NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Di Balik Pintu Ruang Sidang

Dinding partisi digital berwarna merah yang diproyeksikan dari langit-langit amfiteater mengunci setiap peserta di kursi mereka masing-masing. Jarak antar-tribun yang tadinya hanya beberapa sentimeter kini terasa seperti jurang pemisah yang tak tertembus. Sinyal pada perangkat komunikasi sekunder mati total. Keheningan yang pekat dan menyesakkan langsung menguasai seluruh ruangan.

Di tengah amfiteater, sebuah pintu logam hidrolik setinggi tiga meter yang tertanam di dinding dasar perlahan bergeser terbuka. Di atas lengkungan pintu tersebut, lampu neon memancarkan tulisan berpendar: Ruang Sidang Senat Veritas. From dalam ruangan itu, hawa sedingin es merayap keluar, membawa aura otoritas yang mutlak dan tak tergoyahkan.

“Peserta Nomor 142. Dimas Arvant Nugraha. Silakan memasuki Ruang Sidang,” suara asisten virtual bergema tanpa emosi.

Dimas, yang terisolasi di zona merahnya, tampak tersentak. Wajahnya seketika kehilangan warna. Ia melirik ke arah Nabila yang berada beberapa baris di bawahnya, namun partisi digital mengaburkan pandangan mereka. Dengan bahu yang tegang dan langkah yang berat, Dimas berjalan menuruni tangga tribun menuju pintu logam tersebut. Begitu tubuhnya melewati ambang pintu, desis hidrolik terdengar dan pintu langsung menutup rapat dengan bunyi yang berat.

Sepuluh menit berlalu dalam ketegangan yang menyiksa. Tidak ada suara teriakan, tidak ada bunyi simulasi komputer, tidak ada indikator apa pun yang bocor dari balik dinding tebal itu.

Ketika pintu kembali terbuka, Dimas melangkah keluar. Namun, penampilannya membuat sisa peserta menahan napas. Pemuda yang biasanya selalu siaga membantu Nabila itu kini berjalan dengan pandangan yang benar-benar kosong, seolah jiwanya telah direnggut paksa. Ia tidak diarahkan kembali ke tribun, melainkan digiring oleh dua petugas keamanan menuju koridor evakuasi luar. Namanya di papan skor digital raksasa mendadak berubah menjadi abu-abu dengan status: Processed.

"Apa yang mereka lakukan di dalam sana?" Keisya mengepalkan tangannya di balik partisi digital, matanya bergerak gelisah. Ujian ini sama sekali tidak bisa diprediksi. Ini bukan lagi tentang menjawab soal atau menyusun strategi kelompok. Ini adalah ruang gelap yang menuntut sesuatu yang tidak diketahui oleh siapa pun.

Satu per satu peserta mulai dipanggil berdasarkan urutan acak algoritma. Skenarionya selalu sama: mereka masuk dalam kondisi tegang, dan keluar dalam kondisi hancur secara mental entah dengan tatapan kosong, tangis yang tertahan, atau kemarahan yang membeku. Tidak seorang pun dari mereka yang diizinkan kembali untuk berbicara dengan peserta lain.

Raka Elang dipanggil pada urutan kedua puluh. Saat berjalan menuju pintu, ia sempat melempar senyum menantang ke arah podium Profesor Adrian. Namun, ketika ia keluar lima belas menit kemudian, rahangnya mengencang begitu keras hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar. Buku-buku jarinya memutih, menahan gemetar kemarahan yang luar biasa seolah egonya baru saja diinjak-injak hingga lumat.

Kirana Safira mendapatkan gilirannya tak lama setelah Raka. Gadis yang selalu tersenyum itu menarik napas dalam-dalam, menata almamaternya, dan melangkah masuk dengan keanggunan yang dipaksakan tetap kokoh. Di dalam hati, Kirana yakin bahwa catatan kelemahan peserta lain yang ia kumpulkan akan menjadi posisi tawar yang kuat di hadapan dewan yayasan.

Namun, saat Kirana keluar sepuluh menit kemudian, senyum statis yang ia pertahankan sejak awal seleksi akhirnya runtuh sepenuhnya. Sudut bibirnya bergetar, dan sepasang matanya memancarkan ketakutan yang mendalam sebuah ekspresi horor murni dari seseorang yang baru saja menyadari bahwa seluruh rahasia dan topengnya telah dikuliti sampai ke akar terdalam oleh para penguji di dalam sana.

Di tribun teratas, Atharva memperhatikan setiap detail perubahan emosional para rivalnya dengan mata yang dingin dan kalkulatif.

Ruang sidang itu tidak menilai kemampuan akademik, analisis Atharva dalam hati. Tempat itu adalah ruang eksekusi psikologis. Mereka menggunakan seluruh data biometrik, trauma masa lalu, dan catatan perilaku selama seleksi untuk menghantam titik terlemah dari ego masing-masing peserta. Mereka sedang mencari tahu, apa yang bisa membuat para jenius ini berlutut dan memohon.

“Peserta Nomor 002. Keisya Aurellia Wibisono. Silakan memasuki Ruang Sidang.”

Keisya menegakkan punggungnya. Ia melirik ke arah Atharva untuk terakhir kalinya sebelum partisi digitalnya turun sepenuhnya. "Aku tidak akan membiarkan mereka menghapus nama papaku dari tempat ini," bisik Keisya pada dirinya sendiri, mengunci emosinya di balik tatapan matanya yang tajam sebelum melangkah masuk ke dalam kegelapan Ruang Sidang Senat.

...****************...

Pintu hidrolik menutup di belakang Keisya dengan desis berat yang langsung memutus sisa suara dari amfiteater luar. Di dalam ruangan itu, kegelapan hampir mutlak, menyisakan sebuah meja melingkar di tengah ruangan yang diterangi oleh satu lampu sorot vertikal yang tajam.

Di seberang meja, tiga sosok siluet duduk dalam keheningan yang menekan. Keisya tidak bisa melihat wajah mereka, namun emblem perak bersimbol di dada seragam mereka memantulkan cahaya putih lampu dengan dingin.

"Duduk, Keisya Aurellia Wibisono," sebuah suara wanita dari arah siluet tengah membuka sidang, suaranya terdengar seperti distorsi digital yang mekanis.

Keisya melangkah maju, menolak untuk memperlihatkan getaran sekecil apa pun pada langkah kakinya. Ia menarik kursi logam yang dingin dan duduk dengan punggung tegak, menatap lurus ke arah tiga siluet di depannya.

Detik berikutnya, layar proyektor di atas meja menyala, menampilkan berkas-berkas digital kedokteran yang sangat familier bagi Keisya. Itu adalah rekam medis ayahnya, lengkap dengan catatan penelitian orisinal yang pernah mendadak hilang dari laboratorium pusat sepuluh tahun lalu.

"Kami tahu mengapa kamu berada di sini," suara dari siluet sebelah kiri, seorang pria, terdengar mendengung. "Kamu datang bukan untuk menjadi Top 1% bagi masa depanmu. Kamu datang untuk mencari keadilan atas nama Dr. Wibisono. Sebuah pencarian yang sangat sentimental... dan sangat tidak efisien."

Rahang Keisya mengencang. "Kalian mencuri riset Papa, lalu mengeliminasinya dari proyek utama Nexus saat dia menolak bekerja sama."

"Kami tidak mencuri, Keisya. Kami mengambil hak milik intelektual yang didanai oleh yayasan," potong siluet tengah dengan nada yang sepenuhnya datar. "Pertanyaan sidangmu hari ini sangat sederhana. Jika kami memberikan kembali seluruh hak paten nama ayahmu, membersihkan reputasinya di jurnal internasional, dan menjamin pendanaan medisnya seumur hidup... apakah kamu bersedia menyerahkan kartu perakmu sekarang, berjalan keluar dari pintu belakang, dan menandatangani perjanjian untuk melupakan nama Nexus Academy selamanya?"

Layar di depan Keisya beralih menampilkan draf surat perjanjian digital, lengkap dengan tombol otorisasi sidik jari di atas meja.

Ini adalah pertanyaan tanpa jawaban benar. Pilihan antara ambisi membalas dendam melalui jalur kompetisi internal, atau moralitas seorang anak yang ingin menyelamatkan sisa hidup ayahnya yang hancur.

Keisya menatap tombol otorisasi tersebut. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Ia menyadari bahwa jika ia menolak, yayasan ini memiliki kuasa penuh untuk mempersulit pengobatan ayahnya di luar sana. Namun jika ia menerima, ia akan membiarkan kejahatan sistemik Nexus terkubur selamanya tanpa pernah terungkap.

Di luar ruangan, Atharva masih menunggu di tribun teratas. Jam digital raksasa di langit-langit amfiteater menunjukkan waktu telah berlalu lima belas menit sejak Keisya masuk.

Tepat pada menit kedelapan belas, pintu logam kembali bergeser terbuka.

Keisya melangkah keluar. Langkah kakinya tidak goyah seperti Dimas, dan rahangnya tidak mengencang seperti Raka. Namun, saat ia berjalan melewati lampu sorot koridor, Atharva bisa melihat bahwa mata gadis itu memancarkan kekosongan yang dingin sebuah ekspresi dari seseorang yang baru saja dipaksa membuat pilihan yang merenggut sebagian dari prinsip hidupnya. Ia digiring oleh petugas tanpa diizinkan menoleh ke belakang.

Status Keisya di papan skor berkedip merah sebelum berubah menjadi abu-abu: Processed – Conditional Retention.

“Peserta Nomor 001. Atharva. Silakan memasuki Ruang Sidang.”

Suara asisten virtual itu menjadi panggilan terakhir di dalam amfiteater yang kini hampir kosong melongpong. Atharva berdiri dari kursinya, merapikan lipatan lengan seragamnya dengan gerakan yang sangat santai, lalu melangkah turun menuruni undakan tribun.

Ia tidak membawa rasa takut, tidak membawa dendam masa lalu, dan tidak membawa topeng apa pun untuk dihancurkan. Saat pintu hidrolik di depannya bergeser terbuka, Atharva berjalan masuk ke dalam kegelapan Ruang Sidang Senat dengan kesadaran penuh bahwa dialah satu-satunya variabel yang tidak akan pernah bisa mereka tebak jawabannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!