NovelToon NovelToon
GALACTIC PARCEL SERVICE

GALACTIC PARCEL SERVICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Komedi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.

Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.

Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.

Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Paparazi, Radiasi Pesona Seraphi, dan Monyet Bumi

Keesokan harinya, jauh dari hiruk-pikuk kapal kargo Andromeda yang baru saja mendarat, kehidupan di pusat Kota Cucurville, Planet Ninovia, sudah berjalan dengan ritme sibuknya yang khas.

Kota ini adalah perpaduan aneh antara estetika cyberpunk yang canggih dan warna-warni pastel neon yang menyala di setiap sudut jalan. Hologram iklan kosmetik dan fashion raksasa menghiasi langit-langit kota. Di trotoar berlapis kaca metalik, lalu-lalang penduduk lokal ras Urana dan ras alien lain tampak sibuk. Sesuai dengan anatomi ras Urana, tak ada satu pun dari mereka yang menapakkan kaki di tanah. Mereka melayang mulus di udara menyerupai ubur-ubur kosmik berpendar warna-warni dengan gaya berpakaian streetwear yang luar biasa trendi.

Di tengah keramaian itu, melayanglah sesosok pria ras Urana bernama Tom Quazar.

Di seantero Galaksi Andromeda, wajah imutnya yang selalu memasang ekspresi sarkas itu sangat tidak asing. Ia adalah superstar film aksi dengan bayaran termahal tahun ini. Tom terkenal karena selalu melakukan aksi stunt berbahaya secara langsung, menolak keras penggunaan efek CGI meski sutradara memohonnya.

Pagi ini, Tom hanya ingin menjadi 'warga biasa'. Ia menutupi kepalanya dengan topi hitam dan hoodie kebesaran. Tangan kanannya memegang segelas es kopi dari Galaksibucks. Ia melayang santai, berharap tak ada satu pun makhluk yang menyadari keberadaannya.

Namun, di alam semesta ini, tidak ada yang namanya kebetulan bagi seorang superstar.

CKREEK!

Suara jepretan kamera digital dan kilatan lampu mendadak meledak dari arah gang sempit di sebelah kiri Tom.

Tom refleks menoleh. Matanya memicing tajam melihat lensa kamera panjang yang menyembul dari balik tong sampah melayang. Sadar identitasnya telah bocor dan ia sedang diincar paparazi, Tom langsung menambah daya tolak gravitasinya.

"Hah, sialan! Paparazi brengsek," umpat Tom sambil melesat melayang menyusup ke tengah keramaian lalu lintas pejalan kaki untuk menghilangkan jejak. "Bisa-bisanya mereka menemukanku di area pinggiran begini. Nggak bisa banget lihat artis pengen jalan-jalan santai sehari aja!"

Sambil terus bermanuver menghindari kejaran, Tom merogoh kantong hoodie-nya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Ia segera menekan nomor kontak darurat untuk mencari tempat pelarian, sambil sesekali menyeruput es kopinya agar tidak tumpah.

Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum akhirnya diangkat.

"Halo... di mana kau?" tanya Tom setengah berbisik.

Dari seberang, terdengar suara santai seorang pria Urana lainnya. "Tumben nelpon pagi-pagi. Kenapa kau? Dikejar utang?"

"Bosen aku, jalan-jalan santai di kota malah kena jepret paparazi," keluh Tom berbelok tajam ke sebuah gang berkanopi. "Mending aku main ke tempatmu aja kali ya, Hec? Aman kan rumahmu?"

"Wah, kebetulan banget. Aku lagi nggak di rumah," jawab Hector, sahabatnya.

"Terus di mana dong?"

"Aku di NSP. Ninovia Stellar Port."

Tom mengerutkan kening halusnya. "Jauhnya... ngapain kau nongkrong di pelabuhan kargo industri begitu? Mau alih profesi jadi kuli bongkar muat?"

​"Sembarangan," dengus Hector. "Teman SMA-ku dulu waktu di Bumi, sekarang kerja jadi kapten kapal kargo GPS. Semalam dia udah nelpon ngabarin kalau kapalnya bakal mendarat di sini pagi ini. Kebetulan tadi pagi aku ada meeting sama klien di restoran dekat pelabuhan, jadi kelar meeting aku sekalian lanjut ngerjain sisa dokumen kantor dari sini sambil nungguin dia selesai bongkar muat."

"Hmmm..." Tom memikirkannya sejenak. Pelabuhan kargo adalah area sibuk dengan tingkat keamanan tinggi. Paparazi tidak akan bisa masuk ke area ring satu pelabuhan tanpa kartu akses. "Bodo amatlah, aku nyusul ke sana juga sekarang."

"Seriusan?" Nada suara Hector mendadak panik. "Kau itu artis terkenal tingkat galaksi, Tom! Jangan sembarangan kelayapan ke area publik yang rawan gitulah. Nanti aku yang kena semprot manajermu kalau terjadi apa-apa!"

"Santai, manajerku lagi pijat refleksi tentakel. Dia nggak akan tahu kok," balas Tom percaya diri.

Hector menghela napas panjang hingga terdengar di ujung telepon. "Haduuh... ya udahlah, terserah kau saja. Ini aku nungguin di restoran bar & grill tepat di luar gerbang utama NSP. Patokannya yang lampunya warna hijau neon."

"Oke, aku OTW ke sana. Bentar, nyari taksi dulu."

Sambungan diputus. Tom menarik tudung hoodie-nya lebih rapat, menyamar membaur bersama angin kota Cucurville.

***

Sementara itu, di Dermaga Logistik Ninovia Stellar Port (NSP)...

Kapal kargo raksasa GPS Andromeda sedang dalam kondisi puncak kesibukannya. Suara mesin crane anti-gravitasi berdengung memekakkan telinga, bersahutan dengan bunyi dentingan logam dari kontainer-kontainer baja yang diturunkan dari perut kapal. Area pelabuhan ini dipenuhi aroma oli mesin, ozon, dan keringat para pekerja dari berbagai galaksi yang sedang berlalu-lalang.

Arka berdiri di anjungan dek bongkar muat, kedua tangannya berlipat di dada. Di sebelahnya, Null memegang sabak digital berisi data lima ratus boks makanan yang sedang diturunkan. Di sisi Null yang lain, Eve berdiri anggun sambil mengecek barcode paket satu per satu dengan alat scanner. Pendar cahaya keemasan dari kulit Seraphi Eve tampak sangat kontras dengan lingkungan pelabuhan yang kumuh dan berdebu.

Arka memicingkan matanya, mengamati area bawah dek tempat kru kargo bekerja.

"Reng," panggil Arka pelan.

"Apa?" sahut Null tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.

"Eve suruh masuk ke dalam kapal aja gih," bisik Arka. "Biar kau aja yang ngerjain sisa hitungan manifest di luar sini."

Pusaran materi gelap Null berputar lebih cepat, tanda ia merasa terganggu. "Apalah kau ini. Aku ini Kepala Kargonya, Bos. Jangan sewenang-wenang begitu dong mentang-mentang jabatannya kapten kapal. Masa aku disuruh kerja sendirian sementara stafku disuruh ngadem di dalam?"

"Bukan gitu masalahnya, Reng. Coba kau lihat noh ke bawah. Anak buahmu kerjanya berantakan semua."

Mendengar itu, Null akhirnya menoleh ke arah yang ditunjuk Arka.

Apa yang dilihatnya membuat inti singularitas di perut Null berdenyut kesal. Bukannya fokus memindahkan kotak-kotak persediaan, belasan kru pria di bawah sana justru bergerak layaknya zombi kelaparan. Mereka mengangkat kargo sambil berjalan miring, leher mereka berputar tak wajar karena mata mereka terus-menerus mencuri pandang ke arah anjungan tempat Eve berdiri.

Bahkan di kejauhan, saking sibuknya memandangi Eve yang sedang menyelipkan rambut ke belakang telinga, Harry yang bertugas memegang panel kendali crane sampai salah menekan tombol koordinat.

Bruk! SPLAAASH!

Sebuah kotak kargo seberat sepuluh kilogram meluncur turun dan menghantam tepat di atas lengan Febri yang sedang berdiri di bawahnya.

"ADOOOH TANGANKU!" jerit Febri. Lengan jelinya meledak pipih memuncratkan cairan hijau ke segala arah. "Bajingan kau, Harry! Matamu jangan jelalatan terus! Fokus woi!"

"Aduh! Sori, sori, Feb! Nggak sengaja kepencet!" balas Harry panik sambil buru-buru menarik tuas crane kembali ke atas, membiarkan lengan Febri perlahan meregenerasi wujudnya kembali dengan bunyi sluurp yang menjijikkan.

Arka menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Null. "Tuh, lihat kan?"

Null mengusap 'wajah' gelapnya dengan pasrah. "Haduuuh... ampun deh." Ia lalu menoleh. "Eve!"

Eve yang sedang memindai kotak terakhir tersentak pelan dan berbalik. "Iya, Pak?"

"Sisa sorting untuk pengiriman yang ke sini biar saya saja yang ngerjain," perintah Null. "Kamu balik ke dalam kapal sekarang, tolong kerjain kalkulasi manifest buat kiriman selanjutnya yang ke satelit bulan Ninovia aja, ya."

"Oh, baik, Pak Null." Eve tersenyum patuh, merapikan sabaknya, lalu berbalik dan berjalan dengan langkah anggunnya kembali masuk ke dalam lambung Andromeda.

Begitu sosok bidadari Seraphi itu menghilang sepenuhnya di balik pintu kedap udara, suasana kerja di bawah dek mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.

Seluruh kru yang tadinya salah tingkah kini berhenti bekerja. Mereka menengadah ke arah anjungan dan menyoraki Kepala Kargo mereka secara serempak.

"Hoooooooo!"

"Nggak asik nih Pak Null!" teriak seorang alien bermata empat.

"Nggak ada semangat kerja lagi neeeh, Bos!" seru Harry tak tahu malu, masih memegang tuas crane.

Null mencengkeram sabak digitalnya kuat-kuat, meredam keinginan untuk melemparkan mereka semua ke dalam dimensi hampa. "DIAM KALIAN SEMUA! KERJA SANA YANG BENER ATAU GAJI KALIAN KUPOTONG BUAT BAYAR BIAYA PARKIR PELABUHAN!" bentaknya menggelegar melalui suara statisnya.

Mendengar ancaman potong gaji, seluruh kru langsung kocar-kacir kembali fokus pada kargo masing-masing.

"Bwahahahaha!" tawa Arka pecah melihat reaksi anak buahnya. "Hoooo~" ejeknya pelan, ikut-ikutan menyoraki Null.

"Sengaja sekali kau ya, Ka," gerutu Null. "Biar aku aja terus yang dimusuhi sama satu divisi gara-gara kau yang nyuruh."

"Maaf, maaf, abisnya lucu," kekeh Arka memegangi perutnya. "Ya udah, aku mau langsung cabut ke kantor Receiving Officer (RO) setempat dulu buat nyelesaiin dokumen administrasinya. Biar urusan sandar kapal ini cepet kelar dan ntar sore kita bisa bebas buat halan-halan, muehehehe."

"Halan-halan ndasmu," umpat Null kesal.

"Hei!" tunjuk Arka cepat. "Itu kosakata dari keluargaku di Bumi, ya. Ada watermark-nya, jangan asal nyomot bahasa orang!"

Null mendengus. "Lagian kau buru-buru amat. Memangnya mau ketemu siapa sih di pelabuhan begini?"

"Ada teman SMA-ku dulu, si Hector. Nggak ngapain-ngapain sih, cuma temu kangen aja sambil ngopi," jawab Arka sambil menepuk-nepuk debu di seragamnya. "Gimana? Kau mau ikut nongkrong nggak ntar sore?"

"Nggak, ah. Makasih," tolak Null mentah-mentah. "Nggak kuat aku dengerin ras Urana ini ngomong. Sindirannya bikin telinga panas. Bisa meledak black hole di perutku nanti gara-gara nahan emosi."

"Lah, emangnya selama kau hidup, kau nggak punya satupun teman dari ras Urana?"

"Nggak punya. Males aku berteman sama mereka."

Arka menggeleng-gelengkan kepalanya. "Rasis bener kau jadi alien. Itu tuh cuma logat dan gaya bahasa adaptasi evolusi mereka aja, Reng. Aslinya mah hati mereka baik dan sama aja kayak kita-kita."

"Tetep aja, mentalku nggak kuat."

"Ya udin, terserah! Bye! Nanti kalau ada masalah kargo kurang atau apa, telpon aja ke komunikator ya."

Arka pun membalikkan badan dan melangkah santai meninggalkan anjungan, membiarkan Null mengurus sisa drama tiga ton makanan sendirian.

***

Sore harinya.

Langit Planet Ninovia mulai berubah menjadi gradasi warna jingga dan ungu tua. Urusan administrasi dengan pihak pelabuhan telah selesai, dan para kru Andromeda akhirnya mendapatkan izin keluar kapal. Beberapa di antara mereka langsung menyebar masuk ke pusat Kota Cucurville untuk mencari hiburan, sementara Arka memilih berjalan kaki keluar dari gerbang utama NSP.

Sesuai arahan pesan singkat dari Hector, Arka melangkah memasuki sebuah restoran lokal yang berada tak jauh dari gerbang.

Berbeda dengan kantin kapal yang kaku, restoran Ninovia ini memiliki estetika yang sangat unik. Lampu-lampu kristal berwarna neon melayang bebas di langit-langit tanpa kabel pengikat. Meja-mejanya terbuat dari semacam batu pualam yang tidak memiliki kaki, mengambang diam beberapa sentimeter di atas lantai. Aroma rempah galaksi yang tajam dan manis menguar memenuhi udara.

Arka mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan sosok yang ia cari. Di sebuah bilik melingkar di sudut restoran, Hector sedang duduk melayang santai sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Di sebelahnya, duduk melayang seorang pria ras Urana lain yang menutupi wajahnya dengan hoodie hitam dan topi.

Arka tersenyum lebar dan segera menghampiri meja mereka.

"Oi, Hec! Gimana kabarmu?" sapa Arka, melakukan high-five gaya Bumi dengan sahabat lamanya itu.

"Masih bernapas, untungnya," balas Hector tertawa. Ia lalu menunjuk sosok ber-hoodie di sebelahnya. "Kenalin Tom, ini temen SMA-ku yang paling cengeng."

Tom perlahan mengangkat wajah imutnya dari balik tudung hoodie. Matanya menatap Arka dari atas ke bawah dengan tatapan sarkas khas spesiesnya.

"Oh, salam kenal, Monyet Bumi," sapa Tom dengan nada meremehkan.

Arka yang sudah sangat terbiasa dengan gaya bahasa spesies ini sejak zaman SMA di Bumi, tidak tersinggung sedikit pun. Ia menarik kursi (yang kebetulan didesain khusus untuk ras berkaki) lalu duduk menyilangkan lengannya di atas meja.

"Salam kenal juga, Lendir Melayang," balas Arka dengan senyum ramah yang tak kalah sinis.

Mata ungu Tom sedikit melebar. Ia tak menyangka manusia ini berani membalas makiannya secara instan tanpa berkedip.

"Weeeh... lumayan juga nyalimu," kekeh Tom. "Udah kebal dan biasa ngadepin orang-orang Urana ya rupanya?"

Hector menyeruput minumannya yang berasap dengan santai. "Ya kan udah kubilang, Tom. Dia ini temen SMA-ku."

Arka menatap lekat-lekat wajah mungil nan imut di balik bayangan hoodie hitam tersebut. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memicingkan mata, mencoba menggali memori di otaknya. Entah kenapa, wajah ubur-ubur neon di depannya ini terasa sangat familiar, seakan ia pernah melihatnya berkali-kali di papan iklan holografik.

"Sebentar..." gumam Arka, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu. "Kok aku kayak kenal ya?"

1
Feburizu
Mirip Guardian galaksi ya
helena (Hiatus 12/8/26- idk)
ilustrasinya remind me film the guardians of the galaxy 😍
Sarah
Lyra ini yang muncul di bab berapa yah Thor? Hehehe aku lupa. Soalnya tokoh cerita ini emang banyak banget. 😅😆
Maya: Bab 3 & 14, Lyra itu pilot yang tangannya ada 6 😁
total 1 replies
Sarah
Iyeyyyy lanjut!
Eka
wkwkkw🤣
Eka
pasti di suri nyari putri itu
Eka
apakah ini villain pertama?
MayAyunda
mampir kak
Eka
apa itu berarti bu Maya lebih kuat dari pipi? secara dia kan authornya 👀b🤣
Eka
wkwkkw
Eka
bagus sih ini
Eka
tapi kasian GK sih? nanti suaminya pasti kan berpulang duluan kalo kek gitu🥲
Eka
yak authornya nongol
Eka
maksa banget namanya Thor? 🤣
Eka
Hajar mbak zer!! 🤭
Eka
ini yui tuh robot kan ya? apa settingannya emang gitu?
Eka
Author sering sekali pake Kyaaaaa kenapa Thor ? 🤣
Eka
ternyata di masa depan kita tidak financial freedom ya 🤣
Eka
alasan pembully emang always klasik
Eka
pijat apa ne 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!