Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Banyak Cinta
Masih pagi yang sama. Di kamar Tuan besar Nugraha.
“Dimas kesini tapi tidak dengan Nora dan anak-anak,” ucap Mama Arin pada Tuan besar di dalam kamar. “Apa dia tengah ada masalah?” tanyanya cemas.
“Mungkin dia tidak sengaja lewat sini dan mampir,” jawab Tuan besar memberi alasan yang masuk akal. Beliau juga tidak tahu kenapa. Beliau bahkan tidak tahu jika Dimas ada di sini.
Mama mengangguk. “Semoga tidak ada apa-apa dengan mereka,” ucap Mama dengan do’a.
“Aamiin. Tentu tidak ada apa-apa. Kamu terlalu banyak berfikir,” jawab Tuan besar. Beliau mengusap lengan istrinya.
“Dia tidak biasanya seperti itu,” ujar Mama masih dengan kekhawatirannya.
“Yakin saja tidak ada apa-apa,” jawab Tuan besar lagi mencoba menenangkan istrinya.
Mama mengangguk lagi. Dan kemudian mereka turun kebawah bersama.
Mereka berbincang di kamar samping. Di ruangan tempat istirahat Neva selain kamar utamanya. Mereka semua berkumpul di sini, agar tidak meninggalkan Neva sendiri. Mereka berbincang dengan berteman teh hangat buatan Dimas.
Papa memujinya. "Ini adalah teh terlezat setelah buatan Mama," pujian yang juga beliau sampaikan saat Leo atau Neva yang membuatnya. Dengan kalimat yang sama.
Dimas dan Neva tertawa mendengar pujian papanya.
“Papa sangat tidak kretif dalam memuji,” komentar Neva setelah ia berhenti dari tawanya.
“Ya karena nomor satu terlezat adalah buatan Mama,” jawab Papa sambil menatap istrinya. Membuat semuanya gaduh bersorak. Sementara Mama tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala.
“Papa sudah beruban dan punya cucu, jangan genit,” komentar Neva lagi masih dengan tawanya.
“Mama ajari aku juga membuat teh. Biar dapat pujian yang sama dari Papa.” Vano tak mau kalah.
Membuat Neva semakin tertawa.
“Sayang, teh buatanmu adalah terlezat setelah Mama,” Neva lebih dulu memujinya, pujian meniru gaya Tuan besar. Dan itu membuat mereka semua kembali tertawa.
Mereka saling berbincang dengan bahagia. Pagi yang sangat menyenangkan dan penuh kehangatan.
“Sayang, telfonlah Kak Lee,” pinta Mama pada Neva, suaranya pelan.
Neva mengangguk patuh. Dia langsung melakukan panggilan video pada Kakaknya.
Leo masih diperjalanan saat panggilan vidio Neva masuk.
“Kenapa?” tanya Leo setelah panggilan terhubung.
“Tidak ada, cuma kangen, emang nggak boleh?" jawab Neva. Dia kemudian memberikan ponselnya pada Mama Arin.
“Kau di perjalanan, Lee?” tanya Mama setelah melihat layar telfon.
“Iya, Ma. Mama sudah makan?” jawab Leo sekaligus bertanya.
Mama kemudian mengarahkan kamera pada semuanya. Semua melambai kearah Leo.
Leo tersenyum melihat kebersamaan di seberang sana. “Selamat bersenang-senang. Aku akan mengerjakan semuanya dengan sangat baik,” ucapnya.
“Maaf harus membuatmu sibuk hari ini,” ucap Dimas.
“Nanti harus gantian,” jawab Leo.
“Hahaha. Siap,” sahut Dimas.
Kemudian mama membawa ponsel itu hanya padanya. Menatap putranya dari layar ponsel dengan penuh kasih.
“I love you,” ucap Leo dengan bahasa bibir. Membuat mamanya tersenyum penuh haru. Bahasa bibir itu bahkan hingga membuatnya berkaca-kaca.
“Nanti malam aku kesana,” ucap Leo.
Mama mengangguk. “Hati-hati di jalan dan di manapun. Ingat, tubuhmu tidak boleh terlalu capek,” pesan Mama perhatian
“Baik,” jawab Leo. Dan panggilan berakhir. Leo menyandarkan punggungnya.
Apakah wajah sedih kakaknya semalam adalah karena fakta itu. Apakah itu alasan kenapa kakaknya mengajak bertemu semalam.
Leo menghela nafas panjang.
boleh request gk kak... kpan² klo kiara ketemu yuna pas ada leo juga,pasti seru..