Hola ...
Update setiap hari ... !!!
Warning :
Novel ini bisa membuat kalian tersenyum-senyum sendiri dan tertawa gemasss ...!!!
Novel ini juga mengandung banyak bawang ditengah!!! Selamat membaca ...
Karena ada yang minta sekuel anaknya Galas dan Gayung. Ini aku kasih sekuel mengenai anak kedua mereka, Jusuf Alexander.
Dalam perjalanan menuju kampung halaman untuk menengok kedua orang tuanya yang kini menetap dikota kelahiran mereka. Jusuf Alexander tersesat dijalan karena mengikuti Google Map. Padahal ibunya sudah mengingatkannya untuk tidak mengendarai mobil sendiri. Karena Alex lemah mengingat jalan.
Hingga akhirnya ia tersesat dijalanan terjal dalam kondisi mobil yang tiba-tiba mogok. Apesnya hujan mengguyur begitu deras malam itu. Hingga ia kebingungan untuk meminta bantuan. Sampai kemudian muncul seorang gadis yang menolongnya.
Dari sanalah perjalanan cintanya yang amazing bermula. Ikuti terus ya ...Ok say ...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Curly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 ( Memberikannya Sebelum Kamu Pergi )
Sore ini, Alex akan terbang ke negara X untuk masalah pekerjaan tentu saja. Tapi pagi ini ia tetap menyempatkan berangkat ke kantor seperti biasa dan rencananya ia akan pulang siang nanti. Istirahat sejenak dirumah sebelum berangkat.
"Alex, kamu nanti sore berangkatnya, kan?" tanya Kevin modus. Padahal ia sendiri yang menyiapkan dan memesankan tiket untuk Bosnya itu.
"Hemmm."
"Hati-hati ya, Bos."
Alex melirik Kevin yang nampak cengar-cengir mencurigakan itu.
"Tumben-tumbenan kamu bilang hati-hati." Alex mencium aroma-aroma tak menyenangkan dari playboy tengik disampingnya itu.
"Ya ampun, Bos. Apa salahnya cuma bilang hati-hati ...." Kevin membela diri.
"Terserah kamulah." Alex malah kesal. Pikiran negatifnya tertuju pada kemungkinan besar Kevin yang bertandang ke rumahnya atau mengajak jalan Pandan saat ia tak dirumah nanti. Itu tidak boleh terjadi!
"Bos."
"Apa?" Alex mulai galak.
"Ya ampun, Bos, galak amat." Kevin mulai menciut nyalinya melihat Alex seolah ingin menerkamnya hidup-hidup.
"Aku sudah tahu modus kamu. Pasti kamu mau mendekati Pandan, kan selama aku pergi. Sudah ku bilang berapa kali Kevin ... dia sudah punya suami. Mengerti tidak? Jangan cari gara-gara kamu, ya! Jangan sampai aku tahu kamu datang ke rumah selama aku tidak ada, apalagi sampai mengajak Pandan pergi ke luar. Dia itu dititipkan ke aku, jadi tanggung jawabku. Kalau sampai kamu macam-macam. Posisi kamu ... "lengser" saat itu juga. Paham?"
Ceramah Alex panjang lebar dengan wajah galaknya.
Kevin hanya mengangguk patuh mendengar ancaman Alex. Semua rencananya untuk melakukan pendekatan ke Pandan sirna sudah demi mendengar ceramah singkat Bosnya itu.
Astaga, sejak kapan Bosnya jadi galak begini ya? batin Kevin ngeri.
Untung saja, semua karyawan sudah ke ruang makan semua untuk istirahat siang. Jadi, tidak ada yang melihatnya kena semprot sang Bos.
"Bos, mau makan siang?" Kevin menawari.
"Tidak. Sebentar lagi aku pulang," jawab Alex. Sembari mengirimkan pesan pada Pandan bahwa ia akan pulang sebentar lagi dan berangkat sore nanti ke negara X. Jadi nanti saat pulang, Pandan sudah tak akan menemukannya dirumah.
"Aku mau makan siang diluar dulu, ya Bos."
"Hemm." Alex hanya menjawab singkat. Tak peduli.
Lagi kirim pesan sama siapa sih Bos? Serius amat, batin Kevin. Ia kemudian pergi meninggalkan Bosnya itu untuk makan siang diluar.
Sementara setelah kepergian Kevin, Alex segera membereskan meja kerjanya bersiap untuk pulang.
"Alex." Sebuah suara menghentikan gerakan tangan Alex yang sedang menutup laptopnya.
"Pandan?" Alex menatap Pandan yang sudah berdiri didepan pintu ruangannya.
"Masuk saja." Alex sudah tidak peduli jika ada yang melihat mereka. Karena kehadiran Pandan yang menemuinya sebelum ia terbang nanti sore, justru membuatnya senang bukan main.
"Duduk disini." Alex menunjuk sofa diruangannya.
"Tidak usah. Aku hanya ingin melihatmu sebelum pergi," ucap Pandan dengan ketenangannya itu. Kadang Alex heran, Pandan kadang terlihat polos dan lugu tapi ketika mengucapkan kata-kata yang menurut Alex romantis. Gadis itu tidak pernah mengatakannya dengan malu-malu atau merona-rona ala wanita polos dan lugu lainnya. Ia terlihat dewasa dan damai dengan wajah sayu juga dinginnya. Alex menyukai itu.
"Wahhh ... apa kamu merasa kehilangan, padahal aku baru akan pergi belum benar-benar pergi," ucap Alex menggoda sembari mendekat.
"Jangan mendekat, nanti ada yang curiga." Pandan mengingatkan.
"Tenang saja. Mereka tidak akan kembali sebelum jam istirahat berakhir." Biasanya begitu dan Alex tidak peduli jika ada yang melihatnya. Karena ia sebenarnya juga berat berpisah dengan Pandan, meski hanya beberapa hari saja. Ia ingin bersama dengan Pandan sebelum pergi.
"Hati-hati," ucap Pandan, mendongak pada Alex yang berdiri menjulang dihadapannya.
"Kamu juga, ingat pesanku." Alex benar-benar khawatir masalah Kevin.
"Hemm."
Dan Alex kembali mengulang segala wejangannya, takut Pandan melupakannya.
"Iya," jawab Pandan, ia tak pernah bosan mendengarnya. Meski Alex berulang kali mengatakannya. Menurutnya, itu bentuk perhatian Alex kepadanya. Justru ia senang akan hal itu.
"Ya sudah. Kamu belum makan, kan?"
"Belum." Ia memang menunggu Kevin keluar tadi demi menemui Alex.
"Kamu harus makan. Jangan sampai sakit, apalagi aku sedang tidak ada dirumah. Siapa yang akan menjagamu nanti." Alex menepuk pundak Pandan. Tapi tatapan gadis itu terlihat berbeda membuat Alex terdiam untuk sesaat.
"Ada apa?" tanyanya.
Pandan tak menjawab. Ia masih diam memandang Alex yang bertanya-tanya. Detik berikutnya, Alex merasakan jantungnya berdetak dengan ritme yang tak beraturan. Kala Pandan maju selangkah, berjinjit dan memberikan sebuah kecupan lembut tepat dibibirnya. Rasanya dunianya berhenti saat itu juga. Semua hal biasa yang dulu pernah dilakukannya dengan mantan-mantan kekasihnya, terasa begitu luar biasa, berbeda dan istimewa ketika Pandan yang melakukannya.
Satu detik. Dua detik. Mereka masih diam, saling menatap dalam kebisuan dan detak jantung yang sama berdebarnya. Sampai ketika Alex memperolah kesadarannya kembali, ia tak peduli lagi. Kecupan itu bagai angin segar, yang membuka jalannya untuk berani berbuat lebih jauh. Alex menundukkan wajahnya, membelai pipi itu dengan satu tangannya sejenak. Sebelum benar-benar menyatukan bibir mereka, bergerak, melum*tnya perlahan penuh kelembutan. Menikmati setiap rasa manis yang terasa menggoda, hingga membuatnya sulit berhenti untuk waktu yang cukup lama.
Mereka sama-sama terbuai dengan perasaan masing-masing. Hingga tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang menyaksikan semua yang mereka lakukan dari awal sampai akhir. Bahkan nyaris terjatuh saking kagetnya.
Alex mengakhiri ciuman itu. Ada senyuman yang sama-sama terukir dibibir keduanya, menggambarkan perasaan masing-masing yang bersarang indah dihati dua insan yang tengah dimabuk cinta.
"Terima kasih," ucap Alex tulus. Pandan mengangguk dengan senyum bahagia, untuk itulah ia memberanikan diri untuk nekad datang setelah cukup lama memikirkannya tadi. Ia tak ingin menyiksa Alex terlalu lama. Ia tahu Alex menginginkan hal itu sejak beberapa hari yang lalu dan ia ingin memberikannya sebelum Alex pergi hari ini.
"Kabari aku nanti." Pandan membuka pintu kaca itu perlahan. Melepaskan genggaman tangan Alex yang seolah tak mengizinkan ia pergi dari sisinya. Menahannya sejenak, Alex rasanya ingin membatalkan penerbangannya sore ini dan menunda pekerjaannya.
Argggttt!!!
Alex tertawa sendiri seperti orang gila begitu Pandan tak terlihat lagi oleh pandangannya.
"Astaga, Pandan ... Pandan ... kamu benar-benar membuatku gilaaa," ocehnya sambil tertawa-tawa menepuk-nepuk dadanya yang rasanya dipenuhi sesuatu yang membuncah. Sesuatu yang menyenangkan yang membuatnya semakin enggan untuk pergi.
Profesional Alex! Profesional!
Alex menarik nafas panjang. Namun tetap saja, ia akhirnya tertawa lagi. Sampai-sampai seseorang yang masih bersembunyi disana, ikut tertawa melihat kebahagiaan Bosnya yang ia tebak sedang mabuk asmara itu.
***
"Pandan? Pulang bareng yuk." Meski sudah diperingatkan Alex dan diancam dilengserkan, Kevin tetap saja tak gentar mendekati Pandan. Seperti sore ini. Ia sengaja menunggu Pandan didepan kantor.
"Tidak. Terima kasih." Pandan tak ingin mengecewakan Alex. Apalagi laki-laki itu begitu mewanti-wantinya untuk tidak dekat-dekat dan terpedaya bujuk rayu Kevin yang katanya playboy tengik itu.
"Kenapa? Aku, kan temannya Alex, masa kamu tidak percaya padaku," bujuk Kevin dengan senyum andalannya menakhukkan para wanita.
"Tidak."
Tidak? Maksudnya?" tanya Kevin tak mengerti. Senyumnya luntur seketika.
"Aku tidak percaya padamu," jawab Pandan asal, hanya ingin mengusir Kevin saja sebenarnya.
"Wahhh, apa Alex yang melarangmu untuk dekat denganku?"
"Iya," jawab Pandan jujur.
Benar-benar si Bos, kamprettt! Batin Kevin.
"Jadi, kamu benar-benar sudah menikah?" Kevin masih tak percaya Pandan sudah menikah. Entah kenapa, rasanya mustahil gadis semuda dan secantik ini sudah menikah. Meski sah-sah saja sih ...
"Sudah."
"Lalu dimana suamimu?" Interogasi Kevin penasaran.
"Sedang ke luar negeri," jawab Pandan apa adanya.
"Diluar negeri? Kerja apa dia?" Kevin tak menyangka suami Pandan bekerja diluar negeri sana. Meninggalkan istri secantik ini, apa tidak sayang, batinnya. Bagaimana kalau direbut orang, seperti dia contohnya hehe.
"Aku tidak tahu," jawabnya singkat.
Kevin mendekat satu langkah ke samping, lebih dekat ke Pandan.
"Lalu ... kalau suamimu sudah bekerja diluar negeri, kenapa kamu masih mengerjakan pekerjaan double seperti ini. Memang gajinya masih kurang ...?" tanya Kevin hati-hati.
"Tidak. Lebih dari cukup. Aku hanya suka bekerja dan aku juga suka uang," jawab Pandan meyakinkan. "Aku pergi dulu." Pandan seperti melihat ojek online dikejauhan. Biasanya hanya ia yang sering menggunakan jasa mereka dikantor. Karena sebagian besar teman-temannya membawa kendaraan sendiri atau memilih jalan kaki karena jarak tempat tinggal mereka yang dekat.
"Pandan, Pandan ... wanita yang menarik. Andaikan kita bertemu lebih dulu Babe...." Kevin memandang Pandan yang sedang berbicara dengan sopir ojek dikejauhan. Apa ia datang ke rumah saja, toh Alex juga tidak akan tahu, batin Kevin dengan senyum perjuangannya. Ia masih belum ingin mundur sekarang. Ia begitu penasaran. Sangat penasaran.
***
Kalau bacanya maraton ... geser ke atas lagi ya guys ... minta dukungannya dengan LIKE. Biar author juga semangat lanjutin ceritanya ...