Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batasan yang Goyah
Detak jarum jam dinding di ruang kerja yang sunyi itu terasa berdentang begitu keras, kontras dengan keheningan mencekam yang mendadak mengunci pergerakan Adrian dan Aisha.
Napas Aisha memburu pendek, berembus halus di permukaan kemeja hitam yang membalut dada bidang Adrian. Telapak tangan Aisha yang kecil refleks bertumpu pada pundak kokoh sang CEO, mencari pegangan agar tubuhnya tidak benar-benar merosot jatuh ke lantai marmer yang dingin. Di bawah sentuhan yang tak sengaja itu, Adrian bisa merasakan bagaimana tubuh wanita di pelukannya ini bergetar hebat—bukan lagi karena trauma akan masa lalunya, melainkan karena debaran asing yang mendadak menyerang mereka berdua.
Mata elang Adrian, yang biasanya dipenuhi kalkulasi bisnis dan kedinginan yang absolut, perlahan melunak saat menatap manik mata bulat Aisha yang jernih namun menyiratkan kepolosan yang mendalam. Ada dorongan aneh, sebuah letupan emosi yang sudah setahun lebih mati di dalam dada Adrian, mendadak bergejolak hebat menuntut untuk dilepaskan.
Aisha adalah orang pertama yang menyadari betapa berbahayanya posisi mereka saat ini. Kesadarannya tersentak kembali pada kenyataan pahit: ia hanyalah seorang pekerja, seorang wanita malang yang dibayar untuk air susunya, sementara pria yang memeluknya adalah penguasa bisnis yang kastanya tak akan pernah bisa ia gapai.
"T-Tuan Adrian... maafkan saya," bisik Aisha terbata-bata dengan sisa keberaniannya. Ia berusaha menarik tubuhnya mundur, melepaskan keterpakuannya.
Mendengar suara parau Aisha, Adrian seolah tersadar dari hipnotis. Ia segera melepaskan cengkeraman tangannya di pinggang Aisha dengan gerakan yang sedikit canggung, lalu mundur satu langkah untuk kembali menegakkan benteng kaku di wajahnya. Pria itu mendehem pelan, memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.
"Lain kali, perhatikan langkahmu," ucap Adrian, suaranya kembali datar dan bariton, mencoba menyembunyikan getaran aneh yang baru saja mengacaukan ritme jantungnya. "Aku tidak mau pekerjaku terluka dan mengganggu jadwal menyusu Kael."
"Baik, Tuan. Saya... saya permisi kembali ke paviliun," kata Aisha dengan kepala tertunduk dalam, menyembunyikan rona merah yang membakar kedua pipinya. Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, ia bergegas membalikkan badan dan setengah berlari keluar dari ruangan kerja, menutup pintu kayu jati itu dengan rapat.
Begitu pintu tertutup, Aisha menyandarkan punggungnya di dinding lorong yang sepi. Ia meremas dadanya yang berdegup kencang, mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. *“Jangan bodoh, Aisha. Ingat kontrakmu. Jangan biarkan hatimu terlibat,”* rantaunya dalam hati, mencoba memperingatkan dirinya sendiri sebelum melangkah kembali ke paviliun belakang.
---
Sementara itu, di dalam ruang kerja, Adrian tidak langsung kembali duduk di belakang meja marmernya. Ia tetap berdiri tegak, menatap telapak tangannya sendiri yang beberapa detik lalu merasakan kelembutan pinggang Aisha. Kehangatan tubuh wanita itu seolah masih tertinggal di kulitnya, meruntuhkan fokus yang selama ini ia banggakan.
Adrian mendengus kasar pada dirinya sendiri, merasa frustrasi atas hilangnya kendali emosinya yang langka terjadi.
*Tok, tok, tok.*
"Masuk," perintah Adrian, suaranya kembali dingin sempurna.
Hendra melangkah masuk dengan raut wajah yang lebih serius dari biasanya. Ia membawa sebuah map baru berwarna hitam yang langsung diletakkannya di atas meja. "Tuan Adrian, ada perkembangan terbaru mengenai latar belakang Nona Aisha yang baru saja dikirimkan oleh tim investigasi lapangan kita di kampung halamannya."
Adrian menyipitkan mata, berjalan mendekati meja. "Apa yang mereka temukan?"
Hendra membuka map tersebut, menampilkan beberapa dokumen medis lama dari Rumah Sakit Umum Daerah tempat Aisha melahirkan. "Ini mengenai anak kandung Nona Aisha yang dinyatakan meninggal dunia oleh keluarga suaminya seminggu yang lalu."
Hendra menjeda kalimatnya, menatap Adrian dengan pandangan yang sarat akan arti. "Tim kita menemukan kejanggalan besar pada manifes rumah sakit dan catatan pemakaman. Tidak ada catatan resmi mengenai kematian bayi dari Nona Aisha pada hari itu. Pemakaman yang diklaim oleh Taufik dan ibunya... ternyata fiktif."
Rahang Adrian seketika mengeras mendengar laporan tersebut. Sepasang matanya memancarkan kilat kemarahan yang berbahaya. "Maksudmu... anak itu masih hidup?"
"Kemungkinan besar begitu, Tuan," jawab Hendra tegas. "Ada indikasi kuat bahwa Taufik dan ibunya sengaja memalsukan kematian bayi tersebut dan... menjualnya demi melunasi utang judi online yang menjerat mereka."
Mendengar kenyataan yang begitu kejam dan menjijikkan itu, Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih keras. Rasa muak dan amarah yang luar biasa membakar dadanya—bukan hanya karena kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh keluarga Taufik, melainkan karena ia membayangkan betapa hancurnya hati Aisha jika wanita itu mengetahui bahwa bayi yang ditangisinya setiap malam ternyata dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
"Hendra," panggil Adrian, suaranya merendah hingga ke titik paling dingin yang mematikan.
"Iya, Tuan Adrian?"
"Cari bayi itu sampai dapat. Kerahkan seluruh jaringan dan uangku. Aku ingin bayi itu ditemukan dalam kondisi selamat sebelum sampah-sampah itu menyadarinya. Dan satu lagi..." Adrian menatap tajam ke arah pintu ruang kerjanya. "...rahasiakan hal ini dari Aisha sampai kita memegang bukti yang mutlak. Aku sendiri yang akan menyelesaikan para keparat itu."
---
Bersambung