NovelToon NovelToon
Angkringan Dewa Api Serba Bakar

Angkringan Dewa Api Serba Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Sugesti

Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Perbatasan Kerajaan Aethelgard

Sreeeeeshhh!

Gerobak kayu terbang milik Lin Mo melayang santai membelah kabut pagi di luar benteng pertahanan Kota Valen.

Angin pegunungan yang dingin berembus sepoi-sepoi, membawa aroma embun dan tanah basah.

Lin Mo duduk bersila di bagian belakang gerobaknya sambil menyeduh secangkir teh hijau hangat yang ia dapatkan dari toko Sistem.

"Ahhh... udaranya segar sekali," gumam Lin Mo sambil menyesap tehnya nikmat.

"Jualan sambil jalan-jalan begini memang paling pas. Tidak ada bos yang marah-marah, tidak ada target penjualan bulanan yang bikin pusing," tambah Lin Mo terkekeh.

PING!

[Sistem Angkringan Ilahi: Peringatan Wilayah]

[Memasuki Kawasan Perbatasan Lembah Kabut Hitam]

[Tingkat Bahaya: Sedang]

[Potensi Bahan Masak: Monster Jenis Daging Kenyal & Rempah Mistik Rawa]

Mata Lin Mo langsung berbinar-binar membaca notifikasi layar biru di depannya.

"Rempah Mistik Rawa? Wah, ini pasti cocok untuk dijadikan campuran bumbu kuah sate maranggi atau bumbu kecap pedas," kata Lin Mo antusias.

Ia merogoh kantong sistemnya dan memeriksa Poin Arang miliknya yang kini menumpuk hingga 5.450 poin.

"Sistem, buka Toko Peningkatan Gerobak!" perintah Lin Mo dalam hati.

Ting!

[Toko Peningkatan Angkringan Ilahi]

[Panggangan Otomatis Tingkat 2] (Harga: 1.500 Poin)

[Atap Kain Anti-Hujan & Badai] (Harga: 800 Poin)

[Sistem Kulkas Es Mistik Permanen] (Harga: 2.000 Poin)

"Beli Panggangan Otomatis dan Kulkas Es Mistik!" kata Lin Mo tanpa ragu.

[Pembelian Berhasil! Mengurangi 3.500 Poin Arang]

[Sisa Poin Arang: 1.950 Poin]

Wushhh!

Gerobak kayu Lin Mo mendadak bergetar pelan dan memancarkan pendaran cahaya keemasan.

Tempat panggangan arang di bagian depan gerobak berubah menjadi besi hitam berkilau yang dikelilingi ukiran naga kecil.

Di bagian bawah meja, muncul sebuah peti kayu tebal berukirkan kristal es yang memancarkan hawa dingin sempurna untuk menyimpan daging agar tetap segar.

"Mantap! Sekarang stok daging tidak bakal busuk meskipun disimpan berhari-hari," ujar Lin Mo sangat puas memelototi fitur barunya.

Namun saat Lin Mo sedang menikmati peningkatan gerobaknya, gumpalan asap hitam tebal mendadak membumbung tinggi di kejauhan, tepat di jalur jalan utama lembah.

Suara dentingan pedang, ledakan sihir, dan teriakan minta tolong samar-samar terdengar memecah keheningan hutan.

"Tolong! Selamatkan barang bawaan kami!" teriak suara seorang pria setengah baya.

"Hahaha! Serahkan seluruh kristal sihir dan komoditas bahan makanan kalian jika masih sayang nyawa!" gertak suara berat berbau sihir hitam.

Lin Mo menepuk dahinya pelan. "Aduh, baru saja mau menikmati pemandangan, sudah ada keributan lagi."

Ia mengarahkan gerobak terbangnya untuk melayang lebih rendah mendekati sumber suara di balik semak-semak rimbun.

Di sebuah persimpangan jalan batu, tampak sebuah karavan pedagang yang terdiri dari lima kereta kuda dikepung oleh belasan pria berpakaian jubah hitam berpenutup muka.

Di dada para pria berjubah hitam itu, terukir lambang bintang berujung delapan berwarna ungu gelap simbol dari Sekte Bintang Gelap!

Para pengawal karavan sudah tergeletak di tanah dengan tubuh menghitam akibat terpapar racun sihir.

Seorang gadis muda bertelinga kelinci panjang berzirah kulit tipis tampak memegang busur panahnya dengan tangan gemetaran, melindungi seorang pedagang tua berbadan gemuk di belakangnya.

"Jangan mendekat! Karavan Dagang Kamelia berada di bawah perlindungan Kerajaan Aethelgard!" teriak gadis bertelinga kelinci itu memberanikan diri.

Ketua kelompok Sekte Bintang Gelap yang membawa tongkat berujung tengkorak hewan tertawa terbahak-bahak.

"Kerajaan Aethelgard? Kerajaan rapuh itu sebentar lagi akan hancur dari dalam!" ejek ketua berjubah hitam itu dingin.

"Apalagi kamu, Demi-Human kelinci tak berguna! Tangkap gadis itu dan bakar seluruh kereta mereka!" perintah sang ketua jahat.

"Siap Ketua!" teriak belasan anak buahnya sambil merogoh bola-bola sihir racun pekat.

Gadis bertelinga kelinci itu memejamkan matanya pasrah, memeluk busur panahnya erat-empat saat tiga bola api hitam meluncur menuju ke arahnya.

Namun...

Sleeessshhh!

Gumpalan asap harum beraroma manis gurih mendadak meluncur deras dari langit dan menyambar ketiga bola api hitam tersebut secara instan.

Csssss!

Bola api sihir racun itu mendadak padam dan hancur menguap menjadi aroma tusukan usus bakar yang menggugah selera!

"A-apa yang terjadi?!" teriak ketua Sekte Bintang Gelap terperangah.

Gadis bertelinga kelinci itu perlahan membuka matanya dan melotot kaget.

Sebuah gerobak kayu tua yang melayang di udara turun secara perlahan dan mendarat mulus tepat di antara karavan pedagang dan kelompok penjahat tersebut.

Seorang pemuda santai melompat turun dari gerobak sambil memutar-mutar kipas bambunya.

"Aduh Paman-Paman berjubah hitam, kalau mau main api jangan di dekat hutan dong, nanti pohon-pohonnya terbakar," tegur Lin Mo santai.

"Siapa kamu, Bocah?! Jangan ikut campur urusan Sekte Bintang Gelap kalau tidak mau mati konyol!" bentak ketua penjahat dengan tongkat tengkoraknya.

Lin Mo tidak memedulikan ancaman itu. Matanya justru tertuju pada tumpukan peti terbuka di atas kereta karavan yang pecah.

Di dalam peti itu, tergeletak paha daging monster berukuran raksasa dengan serat-serat merah segar, serta sekantong rempah-rempah berbentuk bintang berwarna keemasan.

PING!

[Sistem Angkringan Ilahi: Bahan Langka Terdeteksi!]

[Daging Paha Monster Sapi Kerak Bumi & Bumbu Bintang Ilusi Mistik]

[Potensi Resep: Sate Maranggi Kerak Bumi Mistik!]

Mata Lin Mo langsung berbinar-binar penuh gairah melihat bahan baku langka tersebut.

Ia berbalik menghadap pedagang tua berbadan gemuk yang ketakutan di balik kereta.

"Paman Pedagang! Daging paha dan rempah bintang di petimu itu dijual tidak?" tanya Lin Mo dengan wajah sangat ramah.

Pedagang tua itu tertegun sejenak lalu menjawab gagap. "I-Iya Anak Muda... Itu barang dagangan kami... Tapi sekarang situasi sangat berbahaya!"

"Baguslah kalau dijual!" seru Lin Mo gembira.

"Paman Pedagang, bagaimana kalau saya bantu bereskan orang-orang berjubah hitam ini, dan sebagai gantinya daging serta rempah itu dijual ke saya dengan harga diskon?" tawar Lin Mo bernegosiasi.

"Hah?!" pedagang tua dan gadis bertelinga kelinci itu melotot tidak percaya mendengarkan tawaran konyol Lin Mo di tengah pertempuran.

"Bocah Kurang Ajar! Kamu mengabaikan kami?!" jerit ketua Sekte Bintang Gelap murka luar biasa.

"Bunuh dia! Cincang tubuhnya jadi makanan anjing!" teriak sang ketua mengayunkan tongkat tengkoraknya.

Belasan anggota Sekte Bintang Gelap langsung melompat menyerbu Lin Mo dengan belati beracun dan sihir hitam meledak-ledak.

Lin Mo mendesah pelan. "Orang-orang di dunia ini kenapa pada tidak sabaran ya kalau diajak bicara baik-baik."

Settt!

Lin Mo menjentikkan jarinya ke udara.

"Jurus Angkringan: Aura Asap Pedas Level 1!"

Fwoooshhh!

Dari bawah roda gerobak melayang Lin Mo, meledak gumpalan asap tebal berwarna keemasan bercampur merah cabai rawit.

Asap tebal itu menyebar sangat cepat menyelimuti radius dua puluh meter dalam hitungan detik.

Para anggota Sekte Bintang Gelap yang melompat menerjang langsung masuk ke dalam kepulan asap tersebut.

"Uhukkk! Uhukkk! Aaaarghhh!"

"Mataku! Mataku seperti dicolok garam dan cabai giling!"

"Panas! Hidungku terbakar! Aku tidak bisa bernapas!"

Satu per satu belasan anggota Sekte Bintang Gelap tumbang berjatuhan di atas tanah batu, memegangi mata dan hidung mereka yang menyengat luar biasa.

Sihir racun hitam mereka mendadak buyar total karena fokus konsentrasi mereka hancur akibat rasa pedas yang membakar indra penciuman.

Ketua Sekte Bintang Gelap yang berdiri di belakang terbelalak ketakutan melihat belasan anak buahnya lumpuh hanya dalam waktu lima detik oleh gumpalan asap!

"K-Kekuatan apa ini?! Ini bukan sihir elemen angin atau api biasa!" jerit sang ketua sambil mundur beberapa langkah dengan kaki gemetaran.

Gadis bertelinga kelinci yang terlindung di belakang gerobak Lin Mo menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga lebar.

Asap pedas itu anehnya sama sekali tidak mengganggu atau membuat perih mata mereka yang berada di dekat gerobak.

Lin Mo melangkah santai menembus gumpalan asap keemasan sambil memegang kipas bambunya.

Ia berhenti tepat dua langkah di depan ketua Sekte Bintang Gelap yang sudah pucat pasi.

Plak!

Lin Mo menepuk pelan kepala tengkorak di tongkat ketua penjahat itu menggunakan gagang kipas bambunya.

"Paman Ketua, anak buahmu kurang latihan fisik ya, baru kena asap bumbu sedikit saja sudah menangis begitu," ejek Lin Mo polos.

"Ka-Kamu... Siapa sebenarnya kamu?!" pangkas sang ketua dengan suara gemetaran hebat.

"Aku Lin Mo, pemilik Angkringan Dewa Mo," jawab Lin Mo tersenyum ramah.

"Nah Paman, karena kalian sudah mengganggu transaksi bisnisku dengan Paman Pedagang, ada biayanya," lanjut Lin Mo menyipitkan mata.

"Bi-Biaya apa?!" tanya ketua penjahat itu panik.

"Serahkan seluruh kantong koin dan barang berharga milik kalian sebagai ganti rugi pembersihan udara!" perintah Lin Mo tegas.

"Jangan bercanda! Kami ini Sekte Bintang Gelap yang dihormati!" gertak sang ketua mencoba bertahan.

Lin Mo mengangkat kipas bambunya dan panggangan arang otomatis di gerobaknya langsung membara meledak-ledak memancarkan aura panas tingkat mistik.

"Mau menyerahkan harta atau mau kubakar jadi sate penjahat?" tawar Lin Mo dengan senyuman paling manis namun mengintimidasi.

Sensasi panas yang sanggup melelehkan batu di bawah kakinya membuat sang ketua Sekte Bintang Gelap kehilangan seluruh keberaniannya.

"Kami serahkan! Jangan bakar kami!" jerit sang ketua ketakutan setengah mati.

Dengan tangan gemetaran, ketua penjahat itu merogoh seluruh kantong koin emas dan cincin penyimpanannya lalu meletakkannya di atas tanah batu.

Ia juga memerintahkan anak buahnya yang masih terbatuk-batuk untuk mengumpulkan seluruh koin milik mereka.

PING!

[Mendapatkan: 500 Koin Emas & 20 Kristal Sihir Hitam]

"Bagus, sekarang bawa anak buahmu dan lari yang cepat sebelum aku berubah pikiran," kata Lin Mo mengibaskan tangannya mengusir.

Tanpa perlu diperintah dua kali, ketua Sekte Bintang Gelap dan belasan anak buahnya langsung berlari tunggang-langgang menembus hutan, meninggalkan senjata dan harta mereka begitu saja.

Setelah area persimpangan jalan itu aman kembali, Lin Mo berbalik menghadap pedagang tua dan gadis bertelinga kelinci yang masih mematung tidak percaya.

"Nah Paman Pedagang, ancamannya sudah beres!" kata Lin Mo gembira.

"Sekarang mari kita bicarakan soal daging paha monster sapi dan rempah bintang ilusi itu," lanjut Lin Mo menghampiri peti karavan.

Pedagang tua itu mendadak meluncur berlutut di depan Lin Mo dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih Pahlawan! Terima kasih banyak telah menyelamatkan nyawa dan nyawa anggota karavan kami!" seru pedagang tua itu bersujud.

"Aduh Paman, jangan berlutut begitu dong, berdiri-berdiri," kata Lin Mo canggung sambil membantu pedagang tua itu bangun.

Gadis bertelinga kelinci itu mendekat secara perlahan, telinga kelincinya bergerak-gerak penasaran memandangi Lin Mo dan gerobak terbangnya.

"Nama saya Lilia, ketua pengawal Karavan Dagang Kamelia," puji gadis bertelinga kelinci itu membungkuk hormat.

"Tuan... Tuan sangat hebat sekali! Mengalahkan belasan penyihir hitam hanya dengan kibasan kipas!" seru Lilia dengan mata berbinar-binar kagum.

"Ah, biasa saja kok Nona Lilia. Itu cuma teknik mengibas asap arang biasa," sahut Lin Mo terkekeh santai.

Pedagang tua berbadan gemuk itu segera menyuruh anak buahnya merapikan peti dagangan mereka.

"Pahlawan Lin Mo, daging Sapi Kerak Bumi dan Rempah Bintang Ilusi ini tidak usah dibeli! Ambil semuanya sebagai hadiah terima kasih kami!" kata pedagang tua itu mantap.

"Ehh?! Beneran gratis Paman?" mata Lin Mo langsung melotot gembira.

"Tentu saja! Jika bukan karena Anda, seluruh karavan ini sudah hancur dan kami semua sudah mati!" tegas pedagang tua itu penuh rasa syukur.

PING!

[Mendapatkan Bahan Baku Mistik Gratis!]

[1x Daging Paha Sapi Kerak Bumi Mistik]

[1x Kantong Rempah Bintang Ilusi Mistik]

[Resep Baru Terbuka: Sate Maranggi Kerak Bumi Mistik!]

Lin Mo tersenyum lebar dan langsung menyimpannya ke dalam Sistem Kulkas Es Mistik di gerobaknya.

"Terima kasih banyak Paman Pedagang! Paman benar-benar pedagang yang sangat dermawan!" puji Lin Mo bersemangat.

"Oh ya Pahlawan, Anda mau pergi ke mana dengan gerobak melayang ini?" tanya Lilia penasaran.

"Saya mau menuju ke perbatasan kota untuk membuka cabang angkringan dan mencari lahan dagang baru," jawab Lin Mo memutar kipas bambunya.

Pedagang tua itu menepuk tangannya gembira. "Wah, kebetulan sekali! Kami juga sedang menuju ke Kota Perbatasan Oasis! Bagaimana kalau kita jalan bersama?"

"Kota Perbatasan Oasis?" tanya Lin Mo meraba-raba ingatan peta kerajaannya.

"Benar Tuan," potong Lilia menjelaskan. "Kota Perbatasan Oasis adalah pusat perdagangan bebas di ujung selatan Kerajaan Aethelgard. Di sana berkumpul para pedagang, petualang, dan berbagai ras dari seluruh benua!"

"Pusat perdagangan bebas dan tempat berkumpulnya berbagai ras?!" mata Lin Mo makin berbinar-binar gila.

Tempat ramai seperti itu adalah surga dunia bagi seorang penjual angkringan kaki lima!

"Setuju! Ayo kita berangkat ke Kota Perbatasan Oasis bersama-sama!" seru Lin Mo bersemangat melompat ke atas gerobaknya.

Rombongan karavan pedagang Kamelia yang telah dirawat luka-lukanya kembali bergerak menyusuri jalanan lembah batu.

Gerobak sihir melayang milik Lin Mo terbang mengawal di samping kereta utama, mengepulkan asap tipis beraroma teh dan rempah yang menenangkan.

Lilia, sang gadis bertelinga kelinci, secara sukarela melompat dan duduk di samping Lin Mo di atas meja gerobak melayang tersebut.

"Tuan Lin Mo, bisakah Tuan menceritakan bagaimana caranya membuat asap yang baunya pedas tapi sangat harum tadi?" tanya Lilia penuh rasa ingin tahu, telinganya tegak berdiri.

"Hahaha, itu rahasia dapur Nona Kelinci. Tapi kalau mau coba sate buatan saya nanti saat istirahat, boleh kok," tawar Lin Mo ramah.

"Mau! Mau sekali Tuan!" seru Lilia bersemangat dengan wajah memerah bahagia.

Namun saat rombongan karavan mulai mendekati pintu masuk gerbang Lembah Oasis, bayangan-bayangan hitam berukuran raksasa tampak bersembunyi di atas tebing-tebing batu tinggi yang mengapit jalanan.

Mata-mata merah menyala dari balik kegelapan tebing mengawasi pergerakan gerobak Lin Mo dengan hawa membunuh yang sangat pekat.

"Target yang membawa Api Pemurni telah memasuki wilayah perburuan..." bisik sebuah suara berat bergaung di balik tebing batu.

Lin Mo yang sedang mengobrol santai dengan Lilia mendadak menghentikan kibasan kipas bambunya sejenak.

Ia melirik ke arah tebing batu tinggi di atasnya dengan sudut mata yang menyipit tipis.

"Sepertinya bahan bakar untuk arangku malam ini bakal makin ramai saja," batin Lin Mo menyunggingkan senyuman misterius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!