Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Jejak yang Semakin Jelas
Seminggu berikutnya berjalan dengan ritme yang makin teratur, tapi juga makin terasa tegang. Kabar tentang keberadaan benda kuno itu tidak hanya berhenti sebagai desas-desus belaka — ia mulai meninggalkan jejak nyata di setiap sudut wilayah. Orang-orang asing dengan pakaian mencolok atau tatapan yang penuh perhitungan mulai terlihat lewat di jalan-jalan utama, berhenti sejenak untuk bertanya hal-hal yang tidak perlu, lalu pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Di dalam pabrik tua itu, setiap laporan yang masuk dicatat dengan cermat. Niko bersama orang-orang kepercayaannya kini memiliki jaringan mata-mata kecil yang tersebar di pasar, perlintasan sungai, dan jalan masuk utama distrik. Setiap gerakan mencurigakan segera diketahui dan dilaporkan tanpa menunggu lama.
Pagi itu, saat embun masih menempel di dedaunan di sekitar halaman, Niko kembali masuk dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. Ia meletakkan gulungan catatan di atas meja, lalu menunjuk titik-titik pada peta wilayah yang sudah digambar dengan rapi.
“Selama tiga hari terakhir, tercatat ada sembilan kelompok orang asing yang masuk lewat pintu-pintu berbeda,” katanya sambil menggerakkan jari-jarinya. “Mereka tidak membawa barang dagangan, tidak menginap di penginapan, dan selalu bergerak dalam kelompok kecil. Dari cara mereka berjalan, cara mengamati lingkungan, dan senjata yang disembunyikan di balik pakaiannya — hampir bisa dipastikan mereka adalah bagian dari Tangan Kekal atau sekutu mereka.”
Alden mendekat, memeriksa catatan itu dengan pandangan yang terlatih. “Mereka bergerak menyebar, bukan berkumpul menjadi satu pasukan besar. Itu cara kerja mereka — menyusup, mengumpulkan informasi, lalu mengatur serangan dari banyak arah sekaligus supaya kita kewalahan membagi kekuatan.”
Kaelin yang kini duduk di sisi lain meja mengangguk setuju, matanya menatap peta dengan pandangan yang penuh pengalaman. “Aku tahu taktik ini. Dulu aku pernah menggunakannya untuk menguasai wilayah baru. Kalau kita hanya diam dan menunggu mereka datang, kita akan terjebak dalam jaring yang mereka buat. Kita harus bertindak lebih dulu — bukan menyerang, tapi menutup celah dan memberi mereka batasan yang jelas.”
Arda yang sejak tadi berdiri di dekat jendela, memandang ke luar ke arah jalanan yang mulai ramai, akhirnya berbalik menghadap mereka semua. Wajahnya tenang, tapi ada ketegangan halus yang terlihat di matanya.
“Mereka mengandalkan ketidaktahuan kita dan rasa takut warga,” ucapnya perlahan tapi tegas. “Kalau kita biarkan mereka terus bergerak bebas, lama-kelamaan mereka akan membuat warga merasa tidak aman, lalu menyebarkan desas-desus buruk tentang kita. Kita harus menunjukkan keberadaan kita secara terbatas — cukup untuk membuat mereka berpikir dua kali, tapi tidak sampai membuka semua kekuatan yang kita miliki.”
Kael yang mendengarkan semua pendapat itu mulai menyusun rencana dalam pikirannya. Ia tahu, di tengah situasi seperti ini, keputusan yang tergesa-gesa bisa menjadi bumerang, tapi terlalu berhati-hati justru akan memberi ruang bagi musuh untuk tumbuh semakin kuat.
“Baiklah,” katanya setelah berhenti sejenak berpikir. “Kita bagi menjadi tiga langkah utama.”
Ia menunjuk ke peta dan menjelaskan satu per satu:
Pertama: Di titik-titik masuk utama, kita tempatkan pasukan gabungan — anak buah Kaelin, pengawal Alden, dan orang-orang kita sendiri. Mereka hanya akan memeriksa barang dan identitas orang yang lewat, tanpa mengganggu warga biasa atau pedagang yang jujur. Ini untuk memberi sinyal bahwa wilayah ini sudah dijaga ketat.
Kedua: Niko dan timnya akan terus mengawasi pergerakan mereka, tapi tidak mengganggu selama mereka tidak berbuat jahat. Tujuannya adalah mengikuti jejak mereka, mencari tahu tempat persembunyian dan siapa pemimpin yang mengatur mereka di sini.
Ketiga: Kita tetap menjaga kedekatan dengan warga. Beri mereka kepastian bahwa selama mereka tetap tenang dan melaporkan hal mencurigakan, keamanan akan tetap terjaga. Dukungan warga adalah kekuatan terbesar kita yang tidak dimiliki oleh musuh mana pun.
Semua menyetujui rencana itu tanpa bantahan. Setiap orang tahu perannya masing-masing, dan rasa percaya yang terjalin selama ini membuat mereka bisa bekerja sama tanpa ragu.
Siang itu juga, langkah-langkah itu mulai dijalankan. Di pintu masuk utama, terlihat pasukan yang berdiri tegak namun tidak terlihat mengancam — mereka hanya berdiri mengawasi, sesekali menyapa pedagang yang lewat dengan ramah. Awalnya banyak yang terkejut melihat perubahan ini, tapi begitu melihat bahwa tidak ada lagi pemerasan atau penghalangan yang tidak jelas, rasa takut berubah menjadi rasa aman.
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Bastian dan Lio kembali dari perjalanan ke pemukiman terjauh. Wajah mereka terlihat lelah, tapi juga membawa kabar penting.
“Kami bertemu dengan seorang pedagang tua yang sering melintasi jalur timur,” kata Bastian sambil duduk melepas lelah. “Ia bilang beberapa hari terakhir ia melihat sekelompok orang mendirikan perkemahan sementara di lembah yang tertutup pepohonan, sekitar dua jam perjalanan dari sini. Mereka membawa banyak kotak yang tertutup rapat, dan tidak mengizinkan siapa pun mendekat.”
Lio menambahkan dengan nada hati-hati, “Dan yang paling aneh — ada suara-suara aneh yang terdengar dari tempat itu di malam hari, seperti nyanyian atau bacaan yang tidak dikenal, disertai cahaya redup berwarna ungu yang sesekali terlihat menyala di balik pohon.”
Mendengar penjelasan itu, raut wajah Arda dan Alden langsung berubah menjadi serius. Mereka saling pandang, seolah langsung mengerti apa arti dari tanda-tanda itu.
“Cahaya ungu… itu bukan energi alami,” kata Alden perlahan. “Itu adalah tanda bahwa mereka sedang mencoba melakukan ritual atau membuka saluran energi tertentu. Tangan Kekal memang dikenal menggunakan cara-cara terlarang untuk memperkuat diri dan mengumpulkan kekuatan. Kalau mereka sudah mulai melakukannya, berarti persiapan mereka sudah hampir selesai.”
Arda mengangguk, matanya menyipit tajam ke arah timur seolah bisa melihat melampaui jarak dan pepohonan. “Mereka tidak hanya mengandalkan jumlah orang dan senjata. Mereka mencoba menggunakan energi gelap untuk menyeimbangkan atau bahkan melampaui kekuatan yang dimiliki benda yang kita jaga. Kalau mereka berhasil memperkuat diri, pertarungan nanti akan jauh lebih berbahaya dari yang kita bayangkan.”
Suasana di ruangan itu menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara angin yang berdesir dan jangkrik yang mulai bersuara menjelang malam. Mereka sadar bahwa waktu yang mereka miliki untuk bersiap semakin sempit, dan musuh yang dihadapi memiliki cara yang jauh lebih berbahaya dari sekadar kekerasan biasa.
Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Kael menepuk meja dengan tenang, menarik perhatian mereka semua.
“Kalau mereka sudah mulai bergerak, berarti kita juga harus mempercepat langkah kita,” katanya dengan suara tegas namun tetap tenang. “Mereka punya cara mereka sendiri, tapi kita juga punya kelebihan yang tidak mereka miliki — kita menjaga sesuatu dengan tujuan yang benar, kita bersatu tanpa rasa curiga, dan kita didukung oleh hati nurani yang jernih.”
Ia menatap Arda, lalu ke Kaelin dan Alden. “Kita tidak perlu menggunakan cara-cara terlarang seperti mereka. Cukup kita perkuat ikatan kita, perkuat pertahanan, dan tetap waspada. Kekuatan yang benar selalu punya jalannya sendiri untuk melindungi dirinya.”
Malam itu, mereka tidak hanya membahas strategi pertarungan, tapi juga berbagi sedikit pengetahuan yang mereka miliki. Arda menjelaskan tentang sifat energi yang terkandung dalam benda itu dan cara merasakan perubahannya. Alden mengajari cara mengenali tanda-tanda penggunaan energi gelap dan cara menghindari pengaruhnya. Kaelin berbagi taktik perang dan cara membaca gerakan musuh. Semua ilmu yang tadinya terpisah kini disatukan, menjadi bekal yang lebih lengkap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Di lembah yang jauh itu, di balik pepohonan lebat dan kegelapan malam, cahaya ungu itu terus berdenyut perlahan. Di tengah lingkaran orang yang mengenakan jubah gelap, berdiri sosok yang tinggi dengan wajah tertutup topi lebar. Tangannya terulur, dan dari telapak tangannya mengalir energi yang gelap dan dingin, menyatu dengan cahaya ungu itu dan membentuk pusaran yang perlahan membesar.
“Mereka sudah bersiap,” gumam sosok itu dengan suara yang terdengar seperti bisikan angin. “Biarkan mereka merasa aman sejenak. Semakin kuat mereka merasa, semakin besar kekecewaan mereka nanti. Segera saat kekuatan ini cukup, kita akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita — dan tidak ada yang bisa menghalangi kita lagi.”
Namun di dalam pabrik tua yang sederhana itu, mereka sudah tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tidak takut, tidak terburu-buru, hanya bersiap dengan tenang dan keyakinan yang makin kuat. Babak baru ini memang menantang, tapi mereka sudah melangkah jauh dan tidak akan mundur lagi.
Bersambung...