Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
#30
“Ayo, Mama antar,” kata Tari pada putranya.
“Bentar, Ma. Nanggung, nih,” jawab Yudha, sebab ia sibuk dengan game di ponselnya, padahal sedang sarapan.
Tari sedikit jengah dengan sikap putranya, “Yudha!”
Yudha terkesiap, jika mamanya sudah mengeluarkan suara berintonasi tinggi, artinya stok sabarnya sudah setipis tisu. “Iya, Ma.” Yudha melahap suapan terakhirnya, lalu menghabiskan sisa susu di gelasnya.
“Ayo, Ma,” sambung Yudha, dengan gerakan cepat ia menggambar tas, salim dengan Papa Igun, lalu berjalan ke arah pintu keluar.
“Kenapa harus buru-buru, sih? Kan, bisa tunggu sampai Yudha selesai sarapan.”
“Sekarang sudah selesai, kan?” jawab Tari, wanita itu langsung menunjuk piring dan gelasnya yang telah kosong, tanpa perlu banyak adu argumen.
Tari memutar badannya, bergegas ia memutar tubuhnya meninggalkan meja makan, dan sang suami seorang diri. Pertengkaran mereka semalam, membuat Tari enggan menyapa suaminya pagi ini.
Igun tak bisa protes, sebaliknya ia hanya memandang kepergian Tari dan putra mereka dari tempatnya.
Sebenarnya jika Igun tak terus menerus bermain api, maka tak mungkin pula Tari bersikap demikian. Padahal Tari selalu berusaha menutupi semua keburukan suaminya, mencitrakan pria itu sebagai, suami baik, ayah yang pengertian, dan pria yang penuh integritas serta tanggung jawab.
Tapi apa gunanya semua itu, bila dirinya sendiri yang menodai semua citra tersebut. Ibarat kata, Tari mencoba menggarami air gula yang terlanjur manis. Bisa? Tentu saja tidak. Kecuali, jika air gula dibuang, lalu ganti dengan air baru serta garam.
Dengan kata lain, buang dulu sikap dan sifat burukmu di masa lalu. Setelah bertaubat, barulah benar-benar bisa dirubah, dengan rasa lain, mungkin juga warna baru yang lebih indah.
•••
Siang hari itu, Bagas dan Dinda keluar dari kantor polisi, kedatangan mereka bertujuan untuk memperbarui laporan pencarian Abel. Serta memasang pengumuman masih terus mencari putri mereka yang belum ditemukan hingga saat ini.
Informasi tersebut, menyebar luas dengan cepat, karena kawan, rekan, serta beberapa lapisan masyarakat yang prihatin ikut menyuarakan pencarian tersebut. Semoga ikhtiar kali ini tidak akan berakhir sia-sia.
Perjalanan menuju rumah Papa Kaitaro dan Mama Yanti, diwarnai dengan suasana hening, Bagas tak se iseng biasanya, karena mendengar hela nafas Dinda yang terdengar berat, meski semangat mereka kembali menyala.
“Kenapa tiba-tiba ingin ke rumah Mama?”
Pertanyaan Bagas memecah hening di antara mereka.
Dinda bergerak gelisah, namun, masih tetap enggan berpaling dari jendela. “Lusa malam lalu, Biandra datang ke mimpiku.”
Bagas terkejut, namun, ia masih mencoba bersikap tenang, “Lalu?”
“Dia minta maaf padaku, Mas.” Kali ini suara Dinda sedikit bergetar, menahan perasaan yang campur aduk di dalam dadanya. Ada sedih, kesal yang belum sepenuhnya terhapus, serta sesal karena melewatkan kesempatan emas untuk bertanya pada saat itu.
Bagas menoleh sejenak, lalu menggenggam tangan Dinda yang tergolek di pangkuan wanita itu. “Apakah kamu sudah memaafkannya?” tanya Bagas lembut, tidak mendesak.
Dinda pun bingung, sebab tak mungkin Bindra tiba-tiba datang, tanpa membawa maksud apa-apa dari Tuhan. Mungkin juga Tuhan hendak memberi Dinda petunjuk, ia harus memulai darimana untuk mengurai misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini.
Tanpa rasa berat di hati, Dinda akhirnya bisa mengangguk, hingga perasaannya sedikit lega, sesak di dadanya pun berkurang. Bagas membawa punggung tangan Dinda ke hidung, lalu menciumnya. “Terima kasih, Sayang, karena telah memaafkan adikku,” ucap Bagas haru.
•••
“Kok, tumben banget main ke sini?” sambut Mama Yanti, bahagia bukan main, karena dikunjungi mantan menantunya. Harapan wanita itu, semoga suatu saat Dinda bersedia menjadi menantunya lagi.
“Iya, Ma. Tapi maaf, kami nggak bawa Eyang, karena tadi ke kantor polisi dulu, membuat laporan pencarian ulang untuk Abel.”
Kedua mata Mama Yanti berembun, misteri hilangnya Abel dan peristiwa bunuh diri Biandra, meninggalkan catatan duka kelam di masa lalu mereka semua. Tapi, bila masih bisa diusahakan untuk menemukan Abel, tentu ia pun sangat berharap agar suatu saat bisa berjumpa kembali dengan cucu perempuannya itu.
“Semoga kali ini, Abel berhasil di temukan,” ucap Mama Yanti, sekaligus merapal doa memohon perlindungan untuk cucunya itu, dimanapun Abel berada saat ini. “Ayo masuk dulu, kalian sudah makan siang?”
“Belum, Ma. Dinda nggak mau mampir restoran,” jawab Bagas.
“Aduh, jangan mengabaikan makan, Sayang, jangan sampai nanti setelah Abel ditemukan, kamunya malah sakit.” Mama Yanti mendudukkan Dinda di salah satu kursi yang ada di meja makan.
“Mbok, siapkan makanannya,” kata Mama Yanti.
“Iya, Bu.” Mbok Mina bergegas kembali ke dapur, menyiapkan lauk pauk serta sayuran untuk makan siang Bagas dan Dinda.
Sejenak Dinda menatap Bagas, seolah memberi isyarat agar dia menyampaikan maksud mereka datang menyambangi rumah mama Yanti siang ini.
“Ma, kedatangan kami kemari, karena Dinda juga ingin meminta izin masuk ke kamar Biandra, boleh, Ma?” ucap Bagas hati-hati, sebab membahas Biandra sama halnya dengan membahas masa lalu, yang masih menyimpan sejuta misteri.
“Kenapa pakai bertanya, tentu saja boleh, tapi, kenapa tiba-tiba sekali?”
“Lusa malam lalu, Biandra datang ke mimpi Dinda, Ma. Dia juga minta maaf,” jawab Dinda.
Reaksi Mama Yanti, tentu saja haru, sebab di dalam mimpinya saja, Biandra tak pernah datang, tapi lebih memilih menyambangi mimpinya Dinda.
“Sejujurnya, Dinda juga kangen sama Biandra, Ma,” ungkap Dinda sendu.
Mama Yanti tak bicara lagi, ia hanya menangis terisak, serta beberapa kali mengusap air mata yang tak henti mengalir.
•••
“Ini, Non, kunci kamarnya,” kata Mbok Mina, karena hanya dia yang memiliki akses keluar dan masuk ke kamar tersebut.
Tidak semua orang sanggup masuk ke sana, terutama Bagas, sebab pria itu yang pertama kali menemukan jasad Biandra tergantung di teralis jendela. Karena itulah, Dinda sendiri yang berusaha menguatkan diri masuk ke kamar penuh kenangan pahit tersebut.
Kamar itu tidak berubah sama sekali, penuh dengan semua barang-barang favorit Biandra, boneka, make up, parfum, serta poster BTS yang ia gemari sejak mulai beranjak remaja.
Kasur dengan sprei warna pink, masih berdiri kokoh, dan terawat. Dinda duduk di atasnya, sambil memejamkan mata sejenak, mengingat semua hal baik yang pernah terjadi di antara dirinya dan Biandra.
Mau berapa kali diulang, Dinda tak pernah berkonflik dengan adik bungsu Bagas itu, semua yang Dinda ingat adalah kenangan yang baik.
Dinda ingat, Biandra mulai berubah sejak, mulai menemukan passion baru, dan katanya ia sudah memiliki penggemar fanatik yang selalu ngasih like setiap postingannya. Tapi Biandra tak pernah tahu, siapa penggemar barunya itu.
Dinda mulai membuka laci nakas di sisi tempat tidur, tak ada barang yang menarik perhatiannya. Hanya berisi printilan barang-barang lama.
Beralih ke laci meja rias, semua sama, tak ada yang menarik.
Kini perhatian Dinda tertuju ke lemari pakaian, apakah ia akan menemukan barang menarik di sana?
Sejujurnya Dinda takut, dan ini bukan sekedar ketakutan biasa.
ko ya ikut bahagia
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss