Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arwah Gentayangan Aneh
"Apaan itu tadi!" Gumam Bejo, ia menatap dimana sosok tadi berada.
"Aneh!"
Bejo melanjutkan perjalanan menuju Desa Krajan, setelah sampai rumah Bejo merebahkan tubuhnya. Sangat lelah hari ini, namun Bejo mendengar suara perempuan di depan rumah.
"Aku duluan"
"Ishh.. aku duluan pokoknya"
"Gak bisa.. aku duluan pokoknya"
Saat Bejo keluar dia melihat Dinda dan Intan berebutan untuk masuk kedalam rumahnya.
"Kalian ngapain sih!" Seri Bejo.
"DIAM!"
Seketika itu Bejo terdiam, dia memandang keduanya sangatlah aneh.
"Mas.. aku mau menikah denganmu"
"Ishh aku duluan.. aku juga mau menikah denganmu Jo"
Bejo menggelengkan kepalanya, benar-benar pusing melihat keduanya. Dengan tegas Bejo mencubit telinga mereka berlahan, lalu mengiring mereka berdua untuk masuk kedalam.
Dinda dan Intan terdiam, mereka berdua tak berani melihat tatapan tajam Bejo. Bejo menatap tajam ke mereka berdua, benar-benar bikin pusing bagi Bejo.
"Baru lulus sekolah malah ngajak nikah saja kalian berdua ini"
"Aku mau mas, pokoknya aku mau nikah samamu"
"Aku juga mau nikah sama kamu Jo"
"Suttss... DIAM!?"
Dinda dan Intan tersentak kaget, ia terdiam tanpa kata. Bejo memegang kepalanya, benar-benar pusing harus bagaimana menghadapi keduanya.
Bejo sebenarnya ingin fokus membuat bisnis kecil-kecilan di rumah, jadi soal asmara atau istri belum dalam rencananya.
"Ada ribut-ribut apa sih Jo?," tanya Mbak Mala.
Bejo menghela napasnya, lalu ia menceritakan pada mbak Mala. Mbak Mala yang mendengarkan itu tertawa kecil, ternyata pesona Bejo benar-benar berhasil saat perpisahan sekolah.
"Daripada kamu pusing dan ribet, nikahin aja mereka berdua"
Dinda dan Intan dengan kompak memandang kearah mbak Mala, tapi saat Bejo membalas tatapannya mereka berdua, Dinda dan Intan tak berani lagi menatapnya.
"Gimana mbak?,"
"Kalau kamu pusing dengan mereka.. lebih baik nikahin keduanya gak bakal pusing kamu," ujar Mbak Mala.
"Nikahin mereka berdua?!,"
Mbak Mala mengangguk sambil menahan tawanya. Bejo semakin di buat pusing dengan ucapan Mbak Mala, lalu memandang keduanya. Perasaan bersalah akan bentakan dua kali tadi Bejo sadari, lalu ia duduk di depan keduanya.
"Bukan maksudku untuk membentak kalian tapi kalian berdua ini kenapa?,"
"Aku mau hubungan kita sama seperti dulu mas, aku meminta janjimu dulu yang mau hidup bersamaku"
Dinda tak memiliki masa lalu lebih banyak dari Intan, ia menundukkan kepalanya. Dinda paham kalah satu langkah dalam mendapatkan Bejo, ia seperti tak yakin untuk mendapatkannya.
"Lalu kamu kenapa Dinda?,"
"Aku.."
Dinda tak bisa melanjutkan ucapannya, ia melihat sosok Bejo lebih dalam di depannya.
"Aku menyukaimu Jo, dan aku sudah bilang kepada ayah ibu ingin menjadi istrimu,"
Bejo menghela napas panjang, ia menatap keduanya. Ada seberkas harapan nyata di kedua mata mereka, membuat Bejo benar-benar di buat bingung.
"Sudahlah.. Dinda, Intan kalian bagi dua aja Bejo itu, daripada ribut," seru Mbak Mala.
Dinda dan Intan saling pandang, perjuangan mereka berdua untuk mendapatkan Bejo seperti tidak begitu pas. Bejo menghela napasnya, ia di buat bingung harus bagaimana.
"Aku tak bisa memutuskan semua ini, lebih baik kalian berdua pulang dan istirahat. Beri waktu aku untuk sendiri," ucap Bejo.
Mbak Mala tersenyum melihat Bejo, ia tak menyangka Bejo tidak memutuskan sekarang juga. Namun pikiran mbak Mala mulai ingin ikut campur dalam hubungan mereka.
Bejo meninggalkan mereka berdua, ia membersihkan kandang ayam yang sudah siap untuk di isi dan kolam lele yang sudah siap di isi.
Dinda dan Intan menghampiri Bejo di belakang, tanpa ada perkataan mereka membantu Bejo membersihkan rumah. Dinda mencuci piring sedangkan Intan menyapu lantai, Bejo yang melihat keduanya diam terasa nyaman tapi ada sesuatu yang mengganjal.
"Aku mau beli ayam, kalian mau ikut apa disini saja?"
"Kalau ikut emang boleh mas?"
"Boleh, tapi jangan ribut kayak tadi,"
"Hmm.. yasudah aku mau ikut"
"Aku juga mau ikut"
"Tapi ini jalan kaki, cukup jauh juga. Kalian gak papa kan?,"
"Enggak. Untuk kamu aku akan berjuang"
Dengan kompak Dinda dan Intan berkata sama, mereka saling pandang lalu memalingkan wajah permusuhan. Bejo tertawa kecil, lalu ia pergi bersama keduanya.
Dinda dan Intan berganti pakaian sebelum pergi, lalu mereka melangkah di kanan kiri Bejo. Namun Bejo merasakan sesuatu hawa aneh, ia berhenti lalu memandang gelapnya pepohonan rindang.
"Pria Bajingan.. kau memiliki dua wanita, apa tidak bisa memilih salah satunya"
Bejo terpaku seketika, Dinda dan Intan mulai merasakan takut. Mereka berdua memegang lengan Bejo, menyembunyikan kepala mereka dalam ketakutannya.
"Kamu siapa?,"
"Aku Amel.."
"Terus kenapa kamu bilang seperti itu?,"
"Kamu sebagai cowok tuh harus punya hati, pilih salah satu dari mereka bukan diambil semua"
"Mereka temanku bukan istriku,"
"Aku tau itu, dan aku juga tau kedua gadis itu sudah memutuskan untuk berbagi,"
"Aneh banget... Kamu mahluk halus atau apa sih?"
"Kamu cukup berani, aku arwah gentayangan yang tidak suka dengan poligami"
"Hmm... Setan sekarang benar-benar modern bener, ngerti juga soal poligami"
"Kamu urusin dirimu sendiri tak perlu campuri kehidupan dengan mereka, alam kita sudah berbeda dan hati manusia tak sama seperti apa yang kamu ketahui"
Bejo menghela napasnya, ia pergi meninggalkan arwah di gelapnya pepohonan rindang. Dinda dan Intan yang ketakutan tetap memegang lengan Bejo, mereka ikut di setiap langkahnya.
"Dasar manusia.. apa semua manusia memiliki dua wanita seperti itu! Apa aku aja yang tidak terima dengan akhir nasibku!"
Hari semakin sore, setelah membeli ayam petelur. Bejo, Dinda dan Intan kembali pulang. Mereka naik angkotan umum yang lewat sore itu.
Saat sampai di rumah Bejo, ia melihat orang tua Dinda dan orang tua Intan. Mereka duduk bersama mengobrol santai, saat melihat kedatangan Bejo, Dinda dan Intan dengan kompak berdiri bersama.
"Gimana.. apa sudah yakin dengan keputusan kalian?,"
Dinda dan Intan mengangguk pelan.
"Nak Bejo, apa kamu tidak ingin berkuliah?"
"Saya mau membuka usaha saja Bu, kalau saya kuliah nanti bagaimana kalau ada orang yang meninggal?"
"Hmm.. hatimu memang mulia Jo. Saya sebagai orang tua Dinda memberikan doa restu untuk kalian berdua, bagaimana pun itu keputusan kalian juga" ujar Pak Johan.
"Mama terserah kamu saja Intan, yang terpenting kamu bahagia dengan keputusanmu"
Bejo menghela napasnya, ia di ambang keputusan nyata. Dimana orang tua Dinda dan Intan secara bersamaan datang dan mengetahui perasaan anaknya, kini Bejo duduk dengan pandangan kosong.
Bayang-bayang masalah yang belum selesai tersusun dalam pikirannya, entah siapa Ki Ronggo yang di maksud Bejo. Lalu siapa arwah gentayangan sebelumnya, membuat pikiran Bejo di tumpuk begitu banyak masalah.
Dinda dan Intan saling pandang, mereka menghela napasnya. Memasang senyum terpaksa dalam keputusan yang telah di ambil.