Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Mutlak
Sutradara, produser, hingga Clarissa Olivia membeku di tempat. Mulut mereka menganga lebar, tak mempercayai penglihatan mereka sendiri.
Mega bintang tertinggi di industri hiburan yaitu pria yang paling disegani dan jarang tersenyum itu baru saja menceburkan diri ke kolam dingin hanya demi menyelamatkan seorang pemeran pendukung kecil!
Leon berlutut di atas lantai granit, menepuk-nepuk pipi pucat Alina yang tak bergeming. Bibir gadis itu sudah membiru, dan tubuhnya gemetaran hebat di dalam kesadarannya yang hilang.
"Alina! Buka matamu! Alina!" bentak Leon, suaranya parau oleh kecemasan yang tak mampu dia tutupi lagi.
Leon segera memberikan napas buatan (CPR), menekan dada Alina beberapa kali dengan cekatan. Setelah dorongan ketiga, Alina tiba-tiba terbatuk keras, memuntahkan air kolam dari mulutnya, dan meraup udara dengan napas yang memburu menyiksa.
"Uhuk! Uhuk... Hah... hah..." Alina membuka matanya yang berkaca-kaca secara perlahan. Pandangannya yang kabur perlahan menangkap bayangan wajah Leon yang basah kuyup, berada hanya beberapa senti di atas wajahnya.
"Le... Leon...?" bisik Alina sangat parau.
"Diam. Jangan banyak bicara," potong Leon rendah. Dia melepaskan jas hitamnya yang basah, lalu menyelimutkan jas tersebut ke tubuh Alina yang menggigil, memeluk tubuh ramping itu erat-erat di dadanya.
Leon berdiri sembari menggendong Alina dalam pelukannya persis seperti yang dia lakukan di penthouse semalam. Namun kali ini, pandangan mata Leon beralih menatap ke arah orang-orang yang berdiri kaku di sekeliling kolam.
Tatapan mata Leon yang sehitam malam itu menyapu seluruh set, sebelum akhirnya mengunci tepat pada sosok Clarissa Olivia yang mendadak pucat pasi dengan tubuh gemetaran ketakutan.
"Siapa yang bertanggung jawab atas adegan ini?" suara Leon menggema berat, sangat dingin, dan sarat akan ancaman pembunuhan terselubung.
Sutradara melangkah maju dengan lutut yang gemetar. "Tuan... Tuan Leon... ini, ini hanya adegan syuting biasa. Kami sedang mengambil take untuk..." ucap sang sutradara terpotong.
"Sepuluh kali?!" potong Naya yang akhirnya memberanikan diri berteriak di samping Jefri.
"Tuan Leon! Dia menyuruh Alina menceburkan diri sampai sepuluh kali di air es ini! Perempuan itu sengaja menindas Alina!" Naya menunjuk lurus ke arah Clarissa.
Suasana seketika menjadi sehening kuburan.
Leon menolehkan kepalanya perlahan, menatap Clarissa. Kilatan amarah di mata Leon begitu mengerikan hingga Clarissa secara refleks mundur dua langkah, pernapasan aktris utama itu mendadak tercekat.
"Clarissa Olivia," sebut Leon, mengeja nama wanita itu dengan nada yang sangat mematikan.
"Kamu menggunakan posisi profesionalmu untuk menyiksa orang lain di lokasi syuting?" tanya Leon dengan menahan amarahnya.
"T-Tuan Leon... ini tidak seperti yang Anda bayangkan!" pangkas Clarissa dengan suara yang melengking panik, mencoba membela diri.
"S-saya hanya ingin hasilnya sempurna! Saya tidak tahu kalau dia... kalau Alina sampai pingsan! Lagipula dia hanya pemeran pendukung, kenapa Tuan Leon harus sepeduli ini pada seorang figuran?!"
Leon terkekeh sinis yaitu sebuah tawa dingin yang mengirimkan sensasi mengerikan ke tulang belakang semua orang yang mendengarnya.
Leon mempererat dekapannya pada tubuh Alina yang masih bersandar lelah di dadanya. Dia menatap Clarissa dengan pandangan merendahkan dari atas ke bawah.
"Pemeran pendukung?" bisik Leon tajam.
"Ingat kata-kataku baik-baik, Clarissa. Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun rumah produksi di bawah Alexander Media, BN Production, atau jaringan investor mana pun yang akan menerima namamu lagi. Kariermu di industri ini... selesai hari ini." tegas Leon mutlak dengan penuh ancaman nyata.
"A-apa?!" Clarissa menjerit histeris, matanya membelalak lebar seolah dunia baru saja runtuh di atas kepalanya.
"Anda tidak bisa melakukan itu! Saya aktris utama di drama ini!" protesnya.
Leon tidak lagi sudi melayani ucapan wanita itu. Dia berpaling menatap Jefri yang berdiri siaga di sampingnya.
"Jefri," perintah Leon datar.
"Cabut seluruh investasi Alexander Group dari proyek drama ini jika mereka masih mempertahankan wanita itu. Dan pastikan tim hukum melayangkan gugatan penganiayaan sengaja atas cedera yang dialami Alina." perintah Leon.
"Baik, Tuan Leon. Segera dilaksanakan," jawab Jefri tegas tanpa ragu sedikit pun.
Seluruh kru dan sutradara menahan napas. Hanya dengan beberapa patah kata, Leon baru saja menghancurkan masa depan karier salah satu aktris paling naik daun di negara ini tanpa berkedip.
Mereka kini menyadari satu hal yang teramat sangat mengerikan yaitu Alina Savina bukanlah sekadar pemeran pendukung biasa. Ada hubungan yang sangat dalam dan tak tersentuh antara gadis itu dengan sang penguasa Alexander Group.
Leon tidak peduli lagi pada kasak-kusuk atau tatapan bertanya-tanya dari puluhan pasang mata di sekitarnya. Dia berbalik, melangkah lebar-lebar membawa Alina yang setengah sadar dalam gendongannya menuju mobil.
"Leon..." panggil Alina sangat lirih di dalam dekapan pria itu saat mereka mendekati mobil.
"Karierku... bagaimana dengan namaku jika orang-orang tahu...?" ucapnya lirih.
"Tutup mulutmu, Alina." bisik Leon di dekat telinga gadis itu, suaranya yang tadinya murka mendadak melembut dengan sangat tipis.
"Aku sudah membiarkanmu terluka sekali semalam karena kebodohanmu yang ingin bertahan sendiri. Hari ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau melukaimu lagi."
Leon memasukkan Alina ke dalam kursi belakang mobil yang hangat, lalu menyusul masuk di sampingnya. Dia memeluk tubuh Alina yang masih menggigil hebat, membungkusnya dengan selimut tebal yang disodorkan sopir, membiarkan kepala Alina bersandar di dada bidangnya yang basah.
Di dalam kabin mobil yang melaju kencang meninggalkan neraka lokasi syuting tersebut, Alina memejamkan matanya yang berat.
Di balik rasa dingin yang perlahan menguap dari tubuhnya, ada kehangatan nyata dari dada pria di sampingnya yaitu sebuah rasa aman yang tak pernah dia duga akan dia dapatkan dari seorang tiran bernama Leon Alexander.
Sandiwara mereka telah pecah di luar batas, dan takdir hubungan rahasia ini kini telah melompat ke babak yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....