NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian Pagi

Pagi ini Nara bangun kesiangan. Begitu melihat jam di ponselnya, dia langsung melompat turun dari tempat tidur dan buru-buru bersiap untuk pergi ke sekolah. Semalam dia baru pulang sekitar pukul satu, jadi pagi ini tidurnya benar-benar kebablasan.

"Mami, Papi, Nara pergi dulu, ya!" teriaknya sambil berlari menuju pintu keluar.

"Nara, sarapan dulu!" teriak maminya dari arah ruang makan.

"Nanti aja di sekolah, Mi!" balasnya tanpa menghentikan langkah.

Nara langsung masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesinnya. Dia melajukan mobil dengan cukup cepat, berharap masih sempat sampai di sekolah sebelum upacara dimulai. Namun, di pertengahan jalan, mobilnya tiba-tiba tersendat sebelum akhirnya mati begitu saja.

"Loh, loh, kok mati, sih?" gerutunya sambil mencoba menghidupkan mesin mobil beberapa kali.

Sayangnya, mesin mobil itu tetap tidak mau menyala. Nara melirik indikator bensin dan melihat bensinnya masih penuh.

"Ini kenapa, sih?" ucapnya kesal.

Dia keluar dari mobil lalu melihat keadaan di sekitarnya. Tidak lama kemudian, matanya menangkap asap tipis yang keluar dari bagian depan mobil. Nara segera membuka kap mobil dan langsung terkejut saat asap yang lebih tebal keluar dari dalamnya.

"Shit!" umpatnya sambil mundur beberapa langkah. "Yang ada gue makin terlambat ini."

Nara mengedarkan pandangannya ke jalanan, tetapi tidak ada satu pun taksi yang lewat. Dia bahkan sudah mencoba memesan taksi daring, tetapi tidak ada pengemudi yang menerima pesanannya. Hal itu tentu saja membuatnya semakin kesal.

Di sisi lain, Alden ternyata ikut terlambat pagi itu. Asha sudah pergi lebih dulu karena dijemput oleh Niel, sehingga Alden terpaksa berangkat sendirian dengan motornya. Saat melintasi jalan menuju sekolah, dia melihat sebuah mobil yang terasa familiar berhenti di pinggir jalan.

Alden memperlambat laju motornya, lalu berhenti tidak jauh dari mobil tersebut. Dia menaikkan kaca helmnya dan langsung melihat Nara yang berdiri dengan wajah kesal di dekat mobilnya.

"Kenapa?" tanya Alden santai.

Mendengar suara itu, Nara sontak menoleh. "Nih, mobil gue," ucapnya sambil menunjuk mobil yang masih mengeluarkan sedikit asap.

Alden melirik kap mobil yang terbuka. Dari keadaannya, mobil itu jelas sedang bermasalah dan tidak mungkin bisa langsung digunakan.

"Kalau diperbaiki sekarang, mana keburu? Sepuluh menit lagi upacara," ujar cowok itu.

"Ya, terus gue gimana? Mana enggak ada taksi lagi," balas Nara frustrasi.

"Bareng gue. Naik," ucap Alden singkat sambil menganggukkan kepala ke arah jok belakang motornya.

Nara terdiam sejenak. Dia menimbang-nimbang tawaran itu karena sebenarnya tidak yakin harus menerima atau tidak. Namun, jika tetap berdiri di sana, dia pasti akan terlambat jauh lebih lama.

"Mau, enggak? Kalau enggak mau, gue duluan," ucap Alden sambil kembali menghidupkan mesin motornya.

"Eh, tunggu! Mau, deh," ujar Nara akhirnya dengan nada terpaksa.

Dia segera menaiki motor Alden dan duduk di belakangnya. Setelah memastikan Nara sudah siap, Alden langsung menjalankan motornya menuju sekolah.

"Akibat bohong semalam itu," ucap Alden dengan santai di tengah perjalanan.

Suara angin dan mesin motor membuat Nara tidak bisa mendengar perkataannya dengan jelas.

"Hah? Apa?" teriaknya dari belakang.

"Enggak," jawab Alden singkat. "Udah, itu aja."

Nara mengernyitkan kening, tetapi memilih tidak bertanya lagi. Dia hanya berharap mereka bisa sampai tepat waktu tanpa harus mendapat hukuman dari guru piket.

Tidak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di area parkir sekolah. Alden menghentikan motornya dan Nara segera turun dari jok belakang. Tanpa mereka sadari, Selena yang baru saja turun dari mobilnya melihat kedatangan mereka.

Selena menatap keduanya dengan ekspresi tidak percaya. "Alden," gumamnya pelan.

Dia lalu berjalan menghampiri mereka berdua.

"Al," panggil Selena.

Alden dan Nara langsung menoleh bersamaan. Begitu melihat Selena datang, Nara mendadak gugup. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang baru saja kepergok menjadi selingkuhan, padahal tidak terjadi apa-apa di antara dirinya dan Alden.

"Lo berdua kok bisa bareng?" tanya Selena dengan penasaran.

"Eh, enggak gitu, kok. Tadi gue ke sini sebenarnya naik mobil, sumpah. Lo jangan salah paham dulu. Gue bisa jelasin, kok," ucap Nara gugup.

Dia takut Selena mengira dirinya sedang mencoba mendekati Alden. Kan, enggak lucu. Sudah cantik dan modis, malah difitnah jadi selingkuhan orang.

Alden menatap Nara dengan ekspresi heran setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari cewek itu.

"Lo ngapain klarifikasi kayak gitu?" tanyanya aneh.

"Ya, biar Selena enggak salah paham, lah, bego!" balas Nara kesal.

Mendengar itu, Selena justru terkekeh kecil. Dia sama sekali tidak terlihat marah atau tersinggung.

"Enggak, kok. Gue enggak salah paham. Gue cuma nanya aja," ucap Selena yang sejak tadi hanya memperhatikan kepanikan Nara.

"Ya, enggak bisa gitu dong, Sel. Lo kan ceweknya, jadi wajar kalau gue klarifikasi ke lo," ucap Nara spontan.

Ucapan itu langsung membuat Alden dan Selena menatapnya dengan ekspresi terkejut.

Nara sendiri baru menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Namun, alih-alih membahasnya lebih jauh, dia buru-buru mengangkat tangan dan berjalan menjauh dari mereka.

"Udah, lah. Gue pergi dulu. Bye! Thanks tumpangannya, Alaric!" teriaknya sambil terus menjauh.

"Alaric?" gumam Selena sambil mengerutkan kening.

Sementara itu, Alden hanya menatap punggung Nara dengan wajah aneh. "Apaan, sih?" gumamnya.

Alden kemudian berjalan menuju lobi sekolah tanpa memedulikan ucapan Nara barusan.

"Al, tunggu!" teriak Selena sambil mengejarnya.

Selena berhasil menyusul Alden, lalu mereka pun berjalan bersama memasuki lobi sekolah.

Sesampainya di lantai tiga, Nara berjalan santai menuju kelasnya. Dia ingin segera masuk sebelum ada guru yang melihat keterlambatannya. Namun, baru beberapa langkah melewati lift, tiba-tiba seseorang mencekal pergelangan tangannya dari belakang.

Nara refleks menoleh. Begitu mengetahui siapa orangnya, dia langsung mendengus kesal.

"Dia lagi," gerutunya dalam hati.

Niel berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan tajam. Cowok itu memperhatikan Nara dari atas sampai bawah, seakan sedang memastikan sesuatu.

"Apaan, sih? Lepasin!" ucap Nara sambil menarik tangannya dengan kasar dari cekalan Niel.

Niel melepaskannya, tetapi tatapannya masih tertuju tajam pada gadis itu. Hal tersebut membuat Nara semakin tidak nyaman.

"Apaan, sih? Enggak jelas banget ini cowok," gerutunya pelan.

Nara memutar tubuhnya dan berniat pergi. Namun, ucapan Niel membuat langkahnya seketika berhenti.

"Lo Naya, kan?" tanyanya tiba-tiba.

Tubuh Nara langsung mematung. Untuk sesaat, dia tidak berani menoleh. Namun, sebisa mungkin dia mencoba bersikap tenang, lalu menatap Niel kembali dengan ekspresi santai.

"Lo ngomong apaan, sih? Ya, gue Naya, lah," jawabnya seolah tidak ada yang aneh.

Niel berdecak sinis mendengar jawaban tersebut.

"Ck! Lo kira gue bisa dibohongi?" ucapnya dingin.

Nara menatapnya lekat-lekat. Jantungnya mulai berdegup sedikit lebih cepat, tetapi wajahnya tetap berusaha terlihat tenang.

"Jangan-jangan dia udah tahu, ya?" gumamnya dalam hati.

"Enggak jelas," ucap Nara singkat, lalu kembali ingin meninggalkan Niel.

Akan tetapi, lagi-lagi langkahnya harus berhenti karena suara cowok itu terdengar dari belakang.

"Lo bukan Naya! Gue tahu itu."

Kali ini Nara tidak bisa langsung mengabaikannya. Dia berbalik perlahan dan menatap Niel dengan wajah datar.

"Maksud lo?" tanyanya.

"Lo Mont, kan?" tanya Niel tanpa basa-basi.

Mata Nara sempat membesar karena terkejut. Namun, dia segera menyembunyikan reaksinya dan kembali memasang ekspresi tenang.

"Maksud lo apaan?" tanyanya, masih berusaha mengelak.

"Enggak usah ngeles. Lo kira gue bakal diam aja setelah lo ngalahin gue?" ujar Niel dingin. "Sayangnya, lo enggak tahu kalau malam itu gue nyuruh orang buat ngawasin lo sama sepupu lo."

Nara langsung mendengus kesal. Dia benar-benar muak dengan orang-orang yang selalu ingin tahu urusan pribadinya. Apalagi sampai menyuruh seseorang mengawasinya diam-diam.

"Iya, terus emang kenapa kalau gue Mont?" ucapnya akhirnya, tidak mau berpura-pura lagi. "Gue Queen of Racing tiga tahun berturut-turut dan enggak ada satu pun yang bisa ngalahin gue. Kenapa? Ego lo merasa kesentil karena gue kalahin? Terus, itu masalah buat gue?"

Niel tetap diam, membiarkan Nara meluapkan kekesalannya.

"Gue benci banget sama orang yang terlalu kepo sama privasi gue. Gue risih, paham, lo?" lanjut Nara dengan nada tajam.

Dia sudah benar-benar muak. Nara kembali membalikkan badannya dan hendak pergi. Namun, baru saja dia melangkah, Niel kembali mencekal tangannya.

"Ada urusan apa lo sama Geng Neon?" tanya Niel serius. "Lo tahu, kan, geng gue sama mereka sering bentrok?"

Niel bukan sekadar penasaran. Dia hanya berusaha waspada. Bisa saja Nara adalah mata-mata yang sengaja dikirim oleh Geng Neon untuk mengawasi mereka.

Nara kembali menarik tangannya dari cekalan cowok itu.

"Gue enggak kenal sama geng itu. Cuma abang sepupu gue temenan sama mantan ketua mereka, jadi ya begitu, deh," jawabnya jujur.

"Dan lo kira gue percaya?" tanya Niel dengan tatapan penuh kecurigaan.

"Terserah lo. Gue juga enggak minta lo buat percaya," balas Nara ketus. "Tapi satu hal yang pasti harus lo tahu, gue enggak ada urusannya sama geng motor. Gue cuma seorang pembalap yang menutupi identitasnya. Paham, lo?"

Nada bicara Nara yang tegas membuat Niel terdiam sesaat. Dia mencoba mencari kebohongan dari wajah gadis itu, tetapi Nara terlihat benar-benar serius.

"Minggir, lah. Gue enggak ada urusan sama lo," ucap Nara.

Tanpa menunggu jawaban, dia langsung berjalan meninggalkan Niel menuju kelasnya. Niel hanya berdiri di tempat sambil menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh.

"Gue pegang kata-kata lo," ucapnya cukup keras agar Nara bisa mendengarnya.

Setelah itu, Niel membalikkan badan dan berniat pergi. Namun, langkahnya sempat terhenti ketika melihat Alden berdiri tidak jauh dari sana, tepat di depan lift.

Alden menatapnya dalam diam. Tidak jelas sudah sejak kapan cowok itu berdiri di sana dan seberapa banyak percakapan mereka yang dia dengar.

Niel hanya membalas tatapannya sebentar. Dia tidak mengatakan apa pun, lalu berjalan melewati Alden begitu saja. Alden pun tetap diam, tetapi pandangannya perlahan beralih ke arah Nara yang baru saja menghilang di ujung lorong.

1
fayepey
Alden ini bukan yang 17 tahun langsung jadi CEO yaa guyss, cuman sekarang ini lagi belajar dikit-dikit dulu dan cari pengalaman dalam hal berbisnis, jadinya dia dapat uang dari pengalamannya itu 🥰🥰
aya
Mau cowo kayak Alden, cuek cuek tapi perhatian
syifa
Jangan lupa di lanjut kak, semangat
fayepey: terimakasih kak
total 1 replies
syifa
Seru kak ceritanya, lanjut yaa
fayepey
Hallo, terimakasih sudah membacanya!
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
fayepey
Selamat membaca, tinggalkan komentar yang positif, jika tidak suka tinggal skip aja yaa🤗💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!