Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Belas
"Om banyak banget, ini mah bisa buat stok satu minggu." Alika dengan wajah cerahnya keluar dari supermarket membawa banyak jajanan yang di belikan oleh pak Galih.
"Nggak apa apa yang penting kalian senang." ucap pak Galih lembut.
"Nanti uang om habis." sahut Alika dengan wajah khawatirnya.
"Tenang saja, uang om nggak akan habis, nanti klau habis bisa om cari lagi." kekeh pak Galih mengusap sayang kepala keponakannya.
Tanpa mereka sadari tidak jauh dari sana, di dekat gerobak penjual martabak, ada seseorang tersenyum sinis.
Bukan hanya Ares yang berada di sana tapi juga ada Gibran dan beberapa teman Ares yang kenal dengan pak Galih.
"Malang sekali nasib mu Res, punya bapak nggak ngotak." gumam salah satu teman Ares.
"Gibran, besok katanya mau jalan jalan ya dari sekolah, udah beli cemilan belum? " tanya Agus yang sengaja membesarkan suaranya.
"Belum bang." jawab Gibran dengan polosnya.
"Klau gitu kita beli jajanan yuk.... pilih apa yang kamu suka, abang akan traktir kamu, jangan sungkan, dan belikan juga buat kak Laras." ujar Agus dengan suara lantangnya.
Degggg....
Pak Galih lansung menoleh ke arah suara itu, dan benar saja di sana ada anak anaknya, entah apa yang mereka lakukan di sana.
Dan Pak Galih semakin tidak enak hati melihat tatapan sekilas dari putra sulungnya, walau sekilas namun tatapan itu bukan tatapan kasih sayang tapi tatapan penuh kebencian.
Gibran si anak bungsu pun melihatnya namun seolah mereka tidak saling kenal, Gibran. Anak itu hanya menatap sekilas, tanpa ada tegur sapa sedikit pun, masuk ke dalam supermarket di temani oleh Agus.
Namun ego pak Galih lebih tinggi dari pada rasa bersalahnya.
Dia menatap kesal kedua anaknya itu. "Apa apaan mereka itu, melihat orang tuanya di sini, tapi nggak menegur sedikit pun, dasar anak sialan." maki pak Galih dalam hati.
"Bang, ayo." panggil pak Rian memanggil pak Galih yang masih termenung di sana.
"Ahhh.... Iya, kenapa kau lama sekali." omel pak Galih, tanpa menyapa anaknya.
"Biasalah, pom bensin ngantrinya panjang banget, klau nggak di isi sekarang bensinnya, besok pagi sudah pasti lebih ngantri, bikin lama perjalanan kita aja." keluh pak Rian.
"Memang kita jadi ke kebun binatang pa? " tanya Alika.
"Jadi dong, kan tiketnya sudah di pesan jauh jauh hari sama om kamu, masak nggak jadi." ucap pak Rian tersenyum manis.
"Asiiikkkk..... " seru Alika meloncat loncat bahagia.
Ares tersenyum sinis mendengar obrolan mereka, Sudah beli tiket jauh jauh hari katanya, sungguh sangat perhatian sekali papanya itu terhadap ibu dan keponakan keponakannya, sementara terhadap istri dan anak anaknya dia abai, bahkan anak anaknya yang mau ikut jalan jalan dari sekolah saja papanya nggak mau tau, bahkan tidak sepersen pun memberi uang,
"Dasar bapak laknat, dan keluarga tidak tau diri." maki Ares dalam hati.
"Ares, sudah selesai? " tanya pak Riki keluar dari dalam mobilnya.
Deggg.....
Pak Rian melotot tidak percaya, ternyata di sana ada keponakan istrinya anak dari kakak iparnya.
"Sebentar lagi om." sahut Ares tersenyum sopan kepada malaikat penolongnya itu.
Pak Riki mengangguk mengerti, "Gibran mana? katanya besok mau jalan jalan dari sekolah ya? " tanya pak Riki lagi yang belum sadar di sana ada pak Galih dan pak Rian.
"Lagi di ajak sama teman aku ke.... " ucapan Ares terpotong, mendengar suara adiknya.
"Om." panggil Gibran membawa tentengan kecil di tangannya.
"Kamu sudah selesai jajannya." ucap pak Riki mengusap sayang kepala bocah kelas tiga SD itu.
"Sudah om, tadi di jajanin sama bang Agus." ucap Gibran memamerkan barang bawaannya.
Pak Riki tersenyum lembut.
"Memang itu cukup untuk persiapan jalan jalan besok, pulangnya malam loh? " tanya pak Riki lembut.
"Di cukup cukupin aja om." jawab polos Gibran menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, sebab anak itu sangat tau diri, dia hanya mengambil beberapa saja, tidak mau berlebihan, karena di traktir oleh teman abangnya.
Pak Riki kembali mengusap sayang kepala Gibran, "Taro itu di dalam mobil, kita beli lagi jajanannya." ucap pak Riki mengambil tentengan yang di bawa oleh Gibran dan memasukannya ke dalam mobil, lalu ke dua orang itu masuk ke dalam supermarket lagi.
Pak Riki menggandeng tangan Gibran dengan lembut, dan itu di lihat oleh orang yang katanya papa dan Omnya Ares dan Gibran itu.
Mereka diam terpaku di sana, melihat bagaimana ke dua anak itu perlakukan dengan baik oleh orang lain, dan bahkan pak Galih sendiri tidak tau entah pura pura tidak tau klau anaknya mau ikut jalan jalan dari sekolah.
"Lah, itu si bocah mau jalan jalan toh, tadi di tawarin ngambil yang banyak nggak mau, bilangnya " udah bang, ini sudah cukup." keluh Agus.
Ares terkekeh, "Makasih ya bang, udah perhatian sama adek adek gue selama ini." ucap tulus Ares, dan suaranya juga sedikit di besarkan, agar seseorang di sana mendengarnya, bukan ingin di perhatikan atau apa lah dari papanya, tapi agar papanya tau, klau tanpa dia mereka masih banyak orang yang perduli, jadi mereka tidak butuh juga perhatian dari papa dan keluarga papanya, hanya saja hatinya tetap sakit melihat papanya begitu perhatian kepada keponakannya.
"Abang.... Lihat nih, masa om Iki beliin kita makanan sebanyak ini, katanya bekal buat jalan jalan aku sama kak Laras." Gibran berlari membawa dua paperbag ukuran besar di tangannya.
"Kamu tadi abang suruh ambil yang banyak nggak mau, sekarang pamer sama abang, maksudnya apa? " ucap Agus pura pura merajuk.
"Hehehe.... Maaf abang, kan abang belum gajian, dan gaji abang mini, klau om Iki uang nya banyak." polos Gibran.
"Pintar juga kamu manfaatin orang." kekeh Agus dan yang lainnya, Pak Riki pun ikut terkekeh mendengar ceplosan Gibran.
"Ya sudah, karena sudah banyak yang kasih jajanan, abang kasih uang aja buat pegangan, bagi dua sama kak Laras ya." ucap Vian memberikan dua lembar uang kertas merah ketangan Gibran.
"Makasih banyak kak, semoga Allah selalu membalas kebaikan kalian, dan bagi yang zolim tunggu saja karmanya." ceplos Gibran lagi, bisa bisanya anak kecil itu bicara seperti itu.
Yang lain terdiam mendengar ucapan Gibran itu, meraka tau anak itu sudah sangat sakit hati dengan perlakuan ayah dan keluarga ayahnya, jadi mau menegur pun mereka tak bisa, bahkan mereka juga mengumpat bapak medusa itu.
"Ares.... sudah selesai?! " tanya pak Riki mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sudah om." ucap Ares membawa beberapa kotak martabak telur dan martabak manis.
"Ya sudah, ayo pulang." ajak pak Riki mengajak Ares dan Gibran naik ke mobilnya.
Pak Galih melihat anak anaknya naik ke dalam mobil pak Riki tangannya terkepal, dia marah karena anak anaknya tidak ada yang menyapanya satu orang pun, bahkan dia hanya di anggap orang asing.
"Keterlaluan kalian." gumam pak Galih menatap laju mobil pak Riki, dan anak anaknya masih sempat melambaikan tangan mereka ke arah teman teman Ares yang lagi nongkrong tidak jauh dari dia berdiri.
Bersambung.....
Haiii.... Jangan lupa like komen dan vote ya.... 😘😘😘
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti