Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Neraka & Tekad
Malam di pinggiran kota Tokyo terasa sangat dingin dan mencekam. Di dalam sebuah dojo tradisional yang tertutup, keheningan malam pecah oleh suara hantaman yang keras.
Braaakkk!!
Tubuh Naru terseret hebat sampai menghantam dinding kayu setelah kena pukulan telak. Punggungnya menabrak dinding kayu hingga berbunyi derit keras, menyisakan rasa nyeri luar biasa di sekujur tubuhnya yang kini sudah penuh lebam keunguan.
"Bangun, lemah!"
Malam ini, atas perintah langsung sang kakek, latihan keras yang biasa diinstruksikan Takashi berubah jadi hukuman brutal yang penuh insting membunuh. Naru bahkan tidak dikasih celah sedikit pun buat bertanya apa kesalahan besarnya kali ini.
Sambil meringis menahan sakit, Naru merangkak bangun dengan telapak tangan yang gemetar parah. Dadanya terasa sesak sampai akhirnya dia terbatuk dan menyemburkan darah ke atas lantai kayu.
Enam puluh menit neraka itu terus berjalan tanpa ampun, memaksa Naru untuk terus bangkit menghadapi serangan Takashi. Karena dia tahu betul, kalau sampai dia menyerah dan pingsan malam ini, maka tamat sudah seluruh sisa hidup dan ambisi besarnya.
"Dengar, pewarisku. Kakek tidak akan mengizinkanmu kembali ke Indonesia. Kakek tahu, fokusmu telah berubah, Naru!"
Mata Naru berdenyut perih.
Setiap serat ototnya menegang saat sebuah tendangan berputar yang brutal dari Takashi mengenai rusuknya hingga membuat Naru terhuyung. Namun, di tengah guncangan itu, telinganya menangkap kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh kabut ketidakpastian.
Ini mengenai Nuha.
Pemahaman itu menyambar seperti petir di tengah badai. Kakeknya tak ingin sejarah akan terulang. Nasib tragis sang Bunda kini dianggap Kakek sebagai virus yang harus dimusnahkan sebelum menjangkiti Naru. Baginya, perasaan adalah kelemahan, dan Naru adalah aset yang tidak boleh memiliki hati.
"Jadi ini alasannya?" gumam Naru getir. "Bukan karena aku lemah, tapi karena aku mulai memiliki sesuatu untuk diperjuangkan."
"Jangan kasih dia jeda!" titah sang kakek.
"TIDAK!!" bantah Naru.
Naru menggertakkan gigi, "Selama bertahun-tahun, dengan menjadi yang terbaik untuk kakek, aku mengira akan mendapatkan kebebasanku. Aku salah. Kakek tidak mencari pewaris, kakek hanya mencari budak yang sempurna!" Kini ia sadar, rantai yang mengekangnya memang tak pernah dirancang untuk dibuka.
"KAU PEWARISKU NARU!"
Takashi melesat maju, sebuah pukulan lurus mengarah ke rahang Naru.
Plak!
Naru menepis lengan Takashi dengan kasar, lalu memutar tubuh untuk melayangkan sikutan telak ke bahu pria itu. Pertarungan fisik tanpa senjata itu terus berlanjut, namun kini ada perubahan dalam sorot mata Naru.
Tatapannya yang tadi kosong dan defensif, kini menyala dengan amarah yang dingin. Khas seorang yang baru menyadari bahwa dia telah dikhianati oleh sistem yang dia jaga sendiri.
Pikiran Naru bercabang. Di satu sisi, tubuhnya harus terus bergerak agar tidak mati di tangan Takashi. Di sisi lain, pikirannya mulai merancang strategi untuk melarikan diri.
Jika dia tetap patuh, dia akan mati perlahan dalam penjara ini. Jika dia melawan, dia berisiko kehilangan segalanya, termasuk nyawanya, atau lebih buruk lagi, melibatkan Nuha dalam badai kehancuran keluarga Hiyashi.
Bugh!
Takashi menghantam perut Naru dengan lututnya, membuat Naru tersungkur kembali ke lantai. "Kau mulai kehilangan fokus, Tuan Muda," desis Takashi, suaranya datar namun dingin.
Naru bangkit lagi, lebih lambat kali ini, namun dengan senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Fokusku justru baru saja kembali, Takashi.san."
Dia menatap Kakeknya yang masih duduk dengan tenang di atas sana. Kakek ingin melihatku hancur karena cinta? Baiklah. Aku akan buktikan bahwa justru cinta itulah yang akan menghancurkan rantai ini.
Hantaman itu begitu telak.
Pukulan Takashi menghunjam dagu Naru dengan kekuatan penuh, melempar tubuh pria muda itu ke udara hingga hampir menyentuh langit-langit dojo yang tinggi.
Realitas pahit menamparnya. Meski dia memiliki tekad membara, dia tetap tidak bisa menang begitu saja. Di usianya yang masih terlalu muda, dia belum cukup kuat untuk menandingi monster pembunuh yang sudah terlatih puluhan tahun.
Naru pasrah, gravitasi menariknya jatuh dengan kasar, membuat punggungnya mendarat terhantuk-hantuk di atas lantai kayu sebelum akhirnya terseret beberapa meter dan berhenti dalam kondisi tak berdaya.
Dia sekarat. Napasnya putus-putus, dan dari sudut matanya yang lebam, setetes air mata mengalir melewati pelipisnya. Tatapannya yang mulai mengabur terpaku pada langit-langit dojo.
"Bunda, aku ... tidak cukup kuat untuk melindungi apapun yang ingin aku lindungi ..." batinnya berbisik pilu, membayangkan wajah ibunya dan seraut wajah Nuha yang kini entah bagaimana nasibnya di Indonesia.
Melihat cucunya sudah benar-benar berada di ambang kematian, Kakek Hiyashi akhirnya mengangkat tongkat naga peraknya, mengetukkannya sekali ke lantai dengan bunyi tok yang menggema.
"Bawakan tandu! Segera obati lukanya!" perintahnya tanpa ekspresi, seolah baru saja menyelesaikan rutinitas harian. "Pastikan dia tidak mati. Besok, dia harus sudah bisa berdiri untuk menerima sisa hukumannya."
Paginya,
"Naru-kun, gimana keadaanmu, putraku tersayang? Bunda tahu kamu lagi di Jepang kan? Apa kakek bersikap keras lagi padamu?"
Di kamar perawatan yang sunyi, Naru menatap layar benda flip itu dengan sisa tenaga yang ada. Lalu mengetik jawaban, "Naru baik-baik saja. Ada hal penting yang membuat Kakek menyuruhku pulang. Shinpai shinaide nee, Okaasan."
Naru terpaksa berbohong, semata-mata demi menjaga agar wanita yang paling dihormatinya itu tidak perlu mencemaskan luka-luka di tubuhnya. Namun, hati ibu mana yang bisa dikelabui? Maya tahu persis, sedikit saja fokus Naru melenceng, ayahnya bakal langsung mengetahuinya.
Demi menghibur dan mengalihkan pikiran putranya, Maya mengirimkan sebuah pesan gambar. Itu adalah hasil jepretan ponselnya sendiri, menampilkan foto Nuha yang tampak terkejut saat ia tiba-tiba memanggil namanya dan langsung menekan tombol potret tanpa aba-aba.
Di bawah gambar tersebut,
sebuah pesan menyusul, "My lovely boy, selama kamu di Jepang, beritahu bunda apa yang kamu inginkan? Bunda yakin, kamu tengah memikirkan seseorang kan? ^3<7"
Pesan itu cukup membuat telinga Naru panas hampir mengeluarkan asap seperti kereta uap. Dalam ketenangannya, bibirnya mengulas senyum.
"Bisakah bunda menjaganya untukku? Bantu dia saat dia menghadapi masalah. Naru akan dapatkan izin kakek untuk segera kembali pulang ke Indonesia," tulisnya.
“Wakatta. Ganbatte ne, Naru-kun. Bunda yakin, kamu pasti bisa. Jika hari itu tiba, Bunda sendiri yang akan menyiapkan seragam sekolah baru yang paling rapi untukmu.”
Mata Naru yang awalnya meredup menahan sakit langsung berbinar cerah saat membaca baris demi baris pesan singkat itu. Setitik harapan baru seketika menyelimuti hatinya, membakar kembali sisa-sisa semangatnya yang sempat patah.
Kesempatan ini harus benar-benar ia rebut dengan tangannya sendiri. Naru mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Sebisa mungkin, dia menolak untuk tunduk dan menyerah. Tidak ingin berakhir tragis sebagai bidak tanpa masa depan di tangan kakeknya sendiri.
Maya akhirnya bisa tersenyum lega menatap layar ponselnya. Setelah melepas seatbelt dia meraih tas lengannya dan berjalan keluar dari mobil.
Atmosfer koridor sekolah mendadak terasa mencekam saat Dilan dengan langkah cepat langsung menghadang jalan Nuha yang hampir sampai di depan kelasnya.
"Kenapa lo nggak balas SMS gue, bangsat?!" bentaknya tertahan. Tatapannya menghunjam tajam, mengingat sepuluh pesan singkat dan beberapa panggilan telepon yang ia kirimkan sejak semalam tak satu pun direspons oleh Nuha.
Tindakan agresif yang tiba-tiba itu seketika membuat tubuh Nuha menegang. Ia benar-benar sudah berada di titik terendah dan teramat lelah akhir-akhir ini akibat tekanan yang bertubi-tubi.
"Maaf."
Kata maaf justru membuat Dilan langsung mencengkeram kasar kerah seragam Nuha, menyentakkan tubuh gadis itu hingga punggungnya terhantuk keras ke dinding koridor.
"Bos, sabar, Bos. Bisa dilihat orang lain nih," sela Dika dengan nada panik, bergegas maju demi mengamankan citra publik sang calon ketua OSIS yang harus tetap terlihat sempurna.
Mendengar peringatan itu, Dilan akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar. Napasnya memburu, kesabarannya benar-benar diuji oleh kelambatan reaksi gadis di hadapannya ini.
"Baiklah ... demi memberi lo kedamaian, gue nggak bakal ganggu lo sampai hari keputusan itu tiba," desis Dilan, merapikan kembali almamaternya dengan angkuh. "Gue tunggu satu hari lagi bagi lo untuk menyerah dan jadi pacar gue."
Nuha menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa keberanian di sela gemetar tubuhnya. "Aku mau ... kalau kamu beneran berhasil jadi ketua OSIS."
"Lo nantang gue?"
"Itu jawabanku," sahut Nuha.
"Cih, berani-beraninya lo--"
"Selamat pagi, Putra Kepala Dokter Rumah Sakit Langit Diantoro. Apa ada suatu hal penting yang sedang terjadi di sini?"
Sebuah suara bariton yang tenang namun sarat akan wibawa memotong kalimat Dilan. Rui Maya berjalan mendekat, melangkah dengan keanggunan yang mengintimidasi hingga membuat suasana di koridor itu seketika mendingin.
Dilan langsung menegakkan tubuhnya, memasang gestur angkuh tanpa memperlihatkan rasa takut sedikit pun. "Nggak ada apa-apa."
"Kalau begitu, boleh kita bicara sebentar?"
.
.
. Next》Bab 14? Rehat dulu ya 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.