PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
undangan menuju jurang
Suasana di dalam ruangan privat Rumah Teh Veridian mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Hector Lawrence yang beberapa menit lalu masih menyunggingkan senyum haus darah, kini terduduk lemas di kursinya dengan wajah sepucat kertas.
Ponsel di atas meja masih tetap menyala, menampilkan indikator siaran langsung yang baru saja diputus oleh Primus. Rekaman pengakuan Hector tentang skenario pembunuhan di atas kapal pesiar itu sudah terlanjur terkirim ke server utama seluruh petinggi klan Aristokrat.
Primus tidak membuang waktu untuk bersenang-senang di atas penderitaan orang tua itu. Dengan gerakan yang teramat santai, ia meraih amplop putih berisi foto kapal pesiar mewah raksasa yang tadi disodorkan Hector, lalu memasukkannya ke dalam saku jas.
Kapal itu bernama The Grand Leviathan, sebuah kapal pesiar megah yang sering menjadi tempat pesta eksklusif kalangan elite. Bedanya, sekarang Primus tahu bahwa kapal itu bukan sekadar tempat pesta amal biasa, melainkan sebuah panggung eksekusi yang gagal sebelum dimulai.
"Selamat menikmati masa pensiunmu di penjara bawah tanah klan, Paman Hector," ucap Primus pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Begitu keluar dari Rumah Teh Veridian, udara malam Kota Aurelia langsung menyergap kulitnya, terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Primus berdiri beberapa saat di samping mobil sedan mewahnya, menatap foto kapal pesiar yang kini sudah berada di tangannya.
Tiga minggu lagi. Waktu yang cukup lama, namun juga bisa terasa sangat singkat.
"Paman Robert," panggil Primus saat masuk ke dalam kabin mobil.
"Ya, Tuan Muda?" Robert, sang sopir paruh baya, melirik dari spion tengah.
"Menurut Paman, seberapa sering orang mencoba menjatuhkan anggota keluarga mereka sendiri demi sebuah takhta?" Primus menatap lurus ke arah jalanan yang mulai sepi.
Robert yang sudah mengabdi puluhan tahun di lingkaran hitam itu hanya bisa tersenyum pahit. "Jauh lebih sering daripada yang bisa dibayangkan oleh orang awam, Tuan Muda. Di dunia seperti ini, musuh paling berbahaya biasanya bukan mereka yang menodongkan pistol dari depan, melainkan mereka yang memeluk kita dari belakang."
Primus terkekeh kecil, sebuah tawa hambar yang sarat akan ironi. "Jawaban yang sangat jujur, Paman."
Di sisi lain kota, sebuah pesta pribadi yang bising sedang berlangsung di lantai teratas sebuah hotel bintang lima. Musik bervolume tinggi mengalun, gelas-gelas kristal berisi sampanye saling beradu, dan para pewaris muda dari berbagai keluarga besar saling mengobrol sambil tertawa lepas.
Namun, di dalam salah satu ruangan VIP yang tertutup rapat, suasananya justru berbanding terbalik. Kamar itu sangat hening dan tegang.
Adrian Aristokrat duduk sendirian di sofa kulitnya dengan beberapa dokumen yang berantakan di atas meja kaca. Salah satu dokumen itu menampilkan foto profil Primus dengan tanda silang merah besar.
Brak!
Pintu ruangan dibuka dengan tergesa-gesa. Seorang pria berjas hitam masuk dengan napas memburu dan raut wajah panik yang tidak bisa disembunyikan.
"Tuan Muda Adrian! Kita punya masalah besar!"
Adrian mengangkat kepalanya lambat-lambat, matanya menyipit tidak suka karena ketenangannya diganggu. "Ada apa? Jangan bilang orang-orang bodohmu kehilangan jejak Primus lagi?"
"Bukan itu, Tuan Muda," pria itu menelan ludah dengan susah payah. "Rencana Penatua Hector... baru saja hancur total. Primus berhasil menjebak beliau di Rumah Teh Veridian. Rekaman pengakuan Penatua Hector tentang rencana eliminasi di kapal pesiar sudah bocor ke seluruh jaringan Dewan Pengawas. Sekarang, kediaman Penatua Hector sedang dikepung oleh pasukan penegak hukum internal klan."
Mendengar laporan itu, Adrian langsung berdiri tegak. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi sombong di wajahnya runtuh, digantikan oleh rasa waspada dan ngeri yang luar biasa.
"Hector jatuh? Semudah itu?" gumam Adrian, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.
Hector Lawrence adalah salah satu rubah tua paling licik di klan mereka, dan fakta bahwa Primus bisa menumbangkan pria itu hanya dalam hitungan jam benar-benar di luar kalkulasi Adrian.
"Tuan Muda, kalau Hector sampai bicara, posisi kita juga bisa terancam," ucap anak buahnya dengan suara bergetar.
Adrian terdiam beberapa saat, mencoba meredam gejolak kepanikan di dadanya sebelum sebuah senyuman dingin yang sangat kejam kembali terukir di bibirnya. "Kalau begitu, kita tidak punya pilihan lain. Percepat semua jadwalnya."
"Maksud Anda?"
"Aku tidak suka menunggu sampai monster itu mendatangi mejaku," desis Adrian sambil menatap tajam ke arah foto Primus di meja. "Gerakkan tim utama malam ini juga. Buat skenario kecelakaan, racun, atau apa pun terserah kalian. Yang penting, hilangkan Primus dari kota ini sebelum besok pagi!"
Malam semakin larut saat mobil Primus akhirnya memasuki gerbang mansion utama keluarga Aristokrat. Koridor-koridor besar di dalam bangunan bergaya gotik itu sudah terlihat sepi karena sebagian besar anggota keluarga dan pelayan sudah beristirahat.
Saat melangkah melewati koridor menuju kamarnya, langkah kaki Primus tiba-tiba terhenti tepat di depan pintu perpustakaan tua klan.
Entah kenapa, instingnya mendadak menangkap sesuatu yang janggal. Udara di sekitar pintu itu terasa berbeda, seolah-olah ada seseorang yang baru saja keluar dari sana beberapa detik yang lalu.
Primus mendorong pintu kayu ek yang berat itu secara perlahan. Pintu terbuka dengan suara derit halus yang memecah keheningan malam.
Ruangan di dalamnya gelap gulita, hanya diterangi oleh sisa cahaya bulan yang masuk lewat jendela besar. Bau khas kertas tua dan kayu lapuk langsung menyengat indra penciumannya. Sepintas, semuanya tampak normal dan rapi.
Namun, mata tajam Primus langsung tertuju pada sebuah meja baca di tengah ruangan. Di atas permukaannya yang berdebu, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal yang diletakkan begitu saja.
Tanpa nama pengirim. Tanpa ada cap pos resmi.
Hanya ada satu simbol kecil yang dicetak menggunakan tinta emas di bagian tengah amplop tersebut yaitu gambar seekor singa bersayap yang mengenakan mahkota megah di atas kepalanya. Lambang itu memang sangat mirip dengan logo keluarga Aristokrat yang sekarang, namun guratan desainnya jauh lebih kuno, rumit, dan terasa sakral.
Alis Primus perlahan berkerut. Ia melangkah mendekat, meraih amplop misterius itu, lalu merobek segelnya dengan tenang. Di dalamnya hanya ada selembar kertas perkamen tua yang berisi satu baris kalimat pendek tertulis dengan tinta hitam.
"Jika kau ingin tau kebenaran di balik kematiannya ibumu dan lagi sejarah berdar ah dari klan ini, datanglah sendiri"
Di bagian bawah kalimat tersebut tertera sebuah titik koordinat lokasi di pinggiran kota, lengkap dengan sebuah tanda tangan dari nama yang belum pernah Primus dengar seumur hidupnya.
Penjaga Cincin Aristokrat
bersambung..