NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Putri Matahari

Matahari sore menggantung rendah di cakrawala, memancarkan cahaya keemasan yang menyepuh permukaan marmer putih pelataran utama Elegrand Royal Academy. Setelah menyelesaikan proses administrasi di meja registrasi khusus bangsawan tinggi, Sander Duster melangkah melewati gerbang dalam yang terbuat dari susunan batu putih besar. Di atas bahu kirinya, Behemoth duduk dengan posisi tegak, sepasang mata emasnya bergerak lambat mengamati setiap sudut koridor terbuka yang menghubungkan area pendaftaran dengan taman tengah akademi.

Langkah kaki Sander terdengar berirama di atas lantai batu yang bersih. Tanpa kehadiran Ren Cross yang harus kembali ke kediaman sementara klan Duster di ibukota, suasana di sekitarnya terasa sedikit lebih sunyi. Pemuda berusia empat belas tahun itu mengatur napasnya dengan teratur, menikmati hembusan angin musim semi yang membawa kesegaran kelopak bunga yang tumbuh di sepanjang pembatas jalur berjalan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika ia mulai memasuki area koridor utama yang menuju ke arah aula pengarahan murid baru.

Di sepanjang koridor panjang tersebut, ratusan murid baru dari berbagai wilayah kerajaan tampak berkumpul dalam kelompok-kelopak kecil. Kehadiran lencana perunggu bersimbol akademi yang tersemat di dada kanan Sander, bersandingan dengan lencana perak Frost Wolf milik klan Duster di dada kirinya, langsung memicu riak perhatian yang tidak bisa diabaikan. Bisikan-bisikan halus mulai merayap di antara kerumunan remaja berpakaian mewah tersebut. Nama Duster yang dibawa oleh Sander seolah-olah menjadi magnet yang menarik rasa penasaran sekaligus penilaian dari orang-orang di sekelilingnya.

Sander terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan, mengabaikan tatapan mata yang penuh selidik. Di dalam benaknya, suara dengkur halus Behemoth tiba-tiba terdengar, menyampaikan pesan langsung melalui ikatan resonansi jiwa yang terjalin di antara mereka. Kucing hitam itu mengomentari kerumunan manusia di sekitar mereka dengan nada batin yang penuh dengan keangkuhan alaminya.

(Manusia fana di tempat ini benar-benar berisik, Sander. Hawa energi yang mereka pancarkan sangat lemah dan tidak stabil, namun mulut mereka bergerak begitu cepat seperti kawanan burung pipit di ladang gandum. Jika mereka terus menatap kita dengan cara seperti itu, aku tidak keberatan membiarkan mereka merasakan sedikit tekanan gravitasi agar mereka tahu cara merangkak yang benar.)

Sander tidak mengubah ekspresi wajahnya, namun ia memberikan tanggapan batin dengan nada yang sangat tenang untuk menenangkan kucing hitamnya.

(Tahan dirimu, Behemoth. Kita berada di sini untuk belajar, bukan untuk memicu keributan di hari pertama. Lagipula, memedulikan ucapan mereka hanya akan membuang-buang tenaga kita.)

Behemoth mendengus pelan di dalam benak Sander, lalu melipat sepasang kaki depannya dan berpura-pura memejamkan mata di atas bahu pemuda itu. Walaupun penampilannya terlihat santai seperti kucing domestik yang mengantuk, sepasang telinga kecilnya tetap berdiri tegak, memantau setiap fluktuasi energi yang ada di sekitar jalur berjalan mereka.

Saat Sander tiba di area persimpangan koridor yang berbatasan langsung dengan taman air mancur magis, langkah kakinya mendadak melambat. Dari arah jalur taman yang dikelilingi oleh barisan pohon pelindung kuno, berjalan sesosok gadis remaja yang langsung menarik perhatian seluruh orang di area tersebut. Kerumunan murid baru yang tadinya memenuhi trotoar marmer secara otomatis membelah, memberikan jalan dengan sikap yang sangat segan dan penuh hormat.

Gadis itu berusia empat belas tahun, memiliki postur tubuh yang langsing dan tinggi yang proporsional. Rambutnya yang berwarna pirang keemasan panjang berkilau indah di bawah siraman cahaya matahari sore, bergerak selaras dengan langkah kaki yang anggun. Sepasang matanya yang berwarna biru langit memancarkan kilatan kecerdasan yang jernih, bebas dari kabut kesombongan yang biasanya melekat pada anak-anak bangsawan tinggi. Ia mengenakan pakaian praktis akademi yang dimodifikasi dengan sulaman benang emas halus di bagian kerah, dengan sebilah rapier berhiaskan permata safir yang tergantung dengan rapi di pinggang kirinya.

Dia adalah Elena Aurelius, Putri Pertama dari Kerajaan Elegrand.

Kehadiran sang putri membawa atmosfer yang sangat berbeda di dalam koridor. Wajahnya yang cantik dihiasi oleh seulas senyuman yang hangat, sebuah ekspresi yang sangat ramah dan jauh dari kesan kaku protokoler istana yang membosankan. Elena tampak sedang berjalan santai sembari memegang selembar peta panduan kompleks akademi di tangan kanannya, mencoba mencari arah menuju aula pertemuan utama.

Saat langkah kaki mereka saling mendekat di titik tengah persimpangan, tatapan mata biru langit milik Elena tidak sengaja berbenturan langsung dengan mata hitam lurus milik Sander. Elena menghentikan langkah kakinya sejenak. Pandangannya bergerak meneliti penampilan sederhana Sander, sebelum akhirnya terpaku pada lencana Frost Wolf yang tersemat di dada kiri pemuda itu. Kilatan ketertarikan yang besar langsung muncul di dalam sepasang mata sang putri kerajaan.

Bukannya menjaga jarak atau menunggu dipanggil dengan protokol formal, Elena justru mengambil inisiatif untuk melangkah mendekati Sander. Gerakannya yang begitu luwes dan tanpa beban membuat beberapa pelayan akademi yang mengawasi dari kejauhan sempat terkejut. Elena berdiri tepat di hadapan Sander, lalu memberikan sebuah anggukan kepala kecil yang sangat sopan namun terasa begitu akrab.

"Selamat sore. Melihat lencana di dadamu, kau pasti putra dari Grand Duke Gabriel Duster, bukan? Aku adalah Elena Aurelius. Senang bisa bertemu denganmu di sini."

Suara Elena terdengar sangat merdu dan jernih, bergema lembut di antara pilar-batin koridor. Sander tertegun sejenak mendengarkan sapaan yang begitu kasual dari seorang putri kerajaan. Sesuai dengan etika bangsawan yang telah diajarkan oleh kepala pelayan di Kastil Aethelgard, Sander langsung menegakkan punggungnya dan memberikan penghormatan resmi dengan meletakkan tangan kanannya di atas dada.

"Selamat sore, Tuan Putri Elena. Saya adalah Sander Duster. Sebuah kehormatan bagi saya bisa menerima salam dari Anda."

Elena tertawa kecil melihat sikap kaku Sander. Lambaian tangan kirinya yang halus mengisyaratkan agar Sander tidak perlu terlalu formal.

"Panggil saja aku Elena saat kita berada di dalam lingkungan akademi, Sander. Tempat ini dibangun sebagai institusi pendidikan, jadi semua murid yang berada di sini memiliki status yang setara sebagai sesama pencari ilmu. Aku sudah banyak mendengar cerita tentang ketangguhan klan Duster yang menjaga perbatasan Utara dari ayahku. Beliau selalu mengatakan bahwa tanpa keberanian Grand Duke Gabriel, wilayah tengah kerajaan tidak akan pernah merasakan kedamaian yang sesungguhnya."

Sander menurunkan tangannya, tatapan matanya tetap tenang namun mengamati ketulusan yang terpancar dari ekspresi wajah Elena.

"Ayah hanya menjalankan tugas militer yang sudah menjadi tanggung jawab keluarga kami sejak lama, Elena. Kedamaian kerajaan adalah hasil kerja keras dari seluruh ksatria yang berada di garis depan."

Tepat saat percakapan mereka mulai mencair, Behemoth yang berada di atas bahu Sander mendadak membuka sepasang mata emasnya. Kucing hitam itu menatap langsung ke arah Elena dengan pandangan yang sangat tajam dan menyipit kecil. Detik berikutnya, sebuah desisan batin yang penuh dengan rasa tidak suka kembali menggema di dalam kepala Sander.

(Manusia perempuan ini memiliki getaran energi yang aneh, Sander. Di dalam jiwanya tersembunyi hukum cahaya murni fana yang sangat menyebalkan. Hawa energinya terlalu terang dan membuat mataku terasa silau. Aku tidak suka dengannya. Sebaiknya kita pergi dari sini dan mengabaikan senyuman palsunya itu.)

Sander diam-diam menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabaikan keluhan Behemoth yang selalu sensitif terhadap eksistensi energi murni. Ia mengulurkan jari telunjuk tangan kanannya secara perlahan, menepuk punggung kepala Behemoth dengan lembut untuk memberi kode agar kucing hitam itu tetap diam dan tidak menunjukkan gerakan agresif di depan sang putri.

Elena yang melihat keberadaan kucing hitam di bahu Sander langsung memiringkan kepalanya sedikit. Sepasang mata birunya berbinar gembira melihat bulu hitam lebat Behemoth yang tampak sangat halus di bawah cahaya sore.

"Wah, apakah itu hewan peliharaanmu? Dia sangat lucu. Warnanya hitam pekat seperti arang, namun sepasang mata emasnya terlihat sangat cerdas. Bolehkah aku menyentuhnya?"

Mendengar permintaan Elena, seluruh tubuh Behemoth mendadak menegang. Bulu-bulu di sekitar lehernya berdiri tegak secara tidak sadar, dan ia memberikan tatapan intimidasi murni dari mata emasnya ke arah tangan Elena yang mulai bergerak maju. Di dalam batin Sander, raungan Behemoth terdengar sangat beringas.

(Berani-beraninya manusia fana ini berniat menyentuh tubuh agungku! Jika telapak tangannya yang penuh dengan energi cahaya itu berani menempel di buluku, aku bersumpah akan menggunakan sisa energi hukumku untuk mencakar wajahnya sampai hancur! Sander, hentikan dia sekarang juga!)

Sander segera melangkah mundur setengah langkah secara halus, memposisikan bahu kirinya sedikit menjauh dari jangkauan Elena untuk menghindari potensi bencana kosmik yang bisa dipicu oleh kucing hitamnya. Ia memberikan senyuman tipis yang agak canggung sebagai alasan.

"Maafkan aku, Elena. Kucing ini bernama Behemoth, dan dia memiliki sifat yang sangat liar serta tidak ramah terhadap orang asing. Dia cenderung akan mencakar siapa saja yang mencoba mendekatinya selain aku. Lebih baik tidak menyentuhnya demi keselamatan tanganmu."

Elena menghentikan gerakan tangannya, lalu menariknya kembali dengan ekspresi sedikit kecewa namun tetap pengertian. Ia mengangguk pelan sembari menatap Behemoth yang kini kembali memalingkan wajahnya dengan angkuh.

"Ah, begitu ya. Sayang sekali, padahal dia terlihat sangat menggemaskan. Tapi tidak apa-apa, aku mengerti bahwa beberapa hewan mistis memang memiliki ikatan yang sangat eksklusif dengan pemiliknya."

Elena kemudian mengalihkan kembali perhatiannya pada selembar kertas peta di tangan, lalu menoleh ke arah koridor panjang yang membentang di sebelah kiri mereka.

"Sander, apakah kau juga sedang berjalan menuju ke aula pengarahan murid baru? Jika kau tidak keberatan, bagaimana jika kita berjalan bersama? Aku sedikit kesulitan membaca rute bangunan marmer di kompleks dalam ini karena jalurnya yang terlalu banyak berputar."

Sander melihat ke arah aula besar yang kubah emasnya terlihat menjulang di kejauhan, lalu kembali menatap Elena. Meskipun ia terbiasa menyendiri dan tidak terlalu suka berada di bawah pusat perhatian, menolak ajakan berjalan bersama dari seorang putri kerajaan yang bersikap sangat ramah adalah tindakan yang tidak sopan secara diplomasi bangsawan.

"Tentu saja, Elena. Aku juga sedang menuju ke tempat yang sama. Jalur sebelah kiri ini akan langsung menghubungkan kita dengan pelataran luar aula pertemuan utama."

Elena tersenyum sangat lebar mendengar jawaban Sander. Ia langsung melangkah di samping kanan Sander, menyelaraskan kecepatan berjalannya dengan langkah kaki pemuda Duster tersebut. Sepanjang perjalanan melintasi koridor luar taman, Elena terus mengajak Sander berbicara mengenai berbagai hal, mulai dari keindahan vegetasi musim semi di wilayah tengah hingga rasa penasarannya mengenai struktur bangunan es yang ada di Benteng Aethelgard.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!