NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sia-Siakan

Istri Yang Kau Sia-Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama

"Semangat!"

Alesha menyemangati dirinya sendiri.

Hari ini ia akan mulai bekerja sebagai driver online. Ia harus bekerja dan menyibukkan dirinya agar ucapan Selena yang mengatakan dirinya mandul tidak terus terngiang di kepalanya.

Setelah menyelesaikan solat Subuh, Alesha langsung bergegas membersihkan rumah. Seperti biasa, semua pekerjaan rumah ia kerjakan seorang diri sebelum mempersiapkan diri untuk bekerja.

Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.

Semua tugasnya telah selesai.

Alesha segera bersiap untuk memulai pekerjaannya yang baru.

Sebelum keluar kamar, ia sempat melirik suaminya yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Entah jam berapa Aldo pulang semalam, Alesha tidak tahu dan juga tidak ingin memikirkannya lagi.

Alesha segera bersiap lalu pergi meninggalkan rumah.

Udara pagi yang sejuk langsung menyambutnya begitu ia keluar. Langkahnya mengarah ke pangkalan ojek yang sudah biasa ia datangi.

"Neng Alesha," sapa Pak Septo ramah saat melihatnya datang.

Alesha membalas dengan senyum tipis.

"Pak, antar saya ya."

"Siap, Neng," jawab Pak Septo sambil mulai menyalakan motornya. Ia kemudian menyerahkan sebuah helm kepada Alesha. "Kompleks sebelah, Neng, kan? Seperti biasa?"

"Nggak, Pak. Saya mau ke Jalan Merpati," ucap Alesha.

Pak Septo terlihat heran.

"Kenapa, Neng? Neng nggak kerja?"

Alesha tersenyum kecil, meski ada kesedihan yang tersimpan di matanya.

"Nggak, Pak. Saya sudah nggak kerja di tempat laundry."

Wajah Pak Septo langsung berubah tidak enak.

"Maaf, Neng."

"Iya, Pak. Santai aja."

Pak Septo mengangguk pelan lalu mulai menjalankan motornya.

Sepanjang perjalanan, angin pagi berembus lembut menerpa wajah Alesha. Ia menatap jalanan yang mulai ramai oleh orang-orang yang berangkat bekerja.

Beberapa menir kemudian, motor Pak Sapto berhenti di depan rumah Luna.

Rumah itu terlihat sederhana dan nyaman, dengan berbagai tanaman bunga yang tertata rapi di halaman depan.

"Makasih, Pak."

Alesha menyerahkan uang ongkos sekaligus helm kepada Pak Septo.

"Makasih, Neng."

"Iya, Pak. Hati-hati."

Setelah Pak Septo pergi, Alesha melangkah masuk ke halaman rumah Luna.

"Alesha."

Alesha menoleh.

Terlihat Lastri menghampirinya sambil membawa beberapa kantong belanjaan. Sepertinya wanita itu baru saja pulang dari pasar.

"Ibu..." ucap Alesha sambil tersenyum kecil.

Lastri langsung menghampirinya.

"Sudah datang, Nak? Kok pagi-pagi sekali?" tanyanya ramah.

Alesha mengangguk pelan.

"Iya, Bu. Luna suruh saya datang pagi."

Lastri tersenyum hangat.

"Bagus. Ayo masuk dulu. Ibu baru pulang dari pasar."

Tanpa menunggu jawaban, Lastri menggandeng tangan Alesha masuk ke dalam rumah.

"Sudah sarapan?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Alesha terdiam sesaat.

Ia tidak menyangka masih ada yang peduli apakah dirinya sudah makan atau belum.

"Sudah, Bu," jawabnya pelan.

Lastri menatap Alesha beberapa detik, seolah tahu gadis itu sedang berbohong.

Namun ia tidak membongkarnya.

"Kalau lapar bilang ya. Di dapur masih banyak makanan."

Hidung Alesha langsung terasa perih.

"Iya, Bu."

Tak lama kemudian, Luna keluar dari kamarnya sambil membawa kunci motor.

"Nah, orangnya sudah datang."

Luna menghampiri mereka lalu menyerahkan sebuah kunci kepada Alesha.

"Ini motornya."

Alesha menutup kunci motor itu cukup lama. Tenggorokannya terasa tercekat. Entah sudah berapa kali Luna membantunya tanpa meminta imbalan apa pun.

"Lun..."

"Udah, jangan nangis."

Luna langsung menyela sebelum Alesha sempat bicara.

"Pakai aja dulu sampai kamu bisa beli motor sendiri."

Lastri ikut mengangguk.

"Betul. Anggap saja pinjam keluarga sendiri."

Mata Alesha langsung berkaca-kaca.

Sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan seperti ini.

"Ibu... Luna... terima kasih."

Lastri tersenyum lalu mengusap kepala Alesha dengan lembut.

"Yang penting sekarang kamu kerja yang rajin dan jaga diri baik-baik."

Alesha mengangguk kuat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alesha tidak merasa harus menghadapi semuanya seorang diri.

Ia merasa tidak sendirian.

Luna melirik jam di pergelangan tangannya.

"Ayo, Sha. Kita berangkat sekarang."

Alesha mengangguk lalu mengikuti Luna keluar rumah.

"Kita mau ke mana?" tanyanya penasaran.

"Ke toko kue sepupuku. Aku sudah cerita tentang kamu ke dia."

"Sepupumu?"

"Iya. Namanya Ana. Orangnya baik kok."

Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah toko kue yang cukup ramai.

Aroma masakan yang baru matang langsung menyambut mereka begitu masuk.

Alesha mengamati suasana toko dengan takjub.

"Ramai juga ya."

"Makanya aku bilang, kamu pasti dapat banyak orderan."

Di balik meja kasir, seorang wanita berusia sekitar dua puluh empat tahun melambaikan tangan.

"Luna!"

"Itu dia orangnya."

Mereka menghampiri wanita tersebut.

"Kak Ana, ini Alesha yang kemarin aku ceritain."

Ana langsung tersenyum ramah.

"Oh, jadi ini Alesha?"

Alesha mengangguk sopan.

"Iya, Kak."

Ana menjabat tangannya.

"Akhirnya ketemu juga."

Alesha tersenyum tipis.

"Iya, Kak."

Ana menatap Alesha dari atas sampai bawah lalu tersenyum.

"Kamu sudah siap kerja hari ini?"

Tanpa ragu, Alesha mengangguk.

"Siap, Kak."

"Nggak takut capek?"

Alesha tersenyum kecil.

"Capek nggak masalah, Kak. Yang penting bisa kerja."

Ana dan Luna saling pandang sesaat. Mereka sama-sama mengerti maksud di balik ucapan Alesha.

"Bagus," puji Ana. "Aku suka orang yang semangat kerja."

Luna menyenggol pelan lengan sahabatnya.

"Tuh kan? Aku bilang juga apa."

Alesha tersenyum malu.

"Nanti tugas kamu gampang. Antar pesanan ke alamat pelanggan."

"Baik, Kak."

"Kalau ada yang nggak ngerti, langsung telepon aku."

Alesha kembali mengangguk.

Saat itu ponsel Luna berbunyi.

Luna langsung melihat layarnya lalu menghela napas.

"Aduh, aku harus berangkat kerja."

Ana tertawa kecil.

"Dari tadi juga harusnya kamu sudah pergi."

"Iya, iya."

Luna kemudian menoleh pada Alesha.

"Sha, semangat ya."

Alesha mengangguk.

"Semangat."

"Kalau ada apa-apa langsung telepon aku."

Alesha tersenyum hangat.

"Terima kasih, Lun."

Luna memeluk sahabatnya sebentar.

"Nggak usah terima kasih terus."

Setelah itu Luna pergi.

Kini tinggal Alesha dan Ana di toko.

Ana menyerahkan sebuah kotak kue berukuran sedang.

"Nah, driver Alesha."

Alesha tertawa kecil.

"Iya, Bos."

Ana ikut tertawa.

"Pesanan pertama. Alamatnya nggak jauh kok."

Alesha menerima kotak kue itu dengan hati-hati.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Mungkin bagi orang lain pekerjaan ini biasa saja. Namun bagi Alesha, pekerjaan ini adalah kesempatan untuk kembali berdiri setelah berkali-kali dijatuhkan.

"Semangat ya," ucap Ana.

Alesha mengangguk.

"Semangat."

Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di atas motor milik Luna.

Angin pagi menerpa wajahnya.

Sudah lama Alesha tidak tersenyum setulus ini.

Hari ini, ia bekerja.

Hari ini, ia menghasilkan uang sendiri.

Dan hari ini, ia merasa hidupnya perlahan mulai bergerak maju.

Pekerjaan pertama berjalan lancar.

Alesha mengantar satu kotak kue ke sebuah kantor kecil.

Lalu pesanan kedua ke sebuah rumah di kompleks sebelah.

Kemudian pesanan ketiga ke sebuah toko bunga.

Meski matahari semakin terik, Alesha tetap tersenyum setiap kali berhasil menyelesaikan pesanan.

"Terima kasih, Mbak."

"Sama-sama."

"Pesanannya lengkap ya."

"Iya, Kak. Silakan dicek dulu."

Beberapa jam berlalu.

Alesha terus hilir mudik mengantarkan pesanan.

Keringat membasahi pelipisnya.

Tangannya mulai pegal.

Namun ia tidak mengeluh.

Dari balik meja kasir, Ana memperhatikan semua itu.

Sesekali wanita itu tersenyum kecil.

Luna memang sudah banyak bercerita tentang kehidupan Alesha.

Tentang mertua yang tidak menyukainya.

Tentang suami yang tidak pernah membelanya.

Dan tentang bagaimana Alesha selalu bertahan meski terus disakiti.

Karena itulah Ana cukup terkejut.

Di tengah semua masalahnya, Alesha masih bisa bekerja dengan sungguh-sungguh.

Tepat saat jam makan siang, toko mulai sedikit sepi.

Alesha baru saja kembali dari mengantar pesanan terakhir.

Ia duduk di kursi dekat etalase sambil mengusap peluh di dahinya.

"Capek?" tanya Ana sambil menghampirinya.

Alesha tersenyum kecil.

"Sedikit, Kak."

"Sedikit katanya," ucap Ana terkekeh.

Tak lama kemudian, salah satu karyawan keluar dari belakang toko sambil membawa beberapa kotak makan.

"Kak Ana, makan siangnya sudah datang."

Ana mengangguk.

"Oke, taruh di meja istirahat saja."

Karyawan itu segera meletakkan beberapa kotak makan di atas meja.

Alesha yang melihatnya langsung beranjak dari duduknya.

"Ada acara apa, Kak?"

Ana tertawa kecil.

"Nggak ada acara. Memang setiap siang toko kasih makan untuk semua karyawan."

"Oh..."

"Jadi kamu nggak perlu keluar uang buat makan siang selama kerja di sini."

Alesha menatap deretan kotak makan itu sesaat.

Entah kenapa hatinya terasa hangat.

"Ambil satu sana," ujar Ana.

Alesha mengangguk pelan.

"Iya, Kak. Terima kasih."

"Nggak usah berterima kasih. Itu memang hak karyawan."

Alesha menikmati makan siangnya dengan rasa syukur yang sulit ia ungkapkan.

Alesha makan perlahan. Entah karena lapar atau karena akhirnya bisa makan tanpa mendengar sindiran siapa pun.

"Terima kasih, Ya Allah," ucapnya penuh syukur.

Senyum tipis terukir di wajah Alesha. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa sedikit lebih ringan.

Tak selang lama, suara adzan berkumandang dari masjid terdekat.

Alesha langsung menghentikan aktivitasnya dan bersiap menunaikan salat.

Untung saja toko kue milik Ana berada tepat di sebelah masjid, sehingga ia tidak perlu berjalan jauh untuk beribadah.

Setelah merapikan tempat makannya, Alesha segera melangkah menuju masjid dengan hati yang lebih tenang.

••

"Alesha!"

Teriakan Helena membuat Renata terbangun dari tidurnya.

"Apaan sih, Bu? Pagi-pagi teriak-teriak," keluh Renata dengan kesal sambil mengucek matanya.

Helena langsung menoleh ke arah putrinya.

"Pagi? Coba lihat jam dulu, Nata."

Renata menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding. Matanya langsung melebar saat melihat jarum jam menunjukkan pukul satu siang.

"Apa?!"

"Kamu bangun kesiangan lagi? Sampai sekolah pun nggak jadi berangkat."

"Yah udahlah, Bu. Masih ada hari esok," ucap Renata santai lalu kembali masuk ke kamarnya.

Helena berdecak kesal melihat sikap putrinya.

"Ini Alesha ke mana sih? Apa dia nggak masak apa?"

Perutnya sudah mulai lapar, sementara dapur terlihat sepi dan tidak ada aroma masakan seperti biasanya.

Helena langsung melangkah menuju kamar Alesha.

Tok! Tok!

"Alesha!"

"Alesha!"

Krek.

Pintu terbuka.

Aldo muncul dengan wajah kusut khas orang yang baru bangun tidur.

"Ada apa sih, Bu?" ucapnya dengan kesal.

"Alesha mana?"

Aldo menoleh sekilas ke dalam kamar, lalu melirik ke arah ranjang yang kosong.

Ia mengangkat bahu.

"Nggak tahu, Bu."

Helena mengernyit.

"Pas aku bangun dia memang nggak ada."

Aldo mengatakan itu sambil menguap, seolah keberadaan istrinya bukan sesuatu yang penting untuk diperhatikan.

"Terus pekerjaan rumah siapa yang kerjakan?" tanya Helena kesal.

Aldo kembali mengangkat bahu.

"Nggak tahu, Bu."

Helena langsung berdecak kesal.

"Berani juga dia pergi tanpa izin."

Sementara itu, Aldo kembali masuk ke kamar dan menutup pintu tanpa peduli.

Helena berdiri mematung di depan kamar Alesha.

Tatapannya menyapu ruangan itu sesaat.

Helena mengerutkan kening. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya.

Biasanya Alesha selalu ada di rumah.

Setiap kali dipanggil, wanita itu akan segera datang dan mengerjakan semua pekerjaan tanpa banyak membantah.

Namun hari ini tidak.

Helena menatap kamar yang kosong itu beberapa saat.

"Ke mana perginya perempuan itu?"

1
Ma Em
Leon sdh menemukan gadis teman masa kecilnya semoga benar Alesha reman masa kecil Leon dan berjodoh Alesha dgn Leon , Aldo sdh menikah dgn wanita pilihan nya apakah benar anak yg dikandung Risa adalah anaknya Aldo .
Hatnah Batulicin
peran Alesha org nya terlalu lemah dan letoy 😝😝😝
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Hatnah Batulicin
terlalu bnyk KTA "hah"disetiap dialog nya
Anonim: awokawok emang lawak awokawok blok
total 1 replies
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjut Thor bikin cerita yg bikin tensi naik🤣🤣🤣🤣🤣
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
yookkk gelud yookkk Mak, sini biar saya smackdown

😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
dome🌬️🌀🌀🌀
haduuhhhhh... Jagan lembek laahhh kau wahai wanita. sudah dihina diremehkan ga dihargai sekarang disakiti secara verbal dan fisik apalagi yg kau harapkan dari si biyawak suamimu. gila digampar masih bisa ngarep dibela. digampar yaa neng digampar.. udah kayak ga ada harga diri lagi lu. ngapain masih ngarep laki percaya sama kamu
dome🌬️🌀🌀🌀
eehhhhhh.... Mak lampir, itu bukan tanggung jawab mantumu yaa buat nafkahi kluarga kalian. setres kan kalian. coba brobat dl sapa tau gila.
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
dome🌬️🌀🌀🌀
kenapaaa,, kok berasa dunia mu yg runtuh Alesha dipecat. ga ada sumber pendapatan yaa yg bisa kau ambil dari Alesha lagi. makin lah kluarga suaminya semakin merendahkan Alesha... cereeeee ajaaaaaa laahhh Gedeg udah akuuuhhh😄😄😄😄
dome🌬️🌀🌀🌀
ihhhhh.... jengkelnya. kalau sudah tau tak dihargai dirumah yg kau anggap kluarga lebih baik pisaaahhhhhj... tinggalkan kluarga yg ga bisa menghargai mu itu Alesha. sudah dinafkahi seadanya banyak dituntut ini itu ga dihargai. parahnya udah kayak babu luar negri aja.
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjuuutttt lah.. gaskeuunnnn🤗💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
haduhhhh,,,, baru awal bab dan baru paragraf pertama baca sudah membuat aku punya darah tinggi dadakan😤😤😤

Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁
Ma Em
Semoga Alesha sukses setelah berpisah dgn Aldo , Aldo pasti menyesal karena sdh menyia nyiakan istri sebaik dan sesabar seperti Alesha , semoga Alesha jadi orang yg sukses dan semakin bersinar .
Nona Jmn: Aamin😊
total 1 replies
Ma Em
Alesha kenapa kamu mau memenuhi kebutuhan Aldo dan ibunya sedangkan kerja kerasmu tdk pernah dihargai , lawan mereka Alesha jgn cuma nangis lbh baik tinggalkan suamimu yg tdk pernah menganggap mu istri tapi kamu cuma dianggap pembantu gratisan .
Nona Jmn: Pantau terus Alesha ya, kak🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!