dan mengangkat spanduk mawar Oakhaven yang dibawanya dalam gulungan.

"Hentikan gerakan kalian!" suara Aurelia menggelegar, jernih dan penuh wibawa, memotong kepanikan di halaman tersebut.

Kudeta Tanpa Darah

Puluhan prajurit Oakhaven yang berada di halaman seketika berhenti. Mereka berbalik dan menatap sosok wanita yang berdiri di tengah kegelapan, dikelilingi oleh prajurit-prajurit berzirah hitam Utara.

"Itu... Putri Aurelia?" bisik salah seorang prajurit tua, menjatuhkan sekeranjang anak panah yang dipegangnya.

"Dia masih hidup! Duke Valerius mengatakan dia telah dibunuh oleh orang-orang Utara!" gumam yang lain, kebingungan dan ketakutan terpancar dari wajah-wajah mereka.

Komandan pos, seorang pria paruh baya bernama Kapten Vance—yang dikenal Aurelia sebagai salah satu perwira setianya mendiang ayahnya sebelum kudeta terjadi—melangkah keluar dari ruang strategi dengan pedang terhunus. Namun, ketika matanya melihat Aurelia, tangannya gemetar.

"Putri Aurelia..." Vance berbisik, matanya berkaca-kaca. "Apakah itu benar-benar Anda?"

"Ini aku, Kapten Vance," ujar Aurelia, melangkah maju tanpa rasa takut sedikit pun terhadap pedang yang dipegang Vance. "Pamanku, Valerius, telah membohongi kalian semua. Dia meracuni ayahku, Raja kalian, dan dia mencoba membunuhku di Utara. Orang-orang Utara yang berdiri di belakangku ini bukan datang untuk menjajah Oakhaven, mereka datang sebagai sekutuku untuk menuntut keadilan bagi Raja kita!"

Cassian melangkah maju ke samping Aurelia, pedang besarnya terhunus dan berkilau di bawah cahaya obor, memberikan efek intimidasi yang luar biasa besar namun tetap menjaga jarak.

Kapten Vance menatap Aurelia, lalu menatap spanduk mawar di tangannya, dan akhirnya beralih ke arah para prajuritnya yang sudah kehilangan nafsu bertempur. Mereka tahu reputasi mengerikan dari Legiun Serigala Utara; bertempur melawan mereka dalam kondisi terjepit dari dalam dan luar adalah bunuh diri. Terlebih lagi, legitimasi moral mereka runtuh setelah mengetahui sang Putri sah memimpin pergerakan tersebut.

Dengan perlahan, Kapten Vance menyarungkan kembali pedangnya, lalu berlutut di atas satu lutut di hadapan Aurelia.

"Hamba dan seluruh isi Pos Greenstone... mendedikasikan kembali kesetiaan kami kepada darah sah Oakhaven," ucap Vance dengan suara lantang.

Melihat komandan mereka berlutut, ratusan prajurit Oakhaven di halaman dan di atas dinding benteng serentak menjatuhkan senjata mereka ke tanah, berlutut dalam keheningan yang penuh rasa hormat.

Aurelia menghela napas lega, ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Ia menoleh ke arah Cassian, yang membalasnya dengan tatapan penuh kebanggaan dan senyum tipis yang mematikan.

"Buka gerbang depan," perintah Aurelia kepada Kapten Vance. "Biarkan pasukan utama masuk. Malam ini, Pos Greenstone jatuh tanpa ada satu pun nyawa rakyatku yang hilang. Dan besok... kita melanjutkan perjalanan menuju jantung kekuasaan Valerius."

Dengan jatuhnya pos terluar ini tanpa pertumpahan darah, jalan menuju ibu kota Oakhaven kini terbuka lebar bagi aliansi Mawar dan Serigala, sementara Duke Valerius yang sedang terluka di istananya sama sekali belum menyadari bahwa jaring-jaring pembalasan dendam keponakannya sudah mulai mencengkeram perbatasannya.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
Anisa Nur Afifah
haii kak baguss bngett sukaaa ceritanyaaa,

ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!