Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Para pelayan langsung menggeleng hampir bersamaan.
"Tidak, tuan. Masakan nyonya muda benar benar enak sekali. Saya sudah mencicipinya ketika nyonya muda menawarkan saya untuk mencicipi masakannya."
Pak Wira memandangi Aisyah cukup lama, Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat.
"Hmm." Ia mengangguk kecil. "Kalau begitu,"
Tatapannya beralih kepada para pelayan. "Kalian tidak salah." Beberapa pelayan langsung mengembuskan napas lega dan membuat pak Wira kembali memandang Aisyah.
"Terima kasih nak." Aisyah tampak sedikit terkejut. "Terima kasih karena kamu sudah mau membantu di keluarga ini. Padahal di rumah ini sudah ada banyak orang yang bisa mengerjakannya."
Aisyah langsung menggeleng.
"Itu bukan apa-apa, Pa. Justru Aisyah yang harus berterima kasih karena sudah diterima tinggal di sini."
Kalimat itu membuat Bu Ratih tersenyum tipis, begitu pula beberapa pelayan. Sementara Ammar masih berdiri diam. Sejak datang ke rumah ini, Aisyah sama sekali tidak pernah mengeluh ataupun meminta apa pun. Bahkan pagi-pagi sekali perempuan itu sudah berada di dapur untuk membantu para pelayan memasak sarapan. Padahal, semalam ia baru saja mengusirnya tidur di sofa. Ammar buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Tidak." Batinnya kembali mengeras. "Aku tidak boleh terpengaruh. Dia pasti sengaja mencari muka untuk mengalahkan Salsa dengan merebut hati semua orang."
Pak Wira kembali duduk di kursinya.
"Aisyah."
"Iya, Pa."
"Lepas celemek mu dan bergabunglah bersama kami disini. Kita sarapan sama sama." Pak Wira menunjuk kursi kosong di sebelah Ammar, kursi yang biasa ditempati oleh Salsa. "Duduklah di samping suamimu."
Ammar menoleh ketika ayahnya itu meminta Aisyah untuk duduk di kursi sebelahnya, padahal jelas jelas ayahnya itu tahu kalau kursi itu adalah milik Salsa. Salsa yang mendengar pak Wira meminta adiknya untuk duduk di sebelah Ammar, seketika terdiam, sementara Aisyah hanya menundukkan kepalanya ketika melihat reaksi Ammar dan kakaknya.
"Nggak usah pa, sebaiknya Aisyah duduk di dekat papa dan mama saja. Biarkan kak Salsa saja yang duduk di sebelah mas Ammar." Ujar Aisyah yang membuat Ammar mengangguk setuju dan buru buru menarik kursi disebelahnya untuk Salsa dan memintanya untuk duduk.
Melihat kepuasan di wajah suaminya, membuat Aisyah merasa lega karena keputusannya sudah tepat untuk tidak duduk di sebelah Ammar. Dengan langkah pelan, Aisyah kemudian berjalan menuju kursi yang berada di samping mama mertuanya dan duduk dengan diam tanpa sekalipun menoleh ke arah Ammar. Melihat semua anggota keluarga telah berkumpul, Pak Wira menoleh kepada para pelayan.
"Silakan hidangkan sarapannya."
"Baik, Tuan."
Satu per satu hidangan mulai ditata di atas meja dan membuat aroma masakan semakin memenuhi ruangan. Pak Wira mengambil semangkuk sayur lodeh lalu sepotong ayam goreng. Beberapa detik kemudian, ia mulai menyantapnya. Baru satu suapan masuk ke mulutnya, alisnya langsung terangkat.
"Hmm?"
Bu Ratih ikut mencicipi lalu ikut menatap suaminya. Pak Wira kembali mengambil sesendok kuah lodeh kemudian ayam gorengnya. Setelah itu beliau tersenyum lebar.
"Hari ini," ia mengangguk puas. "Sayur lodehnya enak sekali. Kuahnya gurih dan ayam goreng sambal bawangnya juga pas. Siapa yang memasaknya?"
Beberapa pelayan saling berpandangan sampai akhirnya kepala pelayan tersenyum kecil.
"Semuanya dimasak oleh Nyonya Aisyah, Tuan."
Seketika, semua mata kembali tertuju kepada Aisyah. Aisyah sendiri langsung menundukkan wajahnya karena malu yang membuat pak Wira tertawa kecil.
"Pantas saja." Ia mengangguk puas. "Masakanmu sangat enak, Aisyah. Kalau begini, Papa bisa tambah nasi dua piring."
Ucapan itu langsung membuat suasana meja makan yang sejak tadi tegang perlahan mencair. Namun di sisi lain meja, Ammar hanya terdiam. Entah mengapa, semakin banyak ia melihat ketulusan Aisyah, semakin sulit pula ia mempertahankan tembok yang sejak awal ia bangun di dalam hatinya. Ammar merasa kesal karena sekeras apapun usahanya untuk membenci Aisyah, perempuan itu selalu saja punya cara untuk membuat cara pandangnya berubah.
Ucapan Pak Wira masih menggantung di ruang makan.
"Masakanmu sangat enak, Aisyah. Kalau begini, Papa bisa tambah nasi dua piring."
Suasana ruang makan yang semula dipenuhi kecanggungan perlahan mencair. Bu Ratih ikut tersenyum sambil mengambil lagi sayur lodeh ke mangkuk suaminya. Beberapa pelayan saling berpandangan dengan wajah lega sementara Aisyah hanya menundukkan kepalanya.
"Pujian itu terlalu berlebihan, Pa," ucapnya pelan. "Aisyah hanya membantu sedikit."
Pak Wira terkekeh.
"Kalau hasilnya seperti ini, berarti bantuanmu tidak sedikit."
Beberapa orang ikut tertawa pelan. Namun tawa itu justru terdengar begitu jauh di telinga Salsa. Sendok yang berada di tangannya berhenti di atas piring. Ia tidak lagi benar-benar mendengar percakapan yang sedang berlangsung. Tatapannya perlahan beralih kepada Aisyah yang duduk di samping Bu Ratih. Adiknya itu hanya diam, tidak terlihat bangga, tidak pula berusaha mencari perhatian. Setiap kali dipuji, Aisyah justru menolak dengan rendah hati. Namun entah mengapa, justru sikap itulah yang membuat semua orang semakin menyukainya.
Salsa menelan ludah, Dadanya terasa semakin sesak. Baru satu hari Aisyah tinggal di rumah ini, namun papa mertua mereka tampak begitu menyayanginya. Bu Ratih beberapa kali tersenyum kepadanya sedangkan para pelayan juga terlihat nyaman berbicara dengannya. Bahkan sejak pagi, berkali-kali ia mendengar mereka memuji betapa ramahnya Aisyah. Salsa menundukkan pandangannya, perlahan muncul perasaan yang sebenarnya sangat ingin ia tolak.
Perasaan iri.
Bukan iri karena Aisyah dipuji, melainkan karena ia mulai merasa tempatnya perlahan bergeser.
"Kenapa aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja dan membuat Salsa langsung memejamkan matanya sejenak.
"Astaghfirullah." Salsa menggenggam sendoknya semakin erat. "Enggak, aku nggak boleh merasa seperti itu. Aisyah adalah adikku sendiri. Aku seharusnya ikut bahagia dengan apa yang ia dapat hari ini."
Salsa mencoba meyakinkan dirinya, Namun hati manusia sering kali jauh lebih sulit dikendalikan daripada lisan. Semakin ia memaksa dirinya untuk tidak cemburu, justru rasa itu semakin jelas memenuhi dadanya. Salsa kembali mengangkat kepalanya. Pandangannya menyapu satu per satu wajah semua orang di meja makan.
Pak Wira, Bu Ratih, Para pelayan, Semuanya tersenyum kepada Aisyah. Tidak ada yang salah, tidak ada yang berlebihan. Namun entah kenapa, Salsa merasa dirinya mulai tersisih sedikit demi sedikit. Ia sadar mungkin perasaan itu tidak adil, tidak adil bagi Aisyah.
Karena sejak awal, adiknya itulah yang paling banyak kehilangan. Tetapi, hatinya tetap merasa takut. Takut kehilangan tempat, takut kehilangan perhatian, takut kehilangan keluarga yang selama ini menerimanya dan yang paling ia takuti, ia takut kehilangan Ammar.
Perlahan pandangan Salsa bergeser. Tatapannya berhenti pada laki-laki yang duduk di sampingnya. Ammar sedang makan dalam diam. Wajahnya masih terlihat datar sembari sesekali ia melirik ke arah Aisyah, lalu kembali mengalihkan pandangan. Melihat itu, dada Salsa kembali menegang.
"Bagaimana kalau suatu hari nanti," Salsa tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu. "Bagaimana kalau Mas Ammar benar-benar luluh? Bagaimana kalau semua kebaikan Aisyah membuat hatinya berubah? Bagaimana kalau pada akhirnya, Mas Ammar jatuh cinta kepada Aisyah?"