NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menikah

Teman Tapi Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:72.4k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.

​Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni Yuk?

Mendengar alasan itu, wajah Zakia bukannya melunak, malah berubah menjadi sinis. Ia menatap baskom air hangat di dekat kaki ibunya, lalu beralih menatap Aira dengan pandangan meremehkan yang amat sangat.

​"Halah, alasan saja! Bilang saja Mbak Aira pelit! Makanya, punya ijazah sarjana itu dipakai buat cari uang yang banyak di kota! Bukan malah pulang ke desa dan cuma jadi buruh keripik yang gajinya mengenaskan!" bentak Zakia.

​"Zakia! Jaga bicaramu pada kakakmu!" tegur Ibu Astri, napasnya mulai terengah karena syok mendengari ucapan putri bungsunya.

​Namun, Zakia yang sudah kepalang emosi dan dimanja oleh lingkungan barunya bersama ibu tiri yang kaya, tidak peduli lagi. Kata-katanya meluncur deras seperti anak panah yang beracun, tepat menyasar titik paling rapuh di hati Aira.

​"Kenapa? Memang kenyataannya begitu, kan? Zakia malu punya kakak sarjana tapi cuma jadi buruh di pabriknya Bu Rika! Di sekolah, Zakia sering diledek gara-gara Mbak Aira dikira tidak laku di kota. Kuliah jauh-jauh ke Bandung, habis-habisin uang, ujung-ujungnya cuma bau minyak goreng dan bumbu balado! Gak berguna!" lanjut Zakia.

Mata Aira sudah berkaca-kaca menahan luka yang teramat dalam, dihina oleh tetangga seperti Bu Romlah sudah biasa. Namun, dihina oleh adik kandung yang dulu ia timang-timang, rasanya seperti dihujam belati tepat di jantung.

​"Sudah, Dek. Kalau kamu ke sini cuma untuk marah-marah dan menghina Mbak, lebih baik kamu pulang saja. Mbak memang gagal, Mbak minta maaf kalau belum bisa jadi Kakak yang bisa kamu pamerkan. Tapi tolong, jangan bentak Ibu," ucap Aira, suaranya bergetar hebat namun ia berusaha tetap tegap.

​Zakia mendengus kasar, menghapus sisa air matanya dengan kasar lalu berbalik arah. "Gak usah sok menceramahi Zakia! Zakia menyesal minta uang ke sini, rumah ini memang selalu bawa sial dan bikin miskin!" bentaknya.

​Dengan langkah mengentak, Zakia keluar dari kamar dan menggeser pintu bambu dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi berdentum yang memilukan. Sunyi kemudian kembali merayap, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam rumah itu.

​Ibu Astri langsung memeluk Aira, tangis wanita tua itu pecah seketika. "Maafkan Ibu, Nduk... Maafkan adikmu. Ibu yang salah tidak bisa mendidiknya dengan benar," ratap Ibu Astri sesenggukan.

​Aira membalas pelukan ibunya erat-erat, air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah juga dan membasahi pundak sang ibu. Di dalam hati yang hancur berkeping-keping, Aira hanya bisa bertanya-tanya pada langit malam Semeru, sampai kapan ia harus mendekap erat badai kehidupan ini sendirian.

...###...

Satu bulan berlalu sejak kejadian hari itu, namun awan mendung di atas kepala Aira seolah enggan beranjak. Cuaca di kaki Gunung Semeru mulai memasuki puncak musim hujan, membuat udara pagi menjadi berkali-kali lipat lebih menusuk tulang.

​Bagi usaha keripik singkong Bu Rika, musim hujan adalah sebuah bencana kecil. Pasokan singkong dari tengkulak sering kali terlambat karena akses jalan ladang yang berlumpur. Akibatnya, volume produksi menurun drastis dan itu artinya, upah harian Aira pun ikut dipangkas.

​"Aira, ini uangmu untuk minggu ini," ucap Bu Rika dingin, menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang lecek ke atas meja administrasi.

​Aira menerima uang tersebut, menghitungnya dalam hati. Dua ratus lima puluh ribu rupiah. Untuk kerja keras selama enam hari, dari pagi hingga sore dengan baju yang selalu basah oleh peluh dan uap minyak panas.

​"Maaf, Bu... apa tidak ada tambahan sedikit? Minggu ini saya banyak lembur membantu menyortir singkong yang busuk di gudang belakang," tanya Aira, mencoba memberanikan diri demi memikirkan botol obat ibunya yang sudah kosong melompong.

​Bu Rika langsung mendelik, melipat tangannya di dada dengan angkuh. "Lho, kamu itu harusnya bersyukur masih saya pekerjakan, Aira! Lihat itu di luar, banyak orang yang antre mau kerja di sini meskipun gajinya dikurangi. Kalau kamu merasa kurang dan mau protes terus, ya silakan cari kerja di tempat lain saja. Toh, sarjana seperti kamu harusnya kerjanya di gedung tinggi, kan? Bukan di sini," sindir Bu Rika dengan nada sarkas yang kental.

​Mendengar ancaman halus itu, Aira langsung mengunci mulutnya. Bayangan wajah Bu Sri yang dipecat secara sepihak beberapa bulan lalu langsung melintas di benaknya. Dengan hati yang menciut, Aira mengangguk pasrah.

"Nggih, Bu. Matur nuwun," lirih Aira.

​Aira berjalan pulang dengan langkah yang terasa seberat timah, dompet kainnya yang tipis ia dekap erat di dalam saku jaket. Uang ini harus ia bagi dengan sangat ketat, membeli beras, minyak goreng, membayar iuran listrik dan obat sendi Ibu. Jelas, uang itu tidak akan pernah cukup.

​Saat melintasi area pasar kecamatan yang ramai, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik melaju perlahan membelah jalanan aspal yang berlubang. Keberadaan mobil mengilat seperti itu tentu langsung menarik perhatian warga desa, termasuk Aira yang sempat menepi di pinggir jalan agar tidak kecipratan genangan air.

​Kaca mobil bagian tengah tampak gelap gulita, menyembunyikan siapa pun yang berada di dalamnya dari pandangan dunia luar yang kumuh. Mobil itu terus melaju, menuju ke arah area perumahan baru yang lebih elite di batas kota Lumajang.

​Aira hanya menatap mobil itu sekilas dengan pandangan kosong, dunia orang-orang kaya di dalam mobil itu terasa jutaan tahun cahaya jauhnya dari realitas hidupnya yang sibuk memikirkan bagaimana cara bertahan hidup esok hari.

​Sesampainya di rumah, Aira mendapati rumahnya sepi. Ibunya sedang tertidur di kamar dengan selimut rajut yang tebal, Aira berjalan ke dapur dan menyalakan kompor gas kecil untuk merebus air panas.

Ketika Aira sedang menunggu air mendidih, ponsel di sakunya bergetar. Notifikasi dari aplikasi pesan singkat berbunyi bertubi-tubi, Aira mengelap tangannya yang basah ke kain serbet lalu meraba saku jaketnya. Dengan dahi berkerut, ia membuka ruang obrolan grup alumni kuliahnya yang sudah berbulan-bulan ia bisukan.

​Grup yang biasanya sepi itu mendadak gaduh dengan puluhan pesan baru.

​Yuki: Guys! Guess who's back? Aku baru sampai di Jakarta nih! Minggu depan aku ada jadwal ke Surabaya buat pekerjaan, sekalian mau mudik. Reuni yuk? Aku kangen banget sama kalian!

​Donna: OMG Yuki! Seriusan? Pas banget, aku juga lagi ambil cuti tahunan di Indonesia. Aku bisa melipir ke Surabaya weekend depan!

​Bram: Wah, boleh tuh. Kebetulan proyek tol wilayah timur lagi aman, bisa digeser tipis-tipis jalannya. Atur tempat!

​Eric: Ikut, kebetulan lagi bosan kerja terus!

​Yuki: Arsen gimana? @Arsen Kamu lagi di Jakarta atau London?

​Arsen: Di Jakarta, kebetulan minggu depan ada pembukaan cabang galeri furnitur baru di Surabaya, saya bisa gabung.

Eric: Nih orang ya, kakunya nggak ilang-ilang hahaha.

.

.

.

Bersambung.....

1
Aidil Kenzie Zie
yang nangani Dokter Kandungan malah disuruh periksa lagi di Dokter Kandungan 🤔🤔🤔 mungkin suruh USG kali y🤔🤔🤔
elaretaa: Maaf, salah Kak. Seharusnya dokter umum itu, terus nanti dibawa ke dokter kandungan🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Felycia Fernandez
bukannya tadi di part atas di jelaskan kalau dokter yang keluar dokter wanita spesialis kandungan..
kenapa bisa ada dokter kandungan lagi di dalam..
Felycia Fernandez: semangat revisi kk Thor
total 2 replies
Allfa Rizky
sayang ya Zakia sifatnya plek ketiplek bapaknya
erviana erastus
didunia nyata apa ada suami spti ini? 🤭
erviana erastus
syukurlah semua baik-baik aza
Felycia Fernandez
naaaah bener tebakan ku kemaren, Aira mengalami eklamsia...
Bunga Andthea
sempet deg deg an bacanya
falea sezi
preeklamsia ya 😓
Felycia Fernandez
lho kenapa?? demam kah??
erviana erastus
apa efek anestesi nya sdh hilang dan aira nggak bisa menahan rasa sakit? 🤔
erviana erastus: ho oh
total 2 replies
Felycia Fernandez
jadi ingat waktu kontraksi, sudah sehari 2 malam ngalami kontraksi,tapi mentok di pembukaan 3 terus . akhirnya SC pun dilakukan
Aidil Kenzie Zie
tu si Ibu Ami masih waras nggak mau ganggu Aira 👍🏻
Felycia Fernandez
kesabaran Aira yang punya bapak lucknut dulunya
Felycia Fernandez
lucu 🤣🤣🤣🤣
cari juga la suami kaya...
kalau perlu jadi jalang sekalian
Syifa Fauziah
ulalaaaaaa,,, pagi2 udh gemess liat arsen dan airaa😍🤭.
erviana erastus
omg ternyata adik kandung toh ckckck gila bener .... mau numpang hidup enak sama aira 🤣 nggak waras kek pantes nyusul bpk sama pmnx dipenjara biar rasa
Felycia Fernandez
ternyata darah pak Hilma mengalir deras di tubuh Zakia...
🤣🤣🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Bu Ami beneran sayang Ama Zakia
erviana erastus
licik kek bapakx ckckck 🤬🤬🤬
Felycia Fernandez
ini lagi duo lambe...
mau ikutan juga Bu...
ayo bergosip lagi...
makin sip di tiap warung ...😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!