Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Hangat Bara
Luna berlari ke kamarnya dalam keadaan menangis. Ia menjatuhkan dirinya di tepi tempat tidur. Tangannya perlahan menyentuh pipinya, rasa perih masih membekas. Bayangan kekerasan yang Raka lakukan masih terbayang. Ia tidak menyangka Raka bisa berbuat kasar padanya.
Namun rasa sakit di bagian tubuhnya tidak sebanding dengan luka di hatinya. Selain tuduhan perselingkuhan, sang suami justru tidak mempercayainya dan justru lebih memilih untuk percaya pada orang lain.
KLEK
Luna mendengar suara pintu terbuka. Ia segera mengusap air matanya. Menarik napas dalam-dalam mencoba meredam rasa sesak di dadanya.
Ia menoleh, mendapati Raka sedang berjalan ke arahnya. Segera ia berpaling, menghindar dari tatapan dang suami.
"Luna."
Raka duduk menekuk kedua lututnya di depan Luna. Kedua tangannya mengenggam tangan Luna, erat seolah tidak ingin melepaskannya.
"Luna, i'm so sorry," ucap Raka. Wajahnya menunjukkan penyesalan yang dalam. "Aku terlalu cemburu."
Luna terdiam.
"Luna ... please talk to me!"
Luna menarik tangannya dan menoleh ke arah lain. "Tinggalkan aku. Aku mau sendiri."
"Luna ..." Raka berdiri, berpindah tempat duduk di samping Luna, menatap warna merah di pipi sang istri. Tangannya bergerak, jemarinya menyentuh bekas tamparannya di wajah Luna dengan hati-hati. "Apa ini sakit?"
Luna menarik kepalanya, menolak sentuhan Raka lantas menoleh ke arah laki-laki itu, menatapnya dengan tatapan dingin. "Kamu tahu apa yang lebih sakit dari tamparan kamu, Mas?" tanya Luna. Tarikan napasnya tidak beraturan karena marah. "Kamu lebih percaya pada orang lain dari pada aku, istrimu sendiri." Luna sedikit menekan kata-katanya.
"Aku benar-benar minta maaf, Luna," ucap Raka sembari menundukkan kepalanya.
"Sekarang aku mohon, tinggalkan aku sendiri." Luna memohon dengan menyatukan kedua tangannya.
"Tapi, Luna —"
"Kalau kamu gak mau ... aku saja yang pergi."
Luna berdiri, berniat untuk pergi. Namun Raka menahannya dengan memeluk tubuh wanita itu dari belakang. "Oke, aku yang pergi. Tapi sebelum itu aku obatin dulu lukamu."
Raka melepaskan pelukannya, menuntun Luna agar kembali duduk. Setelahnya ia pergi, mengambil kotak obat di laci meja nakas. Ia kembali ke tempat Luna lantas mengoleskan gel ke pipi Luna.
"Kamu mau makan? Kalau mau aku ambilkan?" tawar Raka.
Luna tidak bereaksi dan tetap bersikap dingin pada Raka. "Pergilah. Aku mau istirahat."
Raka hanya bisa mendesah pasrah.
"Baiklah. Jika kamu ingin sesuatu panggil saja aku. Aku ada di luar." Raka berdiri, sebelum pergi ia mengecup kening Luna.
Setelah Raka pergi, Luna kembali menarik napas berat. Ia menoleh ke arah pintu sekilas sebelum memutuskan untuk merebahkan diri di tempat tidur. Cairan bening menetes dari matanya tanpa permisi. Meksipun sudah berulang kali mengusapnya, air mata itu tak kunjung berhenti.
Bayangan kejadian sebelumnya membuat dada Luna kembali sesak, dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menangis, namun sayangnya setelah berusaha keras tetap saja gagal. Tubuhnya mulai bergetar, pada akhirnya tangisannya mulai pecah. Luna membungkam mulutnya agar suara tangisannya tidak sampai terdengar oleh siapa pun.
Hingga beberapa saat kemudian, tangisannya mulai mereda, mata Luna mulai menutup, karena kelelahan, ia tertidur begitu saja.
-
-
Tidur Luna terusik oleh alarm ponselnya. Luna menggeliat, ia mengulurkan tangannya, mencari keberadaan ponselnya dengan mata yang masih terpejam. Setelah mendapatkannya, Luna membawa benda pipih itu ke dekat wajahnya.
Matanya sedikit membuka, lantas mematikan alarm itu. Benda pipih itu ia letakan di dekatnya. Ia diam sesaat untuk mengumpulkan kesadarannya. Perlahan Luna membuka mata, berkedip beberapa kali agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu.
Saat kesadarannya sepenuhnya pulih, Luna beranjak dari tempat tidur, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai berganti pakaian, Luna keluar dari kamar dan memulai rutinitas hariannya.
Sampai di dapur, langkahnya terhenti begitu saja saat melihat ayah mertuanya. Mereka saling memandangi sampai Bara merentangkan satu tangannya, mengisyaratkan pada Luna untuk mendekat.
Sambil menahan tangis, Luna mendekat, membawa dirinya masuk ke dalam pelukan ayah mertuanya. Tangisan yang ia tahan akhirnya mulai pecah.
"Are you okey?" tanya Bara lembut. Tangan kekarnya bergerak naik turun di lengan Luna mencoba untuk menenangkannya.
Luna hanya merespon dengan anggukkan kepala.
"Apa anak itu sering bertindak kasar padamu seperti kemarin?" tanya Bara.
Luna menggeleng. "Ini pertama kalinya, Pa."
Suasana menjadi hening sesaat, hanya terdengar isak tangis Luna yang tidak seberapa.
"Pipinya masih sakit, mm?" Bara menyentuh pipi Luna dengan lembut.
Luna merasa sedikit canggung dengan perlakuan Bara padanya, tetapi tidak dipungkiri ia merasakan kenyamanan yang selama ini ia impikan.
"Aku akan berikan dia pelajaran," ucap Bara.
Luna mendongak lantas menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Pa."
"Are you sure?" tanya Bara dengan kening yang mengerut.
Luna mengangguk. "Ini hanya salah paham. Kami akan bicara baik-baik nanti."
Bara tersenyum tipis sebelum mengangguk. "Baiklah."
Tangan Bara mulai terangkat, menyentuh pipi Luna, jemarinya mengusap jejak cairan bening yang ada dia pipi sang menantu.
Jantung Luna berdetak sangat cepat, dua kali lebih cepat dari biasanya. Ada rasa yang sulit untuk Luna jelaskan saat Bara memperlakukannya dengan begitu lembut.
Setelah merasa jauh lebih baik, Luna menarik diri, memberikan jarak dengan Bara lantas mengusap cairan bening di sudut matanya.
"Oh iya, Papa kenapa pagi-pagi sudah bangun?" tanya Luna mengalihkan topik pembicaraan.
"Mau olah raga," jawab Bara. "Mau ikut?"
Luna menggeleng. "Aku mau siapin sarapan. Papa mau sarapan apa?"
"Apa pun," jawab Bara.
Pandangan keduanya dipertemukan pada satu titik yang sama. Perasaan canggung mulai merayap di dadanya membuat perasaannya campur aduk.
"Baiklah. Aku siapin sekarang," ucap Luna akhirnya berusaha mengakhiri kecanggungan itu.
Luna segera menjauh dari Bara. Ia pikir ayah mertuanya juga akan pergi, tetapi pria matang itu justru mengikutinya.
"Aku akan membantumu," ucap Bara.
"Hah!" Luna merasa frustasi, niatnya untuk menghindari, tetapi justru ayah mertuanya itu mendekat.
"Kenapa diam?" Ucapan Bara membuat Luna kelabakan.
"Pa, aku saja. Papa olah raga saja," ucap Luna.
"Kenapa? Meragukan kemampuan memasakku?" tanya Bara.
"Ah, tidak-tidak," jawab Luna cepat.
"Baiklah, apa yang mau kamu masak?" tanya Bara penuh semangat.
-
-
-
Satu jam kemudian, sarapan telah siap. Luna merasa takjub dengan makanan yang ada di hadapannya saat ini. Bukan dirinya yang membuat semua itu, nyaris sembilan puluh persen makanan di hadapannya ayah mertuanya yang membuatnya.
"Cobalah." Bara mengambil satu sendok nasi goreng seafood dari piring. Ia meniupnya lebih dulu sebelum menyuapkan ke mulut Luna.
Dengan senang hati Luna membuka mulutnya. Ia diam sesaat merasakan rasa yang belum pernah ia rasakan.
"Bagaiamana?"
Luna mengangguk penuh semangat. "Sangat enak."
"Kalau begitu makan yang banyak. Kamu kurus sekali." Bara menarik pipi Luna.
Bibir Luna tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Kembali pandangannya bertemu dengan mata cokelat milik Bara. Untuk sesaat mereka saling memandang, melupakan dunia luar.
"Luna!"
Pandangan itu terputus begitu saja saat suara Raka masuk ke dalam indera pendengarannya.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man