SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompas Laut Roh
Bab 17: Kompas Laut Roh
Suara ombak memecah keheningan dini hari ketika Ethan Mahendra berdiri di balkon apartemennya. Angin laut membawa aroma garam yang lebih pekat daripada biasanya, diselingi aliran qi tipis yang hampir mustahil dirasakan manusia biasa.
Sejak kemunculan bayangan Kota Langit di tengah lautan, keseimbangan energi di sekitar kota mulai berubah.
Perubahan itu masih sangat kecil.
Namun bagi seseorang yang pernah mencapai Alam Kaisar Abadi, perubahan sekecil embusan napas pun mampu menjadi petunjuk.
Ethan menutup mata.
Kesadarannya menyebar perlahan mengikuti aliran qi bumi.
Beberapa simpul energi yang sebelumnya tenang kini mulai berdenyut tidak teratur.
Satu berada di Pelabuhan Timur.
Satu lagi di Bukit Sunyi.
Dan titik ketiga...
berada jauh di tengah laut.
"Segel mulai saling terhubung."
Ia membuka mata.
"Itu berarti waktuku semakin sedikit."
Pagi harinya, Nadia datang membawa sebuah koper logam kecil.
Wajahnya tampak lelah.
"Aku diikuti sejak keluar rumah."
Ethan membuka pintu tanpa banyak bicara.
"Masuk."
Begitu pintu tertutup, ia mengambil selembar kertas putih, lalu menggambar beberapa simbol sederhana menggunakan tinta hitam.
Qi tipis mengalir ke ujung jarinya.
Simbol itu langsung menyala redup.
Formasi Penyembunyi Jejak.
Bukan formasi yang kuat, tetapi cukup untuk menghapus sisa aura yang menempel pada Nadia.
Wanita itu memperhatikan dengan kagum.
"Kau bahkan bisa membuat formasi dari tinta biasa?"
"Tinta bukan inti formasi."
"Lalu?"
"Niat."
Jawaban Ethan sesingkat biasanya.
Ia kemudian membuka koper tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah cakram perunggu sebesar telapak tangan.
Permukaannya dipenuhi ukiran awan dan naga.
Jarum hitam di tengah cakram terus berputar tanpa arah.
"Aku menemukannya di ruang penyimpanan Arsip Naga."
Nadia berbicara pelan.
"Dokumen yang menyertainya sudah hilang."
"Tapi ada satu kalimat yang masih bisa kubaca."
"Apa?"
"'Saat tiga simpul laut bernyanyi, Kompas Laut Roh akan menunjukkan jalan pulang.'"
Tatapan Ethan langsung berubah serius.
Ia mengangkat cakram itu.
Begitu qi-nya menyentuh permukaan artefak...
Deng...
Suara nyaring memenuhi ruangan.
Jarum yang semula berputar liar tiba-tiba berhenti.
Lalu perlahan menunjuk ke arah timur.
Ke laut.
Pada saat yang sama, jauh di bawah gedung Aurora Maritime Group, rapat darurat kembali berlangsung.
Pria bermata tajam yang memimpin organisasi itu berdiri di depan sebuah layar batu.
Bayangan Ethan muncul di permukaannya.
"Dia berhasil mengaktifkan Kompas Laut Roh."
Seorang tetua menarik napas.
"Berarti dia memang memiliki Qi Kaisar."
Pria itu mengangguk.
"Semua unit Mata Emas gagal menghentikannya."
"Kirim Pemburu Tingkat Dua."
"Serta beri tahu Keluarga Luo."
Ruangan mendadak sunyi.
Salah seorang tetua mengangkat kepala.
"Apakah perlu sejauh itu?"
"Keluarga Luo tidak pernah bergerak tanpa keuntungan."
Pria itu tersenyum tipis.
"Mereka juga mencari Kota Langit."
"Kalau begitu..."
"Biarkan mereka saling bertarung."
Menjelang malam, Ethan dan Nadia tiba di dermaga tua menggunakan mobil sederhana.
Kompas Laut Roh terus bergetar.
Jarumnya kini memancarkan cahaya biru.
Di ujung dermaga telah menunggu seorang pria tua berpakaian nelayan.
Rambutnya memutih.
Kulitnya legam terbakar matahari.
Saat Ethan mendekat, pria itu tersenyum.
"Sudah lama aku menunggu."
"Kau mengenalku?"
"Bukan."
"Tapi aku mengenali kompas itu."
Ethan tidak langsung percaya.
"Apa hubunganmu dengan artefak ini?"
Pria tua itu menunjuk laut.
"Ayahku penjaga mercusuar."
"Kakekku penjaga mercusuar."
"Leluhur kami menjaga jalur menuju laut kabut."
"Laut kabut?"
"Orang biasa menganggapnya badai."
"Padahal..."
"Itu pintu."
Nadia saling pandang dengan Ethan.
Pria tua itu melanjutkan.
"Dulu pernah ada seorang pemuda datang membawa kompas serupa."
"Dia berkata akan memasuki kota para dewa."
"Namun..."
Ia berhenti sejenak.
"...tidak pernah kembali."
Ethan bertanya pelan.
"Kapan itu terjadi?"
"Hampir lima puluh tahun lalu."
Lima puluh tahun.
Berarti jauh setelah dirinya bereinkarnasi.
Ada orang lain yang juga menemukan jejak Kota Langit.
Namun gagal kembali.
Mereka bertiga menaiki perahu kayu bermesin kecil.
Pria tua itu mengendalikan arah tanpa menggunakan GPS.
Ia hanya melihat bintang dan arus ombak.
Semakin jauh dari daratan, kabut mulai turun.
Kompas Laut Roh berdenyut semakin cepat.
Tiba-tiba.
Mesin kapal mati.
Pria tua itu menghela napas.
"Kita sudah sampai."
"Tapi belum masuk."
"Apa maksudmu?"
"Mulai dari sini..."
"Perahu biasa tidak menentukan arah."
"Lalu?"
"Yang menentukan..."
Ia menunjuk kompas di tangan Ethan.
"...adalah pemiliknya."
Kabut semakin tebal.
Suasana menjadi sunyi.
Tak ada suara burung.
Tak ada suara ombak.
Bahkan angin pun seolah menghilang.
Ethan mengalirkan qi ke dalam kompas.
Jarumnya mulai berputar.
Lalu memancarkan seberkas cahaya menuju depan.
Perahu bergerak sendiri.
Nadia menahan napas.
"Aku tidak menyentuh mesin..."
Pria tua itu pun tampak terkejut.
"Sudah puluhan tahun aku menunggu..."
"...baru kali ini jalurnya terbuka."
Kabut perlahan terbelah.
Di baliknya muncul puluhan batu besar yang melayang di atas permukaan laut.
Masing-masing dipenuhi rune kuno.
"Formasi."
gumam Ethan.
"Bukan untuk menyerang."
"Tapi menguji."
Belum selesai ia berbicara...
Salah satu batu menyala.
Sebuah sosok perlahan muncul di atasnya.
Seorang pria muda berjubah putih.
Wajahnya tenang.
Tubuhnya transparan.
Roh Penjaga.
"Aku penjaga Jalur Timur."
Suara itu menggema.
"Tunjukkan hakmu."
Ethan mengangkat Kompas Laut Roh.
Roh itu menggeleng.
"Itu hanya kunci."
"Bukan bukti."
"Bukti?"
"Siapa dirimu."
Hening beberapa saat.
Nadia menoleh ke arah Ethan.
Ia tahu Ethan pasti menyembunyikan banyak hal.
Namun bahkan ia tidak mengetahui identitas sebenarnya.
Ethan akhirnya berkata pelan.
"Aku Ethan Mahendra."
Roh itu tetap diam.
"Bukan."
Ethan menarik napas.
Sudah lima ratus tahun ia mengubur nama itu.
Namun tampaknya, di tempat ini, kebohongan tidak akan berguna.
Ia menatap lurus ke arah roh.
"Nama lamaku..."
"...Ethan tidak mengenalnya."
"Aku adalah..."
"Sang Kaisar Bayangan."
Begitu kalimat itu selesai...
Seluruh batu melayang bergetar.
Rune-rune kuno menyala bersamaan.
Roh Penjaga membungkuk hormat.
"Salam kepada pewaris takhta bayangan."
Nadia membelalak.
Pewaris takhta?
Bukan sekadar kultivator kuat.
Melainkan seseorang yang pernah memimpin sebuah era.
Namun penghormatan itu hanya berlangsung sesaat.
Langit tiba-tiba menghitam.
Kabut berputar membentuk pusaran raksasa.
Roh Penjaga mengangkat kepala.
Wajahnya berubah.
"Mereka menemukannya..."
"Siapa?"
"Para Pemburu."
Belasan anak panah hitam melesat dari balik kabut.
Ledakan demi ledakan mengguncang batu-batu melayang.
Di kejauhan muncul tiga kapal baja hitam tanpa lampu.
Di haluannya berkibar lambang Mata Emas.
Tetapi bukan hanya itu.
Di kapal terbesar berdiri seorang wanita muda berambut perak mengenakan jubah biru tua.
Aura yang dipancarkannya jauh melampaui para pemburu biasa.
Alam Pengumpulan Qi Bintang Delapan.
Hanya selangkah lagi menuju Alam Pendirian Fondasi.
Tatapannya dingin ketika memandang Ethan.
"Akhirnya aku menemukanmu."
Ethan memperhatikan wanita itu tanpa mengubah ekspresi.
"Siapa kau?"
Wanita itu mengangkat sebuah tombak pendek berwarna perak.
"Aku Luo Xinyue."
"Putri Kedua Keluarga Luo."
"Aku datang..."
"...untuk mengambil Kompas Laut Roh."
Ia mengarahkan ujung tombaknya ke arah Ethan.
"Dan jika perlu..."
"...kepalamu juga."
Di saat yang sama, jauh di balik pusaran kabut, siluet Kota Langit tampak semakin jelas.
Gerbang raksasanya perlahan membuka, sementara suara lonceng kuno bergema di seluruh lautan, seolah menyambut kedatangan pewaris yang telah lama menghilang... sekaligus mengundang semua musuhnya menuju medan pertempuran yang sesungguhnya.