Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.
Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.
Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Suasana aula utama masih dipenuhi keheningan.
Pak Hong melangkah cepat membawa gulungan surat berstempel naga emas Kekaisaran Long. Ia menyerahkannya kepada Lin Xue.
Lin Xue tidak langsung membuka surat itu.
"Yuer"
Shen Yu menerima gulungan tersebut lalu mematahkan segelnya.
Semua orang menunggu. Semakin lama Shen Yu membaca...
Ekspresinya perlahan berubah serius. Mu Xueyi bertanya pelan.
"Apa yang terjadi?"
Shen Yu mengangkat kepalanya.
"Perbatasan Utara kembali diserang."
Han Tian langsung mengernyit.
"Bukankah sebelumnya hanya tiga sekte kecil yang menghilang?"
Shen Yu menggeleng.
"Bukan lagi."
Ia menyerahkan surat itu kepada Lin Xue.
"Delapan kota kecil kehilangan seluruh penduduknya dalam tiga hari."
Seluruh aula langsung berguncang oleh suara para pemimpin perguruan.
"Mustahil!"
"Delapan kota?"
"Tanpa ada bala bantuan yang mengetahui?"
Lin Xue membaca isi surat itu hingga selesai.
Lalu ia berkata pelan.
"Ini bukan penyerangan."
Semua orang menoleh.
"Ini ritual."
Qin Feng langsung memahami maksudnya.
"Wanita dan anak-anak juga menghilang?"
Lin Xue mengangguk.
"Kalau hanya ingin membunuh, mereka tidak perlu membawa semua korban."
Shen Yu mengepalkan tangan.
"Kaisar Dewa Kegelapan sedang mempersiapkan sesuatu."
Tiba-tiba...
Peta kuno di atas meja kembali bersinar. Cahaya putih yang sebelumnya redup kini berubah menjadi keemasan. Semua orang terdiam. Garis-garis di atas kain mulai bergerak sendiri. Bahkan titik merah yang menunjukkan lokasi reruntuhan kuno perlahan membesar.
Lalu...
Sebuah kalimat kuno muncul sedikit demi sedikit.
Qin Feng membacanya dengan suara pelan.
"Bila darah pewaris telah kembali gerbang pertama akan terbuka."
Belum selesai semua orang mencerna kalimat itu...
Mei Lihua tiba-tiba memegangi dadanya.
"Akh..."
Tubuhnya memancarkan cahaya hitam. Lambang Keluarga Mei di punggung tangannya bersinar terang.
Mu Xueyi segera menopangnya.
"Lihua!"
Shen Yu juga bergerak mendekat.
Namun...
Saat tangannya menyentuh pergelangan Mei Lihua—
Boom!
Sebuah cahaya putih keluar dari lambang itu. Dalam sekejap...
Seluruh aula menghilang dari pandangan mereka.
Shen Yu membuka mata.
Yang dilihatnya bukan lagi Kediaman Shen. Melainkan hamparan langit berbintang tanpa ujung.
Di hadapannya berdiri seorang pria mengenakan jubah putih kuno.
Wajahnya samar.
Seolah diselimuti kabut waktu.
Pria itu memandang Shen Yu.
"Akhirnya kau datang."
Shen Yu langsung waspada.
"Siapa kau?"
Pria itu tidak menjawab. Sebaliknya ia memandang Shen Yu dari ujung kepala hingga kaki.
"Tubuh Roh Bulan. Tubuh Naga Suci. Esensi Naga Purba. Luar biasa untuk seorang anak muda. Tetapi masih belum cukup."
Shen Yu terkejut.
Orang ini mampu melihat seluruh rahasianya hanya dengan sekali pandang. Pria berjubah putih mengangkat tangan. Di udara muncul bayangan Benua Tianxia. Namun...
Di bawah benua itu terdapat daratan lain yang jauh lebih luas.
Shen Yu membelalakkan mata.
"Itu..."
Pria itu berkata tenang.
"Benua Tianxia hanyalah satu pulau kecil."
Kalimat itu membuat jantung Shen Yu berdegup kencang.
Pulau kecil?
Mustahil.
Selama ini seluruh dunia menganggap Tianxia adalah dunia.
Pria itu melanjutkan.
"Ketika Kunci Langit lengkap gerbang menuju dunia luar akan terbuka. Lalu perang yang sesungguhnya dimulai."
Shen Yu belum sempat bertanya. Tubuh pria itu mulai memudar.
"Aku hanya meninggalkan satu pesan. Kaisar Dewa Kegelapan bukan musuh terakhirmu."
Retak...
Seluruh ruang berbintang mulai hancur. Shen Yu kembali membuka mata. Ia masih berdiri di aula.
Namun semua orang memandangnya dengan wajah khawatir.
Mu Xueyi langsung menghampiri.
"Suamiku! Kau tiba-tiba diam selama beberapa napas."
Lin Xue memperhatikan Shen Yu.
"Kau melihat sesuatu?"
Shen Yu mengangguk perlahan.
"Seseorang."
Qin Feng langsung bertanya.
"Seperti apa?"
Shen Yu menceritakan seluruh penglihatannya. Semakin lama mendengar...
Wajah Lin Xue dan Qin Feng berubah semakin serius.
Terutama ketika mendengar kalimat...
"Benua Tianxia hanyalah sebuah pulau kecil."
Namun...
Qin Feng justru bergumam pelan.
"Ternyata legenda itu benar..."
Semua orang menoleh kepadanya.
"Kau tahu sesuatu?"
Qin Feng menarik napas panjang.
"Dalam catatan Penjaga Langit memang ada satu legenda."
"Tetapi selama ribuan tahun tidak ada yang mempercayainya."
Shen Yu bertanya,
"Legenda apa?"
Qin Feng menatap peta kuno.
"Dahulu para Penjaga Langit bukan menjaga Benua Tianxia. Mereka menjaga gerbang Langit."
Suasana aula kembali sunyi. Sebelum ada yang sempat berbicara—
BOOOOOOM!!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh Kota Qinghe.
Kaca-kaca aula pecah. Tanah bergetar hebat. Seorang murid berlari masuk dengan wajah pucat.
"Laporan gerbang selatan diserang!"
Han Tian langsung berdiri.
"Siapa?"
Murid itu menelan ludah.
"Bukan Kuil Kegelapan tetapi puluhan binatang iblis yang tiba-tiba mengamuk!"
Belum selesai keterkejutan itu...
Murid lain kembali berlari masuk.
"Laporan! Dari utara juga muncul kawanan binatang iblis!"
Lalu...
Murid ketiga masuk hampir bersamaan.
"Gerbang barat juga!"
Shen Yu langsung menyipitkan mata.
"Tiga arah sekaligus..."
Lin Xue berdiri perlahan.
Tatapannya berubah dingin.
"Mereka ingin memecah kekuatan kita."
Qin Feng mengepalkan lencana Penjaga Langit.
"Tidak..."
"Mereka sedang menguji."
Han Tian segera mencabut pedangnya.
"Aku memimpin gerbang selatan."
Yan Luo melangkah maju.
"Aku ke utara."
Para pemimpin perguruan satu per satu ikut berdiri.
Namun...
Saat semua bersiap berangkat—
Seekor burung gagak hitam tiba-tiba hinggap di jendela aula. Di kakinya tergantung secarik kain hitam.
Shen Yu mengambilnya. Di atas kain itu hanya ada satu kalimat.
"Jika ingin menyelamatkan kota, datanglah seorang diri ke Reruntuhan Gunung Tianhuang."
Di bawah tulisan itu...
Terdapat lambang Kuil Kegelapan.
Dan...
Setetes darah yang belum mengering.
Han Tian langsung melangkah ke depan.
"Tuan Muda, itu jelas jebakan."
Yan Luo mengangguk.
"Mereka sengaja membuat keributan di tiga gerbang kota, lalu mengirim surat ini. Tujuannya memancing seseorang keluar seorang diri."
Shen Yu tidak membantah.
"Aku tahu."
Lin Xue mengambil secarik kain hitam itu. Ia mengamatinya beberapa saat, lalu mengusap noda darah di ujung kain dengan ujung jarinya.
Beberapa detik kemudian...
Tatapannya berubah dingin.
"Darah manusia."
Mu Xueyi sedikit pucat.
"Mereka membunuh seseorang hanya untuk mengirim pesan?"
Lin Xue menggeleng.
"Bukan. Orang itu masih hidup."
Semua orang langsung menoleh. Lin Xue melanjutkan,
"Darah ini masih mengandung jejak kehidupan. Mereka sengaja melukai seseorang sebagai ancaman."
Mei Lihua mengepalkan tangannya.
"Kejam..."
Qin Feng mengambil kain itu dari tangan Lin Xue. Ia mengeluarkan lencana Penjaga Langit, lalu mendekatkannya.
Cahaya putih samar muncul. Sesaat kemudian...
Beberapa titik cahaya merah bermunculan di atas kain.
Han Tian mengernyit.
"Itu apa?"
Qin Feng menjawab singkat.
"Jejak formasi."
Ia kembali mengamati pola tersebut.
"Lima orang. Lima titik ini saling terhubung."
Tatapan Lin Xue berubah tajam.
"Lima Raja Kegelapan."
Qin Feng mengangguk.
"Mereka telah menyiapkan Formasi Pengurung Langit."
Shen Yu bertanya,
"Seberapa kuat formasi itu?"
Qin Feng menghela napas.
"Kalau benar Formasi Pengurung Langit, bahkan kultivator yang lebih kuat dari Han Tian pun akan kesulitan keluar hidup-hidup."
Suasana aula kembali menjadi sunyi. Jelas sekali...
Musuh telah mempersiapkan segalanya. Mereka tidak berharap Shen Yu datang. Mereka yakin...
Siapa pun yang datang akan mati. Di saat yang sama...
Di puncak Gunung Tianhuang. Lima Raja Kegelapan berdiri membentuk lingkaran. Di tengah mereka...
Puluhan batu hitam ditanam membentuk formasi raksasa. Kabut hitam memenuhi seluruh gunung.
Wanita berjubah hitam tersenyum.
"Kalau targetnya datang, kita langsung menangkapnya?"
Pria bertopeng merah menggeleng.
"Tidak. Kita lihat dulu siapa yang muncul."
Pria berjubah ungu membuka matanya.
"Aku merasakan puluhan aura bergerak di Kota Qinghe. Namun aura emas itu masih belum muncul."
Pria bertopeng merah tertawa pelan.
"Dia akan muncul. Tak ada seorang pun yang mampu melihat kotanya diserang tanpa melakukan apa-apa."
Kembali di Kediaman Shen.
Han Tian mengepalkan pedangnya.
"Nyonya. Izinkan aku memimpin pasukan menuju Gunung Tianhuang."
Yan Luo langsung melangkah maju.
"Aku ikut."
Puluhan pemimpin perguruan juga berdiri.
"Kami juga."
Namun...
Lin Xue mengangkat tangannya. Semua kembali diam.
"Kalian tidak akan pergi."
Han Tian terkejut.
"Tetapi..."
Lin Xue memotong ucapannya.
"Musuh ingin mengosongkan Kota Qinghe. Begitu seluruh kekuatan kita keluar mereka akan menyerang dari arah lain."
Qin Feng mengangguk pelan.
"Itulah tujuan sebenarnya. Mereka ingin kita membagi pasukan."
Shen Yu memandang peta reruntuhan yang masih bersinar di atas meja. Lalu...
Tatapannya perlahan berubah.
"Nenek."
Lin Xue menoleh.
"Ada apa?"
Shen Yu menunjuk titik merah di peta.
"Gunung Tianhuang bukankah letaknya tidak jauh dari reruntuhan kuno ini?"
Semua langsung memperhatikan peta. Qin Feng segera membandingkan posisi keduanya. Beberapa saat kemudian...
Matanya membelalak.
"Benar. Hanya terpaut sekitar belasan kilometer."
Han Tian ikut menyadarinya.
"Jadi tujuan mereka..."
Qin Feng menarik napas panjang.
"Bukan sekadar memancing kita. Mereka juga sedang menunggu saat Gerbang Pertama terbuka."
Lin Xue perlahan mengepalkan tangannya.
"Berarti mereka sudah mengetahui keberadaan reruntuhan itu."
Mei Lihua menggigit bibirnya.
"Kalau begitu... apakah semua ini terjadi karena aku?"
Lin Xue menggeleng pelan.
"Tidak. Bahkan tanpa dirimu mereka tetap akan mencari tempat itu."
Shen Yu menatap seluruh orang yang berada di aula.
Kemudian ia berkata dengan tenang,
"Kalau begitu kita tidak boleh mengikuti permainan mereka."
Han Tian bertanya,
"Lalu apa rencana Tuan Muda?"
Shen Yu tersenyum tipis.
"Kita biarkan mereka menunggu. Tetapi orang yang mereka tunggu tidak akan pernah datang."
Senyum Qin Feng perlahan muncul.
"Jadi kau sudah punya ide."
Shen Yu mengangguk.
"Kalau mereka ingin berburu maka sudah saatnya pemburu menjadi mangsa."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan...
Seekor elang emas kembali mendarat di halaman Kediaman Shen. Namun kali ini...
Bukan membawa surat. Melainkan sebuah panah hitam yang menancap di tubuhnya.
Pak Hong segera mengambil panah itu. Di ujung panah...
Terikat secarik kain kecil. Shen Yu membukanya.
Tulisan di atasnya hanya terdiri dari lima kata.
"Mata kami ada di dalam."
Suasana aula mendadak membeku. Tak seorang pun berbicara. Kalimat itu hanya memiliki satu arti. Di antara orang-orang yang berada di Kota Qinghe...
Sudah ada penyusup Kuil Kegelapan.