NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 - SEOLAH KITA PERNAH BERTEMU

Setelah keributan antara ibu dan anak dari keluarga Prasaja itu berlalu, lebih dari setengah jam sudah terlewat, dan waktu yang tersisa bagi Kirana semakin menipis dengan cepat.

Lagi pula, Arsip Agung tetap membutuhkan waktu untuk meninjau setiap pengajuan Sumpah Sejiwa yang masuk, dan itu bukan proses yang bisa dipercepat sesuka hati. Apalagi jika ada syarat yang kurang lengkap, pengajuan bisa tertolak dan harus diajukan ulang, sesuatu yang tidak bisa ia pertaruhkan di saat-saat genting seperti ini.

Kirana menatap sepasang mata besar Rangga yang begitu indah, lalu bertanya, "Jika kau menikahiku, apakah keluargamu akan keberatan?"

"Mereka tidak berani." Kalimat itu keluar dengan tegas, tanpa ragu sedikit pun, seperti kebenaran yang tidak bisa dibantah.

Kirana tersenyum. Pemuda yang tadi mengaku berumur empat puluh tahun itu mengucapkan kata-kata "mereka tidak berani" dengan nada yang terdengar galak di awal, tetapi sebenarnya hampir melelehkan hatinya. Betapa pun keras nadanya, ada sesuatu yang polos dan tulus di balik kata-kata itu, dan itulah yang membuat dada Kirana bergetar pelan.

Rangga di hadapannya ini sangat mengingatkannya pada seekor naga kecil yang dulu pernah ia pelihara ketika berkelana di Alam Kuna, makhluk yang manja, suka merebut perhatian, dan selalu ingin dibelai sepanjang waktu.

Makhluk itu tampak gagah dan kuat, tetapi kadang-kadang sangat lucu, sangat lembut, dan membuat siapa pun ingin mengelus-elusnya tanpa henti.

Kirana teringat pada orang-orang di balai jamuan yang menunggu untuk melihat lelucon atau berpura-pura bersimpati kepadanya, dan sudut bibirnya terangkat pelan.

Ia mengulurkan tangannya kepada Rangga dan tersenyum lembut. "Kalau begitu, Rangga bersedia menikahi kakak, kan?" Kata-kata itu keluar lebih hangat dari yang ia duga, seolah memang sudah menantinya.

Di depan matanya, seorang perempuan manis dengan gaun pengantin putih yang indah tengah mengulurkan tangannya kepadanya, dan untuk sesaat ia tidak bisa berpikir jernih. Ada kehangatan aneh yang mengalir dari genggaman itu, seolah takdir sedang mempertemukan dua orang yang seharusnya saling mengenal.

Awalnya, Rangga merasa orang ini sedikit akrab, seolah ingin mendekat tanpa alasan yang jelas, sehingga ia mengangguk tanpa ragu-ragu dan mengulurkan tangan untuk membuka kode gema miliknya. Hatinya berkata bahwa ia tidak boleh melepaskan tangan ini, apa pun yang terjadi.

Tautan berhasil tersambung.

Benarkah mereka berhasil saling menautkan kode dengan sukses?

Kirana merasa lega karena pihak lain ternyata sudah dewasa, tetapi ia juga merasa sedikit bersalah ketika melihat sepasang mata indah itu menatapnya dengan bingung. Ia seolah memanfaatkan kebingungan pemuda itu untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dan perasaan itu terus mengusik hatinya.

"Kau tidak sedang menipuku, kan?"

Pengajuan Sumpah Sejiwa sudah terkirim ke Arsip Agung untuk ditinjau, dan dalam waktu satu jam seharusnya hasilnya sudah keluar.

Sudahlah. Kirana menepis segala kekhawatiran itu. Apa pun hasilnya nanti, ia sudah mengambil keputusan, dan ia harus berdiri teguh di balik keputusan itu.

Jika nanti Rangga menyesal, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membatalkan pernikahan mereka.

Jika Rangga tidak menyesal... maka ia akan menghidupi pemuda itu seumur hidupnya!

Seorang anak naga secantik ini, ia tidak akan rugi sama sekali. Meskipun tingkahnya kadang aneh, keberadaannya justru membuat Kirana merasa lebih ringan, seolah segala kekalutan malam itu mulai mereda satu per satu.

Kirana memperhatikan pakaian hitam Rangga yang tampak sobek di beberapa bagian, lalu berkata, "Ayo, kakak akan mencarikanmu busana yang layak untuk dikenakan." Ia menepuk bahu pemuda itu pelan, seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Rangga berdiri, mengambil inisiatif untuk menggenggam tangan Kirana, lalu mengikuti langkahnya selangkah demi selangkah dengan penuh ketaatan.

Ketika ia berdiri, barulah Kirana menyadari betapa tingginya Rangga, jauh melebihi perkiraannya sebelumnya.

Mereka berjalan menuju ruang pengantin pria, tempat busana-busana pengantin digantung rapi. Ada delapan setel busana di sana, semuanya dibuat khusus mengikuti ukuran tubuh Danendra, dengan berbagai warna mulai dari abu-abu hingga biru tua yang berkilau.

Saat berganti pakaian, Kirana menemukan sebuah luka di lengan Rangga. Untungnya, luka itu tidak terlalu dalam dan sudah mulai diobati.

Ia mengerutkan kening. "Bagaimana kau bisa terluka seperti ini? Mau kupanggilkan tabib untuk memeriksanya?" Nada suaranya mengandung kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.

Rangga menggeleng. "Tidak usah. Tidak sakit."

Kirana memastikan berulang kali bahwa luka itu memang sudah tidak mengeluarkan darah dan sudah mulai mengering, barulah ia menghela napas lega.

Ia berpikir, setelah pernikahan ini selesai, ia akan menyuruh seseorang mencari tahu asal-usul Rangga, dan mengapa pemuda ini seolah tidak mengingat apa-apa.

Kirana memilihkan busana berwarna hitam untuk Rangga. Permata putih yang menghiasi ujung lengan busana itu berpadu indah dengan permata di gaun pengantinnya sendiri.

Setelah berganti busana, barulah Kirana menyadari bahwa wajah Rangga memang terlihat sangat muda, tetapi tingginya melebihi Danendra yang berukuran seratus delapan puluh sentimeter. Kemeja yang dikenakannya tampak pas di badan, kancingnya menegang, dan bentuk ototnya samar-samar terlihat jelas. Sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan wajah polosnya.

Wajahnya begitu halus dan cantik, tetapi tubuhnya... sungguh di luar dugaan!

Kirana mengangkat kepala dan mendapati Rangga tengah menatapnya. Lehernya yang putih tampak sedikit memerah.

"Rangga, kenapa kau?" Kirana bertanya pelan, bingung melihat perubahan sikap pemuda itu yang tiba-tiba menjadi diam.

"Kak, aku sepertinya pernah bertemu denganmu di suatu tempat."

Mendengar kalimat rayuan kuno yang sudah basi di Alam Kuna itu, Kirana tidak bisa menahan tawanya.

"Ya, mungkin saja kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya."

Rangga mengerutkan kening, sedikit bingung, karena menurut perasaannya itu mungkin bukan hanya kehidupan sebelumnya.

Namun pikirannya yang kacau mencegahnya untuk berpikir lebih dalam, dan setiap kali ia mencoba memikirkannya, kepalanya langsung terasa sakit.

Meskipun busana itu sedikit terlalu sempit, masih bisa diterima. Berdiri di depan cermin, keduanya tampak sangat gagah dan cantik, seperti pasangan yang memang diciptakan untuk saling berdampingan. Kirana bahkan sempat berpikir bahwa pemandangan ini jauh lebih indah daripada apa yang pernah ia bayangkan.

Kirana tiba-tiba teringat bahwa rekaman pernikahannya dengan Danendra masih terpajang di layar-layar jalanan. Meskipun sebentar lagi akan diganti, memikirkannya tetap terasa ironis, karena semua itu disiapkan untuk pria yang kini kabur membawa adik angkatnya.

Tiba-tiba, tangannya digenggam oleh tangan yang besar dan hangat. Kirana menoleh dan melihat mata basah Rangga yang seperti anak rusa.

"Kak, sedang memikirkan apa?" Suaranya lembut, penuh perhatian, seolah ia benar-benar ingin tahu apa yang berkecamuk di kepala gadis di depannya itu.

"Aku sedang berpikir, kenapa Arsip Agung belum juga mengesahkan pengajuan Sumpah Sejiwa kita."

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!