NovelToon NovelToon
Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Permen

Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.

Tapi takdir berkata lain.

Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.

Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua

Lin Xiao menatap kalimat itu selama beberapa detik.

Kemudian, ia melipat surat tersebut, mengembalikannya ke tempat semula, dan menutup laci.

"Qingxing."

"Hamba di sini."

"Cari pakaian luar berwarna ungu muda itu. Besok aku akan memakainya."

Qingxing tertegun.

"Nyonya, bukankah itu pakaian baru tahun lalu? Anda belum pernah memakainya karena menganggap warnanya terlalu polos..."

"Pakai saja."

Lin Xiao berkata,

"Besok kita harus bertemu banyak orang."

Ia kembali berbaring dan memejamkan mata.

Potongan-potongan ingatan masih terus bermunculan.

Bagaimana Shen Qingyue diabaikan selama tiga tahun terakhir.

Bagaimana Nyonya Tua memarahinya karena dianggap tidak berbakti.

Bagaimana ia melihat Pei Yanzhi perlahan-lahan lebih sering mengunjungi halaman Selir Zhou dan tak pernah kembali.

Lin Xiao tahu.

Acara memberi salam besok pagi adalah ujian pertamanya.

Selir Zhou akan berpura-pura lemah.

Nyonya Tua akan memihak.

Semua orang akan menunggu untuk menertawakannya.

Sementara dia, seorang wanita modern yang baru saja berpindah ke masa lalu dan bahkan belum sempat mempelajari tata krama zaman kuno, harus bertahan hidup di hadapan mereka.

Ia membalikkan badan dan bergumam dalam kegelapan dengan kata-kata yang tak dipahami siapa pun.

"Baiklah. Kalau begitu, kita berakting."

Keesokan paginya.

Di aula utama, sudah duduk tujuh atau delapan orang.

Di kursi utama duduk Nyonya Tua keluarga marquis, wanita berusia sekitar enam puluh tahun dengan sanggul rapi dan tusuk rambut giok. Wajahnya tenang sekaligus berwibawa.

Di sebelahnya duduk nyonya dari keluarga cabang kedua, sementara beberapa menantu muda duduk di kiri dan kanan.

Di bawah mereka duduk Selir Zhou.

Zhou Ruolan mengenakan pakaian luar merah muda. Perutnya yang sedikit membesar tampak jelas. Ia duduk di samping Nyonya Tua sambil menopang pinggangnya, dengan senyum lemah namun manis yang pas.

Di sampingnya berdiri seorang pelayan yang memegang obat penenang kandungan.

Saat Lin Xiao memasuki ruangan, semua mata langsung tertuju padanya.

Rasa penasaran.

Penghinaan.

Kegembiraan menunggu pertunjukan.

Semua ada di sana.

Kecuali niat baik.

"Saya memberi salam kepada Nyonya Tua."

Ia melangkah maju dengan tenang dan membungkukkan badan.

Nyonya Tua hanya mengangkat kelopak matanya.

"Kau sudah datang? Duduklah."

Nadanya datar, tetapi dingin.

Lin Xiao tahu arti sikap itu.

Bahkan ucapan singkat seperti "baik" pun tidak diberikan. Itu berarti suasana hari ini sudah buruk sejak awal.

Ia duduk di kursi samping, sementara Qingxing berdiri di belakangnya.

Baru saja duduk, Selir Zhou membuka percakapan.

"Kakak tampak jauh lebih sehat hari ini."

Suaranya lembut bagai kapas.

"Kemarin aku mendengar Tuan Marquis kembali mengunjungi Kakak. Aku sampai khawatir semalaman."

Kedengarannya seperti perhatian.

Padahal setiap kalimat adalah tusukan.

Semua orang di ruangan memahami maksud tersembunyinya.

Nyonya Tua sedikit mengernyit.

Nyonya dari keluarga cabang kedua menyesap teh sambil menyembunyikan senyumnya.

Semua orang menunggu jawaban Shen Qingyue.

Biasanya, dia akan diam, menggenggam sapu tangan, lalu menjawab kaku,

"Tidak perlu khawatir."

Setelah itu suasana akan menjadi canggung, Nyonya Tua akan memarahinya, Shen Qingyue menahan tangis, dan Selir Zhou muncul sebagai penyelamat yang tampak baik hati.

Siklus yang sama, berulang terus-menerus.

Namun, hari ini berbeda.

Lin Xiao tersenyum.

Senyum yang telah ia latih semalaman di depan cermin.

Tidak dibuat-buat.

Tidak menyeramkan.

Hanya lengkungan tipis di sudut bibir.

"Adik memang perhatian."

Ia menatap Selir Zhou dengan tenang.

"Kemarin Tuan Marquis memang datang. Kami hanya berbincang sebentar, lalu beliau pergi. Kondisimu sedang berat, fokuslah menjaga kandunganmu. Tak perlu mengkhawatirkan orang-orang senggang seperti kami."

Ruangan mendadak sunyi.

Senyum Selir Zhou membeku sesaat.

Kalimat Lin Xiao terdengar sopan, tetapi berhasil menghapus semua serangan halus lawannya.

Nyonya Tua mengendurkan alisnya.

Nyonya dari keluarga cabang kedua menatap Lin Xiao dengan pandangan baru.

Selir Zhou mempertahankan senyumnya sambil mengusap perutnya.

"Kakak benar... Aku hanya takut Kakak merasa tidak nyaman. Lagi pula..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Namun, semua orang tahu apa yang ingin ia katakan.

Lagi pula, Tuan Marquis kini hampir selalu bersamanya.

Lagi pula, dia sedang mengandung anaknya.

Lagi pula, istri sah yang telah menikah tiga tahun itu belum memiliki apa-apa.

Lin Xiao mengangkat cangkir tehnya.

"Adik."

Ia berbicara pelan.

"Anak di kandunganmu adalah cucu pertama keluarga marquis. Nyonya Tua telah menantikannya selama bertahun-tahun. Siapa pun boleh merasa tidak nyaman, tetapi bukan dirimu. Jagalah kandunganmu baik-baik dan jangan terlalu banyak berpikir."

Senyum Selir Zhou benar-benar membeku.

Karena Lin Xiao menggunakan taktik yang sama.

Setiap katanya sempurna.

Posisinya tak bisa disalahkan.

Nyonya Tua terbatuk pelan.

"Sudahlah. Ruolan, duduklah. Jangan terlalu lama berdiri."

Saat Selir Zhou kembali duduk, wajahnya tak lagi setenang sebelumnya.

Lin Xiao terus meminum tehnya.

Ia tahu ini baru ronde pertama.

Selir Zhou tidak akan menyerah hanya karena satu kekalahan kecil.

Nyonya Tua tidak akan menghapus prasangka tiga tahun hanya karena beberapa kalimat.

Semua orang masih mengawasinya, menunggu saat ia melakukan kesalahan.

Namun setidaknya hari ini, ia tidak diinjak-injak seperti Shen Qingyue yang dulu.

Saat hendak keluar, Nyonya Tua tiba-tiba memanggilnya.

"Qingyue."

Lin Xiao menoleh.

"Ada perintah lain?"

Nyonya Tua menatapnya dengan sorot mata yang sulit dibaca.

"Hari ini kau bicara lebih sedikit."

Lin Xiao tersenyum tipis.

"Terlalu banyak bicara hanya mendatangkan masalah. Menantu ini masih mengingatnya."

Nyonya Tua tidak berkata apa-apa lagi dan hanya melambaikan tangan.

Ketika Lin Xiao dan Qingxing meninggalkan halaman utama, sinar matahari pagi menyinari wajah mereka.

"Nyonya..."

Qingxing berbicara pelan dari belakang.

"Hari ini Anda terasa berbeda."

"Bagian mana yang berbeda?"

"Entahlah..."

Qingxing berpikir keras.

"Ketika Anda tersenyum, rasanya tidak seperti dulu."

Lin Xiao tidak menoleh.

"Qingxing."

"Hamba di sini."

"Setelah kita kembali, carikan daftar semua orang di halaman timur."

Qingxing terkejut.

"Daftar?"

"Benar."

Lin Xiao berkata tenang,

"Aku harus tahu siapa yang berada di pihakku dan siapa yang bekerja untuk orang lain."

Saat melangkah melewati gerbang menuju halaman timur, ia berpapasan dengan seorang pelayan tua yang membawa semangkuk obat.

Begitu melihatnya, wanita itu segera menunduk dan mempercepat langkah.

Tatapan Lin Xiao hanya menyapu sekilas.

Namun, ia mengingat wajah itu.

Qingxing benar.

Hari ini, dia terlalu banyak tersenyum.

Semalam, saat berbaring di tempat tidur, Lin Xiao memikirkan apa yang paling kurang dari Shen Qingyue.

Bukan status.

Bukan cinta suaminya.

Bukan pengakuan dari Nyonya Tua.

Semua itu memang kurang.

Tetapi yang paling kurang adalah ketenangan.

Orang yang hidup dalam kewaspadaan sepanjang waktu hanya memiliki dua ekspresi:

Mati rasa.

Atau penuh kebencian.

1
Trie Broto
critanya penuh teka-teki...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!