NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 "Pelangi Setelah Badai"

Chapter 13

Semenjak misi besar itu terlewati, atmosfer di markas Home berangsur-angsur melunak. Kedamaian yang sudah lama absen kini kembali merayapi setiap sudut ruangan. Sore itu, taman belakang diselimuti oleh cahaya matahari yang hangat dan semilir angin sepoi-sepoi yang menggoyang pucuk-pucuk daun. Shin berjalan berdampingan dengan Belial menyusuri jalan setapak bertabur kerikil. Rambut putih panjang Belial yang dikuncir tinggi bergoyang pelan mengikuti irama langkahnya. Sosok mantan pasukan elite itu kini tampak jauh lebih tenang. Seragam Biru Anggota Elitenya kini berganti menjadi seragam Grey Wings. Ketegangan yang dulu selalu membungkus tubuhnya seolah mengikis, tidak ada lagi keangkuhan defensif atau tatapan sekaku dulu. Shin yang berjalan di sebelahnya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia benar-benar menikmati perubahan positif ini.

Tiba-tiba, Belial menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menghadap tepat ke arah Shin. Sepasang mata indahnya berbinar cerah, memancarkan ketulusan yang murni tanpa ada lagi dinding pembatas. "Shin," panggil Belial, suaranya sedikit bergetar namun terdengar mantap. "Iya, Belial? Kenapa berhenti?" tanya Shin lembut. Belial menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam kedua tangan Shin. "Terima kasih... Terima kasih karena sudah meyakinkanku bahwa masa depan itu masih ada. Bahwa hidup ini lebih panjang, tak terduga, dan... penuh dengan harapan. Mulai sekarang, aku akan terus percaya padamu, Shin. Karena... karena aku mencintaimu!" Ucapan itu keluar begitu saja, sarat akan semangat yang meledak-ledak, nyaris menyerupai teriakan kebahagiaan yang sudah lama ia pendam.

Shin tertegun sesaat sebelum akhirnya terkekeh kecil. Pipinya merona merah akibat pengakuan yang mendadak itu. "Hahaha... Kenapa tiba-tiba sekali berkataan seperti itu, Belial? Kamu membuatku kaget." Belial tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru tertawa lepas—sebuah tawa bahagia yang begitu lepas, seolah seluruh beban dunia yang selama ini menghimpit pundaknya telah sirna. Dengan gemas, ia menarik tangan Shin lebih dekat ke dadanya. "Tidak ada alasan khusus! Aku hanya ingin mengatakannya lagi. Aku cinta kamu, Shin!" serunya lagi, kali ini dengan nada yang lebih keras, lebih yakin, dan jauh lebih tulus.

Sementara itu, di bagian dalam markas, Lei mendorong pintu perpustakaan yang berat. Begitu pintu terbuka, aroma khas kertas dan buku-buku tua langsung menyambut indra penciumannya. Di sudut ruangan yang tenang, di bawah siraman cahaya matahari yang menembus jendela kaca besar, Elas duduk tegap dikelilingi tumpukan literatur.

"Yo, Elas," sapa Lei pelan, sengaja menurunkan nada suaranya agar tidak merusak keheningan ruangan. "Kamu masih membaca buku tebal itu lagi?" Elas tidak langsung menjawab. Ia perlahan menutup halaman terakhir buku di pangkuannya, lalu menggeleng pelan. "Sudah selesai. Dan kali ini, aku akhirnya menemukan jawabannya." Lei menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Jawaban? Soal apa?" Elas membetulkan letak kacamatanya, menatap lurus ke depan dengan pandangan filosofisnya yang khas. "Tentang cinta dan kasih sayang. Menurut literatur yang kubaca dan analisis pribadiku, keduanya adalah hal yang serupa namun memiliki esensi maksud yang berbeda. Kasih sayang memiliki arti rasa untuk saling melindungi tanpa pamrih. Sedangkan cinta... cinta adalah sebuah rasa ingin hidup bersama, saling terikat, dan saling memiliki satu sama lain secara utuh."

Kata-kata itu mengalir dengan tenang dari bibir Elas, seperti sebuah konklusi besar yang sudah lama ia simpan dan renungkan dalam-dalam di hatinya. Lei terdiam sejenak, mencerna kalimat sahabatnya itu. Sebuah senyuman kecil kemudian terukir di wajah Lei, merasa seolah beban dari pertanyaan lama yang tak kasat mata akhirnya terjawab. Lei memalingkan pandangannya ke luar jendela, menatap langit biru yang membentang luas. Ia teringat kabar tadi pagi. Setelah kepulangan mereka ke Home, sebuah pesan resmi dari The Hawk datang, berisi ucapan selamat atas kesuksesan misi mereka sebelumnya. Dan yang paling melegakan, Belial kini telah resmi terdaftar sebagai bagian tetap dari Tim 05.

Melihat hamparan langit itu, ingatan masa lalu mendadak berputar di kepala seseorang yang sedang berdiri di koridor atas. Dahulu, jauh sebelum mereka menjadi pilot andalan, atmosfer di fasilitas Birdcage tidak sehangat ini. Sua kecil sering kali terlihat menyendiri di pojok ruangan yang suram. Dengan lutut yang dipeluk erat, ia hanya bisa terdiam mengawasi anak-anak sebayanya yang asyik bermain dan tertawa bersama. Dunia luar terasa begitu berjarak baginya.

Sampai pada suatu hari, langkah kaki kecil mendekatinya. Seorang anak laki-laki dengan senyum cerah dan mata penuh rasa ingin tahu berdiri di depannya. "Hei, aku Shin," ucap anak itu dengan penuh percaya diri, langsung mengulurkan tangan kecilnya ke depan wajah Sua, mengajaknya berkenalan tanpa ragu. Sua kecil tersentak. Awalnya ia dirundung rasa malu dan sangsi, menatap tangan itu dengan ragu. Namun, melihat binar ketulusan di mata Shin, Sua perlahan mengulurkan tangannya dan menyambut jabat tangan itu. Semenjak hari bersejarah itu, Sua dan Shin menjadi sangat dekat. Hubungan mereka kemudian semakin erat dan ramai setelah kehadiran Lei yang berisik ikut bergabung dalam lingkaran pertemanan mereka.

Kembali ke masa kini, Sua berdiri bersandar pada pembatas koridor, melamunkan memori masa kecil tersebut. Matanya menatap ke bawah, ke arah taman di mana Shin dan Belial sedang tertawa bersama. Melihat kedekatan mereka berdua, ada rasa sesak yang menyelusup di dada Sua. Perasaan iri dan cemburu hadir tanpa diundang. Namun, di sisi lain, Sua mengepalkan tangannya kuat-kuat; ia sama sekali tidak memiliki niat untuk merusak atau merebut kebahagiaan Shin. Baginya, kebahagiaan Shin adalah prioritas, dan kenyataannya, sumber kebahagiaan Shin saat ini adalah Belial. Hal itu sukses membuatnya kesal pada keadaan, meskipun ia tahu ia tidak memiliki hak untuk memprotesnya.

Di halaman depan Home, suasana jauh lebih gaduh. Zhou dan Teiben sedang sibuk bermain bola. Suara tawa dan teriakan heboh mereka menggema ringan di udara, memecah kesunyian sore. Namun, kontras dengan keriuhan itu, di sudut halaman yang paling jauh dan gelap, Sei duduk menyendiri di bawah naungan pohon besar, seolah membiarkan bayangannya sendiri menelan eksistensinya. Shin yang baru kembali dari taman belakang menyadari keberadaan Sei. Dengan langkah santai, ia berjalan mendekat lalu mengambil posisi duduk tepat di samping pemuda itu.

Hening sejenak menyelimuti mereka. Hanya ada suara angin dan pantulan bola dari kejauhan. Sampai akhirnya, Shin membuka suara dengan lirih, "Dulu... kau tidak sediam ini, Sei." Kalimat sederhana itu entah bagaimana terasa menusuk tepat di ulu hati Sei. Pemuda itu menunduk dalam-dalam. Jemarinya yang bertumpu di atas lutut mulai bergetar pelan. "Kenapa..." suara Sei terdengar serak, menahan emosi yang bergejolak di dalam dadanya. "Kenapa kau selalu bersikap baik padaku, Shin? Padahal... padahal aku membencimu."

Sei menjeda kalimatnya. Napasnya agak memburu, dan matanya bergetar hebat saat ia menatap tanah di bawah kakinya. "Kenapa aku harus membencimu...? Sialan, aku bahkan tidak punya alasan yang logis untuk membencimu... tapi kenapa rasanya sesak sekali?" Shin tidak marah ataupun tersinggung. Ia hanya menatap Sei dengan pandangan mata yang dipenuhi pemahaman. Perlahan, Shin mengacungkan tangannya ke depan dada Sei, membentuk sebuah kepalan erat yang hangat. "Karena kita adalah teman," jawab Shin dengan nada bicara yang teramat tenang namun penuh dengan ketulusan yang tak tergoyahkan.

Sei terdiam membeku untuk waktu yang cukup lama. Wajahnya yang biasa dingin kini dipenuhi oleh riak rasa bersalah yang teramat sangat. Ada luka mendalam yang tersirat di matanya, sebuah perasaan inferior bahwa dirinya tidak pantas untuk menerima uluran tangan dan ketulusan persahabatan sekokoh itu. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Sei mendadak berdiri. Ia berbalik, melangkah cepat meninggalkan Shin sendirian di bawah pohon.

Shin hanya bisa menatap punggung Sei yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu masuk markas. Ia sedikit bingung dengan reaksi mendadak itu, namun sedetik kemudian, sebuah senyuman kembali terbit di wajah Shin. Ia merasa yakin, suatu hari nanti, ketulusan kata-katanya pasti akan sampai ke dasar hati Sei.

Saat malam tiba, seluruh anggota tim berkumpul di aula utama untuk makan bersama. Meja makan dipenuhi riuh rendah suara sendok dan obrolan ringan. Di tengah-tengah makan malam, Belial tiba-tiba memotong sepotong daging, lalu dengan gerakan alami mengarahkannya ke depan mulut Shin. "Ayo, buka mulutmu," ujar Belial tanpa ragu. Shin sempat mengerjapkan mata karena terkejut, namun ia tetap tersenyum dan menerima suapan daging dari Belial dengan senang hati. "Terima kasih, Belial." Pemandangan itu tak pelak membuat anggota tim yang lain menatap mereka dengan tatapan geli sekaligus menggoda.

"Wah, wah... Romantis sekali ya mereka berdua," komentar Mei sembari menopang dagunya, tersenyum manis melihat kemajuan hubungan kedua rekannya. "Ih, manisnya! Aku jadi kepingin disuapi juga deh kalau melihat mereka begitu," timpal Huah dengan heboh sambil mengunyah makanannya.

Di ujung meja yang lain, Sua terlihat semakin cemberut. Ia menusuk-nusuk kentang di piringnya dengan garpu seolah benda itu punya salah padanya. Lei yang duduk di sebelah Sua menyadari perubahan drastis aura gadis itu. Dengan helaan napas pelan, Lei menepuk-nepuk pundak Sua dengan lembut, berusaha menenangkannya tanpa perlu mengeluarkan kata-kata yang bisa memancing keributan. Saat pandangannya menyapu meja, Lei menyadari satu hal. Kursi di sebelah Zhou kosong. "Eh, Elas ke mana? Dia belum keluar dari kamar mandi?" tanya Lei pada Zhou.

"Tadi sih bilangnya langsung ke perpustakaan setelah ganti baju. Katanya tanggung ada bab yang mau diselesaikan," jawab Zhou acuh tak acuh sambil menyendok supnya.

Setelah makan malam selesai dan yang lain mulai membersihkan meja, Lei berinisiatif mengambil sepiring nasi dan lauk pauk, lalu membawanya menuju ruang perpustakaan untuk diberikan kepada sahabat kutu bukunya itu. Tok, tok. Lei mendorong pintu perpustakaan dengan sikunya karena kedua tangannya memegang piring. Di dalam, Elas masih berada di posisi yang sama seperti sore tadi, tenggelam dalam barisan kalimat di dalam buku. Matanya menelusuri halaman demi halaman tanpa sedikit pun menoleh ke arah pintu.

"Hei... kamu tidak berniat makan malam?" ucap Lei dengan nada lembut seraya melangkah mendekat. Tidak ada jawaban dari Elas. Hanya ada keheningan dan suara lembar kertas yang dibalik. Lei menghela napas, maklum dengan tabiat sahabatnya jika sudah fokus pada satu hal. Ia kemudian menaruh piring berisi makanan hangat itu di atas meja kecil tepat di samping tangan Elas. Merasa tugasnya sudah selesai, Lei berbalik dan bersiap untuk pergi meninggalkan perpustakaan. Namun, baru dua langkah kakinya bergerak, sebuah suara menghentikannya.

"Lei," panggil Elas. Suaranya terdengar sangat tegas, berat, dan penuh kedalaman. Lei seketika menghentikan langkahnya. Ia menghela napas panjang dan membalikkan badannya, bersiap secara mental untuk mendengar pertanyaan atau teori kritis beralur rumit yang biasanya akan keluar dari mulut Elas. "Ya, Elas? Ada apa lagi kali ini?" Elas akhirnya mendongak, menatap Lei dengan wajah tanpa dosa. "Mana minumannya? Tenggorokanku nanti bisa seret kalau makan tanpa minum." "..." Lei tersentak, matanya mengerjap tidak percaya. "Astaga, Elas! Kamu membuatku panik saja dengan nada serius seperti itu! Kupikir ada hal darurat apa! Iya, iya, tunggu sebentar, aku ambilkan ke dapur!" gerutu Lei kesal sembari mengacak rambutnya sendiri lalu berjalan cepat keluar.

Elas menatap kepergian Lei dengan memiringkan kepalanya sedikit. Begitu punggung Lei benar-benar menghilang di balik pintu, ekspresi datar di wajah Elas runtuh. Ia menutupi mulutnya dengan buku, lalu terdengar suara cekikikan geli yang pelan. Ia sengaja menjahili sahabatnya itu.

Sementara itu, di sudut lain markas, suasana berubah drastis menjadi mencekam. Di dalam kamar mandi utama yang kini dipenuhi oleh kepulan kabut uap air yang dingin, Shin berdiri terhuyung-huyung di depan wastafel. Kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran porselen wastafel yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Shin terbatuk keras sebelum akhirnya memuntahkan cairan merah pekat ke dalam bak cuci. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, mengotori air yang mengalir. Napasnya memburu cepat, dan pandangannya sempat berkunang-kunang selama beberapa saat akibat rasa sakit yang mendera tubuhnya.

Dengan tangan yang masih bergetar hebat, Shin menyalakan keran air untuk membasuh sisa darah di mulut dan wastafel. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya, menyibak poni rambut yang menutupi dahinya. Detik itu juga, Shin terpaku. Matanya melebar sempurna menatap pantulan dirinya di cermin yang agak berembun.

Di balik kulit dahinya, sepasang tanduk kecil berwarna gelap mulai muncul. Ujungnya menembus permukaan kulit dengan samar namun nyata. Belum sempat rasa terkejutnya hilang, Shin sedikit membuka mulutnya dan menyentuh barisan giginya sendiri. Beberapa gigi taringnya kini tumbuh sedikit lebih runcing dan tajam, berkilat mengancam di bawah siraman cahaya lampu kamar mandi yang redup.

Itu bukan lagi karakteristik manusia biasa. Itu adalah tanda-tanda perubahan fisik yang mengerikan. Dada Shin berdegup sangat kencang, bagai dihantam palu godam. Keringat dingin mengucur deras membasahi pelipis dan lehernya. Rasa panik dan ketakutan yang teramat sangat sempat menghantam isi kepalanya.

Namun, setelah terdiam membeku selama beberapa menit dalam keheningan kabut uap, Shin menarik napas panjang. Ia mengembuskannya perlahan, mencoba sekuat tenaga menekan badai kepanikan yang sedang mengamuk di dalam dadanya. Dengan gerakan cepat dan teliti, ia membasuh wajahnya dengan air dingin, lalu merapikan kembali tatanan rambut poninya ke depan untuk menutupi keberadaan tanduk kecil tersebut. Setelah memastikan semuanya terlihat normal seperti biasa, Shin menatap tajam bayangannya di cermin, meyakinkan dirinya sendiri dengan tekad mutlak.

Tak seorang pun di markas ini boleh tahu. Rahasia tentang apa yang baru saja terjadi pada tubuhnya harus tetap terkunci rapat di dalam kamar mandi ini.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!