NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: KEHENINGAN YANG MENGKHIANATI DAN KEPUTUSASAAN

Gemuruh kabut hitam yang meluncur dari puncak gunung tertinggi tidak sekadar membawa hawa dingin yang membekukan permukaan bumi, melainkan juga membawa kehancuran mutlak bagi seluruh harapan yang baru saja mekar di dalam dada Mayang. Di tengah alun-alun Desa Shrouded yang semula dipenuhi oleh tawa riang pesta perayaan, atmosfer mendadak berubah menjadi sekaku kuburan kuno. Sosok raksasa berselimut baju zirah besi hitam dengan mahkota berduri—sang Penguasa Klan Kabut—berdiri tegak di atas gumpalan asap kegelapan yang pekat. Tekanan magis yang dipancarkannya begitu masif, seolah-olah sepasang tangan tak kasat mata sedang mencekik leher setiap manusia yang berada di tempat itu.

Namun, yang membuat dunia Mayang benar-benar runtuh hingga berkeping-keping bukanlah ratusan pasang mata merah menyala dari pasukan The Stalker yang mengepung batas desa. Tatapan mata jernih Mayang tertuju lurus pada sosok pria bertubuh menjulang yang berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Dion, pria misterius yang beberapa jam lalu memeluk raga mungilnya dengan gairah yang begitu membara di atas ranjang fajar, pria yang kecupan panasnya masih menyisakan rasa manis di bibir Mayang, kini mendadak berubah menjadi patung es yang tak tersentuh.

"Dion..." bisik Mayang, suaranya parau, bergetar hebat menahan badai air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Jubah beludru merah tuanya berkibar kasar diterpa angin hitam, sewarna dengan luka yang tiba-tiba robek di dalam batinnya. "Katakan sesuatu padaku, Dion... Katakan bahwa semua ini adalah kesalahpahaman. Katakan bahwa kau tidak berniat mengkhianati kami..."

Dion tidak bergerak. Rahang tegasnya mengencang begitu keras hingga urat-urat di leher kekarnya menonjol tajam, menahan gejolak emosi yang hampir meledakkan isi dadanya. Di balik pakaian kulitnya yang robek, tato kuno berbentuk ular di lengan kanannya memancarkan pendaran cahaya merah darah yang menyakitkan—sebuah pertanda bahwa sang Penguasa Klan Kabut sedang mengaktifkan segel kutukan kontrak darah untuk mengunci kehendak bebasnya.

Mayang terus menunggu, berharap ada satu patah kata pembelaan, atau setidaknya satu tatapan mata penuh penyesalan yang keluar dari pria itu. Namun, Dion tetap bungkam. Keheningan pria itu terasa jauh lebih tajam daripada mata belati mana pun yang pernah merobek kulit Mayang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa memberikan satu pun penjelasan, Dion perlahan membalikkan tubuh kokohnya, membelakangi Mayang sepenuhnya, lalu melangkah pasti memasuki gulungan kabut hitam, bergabung di samping sang penguasa klan kabut.

Melihat punggung itu menjauh tanpa sepatah kata, kesalahpahaman di dalam benak Mayang mengkristal menjadi segenap rasa benci dan kecewa yang teramat sangat. Segenap rasa percaya, cinta, dan kepasrahan raga yang ia serahkan dalam keintiman fajar tadi mendadak terasa seperti sebuah lelucon murahan yang dirancang oleh Dion untuk memperalat kekuatannya demi meruntuhkan segel Tetua Gidion.

"Aku membencimu, Dion! Aku bersumpah demi sisa hidupku, aku akan membencimu selamanya!" teriak Mayang histeris, suaranya pecah di tengah halaman yang sunyi, mengiringi kepergian perlahan pasukan klan kabut yang kembali naik menuju puncak gunung, meninggalkan desa dalam kondisi yang dilingkupi ketakutan yang kian mencekam. Mayang jatuh berlutut di atas tanah yang berlumpur, meremas jubah merahnya dengan dada yang terasa lowong, mengira bahwa dirinya hanyalah seonggok bidak mainan dari seorang pemburu yang kejam.

Sementara itu, jauh di atas puncak gunung yang diselimuti oleh kegelapan abadi, benteng kuno Klan Kabut berdiri dengan angkuh bagai taring batu yang menusuk langit. Begitu langkah kakinya menginjak lantai batu aula utama yang dingin, Dion tidak lagi bisa menahan diri. Ia langsung melangkah maju, memotong barisan pengawal berzirah karat, lalu berdiri tepat di bawah singgasana batu tempat sang Penguasa Klan Kabut duduk dengan santai.

"Aku sudah memenuhi bagianku dari perjanjian terkutuk ini!" geram Dion, suaranya baritonnya menggema rendah, sarat akan amarah yang telah lama ia pendam di bawah siksaan batin. "Aku membiarkan diriku dianggap sebagai pengkhianat oleh wanita itu. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membelat diriku di depan warga desa, sesuai dengan maumu. Sekarang, tagih janjimu, Gorgan! Bebaskan adik perempuanku, Rhea, dari penjara bawah tanah sekarang juga!"

Sang Penguasa Klan Kabut, yang memiliki nama asli Gorgan, perlahan menegakkan tubuhnya yang besar di atas singgasana. Di balik topeng besi hitamnya, terdengar suara tawa yang sangat gila, serak, dan penuh dengan kelicikan yang menjijikkan. Suara tawa itu menggema di dinding-dinding batu aula, memicu firasat buruk yang langsung mencengkeram jantung Dion hingga berdegup kencang.

"Bebaskan Rhea?" desis Gorgan, perlahan melangkah turun dari anak tangga singgasana dengan tongkat besi hitamnya yang bergemerincing. "Bidak kecil yang bodoh... Kau benar-benar mengira aku akan melepaskan aset terbaikku hanya karena kau berhasil meruntuhkan segel desa kecil itu? Rhea telah melakukan dosa besar karena menolong anak manusia. Darahnya yang murni adalah milikku untuk selamanya."

Dion membelalakkan matanya, seluruh darah di dalam tubuhnya mendadak mendidih oleh amarah yang luar biasa hebat. "Kau... kau mengkhianatiku, Gorgan?!" raung Dion, tangannya refleks bergerak cepat hendak menarik belati perak di pinggangnya.

Namun, sebelum jemari Dion sempat menyentuh hulu senjatanya, Gorgan telah lebih dulu menghentakkan tongkat besinya ke lantai aula.

BOOOMMM!

Sebuah riak energi kutukan merah darah meledak dari lantai batu, langsung menyengat tato ular di lengan kanan Dion. Jeritan rasa sakit yang luar biasa hebat seketika lolos dari sela-sela bibir tegas Dion saat segel kutukan itu membakar jalur aliran darahnya dari dalam, memaksa pria bertubuh kekar itu jatuh berlutut dengan kedua tangan yang menahan lantai batu hingga retak.

"Kau berani mengacungkan senjata padaku, Dion?" suara Gorgan berubah menjadi sangat dingin dan kejam. "Bukan hanya adikmu yang tidak akan pernah bebas, bahkan hari ini, sisa hidupmu pun telah berakhir karena pembangkangan ini. Pengawal! Seret dia ke tepi altar!"

Empat pengawal bertubuh raksasa langsung merangsek maju, mencengkeram kedua lengan Dion yang sudah melemah akibat siksaan kutukan darah. Dion mencoba memberontak dengan sisa-sisa energi kabut perak miliknya, namun kekuatan kutukan kontrak yang mengikat jiwanya terlalu dominan, membuat otot-ototnya kehilangan seluruh dayanya bagai dilumpuhkan oleh racun yang mematikan.

Gorgan berdiri di depan Dion yang kini terpaksa berlutut dengan kepala mendongak menahan perih. Tanpa belas kasihan sedikit pun, Gorgan mengangkat tangan kirinya yang dibalut sarung tangan besi berduri, lalu menghantamkannya tepat ke arah dada bidang Dion, menembus pakaian kulitnya dan menghancurkan beberapa tulang rusuk pria itu hingga terdengar suara retakan yang mengerikan. Dion memuntahkan darah segar yang kental ke atas lantai batu, pandangan matanya yang abu-abu mulai meredup, dikelilingi oleh bayangan kematian yang kian mendekat. Bagi Gorgan dan seluruh anggota klannya, raga Dion saat ini sudah tidak lagi memiliki nilai guna—ia telah dianggap "mati" dan tidak bernyawa lagi.

"Bawa bangkai pengkhianat ini keluar dari bentengku," perintah Gorgan dengan nada jijik, mengibas tangannya yang berlumuran darah Dion. "Buang tubuhnya ke dalam jurang terdalam Lembah Shrouded. Biarkan binatang kabut mengunyah dagingnya sampai habis."

Kedua pengawal itu menyeret tubuh Dion yang sudah terkulai lemas, tak bergerak sedikit pun dengan napas yang nyaris berhenti, melewati koridor batu yang dingin hingga tiba di tepi tebing jurang yang menganga gelap di balik benteng. Tanpa belas kasihan, mereka mengayunkan tubuh kekar pemburu itu dan melemparkannya begitu saja ke dalam kegelapan jurang yang tak berdasar, di mana kabut hitam pekat siap menelan raga yang dianggap telah mati tersebut.

Namun, di dalam kegelapan malam yang pekat di dasar jurang, di sela-sela sisa kesadaran Dion yang hampir padam sepenuhnya, sesuatu yang ganjil mendadak terjadi. Jauh di dalam saku celana kulitnya yang robek, sebutir kelopak bunga Lunaria yang sempat terjatuh saat ia membantu Mayang semalam, mendadak memancarkan pendaran cahaya keperakan yang sangat murni. Cahaya itu perlahan merembes keluar, menyentuh luka menganga di dada Dion, memicu sebuah getaran magis misterius yang seolah menolak untuk membiarkan jantung sang pemburu berhenti berdetak.

Apakah pendaran cahaya murni dari bunga Lunaria itu cukup kuat untuk menghidupkan kembali raga Dion yang telah hancur dari ambang kematian? Dan bagaimana nasib Mayang yang kini mengunci hatinya rapat-rapat dalam kebencian, tanpa mengetahui bahwa pria yang dikutuknya sedang bertaruh nyawa di dasar jurang terdalam lembah? Semua misteri itu masih terkunci rapat di balik kepekatan kabut hitam yang kian tebal menyelimuti takdir mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!