Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tertukar
"Yao Yao, kakak tak akan merebut apapun darimu. Percayalah kepadaku. Aku sama sepertimu, kita sama-sama korban!"
Kesadaran Xue Yao akhirnya terbangun dari kekacauan yang samar. Saat membuka mata, ia mendapati dirinya berada ditepi sebuah danau.
Air danau yang biru jernih membentang dihadapannya, hanya berjarak satu langkah dari tempat ia berdiri. Keadaan disekeliling begitu sunyi. Hanya ada dirinya, dan seorang gadis dihadapannya yang menatapnya dengan wajah penuh iba.
Gadis itu tampak berusia sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun. Parasnya lembut dan rapuh, kini matanya merah sembab karena menangis. Seolah-olah baru saja menanggung penderitaan yang amat besar.
"Aku tahu, selama delapan belas tahun aku telah menempati identitasmu. Aku minta maaf kepadamu. Namun Yao Yao, perasaanku pada ayah, ibu, dan kakak A Mo semuanya nyata! Bisakah kau memaafkanku? Aku hanya ingin tetap tinggal dikeluarga Xue dan menemani mereka. Selain itu, aku tidak menginginkan apapun! Aku tidak akan mempengaruhimu!"
Gadis itu menarik tangan Xue Yao. Sepasang matanya seolah menatap Xue Yao. Namun sebenarnya pandangan menembus bahu Xue Yao, mengarah kedua sosok yang semakin mendekat dari belakang.
Inilah saatnya.
"Xue Yao, kau sudah tamat."
Gadis itu tiba-tiba merendahkan suaranya dan berbisik. Seluruh ekspresi kasihan diwajahnya lenyap seketika, digantikan oleh kilatan puas dimatanya. Kemudian ia melepaskan tangan Xue Yao dan dengan sengaja menjatuhkan diri kebelakang.
Dari sudut pandang orang-orang yang datang dari arah belakang Xue Yao, pemandangan itu tampak seolah-olah Xue Yao telah mendorong gadis tersebut kedalam danau.
Namun dalam sekejap, rasa puas diwajah gadis itu berubah menjadi keterkejutan. Tubuhnya terhenti diudara dalam posisi yang canggung. Karena ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari genggaman Xue Yao.
Tangan itu mencengkramnya bagaikan penjepit besi dan ditelapak tangan Xue Yao, seolah ada satu jari yang telah menggoreskan sesuatu.
'Bagaimana ini? Kakak A Mo dan yang lainnya akan segera tiba!'
Kepanikan melintas diwajahnya.
'Baiklah, mari kita lihat. Siapa sebenarnya yang tamat.'
Xue Yao tersenyum tipis, ekspresinya mengandung ejekan. Ia menarik gadis itu bersamanya, lalu dengan keras menjatuhkan diri kearah danau.
Byurr!!
Disertai suara keras, keduanya jatuh bersamaan kedalam danau.
"Su Chen, cepat selamatkan A Ling!"
Dua pria yang baru tiba dilokasi menyaksikan dengan jelas adegan jatuhnya kedua orang itu kedalam air. Pria yang bertubuh sedikit lebih pendek tampak sangat cemas. Ia segera melepaskan jasnya dan sambil memanggil nama A Ling, bersiap melompat kedanau.
A Ling adalah nama gadis lemah lembut itu.
Namun, pria disampingnya yang mengenakan kaos hitam sederhana yang dipanggil Su Chen, segera menahannya dan menunjuk kearah danau.
"Menurutmu Xue Ling perlu diselamatkan?"
Dipermukaan danau, Xue Ling tampak panik meronta-ronta sambil berteriak meminta tolong. Namun tubuhnya terus mengapung dengan canggung diatas air, tanpa tanda-tanda tenggelam sedikitpun.
Rambutnya yang basah terurai menutupi wajah. Kini, Xue Ling tidak lagi memiliki kesan rapuh yang mengundang iba. Dengan gerakan minta tolong yang berlebihan, ia tampak seperti seeor bebek air yang menggelepar tanpa arah.
Konyol dan menggelikan.
Barulah Su Chen merasa, jika diberi beberapa menit lagi, Xue Ling mungkin akan mengayuh sendiri menuju tepi danau.
Yang benar-benar dalam bahaya adalah orang lain.
Pandangan Su Chen beralih kedalam danau. Melalui air yang sangat jernih, ia dapat melihat tubuh Xue Yao yang perlahan-lahan meluncur kedasar danau.
Ia melirik dingin kearah Xue Mo disampingnya dan mendapati seluruh perhatian pria itu tertuju pada Xue Ling. Tanpa membuang kata-kata lagi, Su chen segera menyelam kedalam danau.
"Su Chen!"
Barulah Xue Mo tersadar. Ia menoleh kembali kearah Xue Ling yang masih menggelepar. Perasaannya bercampur aduk, namun akhirnya ia tetap turun kedanau dan dengan paksa menyeret Xue Ling ke tepi.
Hampir bersamaan dengan mereka naik kedarat, Su Chen juga muncul dari dalam danau sambil menggendong seseorang.
Su Chen meletakkannya ditempat yang agak rata ditepi danau, lalu segera melakukan pertolongan pertama bagi korban tenggelam. Sambil itu, ia menoleh tajam kearah Xue Mo yang duduk tertegun.
"Panggil dokter! Dia ini adikmu atau adikku? Mengapa kau malah melamun?"
"Dia bukan..." adikku.
Xue Mo hampir saja secara refleks mengucapkan kalimat itu, namun segera menyadari ada yang tidak beres. Ia pun menundukkan kepala dan meraih ponsel dari saku jas yang dilempar kesamping.
Sementara itu, Xue Ling duduk terpaku ditanah, menatap semua yang terjadi dihadapannya.
Bagaimana bisa begini?
Mengapa tadi ia justru mengapung dipermukaan air? Mengapa sekeras apapun ia berusaha, ia tidak bisa tenggelam.
Ketidakmampuannya untuk tenggelam membuat seluruh rencana yang telah ia susun berubah menjadi bahan tertawaan.
Dan Xue Yao? Mengapa dia tiba-tiba berubah seolah menjadi orang lain, bahkan menyeretnya jatuh bersama kedalam danau?
Beberapa detik sebelumnya, Xue Yao telah memahami sepenuhnya siasat gadis dihadapannya. Tidak lebih dari jebakan murahan berupa tuduhan mendorong orang jatuh keair.
Kasar, namun efektif. Sangat mudah membuat seseorang tak mampu membela diri.
Meskipun saat ini ia masih kehilangan sebagian ingatan dan belum memahami sepenuhnya situasi yang ia hadapi, namun niat jahat gadis itu terhadapnya sudah hampir meluap.
Jika demikian, tentu ia tidak akan menelan kerugian ini dalam diam.
Maka ketika tangan mereka saling menggenggam, Xue Yao segera mengerahkan seluruh kekuatan kesadaran spiritual yang dapat ia himpun saat ini. Dengan jari sebagai pengganti cinnabar, ia langsung menggambar sebuah jimat unsur air.
Itu adalah teknik dasar bagi sekte kultivator jimat. Sesuai namanya, jimat ini memungkinkan seseorang mengapung diair, seolah berjalan didaratan.
Kau ingin berpura-pura jatuh keair untuk menarik simpati? Maka aku akan membuatmu bahkan tidak bisa tenggelam walau kau menginginkannya.
Dengan puas melihat Xue Ling menggelepar dipermukaan danau tanpa mampu tenggelam, Xue Yao akhirnya melepaskan kekuatan disekujur tubuhnya, membiarkan dirinya sendiri tenggelam kedasar danau.
Setelah itu, ia merasakan sebuah sosok menariknya kedalam pelukan dan membawanya berenang menuju tepi.
"Kakek..."
Saat muncul kepermukaan, Xue Yao merasakan serpihan ingatan yang mengalir masuk kedalam kesadarannya. Ia mengerutkan kening dan bergumam pelan, lalu membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan.
Su Chen mendengar panggilan itu dengan sangat jelas.
Setelah melakukan pertolongan hingga Xue Yao memuntahkan air dalam perutnya, Su Chen melihatnya dibawa kedalam ambulans.
Didalam ambulans, hanya ada seorang kepala pelayan dari keluarga Xue yang ikut menemani.
Sementara itu, kakak kandung Xue Yao, Xue Mo masih berada disana menunduk dan dengan lembut menenangkan adik angkatnya, Xue Ling.
Padahal, selain kelelahan karena terlalu lama menggelepar diair, gadis itu tampak lebih sehat dibanding siapapun ditempat kejadian.
Xue Mo tampaknya juga telah menelepon orang tua mereka untuk menjelaskan situasi. Kini Xue Ling memegang telepon itu, berbicara pelan sambil melaporkan keadaannya.
Sesekali wajahnya menunjukkan ekspresi manja, sepenuhnya menampilkan sikap seorang anak perempuan yang disayangi.
Dan Xue Mo, dengan sikap protektif memeluknya erat seolah menjadi perisai pelindung.
Sungguh keluarga yang harmonis.
Seakan semua orang lupa, bahwa didalam ambulans itu juga ada seseorang yang bermarga Xue.
Dialah putri keluarga Xue yang sah dan diakui, adik kandung Xue Mo yang sesungguhnya.
Su Chen menyunggingkan senyum sinis.
Pantas saja ketika keluar dari air dalam keadaan setengah sadar, yang ia panggil bukanlah ayah dan ibu, melainkan kakek.
Keluarga Xue benar-benar sudah busuk sampai ke akarnya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Xue Yao akhirnya membiarkan kesadarannya dipenuhi oleh ingatan yang datang bertubi-tubi.
Jati diri asli Xue Yao berasal dari dunia kultivasi. Dari sekte jimat dan formasi terbesar, Sekte Yiyuan. Ia adalah murid pertama ketua sekte, dengan masa depan yang semula amat gemilang.
Namun suatu hari, sekte itu tiba-tiba diserang oleh Raja Iblis beserta pasukannya. Ribuan murid sekte dibantai tanpa ampun.
Hanya dirinya yang selamat, karena saat itu ia sedang berlatih tertutup disebuah alam rahasia, dan lolos berkat ketua sekte yang mengerahkan seluruh kultivasinya untuk mengaktifkan formasi teleportasi.
Ia melarikan diri sambil membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, berharap suatu hari dapat membalas dendam bagi sektenya.
Untuk menghindari pengejaran Dunia Iblis, ia hanya berani mencari peluang dialam-alam rahasia yang penuh bahaya.
Namun, ia tetap ditemukan. Para kultivator iblis bahkan menjebaknya dalam kepungan mematikan.
Demi secercah harapan hidup, Xue Yao akhirnya memilih untuk menghancurkan kultivasinya sendiri, memecah kesadaran spiritualnya secara paksa. Ia berharap, diantara serpihan itu, ada satu yang cukup beruntung untuk bertahan, menyerap energi langit dan bumi lalu kembali berkultivasi.
Namun tak disangka, pada saat kesadarannya hancur, seluruh serpihan tersebut justru diserap kedalam Cincin Zhutian.
Akibat ledakan diri itu, kesadaran Xue Yao tertidur hampir seratus tahun.
Ketika ia terbangun, ia mendapati bahwa serpihan kesadarannya telah tersebar keberbagai dunia melalui Cincin Zhutian. Karena kesadaran yang tidak utuh dan terluka, sifat tiap serpihan menjadi murni dan mudah mempercayai orang lain, sehingga kehidupan mereka pun tampak penuh penderitaan.
Keterikatan batin mudah melahirkan iblis hati. Untuk menghapus keterikatan tersebut, yang harus dilakukan Xue Yao adalah memanfaatkan Cincin Zhutian, kembali ketitik waktu yang tepat ditiap dunia. Menyelesaikan keterikatan masing-masing serpihan, lalu mengumpulkannya kembali untuk membentuk ulang kesadarannya.
Kini, inilah dunia tempat serpihan pertama berada.
Dan ingatan yang baru saja diterimanya, bahkan membuat Xue Yao yang biasanya tenang dan dingin pun bergejolak emosinya.
Ternyata, serpihan kesadarannya hidup sedemikian menyedihkan?!
Mereka benar-benar memperlakukannya seperti itu?!
Seiring gelombang kesadaran Xue Yao bergejolak hebat, alat-alat didalam ambulans pun mulai berbunyi nyaring.
"Tidak baik! Detak jantung pasien menurun!"
Berbagai tindakan penyelamatan segera dilakukan.
Bukan hanya para dokter yang panik, kepala pelayan yang duduk disamping pun ikut gelisah.
'Apakah... Apakah ini akan merenggut nyawa?'
Setelah ragu cukup lama, ia akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor.