Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Binar Bintang Dimata Arka
Langkah kaki Nindya terasa begitu ringan saat menyusuri lorong Taman Kanak-Kanak tempat Arka menuntut ilmu. Pakaian kasual chic berwarna krem yang baru saja dibelinya melekat sempurna di tubuhnya yang makin bugar. Potongan rambut ash brown sebahunya berayun lembut seiring langkah kakinya, memancarkan aura keanggunan yang segar dan penuh percaya diri. Beberapa ibu murid lain yang berada di area tunggu sempat menoleh, melemparkan tatapan kagum pada penampilan Nindya yang tampak jauh lebih muda dan memikat.
Bel tanda usai pelajaran akhirnya berbunyi, memecah keheningan koridor sekolah. Pintunya terbuka, dan deret anak-anak kecil berseragam rapi mulai berhamburan keluar sambil menggendong tas punggung mereka yang lucu.
Nindya berdiri di dekat taman bermain sekolah, tersenyum menantikan kehadiran putra kecilnya. Tak perlu waktu lama, sosok Arka terlihat keluar dari kelas sembari memegangi tali tasnya. Mata bulat bocah itu menyapu area jemputan, mencari keberadaan sosok yang paling ia rindukan.
"Arka!" panggil Nindya lembut sembari melambaikan tangannya.
Arka menghentikan langkahnya. Pangeran kecil itu sempat memiringkan kepalanya sedikit, menatap wanita yang memanggilnya dengan dahi berkerut halus. Penampilan baru ibunya membuat Arka tertegun sejenak. Namun, begitu mengenali suara hangat dan senyuman manis itu, mata Arka langsung membelalak lebar penuh kejutan.
"Mama!" teriak Arka riang.
Bocah kecil itu berlari kencang membelah kerumunan teman-temannya, menerjang tubuh Nindya tanpa ragu. Nindya langsung berlutut, merengkuh tubuh mungil Arka ke dalam pelukannya dengan erat, membiarkan tawa renyah sang putra memenuhi relung hatinya.
Begitu pelukan terlepas, kedua tangan mungil Arka langsung memegang kedua pipi Nindya. Mata bulatnya meneliti seluruh wajah ibunya dari dekat, dari tatanan rambut anyar hingga gaun anggun yang dikenakannya.
"Mama... rambut Mama dipotong?" tanya Arka dengan nada takjub yang sangat polos. "Cantik banget! Seperti putri raja di buku cerita Arka!"
Nindya tertawa geli mendengar pujian jujur dari putra tercintanya. Rasa haru dan bahagia membuncah hangat di dalam dadanya. Pujian sederhana dari Arka terasa jutaan kali lebih berharga daripada pengakuan dari pria mana pun di dunia ini.
"Masa, sih? Arka suka dengan rambut baru Mama?" tanya Nindya sembari merapikan poni Arka yang agak berantakan.
"Suka banget, Mama! Mama wangi dan cantik sekali hari ini," sahut Arka penuh semangat, lalu mencium pipi Nindya berkali-kali hingga Nindya kegelian.
Ibu-ibu murid yang berdiri di sekitar mereka ikut tersenyum melihat kehangatan interaksi ibu dan anak tersebut. Nindya berdiri, menggandeng jemari mungil Arka dengan erat sembari membawakan tas sekolah putranya.
"Nah, karena Anak Ganteng Mama hari ini pintar dan sudah memuji Mama, sekarang kita pergi makan siang enak, ya? Arka mau makan apa?" tawar Nindya riang saat mereka berjalan menuju parkiran mobil.
"Ayam goreng sama es krim rasa cokelat, Mama!" seru Arka gembira, melompat-lompat kecil di samping ibunya.
"Pilihan yang sempurna. Ayo kita berangkat!"
Nindya membukakan pintu mobil untuk Arka, memasangkan sabuk pengaman dengan penuh kasih sayang, lalu mengitari kemudi. Saat menatap wajah gembira Arka di spion tengah, Nindya makin yakin akan keputusannya. Ia tidak lagi membutuhkan cinta Haris untuk merasa utuh. Senyuman dan binar bahagia di mata Arka adalah satu-satunya alasan yang ia butuhkan untuk terus melangkah menjadi wanita yang kuat dan bahagia.