Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013
Kembali ke Tanuwijaya Group
Louisa kembali ke kantor Tanuwijaya Group pada hari Senin dengan mata yang kurang tidur dan satu rahasia besar di tasnya.
Gedung kantor di PIK itu masih sama. Lobby tinggi dengan logo Tanuwijaya Group berwarna emas gelap, aroma kopi dari kafe lantai dasar, suara sepatu karyawan yang bergegas mengejar lift. Semuanya bergerak seperti biasa, seolah tiga hari terakhir hidup Louisa tidak berubah total.
Ia masuk dengan kartu akses lamanya.
Di layar ponsel, ada satu pesan dari Nathanael.
Nathanael: Kalau terlalu berat, pulang. Aku bisa jemput kapan saja.
Louisa menatap pesan itu sebentar sebelum memasukkan ponsel ke tas.
Terlalu berat.
Dulu, jika sesuatu terasa terlalu berat di kantor ini, ia akan menelan semuanya karena Kevin membutuhkan dokumen, Raymond membutuhkan data, dan tim membutuhkan orang yang bisa diberi pekerjaan tanpa banyak bertanya. Hari ini, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menawarkan pintu keluar sebelum ia meminta.
Ia tidak tahu apakah itu membuatnya kuat atau justru hampir menangis.
"Akhirnya masuk juga."
Suara itu menyambutnya sebelum ia sampai ke meja.
Jessica Setiawan berdiri di dekat printer dengan blazer merah bata dan senyum yang dipoles rapi. Di tangannya ada setumpuk dokumen presentasi.
"Pagi, Jess," ucap Louisa.
"Pagi. Aku kira kamu cuti panjang." Jessica menatapnya dari kepala sampai kaki. "Atau honeymoon dadakan?"
Beberapa staf yang duduk di sekitar mereka pura-pura sibuk mengetik, tetapi telinga mereka jelas terbuka.
Louisa meletakkan tas di kursinya. "Aku cuti sakit."
"Oh, sakit." Jessica menyeret kata itu dengan manis. "Semoga sekarang sudah sehat. Karena meeting vendor jam sepuluh dimajuin jadi sembilan."
Louisa menoleh ke layar komputernya. "Aku tidak dapat update."
"Aku kirim di grup."
"Grup yang mana?"
Jessica tersenyum lebih lebar.
Saat itulah Louisa melihat layar ponsel salah satu staf junior di meja sebelah. Nama grupnya berbeda dari grup divisi biasa. Di sana ada beberapa nama tim, Jessica, Raymond, tetapi tidak ada Louisa.
Dadanya dingin.
"Mungkin kamu belum dimasukkan karena kemarin sakit," kata Jessica.
Louisa menatapnya. "File vendor terakhir masih di folder kerjaku."
"Sudah aku ambil."
"Kamu ambil?"
"Kevin minta cepat. Kamu tidak ada. Aku bantu rapikan." Jessica mengangkat setumpuk dokumen itu sedikit. "Tenang, aku tidak ubah banyak. Cuma bagian executive summary, costing, rekomendasi final, dan beberapa slide visual supaya lebih presentable."
Bagian-bagian yang ia sebut adalah bagian inti.
Louisa membuka komputer. Folder vendor terbuka, tetapi file terbaru sudah disalin ke folder shared dengan nama berbeda.
Vendor_Recommendation_Final_Jessica.pptx
Jari Louisa berhenti di atas mouse.
Tiga malam ia mengerjakan analisis itu sebelum gala. Ia yang menelepon vendor Surabaya, mengecek ulang compliance, meminta revisi penawaran, dan menyusun perbandingan biaya. Jessica hanya pernah masuk di email terakhir untuk menanyakan warna slide.
"Jess, itu file-ku."
Jessica menatapnya dengan alis terangkat. "File perusahaan, Louisa."
Kalimat itu halus, tetapi cukup keras untuk membuat staf di sekitar semakin diam.
"Analisisnya aku yang buat."
"Dan aku yang menyelesaikan saat kamu menghilang." Senyum Jessica tetap rapi. "Kita semua kerja tim, kan?"
Louisa merasakan telapak tangannya dingin.
Dulu ia mungkin akan diam. Membiarkan. Menganggap tidak apa-apa karena setidaknya pekerjaan selesai. Namun di kepalanya, suara Nathanael muncul: kalau terlalu berat, pulang. Bukan menyerah. Hanya pengingat bahwa ia punya pilihan.
"Aku ikut meeting," kata Louisa.
Jessica memiringkan kepala. "Tentu. Kalau kamu sudah cukup sehat."
***
Ruang meeting lantai dua belas penuh sebelum jam sembilan.
Kevin duduk di ujung meja dengan kemeja biru tua, membaca email di tablet. Raymond berdiri di samping layar, menyiapkan proyektor. Beberapa manajer divisi hadir, termasuk tim procurement.
Louisa masuk bersama Jessica.
Kevin mengangkat wajah sebentar. "Lulu."
Panggilan itu masih punya cara sendiri untuk menyentuh kebiasaan lama di tubuhnya.
Louisa mengangguk. "Pagi."
"Sudah sehat?"
Pertanyaan itu akhirnya datang.
Terlambat tiga hari, di ruang meeting, di depan orang lain.
"Sudah," jawab Louisa.
Kevin kembali menatap tabletnya. "Good. Kita mulai."
Jessica langsung berdiri di dekat layar.
"Pagi semuanya. Aku akan present rekomendasi vendor untuk proyek activation Q4. Setelah mempertimbangkan budget, timeline, dan risk profile, pilihanku jatuh ke vendor kedua."
Pilihanku.
Louisa duduk sangat tegak.
Slide pertama muncul. Warna visualnya memang berubah. Layout lebih glossy, lebih cocok untuk presentasi manajemen. Namun data di dalamnya adalah data Louisa. Kalimat pembuka, tabel risk, bahkan catatan kecil tentang pajak vendor, semuanya miliknya.
Jessica bicara lancar.
Terlalu lancar untuk seseorang yang dua hari lalu bahkan belum tahu vendor kedua punya masalah invoice tahun lalu.
Raymond beberapa kali melirik Louisa.
Louisa tidak menatapnya. Ia mencatat di buku kecil, bukan karena perlu, melainkan agar tangannya tidak mengepal di atas meja.
"Bagian risk mitigation ini bagus," kata salah satu manajer. "Detail."
Jessica tersenyum. "Terima kasih. Aku sempat deep dive ke dokumen legalnya."
Louisa mengangkat wajah.
Kevin mengangguk tanpa melihat ke arahnya. "Good job, Jess."
Dua kata itu membuat sesuatu di dada Louisa retak kecil.
Good job.
Berapa kali ia bekerja sampai malam dan hanya mendapat pesan: sudah kirim? Berapa kali ia memperbaiki kesalahan orang lain dan hanya dianggap memang sudah tugasnya? Sekarang, saat hasilnya berada di mulut Jessica, Kevin bisa memberi pujian semudah itu.
Louisa menutup buku catatannya.
"Maaf," katanya.
Semua orang menoleh.
Jessica berhenti di tengah slide. "Ada tambahan, Louisa?"
"Ada koreksi." Suara Louisa lebih tenang daripada yang ia kira. "Bagian risk mitigation itu dibuat berdasarkan due diligence yang aku lakukan minggu lalu. Ada satu catatan yang belum masuk di slide Jessica. Vendor kedua punya keterlambatan pembayaran pajak tahun lalu, tapi sudah selesai dengan surat klarifikasi. Kalau kita pilih mereka, klausul penalti harus ditulis lebih ketat."
Ruangan diam.
Raymond langsung mengecek file di laptopnya. "Catatan itu ada di appendix original."
Kevin mengangkat wajah. "Kenapa tidak masuk final deck?"
Jessica tersenyum, sedikit lebih kaku. "Aku pikir terlalu teknis untuk meeting pagi ini."
"Itu teknis yang menentukan kontrak," ucap Louisa.
Kevin menatap Louisa.
Untuk sesaat, Louisa melihat sesuatu seperti kejutan di matanya. Mungkin karena ia jarang membantah di ruang meeting. Mungkin karena ia baru sadar bahwa orang yang selama ini diam ternyata tahu bagian pekerjaan lebih banyak dari yang ia kira.
Namun kejutan itu hanya bertahan sebentar.
Kevin menoleh kepada Jessica. "Masukkan lagi. Setelah meeting, koordinasi dengan legal."
Jessica mengangguk. "Baik."
Lalu Kevin kembali melihat tablet. "Next."
Next.
Tidak ada pertanyaan siapa yang membuat data. Tidak ada koreksi atas klaim Jessica. Tidak ada pengakuan bahwa Louisa baru saja menyelamatkan kontrak dari celah risiko.
Meeting berlanjut seperti tidak ada yang terjadi.
Di bawah meja, ponsel Louisa bergetar.
Stella: Ci Lou, kantor aman?
Louisa menatap pesan itu beberapa detik.
Lalu di layar proyektor, nama file Jessica masih tertulis di sudut kanan bawah.
Vendor_Recommendation_Final_Jessica.pptx
Louisa mengetik balasan singkat.
Louisa: Belum tahu.
Ia mengirimnya, lalu mengangkat wajah tepat ketika Jessica tersenyum ke arah ruangan dan melanjutkan presentasi dengan data yang bukan miliknya.