Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Sang Pahlawan Gelap
Aroma asap kayu yang terbakar bercampur dengan bau gosong kain dan bebatuan yang meleleh menyusup perlahan ke dalam indra penciumannya.
Rasa dingin dari bebatuan gang yang tertutup lapisan abu tipis menempel di pipi kirinya.
Nico Robin membuka matanya secara perlahan. Pandangan matanya sempat kabur untuk beberapa saat. Garis-garis hitam dan abu-abu di sekelilingnya tampak samar, berputar pelan sebelum akhirnya kembali fokus.
Dia menghirup udara dengan patah-patah. Paru-parunya terasa hangat, menyerap sisa-sisa hawa panas yang masih mengambang di udara malam gang sempit itu.
Robin menggerakkan jari-jari tangannya. Sentuhan kasar dari debu dan bebatuan yang menghitam menegaskan satu hal pada pikirannya yang baru saja kembali dari kegelapan.
Dia masih hidup.
Gadis Iblis dari Ohara itu tidak terbangun di dalam sel besi milik Pemerintah Dunia. Dia tidak terbangun dengan borgol Batu Laut yang mengunci kedua pergelangan tangannya. Tidak ada suara rantai yang diseret. Tidak ada gelak tawa dari para agen rahasia yang merayakan kemenangan mereka.
Yang ada hanyalah keheningan yang luar biasa.
Robin memutar kepalanya perlahan. Di atas tanah yang menghitam beberapa meter dari posisinya tergeletak belasan tubuh pria berjas hitam. Pakaian mereka hancur, sebagian jas mereka telah berubah menjadi abu. Mereka terkapar tidak berdaya, mengerang pelan dalam pingsan mereka akibat patah tulang dan luka bakar yang parah.
Orang-orang yang selama bertahun-tahun menjadi mimpi buruknya. Para pembunuh elit dari Cipher Pol yang biasanya memburu target mereka tanpa rasa ampun.
Kini, mereka semua tergeletak seperti dedaunan kering yang ditumbangkan oleh badai.
Mata biru Robin bergulir pelan menuju ke arah ujung gang buntu.
Di sana, membelakangi remang-remang cahaya sore yang mulai memudar, berdiri seorang sosok. Pemuda berambut hitam panjang yang tajam di bagian ujungnya. Pelindung dada merah berwarna menyala yang dikenakannya memantulkan sisa-sisa bara api yang masih menyala kecil di dinding batu.
Pemuda itu berdiri tegak. Kedua tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celananya. Dia tidak tampak terluka. Pakaiannya tidak ternoda oleh darah. Wajahnya yang rupawan dan dingin menatap ke arah luar gang, sama sekali tidak memedulikan belasan tubuh musuh yang terkapar di sekitar kakinya.
Robin menatap punggung berarmor merah itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Pikirannya yang biasanya selalu penuh dengan kalkulasi taktis dan kewaspadaan tinggi, kini mendadak lumpuh. Kenangan masa lalu yang telah dia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya yang paling gelap mendadak bangkit kembali, membanjiri kesadarannya.
Sejak usia delapan tahun, dunia telah mengajarinya satu pelajaran yang sangat kejam.
Manusia adalah mahluk yang selalu memiliki harga.
Ketika pulau kelahirannya, Ohara, dihancurkan oleh pilar-pilar api Buster Call dari kapal perang Angkatan Laut, Robin kehilangan segalanya. Ibu yang baru saja ditemuinya kembali, para sarjana yang mengajarinya tentang sejarah dunia, dan rumah tempat dia tumbuh besar. Semuanya lenyap dalam semalam.
Sejak hari itu, Pemerintah Dunia menempelkan sebuah angka di atas kepalanya. Tujuh puluh sembilan juta Berries.
Angka itu menjadi kutukan yang mengikutinya ke mana pun dia melangkah.
Dia pernah diangkat sebagai anak oleh sebuah keluarga nelayan yang tampak ramah. Mereka memberinya makan dan tempat tidur yang hangat. Namun di tengah malam yang dingin, Robin terbangun oleh suara bisikan. Dia melihat ayah angkatnya memegang pisau dapur sambil berbisik kepada istrinya tentang berapa banyak uang yang bisa mereka dapatkan jika menyerahkan anak ini ke kantor Angkatan Laut terdekat.
Dia pernah bergabung dengan kelompok bajak laut kecil di perairan West Blue. Dia menggunakan kemampuannya untuk membantu mereka berlayar dan mencari harta karun. Namun saat kapal mereka dikepung oleh Angkatan Laut, sang kapten tanpa ragu mendorong Robin ke arah para prajurit untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.
Pengkhianatan demi pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya.
Orang-orang yang tersenyum padanya selalu memiliki niat tersembunyi. Mereka yang menawarkan perlindungan selalu memperhitungkan nilai tukar kepala gadis itu. Di mata dunia, Nico Robin bukanlah seorang manusia. Dia adalah anak iblis. Dia adalah ancaman bagi keadilan. Dia adalah tiket lotre bernilai puluhan juta Berries.
Satu-satunya orang yang pernah melindunginya tanpa meminta imbalan adalah Jaguar D. Saul. Raksasa Angkatan Laut yang tertawa di tengah badai salju, yang mengorbankan nyawanya sendiri agar Robin bisa melarikan diri dari Ohara.
'Tidak ada orang yang lahir di dunia ini untuk benar-benar sendirian, Robin,' kata-kata raksasa itu kembali bergema di kepala Robin.
Selama belasan tahun, Robin meragukan kata-kata itu. Dia berpikir Saul salah. Dia berpikir bahwa dunia ini memang terlalu jahat untuk membiarkan seseorang melindunginya tanpa ada maksud di baliknya.
Tetapi sekarang, pemandangan di depan matanya menentang semua logika trauma yang dia miliki.
Pemuda berarmor merah ini.
Dia tidak mengenal Robin. Mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Pemuda ini tidak tahu bahwa Robin adalah seorang arkeolog dari Ohara yang bisa membaca Poneglyph. Pemuda ini juga tidak tahu tentang tujuh puluh sembilan juta Berries yang menempel pada namanya.
Namun, ketika agen Cipher Pol menodongkan senjata dan mengancam kehidupan di gang ini, pemuda ini tidak ragu sedikit pun.
Dia tidak menyerahkan Robin untuk mencari keselamatan. Dia tidak bernegosiasi dengan agen pemerintah. Dia membakar dan menghancurkan seluruh pasukan elit itu tanpa keraguan. Dia berdiri sebagai dinding tebal yang memisahkan Robin dari kematian.
Di dalam kepala Robin yang dipenuhi oleh luka masa lalu, sebuah narasi yang sangat indah dan menyentuh mulai terbentuk secara otomatis.
'Dia melindungiku,' batin Robin. Suara hatinya bergetar hebat.
'Dia melihat agen-agen itu menyudutkanku. Dia melihat mereka ingin membunuhku. Tanpa memedulikan siapa musuhnya, tanpa memedulikan kekuatan Pemerintah Dunia... dia bertarung demi aku.'
Robin menelan ludah. Tenggorokannya terasa sangat kering. Rasa sakit di bahunya dan rasa lemas di seluruh sendinya mendadak tidak lagi terasa sepenting itu.
Dia menopang tubuhnya menggunakan telapak tangan kanan yang gemetar. Bebatuan yang hangus menggores kulit jarinya, tetapi Robin mengabaikannya. Dia memaksakan kakinya yang lemas untuk tertekuk.
Dengan usaha yang sangat keras, Robin perlahan berdiri dari tanah.
Punggungnya bersandar pada dinding bata di belakangnya untuk menjaga keseimbangan. Rambut hitam sebahunya yang kotor oleh abu jatuh menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Dia menggeser pandangannya, menatap lurus ke arah punggung pemuda berarmor merah itu.
Robin menahan rasa sakit di bahu kirinya yang terkilir saat dia berlari sebelumnya.
Dia ingin memahami. Dia harus tahu alasan di balik tindakan yang baru saja mengubah takdirnya ini.
“K-Kenapa...” suara Robin keluar dari celah bibirnya. Suara itu sangat pelan, serak, dan bergetar oleh emosi yang tertahan.
Madara tidak berbalik. Dia tidak menggerakkan kepalanya. Dia hanya diam berdiri di dekat pintu keluar gang, mendengarkan suara gadis di belakangnya dengan sikap acuh tak acuh.
Robin mengambil satu langkah kecil ke depan. Sandal kulitnya menimbulkan suara gesekan pelan dengan debu abu.
“K-Kenapa kau menolongku?” tanya Robin lagi. Kali ini suaranya sedikit lebih jelas, dipenuhi oleh keputusasaan untuk mencari jawaban.
Robin mengepalkan tangan kanannya di depan dada, mencengkeram mantelnya yang kotor.
“Kau tahu siapa aku?” lanjut Robin dengan nada yang semakin meninggi, air mata tipis mulai menggenang di sudut mata birunya yang indah. “Dunia menginginkan kepalaku. Pemerintah Dunia memburuku ke mana pun aku pergi. Aku adalah anak iblis yang membawa kehancuran!”
Pertanyaan itu dilemparkan Robin sebagai sebuah ujian. Sebuah bentuk pertahanan diri terakhir dari jiwanya yang sudah terlalu sering dilukai. Dia ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh pemuda ini. Apakah dia akan mengaku sebagai pahlawan? Apakah dia akan meminta imbalan? Atau apakah dia akan berpura-pura tidak tahu?
Madara menghela napas pendek dari hidungnya.
Suara helaan napas itu terdengar sangat jelas di dalam gang yang sepi.
Pemuda berrambut hitam panjang itu perlahan memutar tubuhnya. Dia tidak memutar seluruh tubuhnya, hanya memiringkan bahunya sedikit ke arah kiri sehingga posisi wajahnya berada dalam sudut miring terhadap Robin.
Mata hitam kelam milik Madara menatap gadis yang sedang bersandar di tembok itu.
Tidak ada kehangatan di mata itu. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada sedikit pun rasa simpati yang biasanya ditunjukkan oleh seorang penolong kepada korban yang terselamatkan.
Yang ada di dalam iris mata Madara hanyalah keangkuhan yang mutlak dan rasa muak yang mendalam terhadap pertanyaan konyol yang baru saja dia dengar.
“Menolongmu?” suara Madara keluar dengan nada yang sangat datar, dingin, dan menusuk.
Dia melepaskan tangan kanannya dari saku celana, lalu mengangkat kakinya dan berbalik sepenuhnya menghadap Robin. Posisinya tegak, dadanya yang dilapisi armor merah membusung dengan percaya diri yang tidak tertandingi.
“Jangan terlalu percaya diri, Wanita,” desis Madara tanpa menyembunyikan nada merendahkan dari suaranya.
Robin terkesiap pelan. Kata-kata dingin itu menghantamnya seperti embusan angin es.
Madara menunjuk dengan ibu jarinya ke arah belasan agen Cipher Pol yang terkapar tidak berdaya di atas tanah yang menghitam.
“Aku hanya muak melihat anjing-anjing berseragam itu menghalangi jalanku,” kata Madara dengan jujur. “Mereka berdiri di tempat yang tidak seharusnya. Mereka menodongkan besi rongsokan di wajahku dan memerintahkanku untuk menyingkir. Siapa pun yang melakukan hal itu di hadapanku akan menerima nasib yang sama, tidak peduli siapa yang sedang mereka kejar.”
Itu adalah fakta yang sejujurnya dari sudut pandang Uchiha Madara.
Dia tidak bertarung demi Nico Robin. Dia tidak membakar tiga agen pertama untuk menyelamatkan seorang gadis. Dia bahkan tidak tahu nama gadis ini sampai para agen tadi menyebutkannya. Bagi Madara, gang ini hanyalah jalan potong, dan orang-orang berjas hitam ini hanyalah serangga mengganggu yang kebetulan berdiri di jalur jalannya.
Eksistensi Nico Robin di tempat ini hanyalah sebuah kebetulan matematis yang tidak disengaja.
Namun, Madara tidak berhenti di situ.
Dia mengingat kembali kata-kata agen Cipher Pol yang dia dengar di kedai tadi. Kata-kata tentang bagaimana dunia menghargai kepala seorang gadis muda dengan tumpukan uang. Kata-kata tentang bagaimana sebuah organisasi raksasa menyebut seorang anak sebagai ancaman bagi keadilan hanya karena dia ingin hidup dan mempelajari sejarah.
Memori tentang kebusukan sistem desa di dunia asalnya, tentang bagaimana anak-anak dijadikan korban politik atas nama kedamaian palsu, kembali terbayang di dalam pikirannya.
Madara melangkah maju satu kali.
Wajah remajanya yang rupawan menarik sebuah senyuman.
Bukan senyuman hangat seorang penyelamat. Itu adalah senyuman sinis, sebuah cemoohan arogan yang dipenuhi oleh kebencian mendalam terhadap tatanan hukum dan aturan yang dibuat oleh mereka yang lemah.
Mata hitamnya menatap lurus ke dalam mata biru Robin, menembus seluruh trauma dan ketakutan yang terkunci di dalam jiwa gadis itu.
“Dan soal dunia yang menginginkan kepalamu...”
Madara jeda sejenak. Angin sore meniup helai-helai rambut hitam panjangnya yang tajam, membuat armor merah di dadanya tampak semakin menyala di tengah kegelapan gang yang hangus.
Senyum sinis di bibir Madara semakin lebar, memancarkan aura dominasi yang begitu kuat hingga membuat udara di sekitar mereka terasa seperti bergetar.
“Jika dunia ini dipenuhi oleh sampah seperti mereka,” ucap Madara dengan suara yang bergema kuat di dinding gang berbatu.
“Maka dunia ini yang salah, bukan kau.”
DUAAR.
Bagi Nico Robin, kata-kata itu tidak diucapkan. Kata-kata itu meledak di dalam kepalanya seperti dentuman meriam raksasa yang meruntuhkan seluruh dinding pertahanan emosional yang telah dia bangun selama belasan tahun.
Dunia ini yang salah, bukan kau.
Robin membeku di tempatnya berdiri. Matanya terbelalak lebar, menatap wajah pemuda di depannya tanpa berkedip satu kali pun. Nafasnya terhenti di tenggorokan.
Jantungnya berdetak begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Sebuah desiran aneh, sebuah sensasi hangat yang sangat asing dan tidak pernah dia rasakan sebelumnya, menjalar dari dadanya menuju ke seluruh aliran darah di tubuhnya.
Selama dua belas tahun, dunia selalu memberitahunya bahwa eksistensinya adalah sebuah dosa.
Angkatan Laut memberitahunya bahwa dia adalah iblis yang seharusnya tidak pernah lahir. Orang-orang yang mengkhianatinya memberitahunya bahwa dia adalah pembawa sial yang hanya mendatangkan malapetaka. Bahkan dirinya sendiri... di tengah malam yang sepi dan dingin, sering kali berbisik pada dirinya sendiri bahwa mungkin memang dialah yang salah. Mungkin memang dialah monster yang merusak segalanya.
Dia telah menghabiskan seluruh hidupnya membawa beban rasa bersalah karena masih bernapas saat orang-orang di Ohara mati.
Namun sekarang...
Di depan gang yang hangus ini, seorang pemuda yang baru saja menghancurkan pasukan elit Pemerintah Dunia dengan tangan kosong, menatapnya dan memberitahunya sebuah kebenaran yang tidak pernah berani diucapkan oleh siapa pun di muka bumi ini.
Jika dunia menolakmu, maka dunia itulah yang busuk. Jika dunia memburumu, maka dunia itulah yang penuh dengan sampah.
Bukan Robin yang salah karena ingin hidup. Tapi duniakejam inilah yang salah karena tidak membiarkannya bernapas.
Itu bukan sekadar pernyataan. Itu adalah sebuah validasi absolut atas eksistensi Nico Robin sebagai seorang manusia. Sebuah pengampunan mutlak atas dosa palsu yang ditimpakan dunia ke atas bahunya.
Dan kalimat itu diucapkan oleh seorang pemuda yang memancarkan kekuatan sekelas dewa. Seseorang yang jelas-jelas tidak peduli pada aturan, tidak peduli pada Pemerintah Dunia, dan tidak memiliki niat untuk berbohong demi menyenangkannya.
Kejujuran yang brutal dan keangkuhan yang tanpa batas itu menghantam jiwa Robin lebih keras daripada apa pun yang pernah dia alami dalam hidupnya.
Efek kupu-kupu yang sangat besar meledak di dalam sanubari Gadis Iblis dari Ohara.
Robin menundukkan kepalanya perlahan. Rambut hitamnya jatuh menutupi wajahnya.
Tetesan air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya pecah. Air mata hangat meluncur deras melewati pipinya yang kotor oleh debu abu, jatuh menimpa bebatuan yang menghitam di bawah kakinya.
Tetapi ini bukan lagi air mata keputusasaan. Ini bukan air mata ketakutan dari seorang mangsa yang tersudut.
Ini adalah air mata dari seorang wanita yang akhirnya menemukan benteng pertahanan yang sebenarnya. Seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa di tengah lautan yang luas dan penuh dengan pengkhianatan ini, ada sebuah eksistensi yang begitu tinggi dan begitu kuat, hingga dunia beserta Pemerintah Dunianya tampak tidak lebih dari sekadar debu di bawah kakinya.
Robin mengangkat tangannya, menyapu air mata di pipinya dengan lengan mantelnya yang kotor.
Saat dia mengangkat wajahnya kembali, ketakutan dan kelelahan yang sebelumnya mendominasi mata birunya telah menghilang sepenuhnya.
Sebagai gantinya, mata biru itu kini memancarkan cahaya baru. Sebuah cahaya kesetiaan dan pengabdian yang murni. Pandangan mata dari seorang pengikut yang telah menemukan dewanya.
Jika pemuda ini menganggap dunia ini dipenuhi oleh sampah, maka Robin akan dengan senang hati menjadi orang yang membantu pemuda ini membersihkan sampah-sampah tersebut. Jika pemuda ini berdiri di atas keangkuhan yang menentang seluruh tatanan dunia, maka Robin akan berdiri tepat di balik bayangannya, menjadi mata dan otaknya.
Madara mengerutkan dahinya sedikit saat melihat perubahan raut wajah gadis di depannya.
Dia melihat gadis itu berhenti menangis. Dia melihat rasa takut di mata gadis itu berganti menjadi tatapan penuh kekaguman yang sangat dalam. Tatapan yang persis sama dengan yang sering dia lihat dari para anggota klan Uchiha saat dia memimpin mereka menuju kemenangan di medan perang.
'Gadis ini...' batin Madara dengan sedikit keheranan.
Dia hanya mengutarakan pendapat pribadinya tentang sistem pemerintahan yang busuk. Sebuah pendapat yang didasarkan pada rasa muaknya terhadap Konoha dan dunia shinobi. Dia sama sekali tidak berniat untuk menghibur atau memberi motivasi kepada gadis ini.
Bagaimana bisa kata-kata sederhananya menghasilkan respons emosional yang begitu ekstrem?
Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin dan datar kembali bergema di dalam kepala Madara.
Layar biru semi-transparan berkedip dengan cepat di sudut pandangannya.
[Menerima kesetiaan emosional mutlak dan kekaguman jiwa dari individu bernilai tinggi: Nico Robin.]
[Poin Reputasi +500.]
[Integrasi kekuatan berjalan lebih cepat. Kapasitas Chakra maksimal meningkat pesat.]
[Kemampuan Sensorik Dasar terbuka.]
Madara tertegun sejenak saat membaca rentetan teks di layar Sistem tersebut.
Sensasi hangat yang luar biasa meledak di dalam bagian tengah dadanya. Jalur-jalur tenketsu di dalam tubuh remajanya yang sebelumnya terasa sempit dan kaku, kini membesar dan melonggar dengan kecepatan yang signifikan. Kapasitas chakra yang dia miliki melonjak drastis, naik ke tingkat Jonin Menengah dalam hitungan detik.
Kejelasan inderanya meningkat. Dia bisa merasakan getaran angin dan aliran energi alam di sekitar pulau ini dengan jauh lebih rinci daripada sebelumnya.
'Lima ratus poin?' batin Madara, terkejut dengan jumlah angka yang dia dapatkan.
Dia membantai belasan agen Cipher Pol dan membuat mereka ketakutan setengah mati, tapi poin yang dia dapatkan dari rasa takut mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang baru saja dia dapatkan dari gadis tunggal ini.
Sistem ini benar-benar tidak hanya merespons ketakutan. Sistem ini merespons tingkat pengaruh emosional yang dia berikan kepada orang-orang di dunia ini. Dan emosi kesetiaan murni dari seorang individu bernilai tinggi memiliki bobot yang jauh lebih besar daripada ketakutan dari sekelompok sampah.
Madara mematikan layar Sistem di kepalanya. Dia kembali menatap Nico Robin yang kini berdiri lebih tegak di ujung gang.
Gadis itu tidak lagi terlihat seperti korban yang malang. Meski tubuhnya masih lelah dan pakaiannya kotor, postur tubuhnya memancarkan ketenangan baru yang anggun.
'Menarik,' pikir Madara dalam hati.
Kesalahpahaman gadis ini telah memberinya pasokan chakra yang sangat berarti. Kebodohan dan interpretasi puitis gadis ini tentang kata-katanya ternyata memberikan keuntungan praktis yang nyata bagi pemulihan kekuatannya.
Jika gadis ini bersikersih untuk melihatnya sebagai pahlawan gelap atau penguasa yang memberikan perlindungan mutlak, Madara tidak akan repot-repot membenarkannya. Selama itu memberi keuntungan bagi pemulihan kekuatan Uchiha-nya, dia akan membiarkan ilusi itu tetap hidup.
Madara memutar tubuhnya kembali ke arah pintu keluar gang.
“Urus dirimu sendiri, Wanita,” kata Madara dengan nada yang masih dingin dan datar. “Aku tidak punya waktu untuk mengasuh anak kecil yang lemas.”
Dia melangkah maju. Sandal kayunya menapak di atas jalanan berbatu yang menghitam.
Tuk. Tuk. Tuk.
Robin tidak berkecil hati mendengar kata-kata kasar itu. Dia tahu bahwa di balik keangkuhan dan kata-kata tajam pemuda itu, ada kekuatan mutlak yang tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyenggolnya lagi.
Robin mengulas senyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan ketenangan dan kepastian baru.
Dia melangkah keluar dari sudut tembok bata, mengabaikan rasa sakit di fisiknya, dan mulai berjalan menyusuri gang yang terbakar itu. Dia mengikuti dari jarak aman beberapa meter di belakang punggung berarmor merah yang sedang melangkah mantap menuju masa depan.
Di balik bayang-bayang kota pelabuhan Oohara yang mulai diselimuti oleh kegelapan malam, takdir dari dua individu terbuang ini secara resmi menyatu. Dan roda alur cerita dunia One Piece telah bergeser dari jalurnya secara permanen.