Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : API DI CIKABUYUTAN
Obor melayang di udara, berputar sebelum menimpa atap ijuk di rumah paling ujung.
Seketika api menyala dan melahap ijuk kering, desisan terdengar disusul runtuhnya tiang bambu yang menyangga atap gubuk. Asap hitam mulai membumbung tinggi menghalangi sinar matahari sore .
“Rumahku!... Anakku ada di dalam!” jerit Nyi Darsih sambil berlari menerjang asap.
“Tahan...! Terlalu berbahaya!” teriak Mang Darma, sambil menariknya dengan keras hingga keduanya jatuh terduduk di tanah.
Sebuah obor kembali dilemparkan ke dalam lumbung padi milik kampung. Gabah perlahan terbakar menyebarkan bau yang menyengat.
Rombongan Prajurit Kadipaten Ciaruteun yang di pimpin Jaka Wiradipa tidak pernah berhenti melemparkan obor ke setiap gubuk yang dilewati. menjalar dengan cepat dari satu atap ke atap lainnya seperti aliran air yang tak terbendung.
Bayu Suta baru saja menjatuhkan keranjang umbi di bawah pohon tempat ia beristirahat. Matanya terbelalak melihat deretan rumah mulai terbakar. Di sampingnya, Karta anak kecil usia 13 tahun gemetar hebat, tangannya mencengkeram erat ujung baju Bayu.
“Kang! Tempo, Saung aya nu ngaduruk!” tunjuk Karta dengan suara bergetar.
Benar saja, gubuk tempat tinggal mereka sudah menyala di penuhi jilatan api yang bergerak liar .
Bayu berlari dengan cepat melompati selokan dan reruntuhan kayu yang mulai berjatuhan.
DI depan gubuk, ia melihat obor lain melayang tepat ke arah tumpukan jerami.
Bayu melompat dan menendang obor hingga terlempar ke sungai kecil di samping rumah. Napasnya terengah, keringat dingin mulai menetes di pelipis.
“Hebat juga... kau bocah..!”
Bayu menoleh perlahan. Jaka Wiradipa berdiri tiga langkah di belakangnya, diikuti dua prajurit dengan golok terhunus. Wajah kasar dengan luka melintang membelah mata terlihat menyipit menatap Bayu seperti melihat serangga yang berani menghalangi jalan harimau.
“Kami tidak pernah menunggak pajak, selalu kami serahkan tepat waktu!” seru Bayu, menegakkan tubuh meski kakinya masih gemetar. “Bulan lalu kami sudah mengirimkan separuh hasil panen jagung seperti perintah sebelumnya!”
Jaka Wiradipa tertawa keras, menendang gumpalan tanah kering ke arah wajah Bayu.
“Perintah baru dari Bupati Rangga Sasmita. Upeti dinaikkan dua kali lipat, harus dikumpulkan hari ini juga sebelum matahari terbenam.”
“Musim panen masih lama! Kami sudah tidak punya apa apa untuk bisa membayar upeti!” suara Mbah Suryanata terdengar dari kejauhan.
Kepala kampung itu berlari mendekat, Ia berlutut di depan Jaka Wiradipa, telapak tangannya menempel ke tanah yang mulai terasa hangat oleh panasnya api.
“Tolong beri kami waktu satu bulan lagi. Setelah padi siap panen, kami akan antarkan semuanya ke Kadipaten, saya berjanji sebagai tetua kampung!”
“Janji petani tidak berharga sepeser pun di mata Bupati!” Jaka Wiradipa menendang bahu Embah Suryanata hingga terguling ke samping dan menabrak tumpukan batu.
“Kalau tak bisa membayar dengan gabah, bayarlah dengan rumah kalian, dengan ternak kalian, atau dengan nyawa kalian!”
“Kau tidak adil!” bentak seorang pemuda dari kerumunan maju selangkah dengan tangan mengepal.
“Kami sudah bertahun-tahun patuh dan menyerahkan semua yang kami punya, tapi kalian semakin menindas tanpa ada rasa belas kasihan sedikit pun!”
Prajurit di samping Jaka Wiradipa melangkah maju menyodok perut pemuda itu dengan gagang tombak. Ia meringis tubuhnya membungkuk menahan sakit lalu jatuh terjerambab ke tanah.
“Adil?” Jaka Wiradipa berjongkok di depan pemuda itu sambil tersenyum sinis.
“Kalian hidup di tanah Kadipaten Ciaruteun. Tanah ini, air sungai ini, udara yang kalian hirup—semuanya milik Bupati. Kalian hanya berhak hidup kalau kami izinkan. Ingat itu baik-baik sebelum mulutmu berbicara lebih jauh!”
Ia berdiri menunjuk ke arah rumah yang masih terbakar.
“Kau lihat itu?....Itu baru permulaan. Kalau sampai matahari terbenam belum ada setengah dari yang yang di tetapkan, kami akan membakar seluruh kampung sampai tak tersisa!”
“Kalian sungguh kejam!” isak seorang nenek tua sambil bersimpuh.
“Kami sudah tidak punya tempat untuk di tuju, tidak ada kerabat di kampung lain!”
“Bukan urusan kami!” Jaka Wiradipa melambaikan tangan kasar.
“Lanjut bakar! Jangan sisakan satu rumah pun buat mereka yang menentang perintah Kadipaten!”
Prajurit mulai melemparkan Obor ke arah kandang kandang ternak. Kerbau dan sapi bergerak liar tanpa arah menerobos pagar pagar bambu berlari ke pinggiran hutan.
Jeritan warga bercampur dengan suara kayu yang mulai terbakar mengikuti setiap derap langkah prajurit kadipaten yang terus melemparkan obor obor ke setiap gubuk.
Bayu melihat ke sekeliling. Semua rumah di sisi timur sudah rata dengan tanah, meninggalkan tumpukan arang yang masih menyala. Warga berlarian tak tentu arah: berusaha menyelamatkan harta benda yang tersisa, sambil memeluk anaknya yang menangis, ada juga yang duduk terdiam melihat harta benda warisan leluhur habis dilalap api dalam sekejap mata.
Ia melirik ke arah Mbah Suryanata sedang berusaha menenangkan warga yang panik, lalu ke arah Jaka Wiradipa yang kini menaiki punggung kuda sambil menatap kehancuran kampung cikabuyutan dengan wajah puas tanpa rasa bersalah.
“Kang..… kita harus pergi sekarang,” bisik Karta sambil menarik lengan baju Bayu perlahan.
“Mereka akan menyakiti kita kalau masih tetap di sini.”
Belum sempat Bayu menjawab, prajurit yang melihatnya menendang obor melangkah mendekat dengan wajah marah.
“Hei bocah sialan! Kau kira bisa menghalangi perintah Kadipaten?”
Tanpa peringatan, prajurit itu mengayunkan golok dengan cepat ke arah bahu kanan Bayu.
"Sret.."
Bayu meringis kesakitan, darah segar merembes keluar dari bekas sayatan membasahi baju lusuhnya.
Bahunya terasa berat, setiap gerakan memicu rasa nyeri yang menjalar sampai ke leher dan dada.
“Lari, Bayu! Lari sekarang, jangan pedulikan kami!” teriak Mbah Suryanata dari kejauhan, suaranya terdengar cemas dan putus asa.
Bayu menggigit bibir sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit. Ia tahu kalau ia tetap di sini, ia tak akan bisa menyelamatkan dirinya maupun Karta. Ia tidak menoleh lagi ke arah prajurit.
Dengan tenaga yang tersisa, ia raih tangan Karta dan mencengkeramnya dengan erat.
“Pegang tanganku. Jangan di lepaskan, apa pun yang terjadi,” perintah Bayu dengan suara bergetar sambil menahan nyeri dan amarah yang mulai membakar dadanya.
Mereka berlari menuju jalan setapak di sisi utara kampung yang menuju hutan Wana Kelor, hutan lebat yang jarang dilewati manusia, penuh semak berduri, dan belum pernah dijelajahi ke bagian yang paling dalam.
Di belakang mereka masih terdengar samar gemertak suara api yang melahap sisa sisa kayu yang masih utuh belum terbakar.
Karta terus berlari, sesekali menoleh ke belakang sambil menahan tangis.
“Mereka benar-benar membakar semuanya… Kenapa mereka sejahat itu, Kang? Apa salah kami sampai harus menghancurkan kampung Cikabuyutan?”
Bayu tidak menjawab dan terus melangkah sambil menatap jalan setapak di depannya.
Kakinya mulai terasa lemas dan bahunya semakin terasa perih setiap kali ia mengayunkan tangan menyibaka daun dan ilalang yang menghalangi langkahnya.
Darah terus menetes meninggalkan jejak samar di tanah yang mereka lalui.
“Kesalahan saat ini adalah kita lemah,” jawabnya pelan dengan suara yang terdengar berat dan serak.
“Dan orang jahat selalu menindas mereka yang tak berdaya.”
“Lalu siapa yang akan melindungi nanti? Siapa yang akan menghentikan mereka jika menindas dan membakar desa desa lain?” tanya Karta lagi sambil berkaca-kaca menatap Bayu.
Bayu berhenti dan menoleh kebelakang dengan perlahan. Dari kejauhan Kampung Cikabuyutan sudah tak terlihat, hanya gumpalan asap hitam pekat yang membumbung tinggi, menyembunyikan sinar matahari. Warna langit berubah hitam mewakili kesedihan dan kemarahan yang menggelayut di dadanya.
“Entahlah, Karta,” ucapnya pelan sambil menarik tangan adiknya masuk ke dalam bayang-bayang pohon besar yang gelap.
“Tapi selama kita masih bernapas, kita tidak boleh menyerah. Rumah bisa dibangun kembali, tanah bisa ditanami, tapi nyawa tidak bisa dibeli kalau kita sudah mati.”
Mereka melangkah masuk lebih dalam ke hutan Wana Kelor. Suasana berubah menjadi sejuk dan hening tak terdengar lagi suara jeritan hanya gesekan dedauan yang tertiup angin dan gemeretak suara ranting yang terinjak.
Namun api di kampung Cikabuyutan belum sepenuhnya padam. Percikan api kejahatan hari ini telah menyalakan sesuatu jauh di dalam dada, sesuatu yang lebih panas, lebih kuat, dan tak akan padam walaupun terkena hujan dan badai.
Di kejauhan, Jaka Wiradipa menatap arah hutan sambil membetulkan letak ikat kepalanya dan tertawa pelan.
“Biarkan mereka. Hewan liar pasti akan memakan mereka dengan perlahan. Kadipaten tidak perlu khawatir lagi dengan kampung tak berguna ini.”
Ia membalikkan arah kudanya dan memberi isyarat pada pasukan untuk pulang.
“Kembali ke Kadipaten. Laporkan pada Bupati Rangga Sasmita bahwa tugas sudah selesai tanpa hambatan.”
Prajurit kadpaten berbalik arah serempak, meninggalkan sisa api dan puing-puing yang dulunya bernama Kampung Cikabuyutan.
Tanah subur dan damai itu kini berubah menjadi gersang oleh lahapan api, semua ketenangan yang dijaga warga selama puluhan tahun telah hilang ditelan keserakahan.
Sementara itu di dalam hutan terlihat Bayu melangkah bersama Karta, Ia tahu perjalanan mereka baru saja dimulai, tak ada jalan untuk kembali.
Mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, untuk warga kampung, dan untuk keadilan yang telah di rampas.
Karta mempererat genggamannya. Diam.
Tapi dalam diam ia tahu selama kakaknya ada, ia tidak sendirian.
Di tengah rasa sakit dan kesedihan yang mendalam, benih keberanian dan janji perlahan mulai tumbuh di hati mereka berdua.
Api kampung Cikabuyutan mungkin akan padam tersiram air hujan. Tapi api kebenaran dan keberanian yang baru saja dinyalakan, tak akan pernah padam.