NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

selalu aku yang di salahkan

Jam sudah menunjukan pukul 4 sore.

Aku terbangun karena mendengar suara ponselku berdering. Dengan mata yang masih berat tanganku meraba-raba mencari ponsel ku.

setelah menemukan ponselku, aku melihat layar, tertera nama "suamiku" memanggil. Segera ku angkat panggilannya.

"Assalamualaikum, Mas." Sapaku lembut.

"Walaikumsallam. Yang ,sebentar lagi Ibu akan segera tiba dirumah. Beliau masih dalam perjalanan. Mungkin kurang dari satu jam Ibu akan tiba dirumah kita. Tolong kamu sambut Ibu dan persiapkan segala yang dibutuhkan Ibuku. Sekalian aku juga mau kasih tau, kalau hari ini aku akan pulang malam. Pekerjaan ku masih banyak yang belum terselesaikan. Sudah ya, aku lanjut kerja dulu." Kata Mas Rama yang langsung menutup teleponnya seperti biasa.

Aku terdiam sejenak. Menarik napas panjang. Mengumpulkan kekuatan dan tenagaku lagi setelah mendengar ucapan Mas Rama bahwa Ibu nya akan segera tiba.

Lagi dan lagi. Selalu mendadak jika beliau datang. Tanpa persiapan apapun. Aku benar-benar harus mempersiapkan semuanya. Menyambutnya dengan manis, memasak makanan kesukaannya.

Aku sudah sangat paham betul dengan sifat Ibu mertuaku. Beliau sangat memperhatikan urusan rumah. Beliau selalu ingin rumah terlihat rapi dan bersih. Makanan harus selalu tersedia. Dan menantunya harus melayani nya dengan baik. Sekecil apapun kesalahan yang aku lakukan , akan membuatnya menceramahiku.

Aku menoleh ke kedua anak ku. Mereka masih tertidur lelap. aku menyentuh dahi Aldi, Alhamdulillah panas nya sudah turun. Aku tidak ingin membangunkannya. Aku hanya akan membangunkan Aira karena waktu sudah sore, dan ia belum mandi.

"Aira, sayang ayo bangun, Nak. Sudah sore.. Ayo mama mandiin." ucapku pelan sambil mencium pipi gembulnya.

Aira menggeliat dan terbangun karena aku beberapa kali menciumi pipinya. Langsung ku gendong Aira menuju kamar mandi untuk segera memandikannya.

Setelah selesai memandikan Aira dan juga memakaikan baju. Aku beranjak ke dapur untuk mulai memasak menu makan malam, dan juga membuat makanan kesukaan Ibu mertuaku.

"Abang sama Adik main dulu dikamar, ya. Mama mau masak dulu di dapur. Aira jagain Abang, ya ..jangan nakal. Abang masih sakit." kata ku kepada kedua anak ku.

"Iya, Mama." Jawab Aira.

Setelah memastikan kedua anak ku nyaman di kamar. Aku segera menuju ke dapur.

Aku membuka kulkas, lalu memikirkan menu yang akan aku buat malam ini. Aku sudah sangat hafal makanan kesukaan Ibu mertuaku. Beliau sangat suka masakan yang gurih dan kaya akan rempah. Tidak suka pedas dan manis.

Aku mengambil bahan-bahan yang aku perlukan.

seperti bawang putih, bawang merah, jahe, lengkuas, daun salam. Semuanya aku persiapkan.

Kedua tanganku langsung bergerak cepat. Mengupas, memotong, mengaduk, menggoreng. Aroma bumbu yang aku tumis mulai memenuhi dapur.

Tidak ada banyak waktu, firasatku mengatakan bahwa sebentar lagi Ibu mertuaku akan segera tiba.

Setelah masakan matang. Aku segera meletakkan nya di atas meja makan. Ku tata rapi dan kututup dengan tudung saji.

Untuk beberapa saat aku duduk untuk merenggangkan kaki dan tanganku yang sudah sangat pegal. Tapi sedetik kemudian aku langsung teringat ,kalau kamar tamu yang nanti akan di tempati Ibu mertuaku belum aku bersihkan.

Buru-buru aku langsung beranjak menuju kamar tamu. Kamar tersebut terlihat rapi karena memang jarang di gunakan. Jadi aku hanya perlu menyapu dan mengganti sepreinya.

Sudut-sudut kamar aku sapu bersih, debu-debu juga aku lap hingga bersih. Karena Ibu mertuaku sangat memperhatikan tentang kebersihan. Terakhir aku merapikan bantal dan selimut. Aku berharap Ibu mertua ku akan merasa nyaman dan tidak mengeluh apa-apa.

Ibu mertuaku bernama Lastri. Beliau sangat menyayangi Putra nya, yaitu Mas Rama. Sejak awal kami menikah, beliau sangat sering memberikanku nasehat. Jadi sebagian besar kehidupanku cara menjalani peran sebagai istri berkat wejangan dari beliau.

Masih sangat teringat jelas beberapa tahun lalu, sebelum aku memiliki anak. Aku sempat ingin bekerja. Namun, beliau memberikan nasehat kepadaku.

"Jasmine, bukan maksud Ibu melarangmu untuk bekerja. Tapi jika kamu bekerja, pasti kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Lalu siapa yang akan mengurus rumah dan mengurus semua yang di butuhkan suami mu. Waktu mu pasti akan terbagi antara pekerjaan dan juga rumah. Jangan sampai kewajiban mu sebagai istri terbaikan." Kata Ibu mertuaku.

waktu itu aku hanya diam. Dan mendengarkan nasehat beliau.

"Hidup lah dengan sederhana, Jasmine. Kalau Rama memberikan mu uang sekian dalam satu bulan, syukuri saja. kamu jangan terlalu banyak menuntut." Imbuhnya.

Nasehat-nasehat itu terus tertanam di kepalaku sampai sekarang. Aku menurut semua nasehat nya. Hingga saat ini aku memilih tetap mengurus rumah, suami dan juga ke dua anak ku.

Selama ini pula aku juga sangat berhati-hati dalam mengatur masalah keuangan. Lima ratus ribu dalam satu minggu harus cukup untuk makan, beli susu, beli beras, sabun, air, tagihan listrik, di tambah uang jajan untuk Aldi dan Aira.

Jika dalam satu minggu aku meminta lebih, Mas Rama pasti marah dan menuduhku terlalu boros.

Jadi sebisa mungkin, aku belajar berhemat. Belajar menahan keinginan, dan juga belajar menerima apa yang di berikan oleh suamiku. Karena aku percaya, jika aku menjalankan semua nya dengan ikhlas maka rumah tanggaku akan baik-baik saja.

Setelah semua selesai dan memastikan kamar tamu sudah bersih dan rapi. Aku kembali ke ruang tengah. Baru saja hendak duduk untuk mengambil napas sejenak, terdengar suara ketukan dari pintu depan.

Tok..tok..tok..

Aku langsung menoleh. Aku yakin pasti Ibu mertuaku sudah sampai. aku segera berjalan menuju pintu utama dan membukanya. Dan benar dugaanku, Ibu mertuaku sudah berdiri dengan beberapa barang bawaannya.

"Assalamualaikum," Ucap Beliau.

"Walaikumsallam, Ibu. Apa kabar?" Tanyaku, seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman, kemudian mencium punggung tangan nya.

"Alhamdulillah, Ibu sehat. Kamu sendiri gimana kabarnya, Jasmine? , Lalu di mana Rama?" Tanya Ibu mertuaku.

"Alhamdulillah ,saya juga sehat, Bu. Kalau Mas Rama belum pulang. Tadi sudah memberi kabar katanya akan pulang malam, karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan Mas Rama." Jawab ku lembut.

"oh.. Terus dimana cucuku?"

"Aira sedang makan, Bu. Sedangkan Aldi sedang istirahat. Badannya agak kurang sehat." ucapku.

"Aldi sakit? Sakit apa cucu ku? Kenapa bisa sakit?" Tanya beliau dengan wajah khawatir.

"Badannya demam,Bu. Tadi waktu di sekolah muntah-muntah." Jawab ku.

"Kok bisa?"

"Tadi waktu disekolah Aldi jajan es sembarangan."

"Jajan sembarangan? .. Apa kamu tidak membawakannya bekal, Jasmine?" Seru beliau, nada suara nya terdengar mulai meninggi.

"Setiap hari selalu saya bawakan bekal, Bu. Tapi Aldi bilang teman-teman nya banyak yang membeli es itu. Jadi Aldi juga ingin membelinya." kataku pelan.

"Jasmine , lain kali kamu harus lebih memperhatikan anak mu. Anak umur segitu belum tau mana makanan yang baik dan mana makanan yang tidak baik." ucap Ibu mertuaku dengan nada penuh penekanan.

Aku menundukan kepala.

"Iya, Bu." Jawab ku singkat.

"Kamu harus lebih memperhatikan anak-anakmu."

Aku hanya terdiam. Mendengar Ibu mengatakan aku harus lebih memerhatikan anak-anak ku, membuat hati ku terasa sesak.

Jika beliau tau. Setiap hari, setiap pagi sampai malam seluruh tenaga dan jiwa raga ku , aku pertaruhkan demi kedua anak ku. Bahkan ketika tubuhku sudah merasa sangat lelah, aku tetal berusaha kuat demi semua kebutuhan mereka terpenuhi.

Aku menarik napas dalam-dalam. Berusaha tidak terlalu memikirkan perkataan beliau.

...****************...

Terimakasih sudah membaca..

Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan.

Jangan lupa follow, yaa 😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!