NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Dua Malik

Klik.

​Pintu ruangan marmer hitam itu tertutup rapat, seketika memutus pandangan kepo dari anak-anak divisi kreatif di luar. Begitu pintu terkunci, atmosfer ramah dan hangat yang tadi dibawa Devan mendadak berubah jadi agak berat.

​Devan langsung berjalan santai menuju sofa kulit, mengempaskan tubuhnya di sana sambil menyilangkan kaki dengan gaya yang sangat bos besar. Sementara itu, Arsen melangkah tegap ke balik meja kerjanya, duduk di kursi kebesarannya tanpa melepaskan tatapan mengintimidasi dari sang adik.

​Senja berdiri kaku di dekat meja, memegangi map laporan bulanan yang sebenarnya cuma buat alasan saja.

​"Jadi, Kak..." Devan membuka suara, nadanya santai tapi matanya melirik ke arah Senja dengan binar jenaka. "Asisten lo yang satu ini emang beda ya. Biasanya asisten lo cowok-cowok berbadan tegap yang mukanya mirip robot semua. Yang ini... manis banget. Senja, lo udah punya pacar belum?"

​Senja agak tersentak mendapat pertanyaan pribadi yang begitu blak-blakan di depan bosnya. Belum sempat Senja menjawab, suara ketukan pulpen Arsen di atas meja marmer terdengar begitu nyaring dan dingin.

​Tuk.

​"Devan. Taruh vitamin yang kamu bawa di meja depan, setelah itu kamu bisa keluar. Saya sibuk," potong Arsen, suaranya sedingin es.

​Devan malah terkekeh, sama sekali nggak terintimidasi. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, menaruhnya di meja kopi, lalu kembali menatap Senja. "Abaikan aja abang gue yang hobi ngusir orang ini, Senja. Oh iya, lo suka nonton konser gak? Kebetulan minggu depan band indie kesukaan gue lagi ada gigs privat di Jakarta Selatan. Gue punya dua tiket VIP."

​Mendengar nama band indie yang disebut Devan, mata Senja langsung berbinar tanpa sadar. Itu band favorit Senja yang lagunya selalu dia putar pakai earphone tiap kali lagi lembur malam di kubikel!

​"Hah? Serius, Van? Band itu? Kok lo bisa dapet tiket privatnya? Itu kan susah banget war-nya!" sahut Senja heboh, mendadak lupa kalau dia lagi di depan bos tirannya. Jiwa fangirl-nya langsung keluar karena ngerasa bener-bener sefrekuensi.

​"Nah, kan! Tebakan gue bener, muka-muka kayak lo pasti seleranya musik-musik begitu," Devan langsung menegakkan duduknya, kelihatan makin bersemangat karena pancingannya berhasil. "Gue kenal sama managernya. Gimana kalau kita tukeran nomor WhatsApp? Nanti gue kirim e-ticket-nya ke lo. Mau, kan?"

​Devan mengeluarkan ponselnya, menyodorkannya ke arah Senja dengan senyum menawan yang sangat luwes.

​Senja yang merasa dapet rezeki nomplok langsung meraba saku rok kerjanya, berniat mengambil ponselnya. "Wah, boleh banget—"

​"Senja Naura."

​Panggilan dengan nada rendah, berat, dan penuh ancaman terselubung itu menggema di dalam ruangan. Arsen berdiri dari kursinya. Kedua telapak tangannya menopang di atas meja marmer hitam, tubuh tegapnya condong ke depan, mengunci Senja dengan sepasang mata elang yang bener-bener berkilat marah dan cemburu besar.

​"Kembalikan fokus kamu pada pekerjaan. Keluar dari ruangan ini sekarang dan selesaikan laporan yang saya minta," perintah Arsen, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang sangat lambat tapi mematikan. Pria itu benar-benar gerah dan tidak tahan melihat asistennya tersenyum lepas dan sefrekuensi dengan pria lain—apalagi pria itu adalah Devan.

​Senja langsung menelan ludah. Kedekatannya dengan Devan mendadak buyar terguyur aura dingin Arsen. Dia buru-buru menarik kembali tangannya dari saku. "B-baik, Pak Arsen. Saya permisi keluar dulu."

​Devan yang melihat pemandangan itu cuma bisa menyunggingkan seringai tipis yang penuh kemenangan di bibirnya. Dia sengaja berdiri, berjalan mendekati Senja yang mau melangkah ke pintu, lalu berbisik dengan volume yang sengaja dibuat agar bisa didengar oleh Arsen.

​"Sayang banget diganggu. Ya udah, nanti nomor lo gue minta ke anak HRD aja ya, Senja. Sampai ketemu minggu depan di konser," ucap Devan luwes, sengaja mengedipkan sebelah matanya dengan akrab.

​Senja cuma bisa tersenyum canggung bercampur takut sambil buru-buru memutar knop pintu dan keluar dari ruangan laknat itu secepat mungkin, menutup pintu di belakangnya dengan napas terengah-engah.

​Begitu pintu tertutup dan menyisakan dua bersaudara Malik di dalam ruangan, senyum ramah di wajah Devan seketika lenyap total. Dia berbalik, menatap Arsen yang kini sedang mengepalkan tangannya di atas meja sampai buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak cemburu yang membakar dadanya.

​"Jangan pernah menyentuh apa yang ada di sekitar saya, Devan. Terutama dia," desis Arsen, suaranya terdengar seperti seringai serigala yang siap menerkam mangsanya di kegelapan.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!