NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31: Rumah Terakhir Sebelum Dunia Berakhir

Malam itu terasa lebih berat daripada malam-malam ketika Arga menyusup ke markas Organisasi Hitam atau menghadapi maut di depan mata. Keheningan yang memenuhi ruang tamu rumah masa kecilnya bukan lagi lahir dari ketakutan terhadap musuh, melainkan dari kebenaran yang terlalu besar untuk diterima manusia biasa. Di atas meja, beberapa benda yang baru saja keluar dari Ruang Dimensi masih tergeletak tanpa seorang pun berani menyentuhnya, seolah seluruh logika keluarga itu ikut runtuh bersama kemunculan benda-benda yang semestinya mustahil ada.

Tik...

Jam dinding terus berdetak, tetapi tak seorang pun memecahkan kesunyian. Mata ibu Arga masih membulat memandangi generator portabel yang muncul begitu saja, sementara Sari memeluk kedua lututnya di sofa dengan bibir bergetar. Ayah duduk tegak, mencoba mempertahankan ketenangan meski kedua telapak tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Arga menarik napas panjang sebelum kembali berbicara. Suaranya pelan, tetapi setiap kata jatuh seperti batu yang menghantam permukaan danau tenang. "Yang kalian lihat tadi baru sebagian kecil. Dua hari lagi, manusia tidak lagi takut pada perang atau bencana alam. Mereka akan saling takut kepada sesamanya."

Ia mengeluarkan sebuah tablet dari Ruang Dimensi, lalu menyalakannya di atas meja. Layar segera memperlihatkan rekaman yang berhasil ia salin dari Kompleks Omega, menampilkan laboratorium raksasa dengan kapsul-kapsul eksperimen, kristal berukuran besar, serta manusia yang terbaring tak bergerak di dalam tabung kaca. Wajah ibu Arga langsung memucat ketika kamera memperlihatkan salah satu eksperimen gagal yang berubah menjadi makhluk mengerikan.

Klik...

Video berikutnya memperlihatkan serangan zombie di sebuah fasilitas penelitian. Para ilmuwan berlari tunggang-langgang sebelum satu demi satu diterkam oleh manusia yang tubuhnya dipenuhi pembuluh hitam. Darah memenuhi lorong putih laboratorium, sementara alarm darurat meraung tanpa henti.

"Astaga..." bisik ibu dengan kedua tangan menutup mulut. Air mata mulai mengalir di pipinya, sedangkan Sari menundukkan kepala karena tidak sanggup lagi melihat layar.

Arga mematikan tablet itu sebelum rekaman berubah semakin mengerikan. Ia menatap keluarganya satu per satu dengan sorot mata yang jauh lebih tua daripada usianya. "Itulah awal semuanya. Setelah itu, kota demi kota jatuh. Pemerintah kehilangan kendali. Dunia berubah menjadi tempat yang tidak lagi mengenal belas kasihan."

Ayah mengusap wajahnya perlahan. Lelaki paruh baya itu sudah puluhan tahun menghadapi berbagai persoalan hidup, tetapi belum pernah sekalipun merasakan dadanya seberat malam ini. Setelah beberapa saat terdiam, ia akhirnya mengangkat kepala dan menatap putra sulungnya dengan penuh tanda tanya.

"Kalau semua ini akan terjadi..." suaranya terdengar serak, "...bagaimana kamu bisa tahu sedetail itu?"

Pertanyaan itu menggantung di udara seperti bilah pisau yang tak terlihat. Arga tidak langsung menjawab. Pandangannya jatuh pada lantai, lalu perlahan beralih menuju foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Di dalam foto itu, mereka semua masih tersenyum tanpa mengetahui bahwa masa depan pernah merenggut semuanya darinya.

Ia memejamkan mata beberapa detik.

Kemudian berkata lirih, "Karena... aku pernah hidup di sana."

Kalimat itu membuat ruangan kembali membeku. Bahkan suara kipas angin yang berputar di langit-langit terasa begitu jelas karena tidak ada seorang pun yang berani menyela.

Arga kembali membuka matanya. Tatapannya tenang, tetapi jauh di dasar matanya tersimpan kesedihan yang telah dipendam selama sepuluh tahun kehidupan lain. "Aku bukan peramal. Aku juga bukan nabi yang bisa melihat masa depan. Aku pernah menjalani sepuluh tahun setelah kiamat itu dimulai... lalu mati."

Deg...

Jantung Sari seperti berhenti berdetak sesaat.

"Aku mati ketika dunia hampir benar-benar hancur," lanjut Arga tanpa mengalihkan pandangan. "Saat membuka mata lagi, aku kembali ke masa sebelum semuanya terjadi. Ke hari ketika kalian semua masih hidup."

Air mata ibu langsung pecah tanpa mampu dibendung lagi. Ia bangkit dari sofa, berjalan perlahan, lalu memeluk putranya dengan erat seolah takut Arga benar-benar akan menghilang. Tubuh wanita itu bergetar hebat karena membayangkan anak yang selama ini ia anggap menjalani kehidupan biasa ternyata pernah menghadapi neraka sendirian.

Sari hanya bisa menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Selama ini ia mengira Arga berubah menjadi lebih dewasa karena pekerjaan dan tanggung jawab. Kini ia sadar, perubahan itu lahir dari luka yang bahkan tidak mampu ia bayangkan.

Ayah tetap duduk di tempatnya. Ia memandangi Arga begitu lama, membaca setiap gurat kelelahan yang selama ini tidak pernah ia sadari. Setelah menarik napas panjang, ia berdiri, melangkah mendekat, lalu menepuk bahu putranya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Berarti..." katanya perlahan, "...selama ini kamu memikul semua beban itu sendirian."

Arga tidak mampu menjawab. Ia hanya mengangguk pelan karena tenggorokannya terasa sesak. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ada seseorang yang benar-benar memahami betapa berat perjalanan yang ia jalani.

Tring...

Nada dering ponsel tiba-tiba memecahkan suasana.

Semua orang menoleh bersamaan ketika nama direktur konstruksi muncul di layar. Arga mengusap cepat sudut matanya sebelum menerima panggilan tersebut.

"Selamat malam, Pak Arga," suara direktur terdengar penuh semangat. "Saya ingin melaporkan bahwa pembangunan vila telah selesai seratus persen. Seluruh sistem sudah melewati inspeksi akhir, termasuk bunker, generator, pagar otomatis, dan ruang kontrol. Kami siap melakukan serah terima kapan pun Bapak berkenan."

Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Arga. Untuk pertama kalinya malam itu, secercah harapan menggantikan kesedihan yang memenuhi dadanya. "Terima kasih. Besok pagi saya datang."

Setelah panggilan berakhir, Arga memasukkan ponselnya ke saku dan memandang keluarganya yang masih duduk dalam keheningan.

"Kita tidak akan tinggal di sini lagi."

Ketiga anggota keluarganya menatap bersamaan.

"Aku sudah menyiapkan tempat yang jauh lebih aman," lanjut Arga. "Rumah itu memang kubangun untuk menghadapi hari yang akan datang."

Tanpa membuang waktu, ia kembali menghubungi direktur konstruksi. "Pak, saya butuh bantuan lagi. Kirim beberapa mobil pikap dan beberapa pekerja malam ini juga. Tolong bantu pindahkan seluruh barang keluarga saya ke vila sebelum besok siang."

"Tentu, Pak Arga. Kami berangkat sekarang juga."

Kurang dari satu jam kemudian, beberapa kendaraan memasuki gang perumahan. Para pekerja mulai mengangkat perabot dan kardus dengan cekatan, sementara keluarga Arga ikut memilah barang-barang penting yang akan dibawa.

Krek...

Lemari tua di ruang tamu terbuka perlahan ketika ibu mengambil album-album foto keluarga. Ia berhenti cukup lama di depan dinding yang dipenuhi bingkai kenangan, mulai dari foto pernikahannya, ulang tahun Arga saat kecil, hingga kelulusan Sari beberapa minggu lalu. Jemarinya menyentuh salah satu bingkai dengan sangat hati-hati.

"Rumah ini..." bisiknya lirih, "...sudah menemani kita begitu lama."

Ayah berdiri di samping istrinya tanpa berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam tangan wanita itu, memberi kekuatan saat keduanya menyadari mungkin inilah malam terakhir mereka tinggal di rumah yang telah menjadi saksi puluhan tahun kehidupan keluarga mereka.

Keesokan paginya, mentari baru saja naik ketika sebuah Rolls-Royce hitam berhenti di depan rumah.

Desis...

Pintu mobil terbuka perlahan.

Sari langsung membelalak hingga nyaris melompat dari teras. "Mas... ini mobilnya orang sultan!"

Ia mengelilingi mobil itu beberapa kali sambil memandangi setiap lekuk bodinya dengan takjub. Sesekali ia mengangkat ponsel untuk mengambil foto, lalu buru-buru menyimpannya lagi karena merasa canggung.

Ibunya bahkan tidak langsung masuk. Ia hanya berdiri di samping pintu dengan raut khawatir. "Nanti lecet kalau Ibu pegang."

Ayah terkekeh pelan untuk pertama kalinya sejak semalam. "Naik saja. Sekarang ini mobil keluarga kita."

Perjalanan menuju vila dipenuhi percakapan yang jauh lebih ringan. Sari terus bertanya tentang fitur mobil, sementara ibu sesekali menggelengkan kepala karena masih sulit percaya putranya mampu membeli kendaraan semewah itu. Arga hanya tersenyum tipis sambil fokus mengemudi, menikmati suara tawa yang pernah hilang selama sepuluh tahun kehidupannya di masa depan.

Tak lama kemudian, mobil memasuki jalan perbukitan.

Wusss...

Gerbang baja raksasa perlahan terbuka secara otomatis.

Seluruh keluarga langsung terdiam ketika vila megah itu terlihat berdiri di tengah lahan luas yang dikelilingi pagar tinggi. Kamera CCTV berputar perlahan mengikuti setiap kendaraan yang masuk, sementara beberapa panel surya berkilau diterpa sinar matahari.

Direktur konstruksi bersama beberapa staf telah menunggu di halaman depan. Dengan penuh kebanggaan, ia mengajak keluarga Arga berkeliling melihat setiap fasilitas yang telah selesai dibangun. Mereka melewati pagar baja bertingkat, ruang kontrol penuh monitor, bunker bawah tanah yang kokoh, gudang logistik yang luas, generator industri, tangki air raksasa, ruang medis lengkap, bengkel, ruang latihan, hingga area pertanian yang siap ditanami.

Sari terus memandang ke segala arah tanpa mampu menyembunyikan kekagumannya. "Mas... ini rumah atau markas militer?"

Arga tersenyum kecil. "Sedikit dari keduanya."

Di akhir tur, direktur menyerahkan sebuah kotak kayu berisi kunci simbolis. "Selamat, Pak Arga. Pembangunan resmi selesai. Semoga tempat ini membawa keberuntungan."

"Terima kasih," jawab Arga sambil menjabat tangannya erat.

Tak lama kemudian seluruh pekerja meninggalkan kawasan vila. Keheningan perlahan mengambil alih, hanya ditemani suara angin yang berembus di antara pepohonan sekitar bukit.

Arga mengajak keluarganya menuju sebuah ruang rapat kecil di dekat ruang kontrol. Di atas meja telah terbentang peta besar Indonesia, sementara sebuah kalender digital menampilkan tanggal dengan angka merah yang terus menyala.

13 Juli 2026.

Arga berdiri di depan meja sambil memandang wajah ayah, ibu, dan Sari bergantian. Wajah-wajah itu kini bukan lagi sekadar keluarganya, melainkan orang-orang yang harus ia lindungi dengan apa pun risikonya.

"Mulai detik ini," katanya tenang, "kita anggap dunia di luar sudah menjadi wilayah berbahaya."

Ia kemudian membagikan tanggung jawab dengan suara mantap. Ayah diminta mengawasi keamanan vila, mempelajari seluruh sistem pertahanan, serta memastikan semua peralatan selalu siap digunakan. Ibu bertanggung jawab mengelola dapur, logistik, dan persediaan makanan, sedangkan Sari akan mulai belajar radio komunikasi, pertolongan pertama, dan dasar-dasar bertahan hidup.

Sari mengangguk meski masih tampak gugup. "Aku akan belajar, Mas. Aku tidak mau hanya menjadi beban."

Arga tersenyum bangga. "Itu yang ingin kudengar."

Setelah semuanya selesai, Arga berjalan menuju jendela besar di ujung ruangan lalu menutup tirainya perlahan. Cahaya sore meredup, meninggalkan ruang rapat dalam suasana yang tenang namun penuh kesiagaan.

Sret...

Pandangannya terangkat menuju langit yang mulai berubah jingga. Kalender digital di dinding terus berdetak tanpa mengenal belas kasihan.

13 Juli 2026.

Tersisa satu hari sebelum dunia berubah selamanya.

1
adib
plot twist baru nih. tnyata kakeknya
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!