"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Puing-puing Takdir
***
Suara hantaman besi tua yang beradu dengan beton pembatas jalan malam itu akan selalu menjadi melodi paling mengerikan dalam hidup Freya Anindita.
Malam itu hujan turun sangat deras. Kilatan petir sesekali membelah langit hitam, menyinari kaca mobil yang mulai berembun.
Freya yang saat itu baru menginjak usia sebelas tahun—masih mengenakan seragam putih-merah yang sedikit kotor setelah acara perpisahan kelas enam SD—duduk di kursi belakang. Ia memeluk boneka beruang lusuh kesayangannya, mencoba menghalau rasa takut dari gemuruh petir di luar.
"Papa, pelan-pelan. Jalannya licin sekali," Suara lembut sang mama terdengar memperingatkan. Wanita itu menoleh ke belakang, melemparkan senyum menenangkan kepada Freya.
"Freya sayang, tidak apa-apa. Sebentar lagi kita sampai di rumah, ya?".
Itu adalah senyuman terakhir yang Freya lihat dari ibunya.
Hanya dalam hitungan detik, sebuah truk kontainer dari arah berlawanan kehilangan kendali akibat rem blong di jalanan yang menurun dan licin.
Lampu sorot truk itu membutakan pandangan mereka. Suara klakson panjang berdengung memekakkan telinga, disusul jeritan histeris sang mama. Papa Freya mencoba membanting setir sekencang mungkin, namun terlambat.
BRAKKKK!
Benturan itu begitu dahsyat. Dunia seolah berputar terbalik bagi Freya. Tubuh mungilnya terombang-ambing di dalam kabin mobil yang merangsek hancur.
Suara kaca pecah yang berdenting tajam bercampur dengan derit besi yang bergesekan menciptakan suara yang memilukan. Rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya, sebelum akhirnya segalanya berubah menjadi gelap gulita.
Bau anyir darah dan aroma obat-obatan yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Freya saat kesadarannya perlahan pulih.
Hal pertama yang ia dengar adalah suara monitor jantung yang berbunyi monoton di ruangan serba putih. Kepala Freya terasa sangat berat, diperban rapat dengan noda darah yang menembus kain kasa.
Namun, rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan kengerian yang ia saksikan begitu matanya terbuka sempurna. Ia berada di lorong rumah sakit yang dingin dan bising. Beberapa perawat berlarian dengan pakaian berlumuran darah.
"Mama... Papa..." Bisik Freya parau. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir.
Seorang suster paruh baya mendekatinya dengan wajah pucat dan mata penuh iba. "Adik... Adik Freya sudah sadar? Syukurlah..."
"Mama di mana, Suster? Papa di mana?". Freya mencengkeram lengan baju suster itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Air mata mulai berlinang, membasahi pipinya yang penuh luka goresan kaca.
Suster itu terdiam sesaat, menggigit bibir bawahnya sebelum berbisik dengan nada tercekik, "Mama... Mama sudah tidak ada, Nak. Jenazahnya sudah dipindahkan ke ruang forensik. Tapi papamu... papamu masih berjuang di dalam ruang rawat darurat. Mari, Suster antar."
Dunia Freya seolah runtuh seketika mendengar kata 'ruang jenazah' dan 'tidak ada'. Di usianya yang baru sebelas tahun, ia dipaksa memahami arti kehilangan yang sesungguhnya.
Dengan langkah gontai dan kaki yang gemetar hebat, ia menolak menggunakan kursi roda. Sambil menangis tersedu-sedu, memeluk dirinya sendiri yang gemetar, ia berjalan menuju sebuah ruangan di mana sang papa tengah terbaring sekarat.
Di dalam ruangan itu, tubuh tegap papanya kini dipenuhi selang dan alat medis. Napasnya pendek dan tersengal-sengal. Mesin detak jantung di samping tempat tidur menunjukkan grafik yang semakin melemah.
"Papa..." Tangis Freya pecah. Ia berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan papanya yang terasa sedingin es. "Papa jangan tinggalkan Freya... Mama sudah pergi, Papa tidak boleh pergi..."
Pria paruh baya itu perlahan membuka matanya yang kuyu. Melihat putri semata wayangnya yang menangis histeris dengan luka di sekujur tubuh, setetes air mata jatuh dari sudut mata sang papa. Ia tahu waktunya tidak banyak. Paru-parunya telah robek akibat benturan setir mobil.
Tiba-tiba, pintu kamar rawat terbuka agak keras. Seorang pria paruh baya berpenampilan berwibawa, mengenakan setelan jas mahal yang tampak sedikit berantakan karena terburu-buru, melangkah masuk dengan napas memburu. Dia adalah Baskoro Danendra, pengusaha raksasa sekaligus rekan bisnis terdekat papa Freya.
Di belakang Baskoro, berdiri seorang pemuda berusia 23 tahun berwajah dingin, tajam, dan berpostur tegap menawan.
Pemuda itu adalah Galen Danendra, putra sulung Baskoro yang baru saja mulai memegang kendali di salah satu anak perusahaan ayahnya.
Mata Galen yang kelam dan tak tersentuh menatap pemandangan tragis di depannya tanpa ekspresi yang jelas, namun ada kilat ketegangan di rahangnya yang mengeras.
"Hendrawan!". Baskoro langsung menghampiri sisi ranjang, menggenggam pundak sahabatnya dengan tangan gemetar. "Astaga, apa yang terjadi? Kenapa bisa jadi seperti ini?".
Papa Freya, Hendrawan, menggerakkan jarinya yang lemah, mengisyaratkan Baskoro untuk mendekat. Suaranya terdengar seperti bisikan angin yang terputus-putus. "B-Baskoro... waktuku... sudah habis..."
"Jangan bicara begitu! Dokternya sedang berusaha!". Baskoro berteriak menahan tangis.
"Dengar... dengarkan aku..." Hendrawan terbatuk, memuntahkan sedikit darah dari sudut bibirnya yang membuat Freya semakin menjerit histeris. "Aku tidak punya... siapa-siapa lagi. Keluarga kami... tidak memiliki saudara yang tersisa. Aku menitipkan... Freya..."
Hendrawan mengarahkan pandangannya yang mulai mengabur ke arah Freya, lalu kembali menatap Baskoro. "Ambil alih... seluruh bisnis dan asetku. Kelola semuanya... tapi aku mohon, rawat putriku. Jaga dia... besarkan dia..."
Baskoro mengangguk cepat tanpa ragu, air matanya kini runtuh. "Aku berjanji, Hendrawan. Demi persahabatan kita, demi nama baik Danendra, aku akan merawat Freya seperti putriku sendiri. Seluruh aset dan bisnismu akan kujaga sampai dia dewasa. Kamu tidak perlu khawatir."
Mendengar janji itu, seulas senyum lemah terukir di wajah pucat Hendrawan. Pandangannya beralih pada pemuda yang berdiri tegap di ujung ruangan—Galen.
Mata elang Galen beradu dengan tatapan redup pria yang berada di ambang kematian itu. Entah apa yang dipikirkan Galen saat itu, wajah tampannya tetap sedingin es batu, tanpa empati yang kentara, khas seorang pewaris berdarah dingin yang diajarkan untuk tidak melibatkan emosi dalam hal apa pun.
"Galen..." Panggil Hendrawan sangat lirih, hampir tak terdengar. "Bantu ayahmu... jaga Freya..."
Galen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang sangat tipis, sebuah gestur formalitas yang penuh misteri.
Detik berikutnya, sebuah bunyi berdengung panjang yang statis memekakkan ruangan.
Biiiiiiiiiiiiiiip...
Grafik pada monitor jantung berubah menjadi garis lurus yang kaku. Tangan Hendrawan yang berada di genggaman Freya seketika terkulai lemas, kehilangan seluruh dayanya.
"Papa? Papa!!! Bangun, Papa! Jangan tidur!". Freya menjerit sejadi-jadinya. Tubuh mungilnya terguncang hebat. Ia memeluk dada papanya yang sudah tidak lagi berdetak, meraung memanggil nama sang papa hingga suaranya serak dan habis. "Papa jangan tinggalkan Freya sendirian! Freya takut, Papa! Mama... Papa... bangun!".
Baskoro memalingkan wajahnya, tidak kuasa menahan kesedihan yang amat mendalam melihat anak sedecil itu harus menjadi yatim piatu dalam satu malam. Beberapa dokter dan perawat segera masuk untuk melepas peralatan medis dan menutup wajah Hendrawan dengan kain putih.
Saat kain putih itu hendak menutupi wajah papanya, Freya menolak keras. Ia mencengkeram kain itu sambil terus menangis histeris. "Jangan! Jangan tutup Papa! Papa masih hidup! Papa cuma tidur!".
Di tengah kekacauan dan jerit tangis yang memilukan itu, sebuah tangan besar, kokoh, dan dingin tiba-tiba mencengkeram bahu mungil Freya dari belakang. Kekuatan tangan itu begitu mutlak, memaksa Freya untuk mundur dan menjauh dari ranjang kematian tersebut.
Freya menoleh dengan wajah yang basah oleh air mata dan darah yang mengering, menatap sosok yang menariknya.
Itu adalah Galen.
Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu menatapnya dari ketinggian dengan mata yang kelam—kosong dan tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun.
"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya," Ucap Galen. Suaranya berat, bariton, dan terdengar sangat kejam di telinga seorang anak kecil yang baru saja kehilangan dunianya.
Freya menatap Galen dengan rasa takut sekaligus benci yang amat sangat. Di malam yang paling kelam itu, dibawah bayang-bayang kematian orang tuanya, Freya menyadari satu hal: hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Ia telah diserahkan ke dalam genggaman keluarga Danendra, dan pria dingin di hadapannya ini akan menjadi bagian dari takdir kejam yang siap menjeratnya di masa depan.
Namun, Freya yang hancur tidak memedulikan ucapan pria dewasa di belakangnya itu. Ia mengabaikan tatapan tajam dan kehadiran Galen seolah pemuda itu tidak ada. Fokus hidupnya saat ini telah runtuh bersama hembusan napas terakhir sang papa.
Dengan sisa kekuatan di tubuh mungilnya yang gemetar, Freya melepaskan cengkeraman tangan Galen pada bahunya. Ia melompat kembali ke atas ranjang rumah sakit, menjatuhkan tubuhnya diatas dada sang papa yang sudah kaku dan mendingin. Ia memeluk leher papanya erat-erat, menolak melepaskannya meski sedetik saja.
"Papa... bangun, Pa... Freya mohon," Isak Freya dengan suara yang parau, nyaris habis karena terlalu banyak menjerit. Air matanya menetes deras, membasahi kain seprai rumah sakit yang ternoda darah.
"Papa sudah janji mau temani Freya ke SMP baru... Papa janji mau belikan tas baru kalau Freya lulus kelas enam... Kenapa Papa bohong? Kenapa Papa malah tidur di sini? Kalau Papa pergi, Freya sama siapa? Freya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Papa..."
Suara tangisan anak berusia sebelas tahun itu begitu memilukan, menggema di dinding-dinding lorong rumah sakit yang dingin. Para perawat yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menunduk, menyeka air mata mereka karena tidak tega.
Melihat situasi yang semakin larut dan tidak kondusif, Baskoro Danendra menghela napas berat. Ia menepuk pundak Galen, memberikan isyarat agar putranya tetap mengawasi Freya.
"Galen, Papa urus semua administrasi biaya, ruang forensik, dan ambulans untuk pengurusan jenazah sahabat Papa dulu di depan. Jaga anak ini."
Galen hanya mengangguk pelan tanpa suara. Setelah Baskoro melangkah keluar ruangan, Galen hanya berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahan mahalnya.
Sepasang mata elangnya yang kelam menatap datar ke arah punggung Freya yang terguncang hebat akibat tangis yang tak kunjung reda.
Galen membiarkannya. Pria itu memberikan waktu sepuluh menit bagi Freya untuk mendekap jasad ayahnya untuk yang terakhir kali. Baginya, menangis adalah hal paling tidak berguna di dunia ini, tetapi ia tahu anak kecil di depannya butuh waktu untuk menerima kenyataan pahit.
Sepuluh menit berlalu dengan cepat. Dua orang petugas pengurus jenazah rumah sakit masuk ke dalam ruangan membawa kantong jenazah baru, siap untuk memindahkan jasad Hendrawan ke ruang forensik demi proses pembersihan dan autopsi awal.
"Maaf, Dek... jasad papanya harus segera kami urus dan bersihkan terlebih dahulu," Ucap salah satu petugas dengan sangat lembut, mencoba membujuk Freya.
Namun, Freya justru semakin mempererat pelukannya pada leher sang papa. "Tidak! Jangan bawa Papa! Jangan sentuh Papa saya! Pergi kalian semua! Pergi!" teriak Freya histeris, melindungi jasad ayahnya dengan tubuh kecilnya sendiri.
Melihat situasi yang mulai menghambat pekerjaan rumah sakit, Galen mengembuskan napas panjang dari hidungnya. Ia tidak bisa membiarkan drama ini berlarut-larut. Langkah kakinya yang berat maju mendekati ranjang.
Tanpa aba-aba, sepasang lengan kekar milik Galen langsung menyusup ke bawah ketiak dan paha Freya. Dengan satu gerakan yang mutlak dan tidak bisa dibantah, Galen menarik tubuh kecil Freya dan langsung mengangkatnya, menggendong anak perempuan itu dalam dekapannya untuk menjauh dari ranjang kematian tersebut.
"Lepas! Lepaskan aku!". Freya langsung meronta-ronta dengan brutal di dalam gendongan Galen. Karena ia belum mengenal siapa pemuda berwajah dingin ini, ia berteriak dengan penuh kepanikan. "Lepas, kak! Kakak siapa?! Jangan bawa aku jauh dari Papa! Kakak jahat! Lepasin!".
Tangan mungil Freya memukul-mukul dada bidang Galen berkali-kali. Kaki kecilnya menendang ke udara, mencoba melepaskan diri dari kekangan lengan Galen yang terasa seperti borgol besi.
Freya menangis histeris, menjangkaukan jemarinya ke arah ranjang ayahnya yang semakin menjauh saat petugas mulai menutup kain putih ke seluruh wajah papanya.
"PAPA!!! PAPA!!!". Jerit Freya memenuhi ruangan, sementara Galen tetap melangkah keluar dari kamar rawat dengan ekspresi wajah yang datar, mengabaikan seluruh rontaan, pukulan, dan air mata anak kecil di pelukannya.
***