NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — Berita yang Tidak Pernah Terbit

Ada sebelas artikel tentang diriku yang tidak pernah sampai kepada pembaca.

Damar mencetak judul-judulnya dan menempelkannya di papan audit pernikahan. Kertas putih menutupi sebagian kolom tentang lamaran, fellowship, dan pertemuan pertama.

Aku menatap papan itu beberapa saat.

Setelah mengatur jalan menuju pernikahan, Rendra ternyata juga mengatur bagaimana dunia melihat perempuan yang menjadi istrinya.

Banyu berdiri di depan papan sambil membaca satu per satu.

“Yang ini memang sampah,” katanya.

Ia menunjuk judul pertama.

Mediator Cantik Diduga Berselingkuh dengan Suami Klien.

Tidak ada nama sumber, tidak ada bukti, dan foto yang dipakai merupakan potongan dari acara seminar. Lelaki di sampingku bahkan bukan suami klien. Ia moderator acara berusia enam puluh tahun yang kebetulan membungkuk untuk mendengar perkataanku.

“Yang kedua juga fitnah,” lanjut Banyu.

Ruang Tengah Mengajarkan Perempuan Membenci Pernikahan.

Artikel itu mengambil tiga kalimat dari wawancara panjang, lalu menghilangkan bagian ketika aku menjelaskan bahwa mediasi juga dapat membantu pasangan berdamai dengan batas yang lebih sehat.

Aku menatap Damar.

“Dua ini dihapus setelah pembelian saham?”

“Iya.”

“Kalau hanya itu, aku mungkin akan mengucapkan terima kasih.”

Banyu melirikku.

“Jangan terlalu cepat. Ada sembilan lagi.”

Artikel ketiga membahas biaya mediasi Ruang Tengah yang dianggap terlalu tinggi untuk lembaga yang sering mengaku membantu korban ekonomi. Kritiknya tidak sepenuhnya adil karena kami memiliki program subsidi. Pada tahun yang dibahas, informasi subsidi memang sulit ditemukan di situs.

Artikel keempat mempertanyakan mengapa aku beberapa kali menjadi pembicara dalam acara Kalyana Foundation tanpa mengungkap bahwa suamiku merupakan direktur grup.

Artikel kelima menyoroti kantor kami yang memperoleh sewa di bawah harga pasar dari pemilik gedung yang utangnya pernah dilunasi yayasan.

Aku menarik kursi dan duduk.

“Ini bukan fitnah,” kataku.

“Tidak,” jawab Damar.

“Sebagian belum lengkap, tapi pertanyaannya sah.”

“Benar.”

Aku memandang judul-judul berikutnya.

Apakah Mediator Nadira Sasmita Benar-Benar Independen?

Ruang Tengah dan Dana yang Tidak Pernah Dijelaskan.

Ketika Istri Direktur Kalyana Menangani Perceraian Eksekutif.

Setiap artikel memiliki kelemahan. Ada data yang tidak lengkap, sumber anonim, atau kesimpulan yang terlalu jauh.

Tetap saja, inti pertanyaannya sama dengan yang sekarang mulai menggangguku.

Apakah karierku berdiri cukup jauh dari uang keluarga Kalyana?

Selama ini aku tidak pernah tahu pertanyaan itu pernah diajukan.

Bukan karena tidak ada yang bertanya.

Seseorang memastikan pertanyaannya tidak pernah sampai kepadaku.

“Bagaimana pembeliannya dilakukan?” tanyaku.

Damar membuka bagan perusahaan.

“Perusahaan investasi bernama Tirta Nusa membeli tiga puluh delapan persen saham Warta Kota Raya. Tirta Nusa dimiliki dua perusahaan lain yang berakhir pada badan usaha di bawah kendali Rendra.”

“Namanya tidak muncul.”

“Tidak secara publik.”

Banyu mengeluarkan kartu memori dari tas.

“Aku dapat cadangan redaksinya dari mantan editor.”

“Kapan?”

“Tiga tahun lalu.”

Aku menatapnya tajam.

“Kamu sudah tahu?”

“Aku tahu beberapa artikel ditarik. Aku tidak tahu Rendra membeli saham sampai minggu ini.”

“Kenapa kamu menyimpan salinan?”

“Karena media yang menghapus berita tanpa koreksi biasanya sedang takut atau dibayar. Kadang keduanya.”

Ia memasukkan kartu memori ke laptop terpisah.

Folder arsip memuat draf, surel redaksi, komentar editor, serta perintah penarikan.

Nama Rendra tidak tertulis dalam instruksi. Hanya kode pemegang saham baru.

Pada satu surel, seorang direktur media menulis:

Pihak investor menilai pemberitaan terhadap N.S. dapat mengganggu stabilitas keluarga. Seluruh artikel wajib melewati pemeriksaan khusus.

Stabilitas keluarga.

Aku menatap dua kata itu cukup lama.

Istilah yang terdengar jauh lebih sopan daripada apa yang sebenarnya mereka lakukan: memastikan tidak seorang pun memberitahuku bahwa ada masalah dalam pekerjaanku sendiri.

“Aku ingin melihat artikel pertama yang ditarik,” kataku.

Banyu membuka berkas.

Artikel itu memang buruk. Penulisnya menuduhku berselingkuh berdasarkan foto seminar dan pesan anonim. Tidak ada upaya menghubungi kantor. Tidak ada verifikasi.

Aku bisa memahami mengapa Rendra marah.

Aku bahkan bisa membayangkan dirinya membaca artikel itu malam-malam, menelepon pengacara, lalu mencari cara memastikan namaku tidak lagi dipakai untuk menarik pengunjung.

Aku mengenalnya cukup lama untuk tahu seperti apa wajahnya ketika merasa harus melindungiku.

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih rumit.

Ia tidak berhenti setelah fitnah hilang.

Ia membeli ruang redaksi.

Artikel kedua yang ditarik merupakan profil positif tentang keberhasilanku menangani seratus kasus. Rendra meminta bagian yang menyebut bantuan Kalyana Foundation dihapus agar pembaca melihat Ruang Tengah sepenuhnya mandiri.

“Dia juga menghapus pujian yang tidak sesuai citra,” kataku.

“Sepertinya begitu,” jawab Damar.

Aku menggeleng pelan.

“Dia tidak hanya melindungi reputasiku.”

Aku menatap artikel itu lagi.

“Dia menentukan cerita mana yang boleh sampai kepadaku.”

Banyu bersandar ke meja.

“Ada dua cara membuat seseorang terlihat bersih. Membuktikan tuduhannya salah atau memastikan semua orang yang bertanya kehilangan tempat bicara.”

Rendra memilih cara kedua.

Aku membuka surel lain.

Seorang editor pernah meminta wawancara denganku untuk menjawab konflik kepentingan. Permintaan itu tidak pernah diteruskan kepada Ruang Tengah. Bagian komunikasi media mengirim jawaban atas namaku.

Nadira Sasmita tidak terlibat dalam kegiatan bisnis Kalyana Group dan seluruh pekerjaannya berjalan independen.

Kalimat tersebut benar sejauh yang kuketahui saat itu.

Sekarang aku tahu sewa kantor, beberapa rujukan, seminar, dan program konseling pernah mendapat dana dari sumber yang terhubung dengan Kalyana.

“Aku tidak pernah menyetujui pernyataan ini,” kataku.

Damar mengambil salinannya.

“Ada tanda persetujuan dari alamat surel kantor Anda.”

Aku memeriksa alamatnya.

Bukan surel pribadiku. Alamat komunikasi umum Ruang Tengah yang dikelola tim operasional.

“Tara?” tanyaku.

“Kita belum tahu siapa yang mengirim,” jawab Damar. “Kata sandinya pernah dibagikan kepada empat pegawai dan vendor situs.”

Aku bersandar.

Aku sudah lelah menemukan bahwa setiap pintu digital dalam hidupku memiliki terlalu banyak kunci.

Banyu membuka artikel keenam.

Tulisan itu lebih panjang dan jauh lebih rapi. Penulis mewawancarai mantan klien, dua mediator lain, serta pengurus yayasan. Sebagian besar klien memuji pekerjaanku. Mereka mengatakan aku tidak pernah mengarahkan hasil dan selalu menjelaskan pilihan hukum dengan jelas.

Tiga klien mengaku memperoleh rekomendasi melalui program bantuan yang dibiayai yayasan Kalyana.

Nama mereka disamarkan.

Tanggal kasus ditulis.

Aku mengenali semuanya.

Kasus Naufal termasuk salah satunya.

Dua nama lain datang pada tahun pertama Ruang Tengah berdiri. Seorang perempuan yang suaminya menyembunyikan utang perusahaan. Satu pasangan yang memerlukan kesepakatan hak asuh setelah usaha keluarga bangkrut.

Aku mengingat pekerjaan mereka.

Tak satu pun hasil diatur atau diperintahkan Rendra. Aku bahkan pernah menolak usulan pengacara yayasan dalam salah satu kasus.

Aku tidak pernah tahu mereka diarahkan kepadaku melalui dana keluarga suamiku.

“Artikel ini seharusnya diterbitkan,” kataku.

Banyu mengangguk.

“Ada masalah verifikasi pada satu transaksi, tapi inti laporannya kuat.”

“Kenapa ditarik?”

Damar membuka surel investor.

Pesannya hanya tiga baris.

Artikel menciptakan persepsi bahwa keberhasilan Ruang Tengah merupakan hasil dukungan keluarga. Tuduhan tersebut dapat merusak keyakinan Nadira terhadap pekerjaannya. Hapus seluruh versi dan hentikan pemeriksaan lanjutan.

Tidak ada nama.

Aku tetap mengenali cara berpikirnya.

Rendra menghapus artikel bukan karena seluruh isinya salah.

Ia menghapusnya karena takut aku mengetahui awal karierku tidak sepenuhnya berdiri sendiri.

Ia memutuskan bahwa kepercayaan diriku lebih penting daripada hakku memahami fondasi kantorku sendiri.

“Apakah dia pernah mengatakan berapa banyak klien yang dikirim?” tanyaku.

“Belum dalam dokumen yang kami terima,” jawab Damar.

“Hubungi dia.”

Damar menatapku.

“Sekarang?”

“Bukan secara pribadi. Kirim pertanyaan resmi.”

Ia membuka laptop dan mulai menulis.

Sebutkan seluruh klien Ruang Tengah yang pernah diarahkan, dibiayai, dirujuk, atau dipengaruhi oleh Anda, perusahaan Anda, keluarga Anda, atau yayasan yang terhubung.

Aku membaca kalimat itu.

“Termasuk yang tidak menghasilkan pembayaran langsung.”

Damar mengetik.

“Berikan tenggat empat jam.”

“Dia bisa meminta waktu lebih panjang.”

“Boleh. Tapi aku ingin tahu kapan dia mulai mencari jawabannya.”

Pertanyaan resmi dikirim.

Kami melanjutkan membaca artikel yang tidak pernah terbit.

Makin jauh kami membaca, makin jelas Rendra tidak hanya menghapus tulisan buruk.

Ia membersihkan ketidakteraturan, pertanyaan, bahkan kritik yang mungkin membuatku melihat campur tangannya lebih cepat.

Dua jam kemudian, jawaban awal datang dari Elsa.

Rendra mengakui tiga klien awal diarahkan melalui Yayasan Jembatan Keluarga. Audit sedang berlangsung karena ada kemungkinan rujukan tambahan berasal dari jaringan Surya dan Helena tanpa sepengetahuannya.

Tiga.

Aku membaca tanggal kasus yang dikirim.

Naufal.

Selvi bukan nama klien resmi karena perkara terdaftar melalui adiknya.

Dua kasus lain cocok dengan artikel.

Ada lampiran terakhir berupa artikel lengkap yang ditarik sebelum terbit.

Di dalamnya, seorang pengurus yayasan tanpa nama mengatakan jaringan tidak berhenti pada tiga klien.

Ia mengaku sedikitnya sembilan perkara Ruang Tengah berasal dari program keluarga Kalyana.

Aku membaca angka itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Sembilan.

Selama ini aku mengira yang harus kupertanyakan adalah apakah Rendra pernah mengatur hasil sebuah perkara.

Sekarang pertanyaannya berubah.

Berapa banyak orang yang masuk ke ruang kerjaku karena seseorang sudah memilih mereka untukku?

Pada paragraf terakhir, penulis membuat tuduhan yang membuat seluruh tubuhku dingin:

Ruang Tengah diduga menerima klien yang sengaja dipilih yayasan agar hasil mediasinya melindungi kepentingan bisnis Kalyana Group.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!