kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
...****************...
Malam itu, mansion keluarga Andreas yang berdiri megah di kawasan elite Jakarta tampak lebih tenang dari biasanya.
Lampu-lampu kristal menerangi aula utama dengan cahaya keemasan. Para maid berdiri rapi di sepanjang lorong menyambut tamu yang datang.
Sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman mansion.
Kepala pelayan segera membungkukkan badan.
"Selamat malam, Nyonya Renata. Selamat malam, Nona Evelyn."
Renata mengangguk anggun.
"Selamat malam."
Evelyn mengikuti neneknya memasuki mansion.
Walaupun ini pertama kalinya ia datang ke kediaman keluarga Andreas, ia tetap terlihat tenang.
Matanya mengamati interior mansion yang megah namun didominasi warna-warna gelap.
"Cukup sesuai dengan pemiliknya," gumam Evelyn pelan.
Renata melirik cucunya.
"Maksudmu?"
"Suasananya terlalu serius."
"Tidak semua rumah harus penuh warna sepertimu."
Evelyn terkekeh kecil.
Di ruang tamu utama...
Antonio Van Andreas sudah menunggu sambil menikmati secangkir teh.
Melihat tamunya datang, ia langsung berdiri.
"Selamat malam, Nyonya Renata."
"Selamat malam, Tuan Antonio."
Kedua tokoh senior itu berjabat tangan dengan penuh hormat.
Ternyata mereka sudah saling mengenal sejak puluhan tahun lalu melalui dunia bisnis.
"Sudah lama kita tidak bertemu."
"Hampir lima belas tahun," jawab Renata.
Antonio tersenyum tipis.
"Waktu berjalan sangat cepat."
Tak lama kemudian...
Arseno turun dari lantai dua.
Ia mengenakan kemeja hitam sederhana.
"Selamat malam."
Evelyn ikut mengangguk.
"Malam."
Tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik.
Lalu Evelyn berbisik pelan.
"Rumahmu menyeramkan."
Arseno mendengar jelas.
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Aku tahu."
Renata langsung menyenggol lengan cucunya.
"Jaga ucapanmu."
Evelyn hanya tersenyum canggung.
Mereka kemudian duduk mengelilingi meja besar di ruang keluarga.
Tak lama kemudian Naomi dan Kosta juga datang membawa beberapa map berisi dokumen.
Antonio membuka pembicaraan.
"Aku sengaja mengundang kalian karena masalah ini sudah tidak bisa dianggap sepele."
Ia mendorong sebuah map ke tengah meja.
"Silakan lihat."
Evelyn membukanya.
Di dalamnya terdapat puluhan cetakan berita.
Judul-judulnya semakin berlebihan.
'Pasangan Pebisnis Muda Paling Berpengaruh.'
'Hubungan Rahasia Dua CEO Terungkap.'
'Akankah Pernikahan Miliarder Segera Terjadi?'
Evelyn menutup map itu sambil menghela napas.
"Media benar-benar berlebihan."
Naomi ikut membuka tablet.
"Bukan hanya media."
"Tagar mengenai Nona dan Tuan Arseno sudah bertahan tiga hari di daftar pencarian teratas."
Kosta menambahkan,
"Harga saham kedua perusahaan memang belum terdampak signifikan."
"Tetapi beberapa investor mulai meminta klarifikasi."
Antonio mengangguk pelan.
"Itulah yang paling berbahaya."
Renata menatap Antonio.
"Menurut Anda, siapa yang melakukan semua ini?"
Antonio menyandarkan tubuhnya.
"Belum ada bukti."
"Tapi aku hampir yakin..."
"...ini bukan ulah media."
Arseno menyela.
"Aku juga berpikir begitu."
"Mereka terlalu terorganisasi."
"Semua berita muncul hampir bersamaan."
"Foto-fotonya juga diambil dari sudut yang sama."
Evelyn mengangguk.
"Berarti ada orang yang mengikuti kita sejak di Singapura."
Ruangan mendadak hening.
Naomi merinding.
"Berarti selama ini..."
"...kita diawasi?"
Kosta mengangguk pelan.
"Kemungkinan besar."
Antonio kemudian berdiri.
Ia berjalan menuju jendela besar.
"Tiga puluh lima tahun aku menjalankan bisnis."
"Dan satu hal yang selalu kuingat..."
Ia berbalik menatap semua orang.
"Musuh tidak selalu menyerang uangmu."
"Terkadang..."
"...mereka menyerang kepercayaan."
Semua orang mendengarkan dengan serius.
Antonio melanjutkan,
"Kalau investor kehilangan kepercayaan..."
"...kerugian bisa jauh lebih besar daripada kehilangan satu proyek."
Renata mengangguk setuju.
"Benar."
Evelyn menyilangkan tangan.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"
Antonio tersenyum tipis.
"Itulah alasan kalian ada di sini."
Arseno mulai memperhatikan ayahnya.
Ia tahu...
Setiap kali Antonio tersenyum seperti itu, pasti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Antonio kembali duduk.
"Kalian berdua..."
Ia menunjuk Arseno dan Evelyn.
"...tidak boleh bereaksi emosional."
"Kita juga tidak akan menggugat media sekarang."
Evelyn mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena kita belum tahu siapa dalangnya."
"Kalau kita bergerak terlalu cepat..."
"...orang itu akan menghilang."
Arseno mengangguk pelan.
"Itu masuk akal."
Antonio tersenyum.
"Syukurlah masih ada yang mengerti."
Evelyn langsung menyindir,
"Ya, karena beliau memang putra Anda."
Antonio tertawa kecil.
"Kalau kau juga menjadi putriku, mungkin rumah ini lebih berisik."
Evelyn spontan menjawab,
"Kalau begitu saya kasihan dengan para maid."
Beberapa maid yang sedang menyajikan teh saling menahan tawa.
Bahkan Kosta sampai menundukkan kepala agar tidak terlihat tersenyum.
Arseno memijat pelipisnya.
"Kau memang selalu punya jawaban."
"Terima kasih."
"Itu juga bukan pujian."
"Aku tahu."
Suasana yang sempat tegang mulai sedikit mencair.
Renata tersenyum melihat keduanya.
"Kalian ini..."
"Kalau sedang berdebat malah seperti anak kecil."
Evelyn langsung protes.
"Nenek."
"Apa?"
"Yang mulai menyindir itu Arseno."
Arseno mengangkat kedua tangan.
"Aku tidak berkata apa-apa."
"Kau melihatku dengan wajah menyebalkan."
"Itu wajah normal."
"Berarti wajah normalmu memang menyebalkan."
Antonio tertawa cukup keras.
"Sudah lama aku tidak melihat Arseno berdebat seperti ini."
Arseno menghela napas.
"Ayah..."
Antonio masih tersenyum.
"Setidaknya sekarang kau terlihat lebih hidup."
Beberapa saat kemudian, suasana kembali serius.
Antonio membuka sebuah map lain.
"Aku sudah meminta tim hukum dan divisi komunikasi perusahaan melakukan analisis."
"Ada beberapa kemungkinan siapa yang memperoleh keuntungan dari munculnya rumor ini."
Ia meletakkan daftar beberapa nama perusahaan pesaing di atas meja.
Evelyn memperhatikan satu per satu.
"Semuanya pernah bersaing dengan kita dalam proyek Singapura."
"Benar."
Arseno berkata pelan,
"Berarti pelakunya kemungkinan berasal dari salah satu perusahaan ini."
Antonio mengangguk.
"Itulah yang akan kita selidiki."
Ia menatap Arseno dan Evelyn bergantian.
"Sementara itu..."
"Kalian harus bersiap."
Evelyn mengernyit.
"Bersiap untuk apa?"
Antonio tersenyum tipis.
"Besok pagi..."
"...aku akan menyampaikan sebuah usulan yang mungkin tidak akan kalian sukai."
Evelyn dan Arseno saling berpandangan.
Entah mengapa...
Mereka sama-sama memiliki firasat bahwa usulan Antonio akan menjadi awal dari masalah yang jauh lebih besar.
Dan firasat itu...
Tidak meleset.
...****************...