Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Setelah seluruh pekerjaannya di rumah Ririn selesai dengan rapi, Rena segera berpamitan untuk menjemput Dio di sekolah. Langkah kakinya terasa ringan saat menggandeng jemari kecil putranya, membawa buah hatinya itu pulang menuju rumah baru mereka yang sederhana namun tenang. Rumah petak nomor tiga itu kini benar-benar terasa seperti istana kecil yang aman.
Sambil menemani Dio menggambar di atas kasur lantai, pikiran Rena mulai mengembara. Dia memikirkan dengan matang apa yang harus ia lakukan besok. Rena tahu dia tidak boleh membuang-buang waktu lagi untuk tetap terikat status menjadi istri Aris.
"Dio, besok sepulang sekolah kamu bisa tinggal di rumah sendiri kan?" tanya Rena tiba-tiba.
"Ibu... besok mau kemana? Apakah Ibu perginya lama?" tanya Dio, mendongak menatap ibunya dengan mata bulat polosnya.
Rena tersenyum lembut, mengusap rambut Dio. "Tidak, sayang. Ibu hanya pergi sebentar besok untuk mengurus beberapa masalah. Setelah itu, Ibu akan langsung pulang menemanimu.".
"Baiklah, aku akan jadi anak baik. "
Rena tersenyum mengusap kepala Dio dengan lembut dan bertekad dalam hati. Dia harus segera menyelesaikan semua urusan hukum yang berhubungan dengan Aris dan keluarganya. Dia ingin memotong tali yang mengikatnya dan tidak ingin memiliki hubungan atau urusan apa pun lagi dengan mereka di masa depan. Baginya, lembaran lama itu sudah hangus terbakar.
Sore harinya, setelah matahari tidak lagi terlalu terik, Rena mengajak Dio pergi ke sebuah toko sepeda yang terletak di dekat pasar. Dia berencana membeli sebuah sepeda mini yang dilengkapi dengan keranjang di bagian depan dan boncengan empuk di bagian belakang. Sepeda ini akan menjadi modal transportasinya yang utama untuk mengantar Dio ke sekolah sekaligus membawanya pergi ke tempat kerja setiap hari.
"Wah, sepedanya bagus, Ibu! Ada keranjangnya untuk menaruh tas Dio!" seru Dio gembira saat melihat jajaran sepeda yang dipajang.
Rena terkekeh pelan. "Iya, Dio. Ini pilihan yang paling bagus."
Bagi Rena, membeli sepeda adalah pilihan yang terbaik saat ini. Menggunakan sepeda jauh lebih ekonomis tanpa perlu memikirkan biaya bahan bakar yang terus naik, sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai sarana olahraga agar tubuhnya tetap sehat demi membesarkan Dio seorang diri. Setelah membayar sepeda tersebut dengan uang tabungannya yang masih mencukupi, Rena langsung menuntun kendaraan barunya keluar toko.
Dalam perjalanan pulang, Rena mengayuh sepeda barunya dengan santai sementara Dio duduk manis di boncengan belakang sambil memeluk pinggang ibunya erat-erat. Angin sore berembus sepoi-sepoi, menerpa wajah mereka yang kini dipenuhi senyuman. Rena menyempatkan diri berhenti di sebuah warung tenda pinggir jalan untuk membeli satu porsi nasi goreng kesukaan mereka berdua.
Sesampainya di kos, mereka berdua duduk lesehan di atas kasur lantai. Walau hanya menyantap sebungkus nasi goreng berdua dengan sendok yang bergantian, bagi Rena momen itu terasa jauh lebih menyenangkan dan bermakna. Ada kebahagiaan tak ternilai saat bisa berbagi dengan satu-satunya orang yang paling ia cintai di dunia ini, tanpa ada tatapan sinis atau dengusan meremehkan dari orang lain. Rena benar-benar merasakan hidup yang jauh lebih baik, tenang, dan merdeka setelah keluar dari rumah Aris.
Berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan kehidupan baru Renata yang kian membaik meski dengan kesederhanaan, kehidupan Aris dan keluarganya di rumah lama kini berubah drastis menjadi kacau balau seperti kapal pecah.
Sejak Rena keluar dari rumah dan posisinya sebagai pengurus rumah tangga digantikan oleh Linda, keharmonisan yang selama ini dibayangkan Aris dan Broto mendadak sirna. Linda ternyata adalah wanita yang sangat malas. Selama empat tahun menjadi istri siri yang tinggal di kontrakan, dia biasa hidup bebas dan seenaknya. Akibatnya, begitu pindah ke rumah mereka, dia sama sekali tidak mau menyentuh pekerjaan rumah yang berat.
Lantai rumah dibiarkan berdebu dan lengket, pakaian kotor menumpuk hingga menimbulkan bau apek di sudut ruangan, dan wastafel dapur dipenuhi piring kotor yang mulai dikerubuti lalat. Pemandangan mengerikan itu tentu saja membuat darah tinggi Bu Broto kumat seketika. Wanita tua itu terus mengomel dan berteriak setiap waktu, memaki kelambanan Linda yang dianggapnya tidak becus menjadi menantu.
"Linda! Kamu itu punya mata tidak, hah?!" jerit Bu Broto dengan suara melengking dari arah dapur. "Lihat itu wastafel sampai mau rubuh karena piring kotor menumpuk! Kamu ini kerjanya cuma bersolek dan menatap cermin saja dari pagi! Rena dulu jam segini sudah menyelesaikan semua cucian dan memasak untuk kami!"
Linda yang sedang mengecat kuku jarinya di sofa langsung menghentikan kegiatannya. Wajah cantiknya cemberut, matanya menatap mertuanya dengan pandangan muak. Omelan yang bertubi-tubi tanpa henti dari ibu mertuanya itu lama-kelamaan membuat Linda juga ikut kesal dan mulai berani melawan.
"Aduh, Ibu! Jangan terus-terusan membandingkan aku dengan si Rena itu!" balas Linda tak kalah sengit, membanting botol kuteksnya ke atas meja. "Kalau Ibu mau rumah ini bersih berkilau seperti dulu, suruh Mas Aris sewa pembantu! Aku ini ke sini untuk jadi istri Mas Aris, bukan jadi budak atau pembantu gratisan seperti menantu Ibu yang dulu itu!"
"Kurang ajar kamu ya! Berani kamu menjawab omongan orang tua?!" bentak Bu Broto, wajahnya merah padam sampai ke telinga.
Aris yang baru saja pulang dari kantor dengan kepala pening akibat teguran atasannya, hanya bisa duduk bersandar di kursi koridor luar sambil memegangi pelipisnya. Rumahnya yang dulu selalu rapi dan beraroma wangi masakan sederhana setiap kali dia pulang, kini terasa seperti medan perang yang bising dan kotor.
Kekacauan keluarga itu tidak berhenti di dalam rumah saja. Masalah sosial yang jauh lebih berat kini harus mereka hadapi di luar. Setiap kali Linda atau Bu Broto melangkah keluar pagar untuk sekadar membeli sayur di tukang gerobak keliling, mereka harus menebalkan telinga. Mereka dipaksa mendengarkan langsung gunjingan, bisik-bisik tetangga, dan tatapan sinis dari warga sekitar yang tanpa henti membicarakan tentang aib perselingkuhan dan penggerebekan malam itu.
"Itu loh, perempuan yang semalam digerebek pakai selimut di ruang tamu," bisik seorang ibu berbelanja sayur dengan volume yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh Linda.
"Iya, ya ampun... Kasihan sekali ya Mbak Rena, ternyata selama ini suaminya memelihara simpanan di luar," timpal yang lain sambil membuang muka saat Bu Broto mendekat.
Semua cemoohan itu benar-benar menjadi hukuman sosial yang memalukan dan menguliti habis sisa-sisa harga diri keluarga Broto di lingkungan tersebut. Hukum tabur tuai kini sedang bekerja dengan sangat nyata di atas puing-puing keangkuhan mereka.
aku pikir sampai Rena menikah lagi