NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ngebucin Main Padel 24.

Selepas bel pulang sekolah berbunyi, Mona tampak tidak setakut saat berangkat sekolah.

Gadis itu kembali ceria seperti biasanya, laki-laki yang sedang ia gandeng sudah dapat di percaya, sudah bisa diandalkan untuk memberikan perlindungan dari tatapan sinis para siswa.

Secara terang-terangan, Affan membonceng Mona melewati gerbang sekolah.

Tujuan mereka sore ini tidak langsung ke rumah,

Matahari sore Jakarta bersinar terik, tetapi hawa dingin langsung menyergap begitu Mona dan Affan turun dari motor.

Mereka melangkah sambil bergandengan tangan mengiringi area parkir Jclub Padel Court.

"Tas kamu biar saya yang bawa," ucap Affan, tetapi tangannya langsung menyambar ransel merah muda Mona sebelum gadis itu sempat memprotes.

"Fan, ini di depan umum. Banyak anak sekolah lain yang main padel di sini," bisik Mona, menatap area parkir pusat olahraga yang cukup ramai.

"Biarin" sahut Affan pendek. Matanya menatap tajam ke sekeliling, seolah siap menerkam siapa saja yang berani berbisik-bisik seperti Selly saat menyindir istrinya di kantin tadi pagi. "Mulai sekarang, gak ada yang boleh bikin kamu nangis lagi. Wajah judes kamu enggak cocok buat nangis, ayo jalan di sebelah saya."

"Wajah judes ga tuh?" Mona bersedekap dada memanyun bibir.

Affan melerai bersedekap dada istrinya, lalu semena-mena menggandeng jemari Mona dengan erat. Genggaman tangannya hangat, kontras dengan wajahnya yang mendadak super protektif. Namun dingin.

Mona hanya bisa pasrah, merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Status mereka bukan lagi rahasia, dan Affan memastikan seluruh dunia tahu bahwa Mona adalah miliknya.

Mereka memasuki lapangan padel indoor yang sudah dipesan Affan. Bau lantai karpet sintetis dan dinding kaca yang megah menyambut mereka. Affan meletakkan tas mereka di bangku pemain, lalu membuka jaketnya, menyisakan kaos olahraga putih polos.

"Kita beneran main padel? Saya enggak bisa Sayang," ujar Mona cemas, memandangi raket padel yang bentuknya solid tanpa senar.

Affan tersenyum tipis. "Saya ajarin. Padel lebih gampang dari tenis biasa. Lapangannya tertutup kaca, bola gak akan lari jauh."

Affan mengambil satu raket, lalu berdiri di belakang Mona. Dia menempelkan dadanya ke punggung Mona, meraih tangan kanan gadis itu untuk menggenggam gagang raket bersama-sama.

"Pegangannya harus kuat, Sayang. Ayunannya dari bawah ke atas, pakai tenaga lengan, bukan pergelangan tangan," bisik Affan tepat di telinga Mona. Suaranya yang berat membuat tengkuk Mona meremang.

"A-Afan, ini beneran belajar atau modus?" cicit Mona pelan. Sifat nyebelinnya Mona sepertinya kembali datang.

Affan terkekeh, getarannya terasa langsung di punggung Mona. Dia mengecup puncak kepala Mona secara kilat. "Dua-duanya. Anggap aja ini stress relief setelah kemarin kita disidang kepsek dan hari ini dicibir habis-habisan satu sekolah."

Sesi latihan berubah menjadi tawa. Affan mulai memukul bola dengan pelan ke arah Mona. Beberapa kali Mona meleset, membuat bola memantul liar di dinding kaca belakangnya. Namun, setiap kali Mona berhasil mengembalikan bola, Affan akan bertepuk tangan heboh seperti suporter garis keras.

"Hebat! Gitu dong, Istriku," goda Affan sengaja mengeraskan kata terakhir.

Wajah Mona memerah padam. "Sayang! Jangan keras-keras!"

Di tengah permainan, sebuah bola melambung tinggi. Mona mundur tanpa melihat ke belakang, bersiap memukul. Dia tidak sadar posisinya sudah terlalu dekat dengan dinding kaca.

"Mona, awas!"

Bruk!

Affan melesat cepat. Sebelum punggung Mona membentur kaca keras, lengan kekar Affan sudah menyelinap di belakang tubuh Mona, menjadikannya bantalan tangan agar punggung istrinya tidak terluka. Tangan Affan yang lain mencengkeram pinggang Mona, menariknya dalam dekapan.

Napas keduanya memburu. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.

"Kamu gak apa-apa?" tanya Affan, matanya memancarkan rasa khawatir yang luar biasa. Tatapannya intens, menyisir seluruh wajah Mona untuk memastikan tidak ada luka.

"Gak apa-apa sayangku... kan ada kamu," jawab Mona lirih, menatap manik mata hitam Afffan.

Affan menghela napas lega. Dia tidak melepaskan pelukannya, justru mempereratnya. Tangannya merapikan anak rambut Mona yang sudah basah oleh keringat, menyelipkannya ke belakang telinga.

"Saya hampir jantungan," bisik Affan, menyandarkan dahinya ke dahi Mona. "Maaf ya, belakangan ini hidup kamu jadi susah gara-gara status kita ketahuan. Saya janji sejanji-janjinya bakal jagain kamu dari omongan orang-orang di sekolah. Kamu cuma perlu lihat saya, gak usah dengerin mereka."

Mona tersenyum manis, rasa takut yang menghantuinya sejak rahasia mereka terbongkar mendadak sirna. Berada di pelukan Affan di tengah lapangan padel ini membuatnya merasa aman.

"Makasih ya, Suami Protektif," goda Mona balik, meniru nada bicara Affan tadi.

Affan menaikkan sebelah alisnya, seringai jahilnya kembali. "Oh, udah berani ngegoda sekarang? Hukumannya, kita main satu set lagi. Yang kalah harus masak makan malam, gimana?"

"Setuju! Siapa takut!" tantang Mona garang. "Lagian kamu masih belum bisa masak anjir!" Lanjutnya melepaskan diri sambil tertawa, bersiap kembali ke posisi bermain dengan hati yang jauh lebih ringan.

**

"Fokus, Sayang," suara Affan memecah lamunan Mona. Affan melambungkan bola kuning, lalu memukulnya rendah melewati net.

Mona berlari ke kanan. Ia mengayunkan raket, memukul bola tepat sebelum membentur dinding kaca di belakangnya. Bola memantul kembali, namun Affan dengan cekatan melakukan volley cepat yang jatuh di sudut mati lapangan Mona.

"Satu poin buat saya, yeeeyy," ujar Affan senang sambil menyugar surainya sudah keringatan.

Mona mendengus, ikut menyeka keringat di dahinya. "Kamu curang. Kamu tahu saya lemah di bagian sudut."

Affan berjalan mendekati net. Ia melompati pembatas rendah itu tanpa kesulitan, lalu berhenti tepat di depan Mona.

Jarak mereka mengikis. Tangan kekar Affan tiba-tiba terulur, mengambil selembar tisu dari kantong celananya, lalu mengusap pelipis Mona dengan lembut.

"Capek?" tanya Affan. Suaranya melembut, kontras dengan nada dinginnya saat menghadapi sisa anak-anak satu sekolah yang bergosip tadi siang. "Kalau capek, kita istirahat. Saya enggak mau kamu pingsan."

"Saya enggak selemah itu, Affan," protes Mona, Sepertinya gadis itu sekali nyobain main padel langsung suka— meski jantungnya berdegup kencang akibat perlakuan manis Affan barusan.

Mona terpaku. Sifat protektif Affan yang muncul pasca-rahasia mereka terbongkar terasa begitu intens, namun anehnya, sungguh membuat Mona merasa sangat aman. Beban ketakutan akan cibiran satu sekolah menguap begitu saja karena Affan berdiri di depannya sebagai pelindung.

Affan mengacak rambut Mona saat ia melamun, merusak tatanan kuncirannya. "Yasudah kuy main lagi. Kalau kamu bisa cetak tiga poin berturut-turut, saya turuti semua kemauanmu malam ini."

Mata Mona berbinar. "Sore ini kita makan es krim di kedai dekat rumah?"

"Apapun," balas Affan sambil berjalan kembali ke areanya.

Permainan berlanjut menjadi lebih santai dan penuh tawa. Mona berkali-kali mencoba mengejar bola pantulan dinding kaca, sesekali hampir terjatuh namun digoda oleh Affan.

Ketika Mona berhasil melakukan smash yang tidak bisa dikembalikan, ia melompat kegirangan. Affan hanya menonton sambil tersenyum lebar, membiarkan istrinya memenangkan beberapa poin dengan sengaja.

Tanpa mereka sadari, langit di atas lapangan padel mulai berubah warna. Semburat jingga dan keunguan perlahan menggantikan birunya langit sore.

Lampu-lampu sorot di sekitar lapangan otomatis menyala, menerangi area bermain mereka yang mulai temaram.

Affan menangkap bola terakhir dengan tangan kirinya, lalu melihat jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukkan tepat pukul enam sore.

"Sudah jam enam sayang, Selesai," panggil Affan.

Mona berjalan mendekat sambil mengatur napasnya yang memburu. "Seru banget!!!! Saya menang, kan?"

"Iya, istriku menang," ucap Affan santai sambil membereskan raket mereka ke dalam tas olahraga.

Affan berjalan mendekat, lalu meraih tangan Mona dan menggenggamnya erat, menautkan jari-jemari mereka tanpa ragu.

"Ayo pulang, mandi, lalu kita cari es krim terenak pilihanmu," kata Affan sambil menuntun Mona menuju tempat parkir padel.

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!