Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Kawat di Lorong Sunyi
Langkah kaki Clara Wijaya yang tergesa-gesa terdengar samar di atas anak tangga marmer yang dingin. Di bawah temaram lampu gantung lobi utama, Nathan berdiri tegak, matanya tidak pernah lepas dari punggung gadis itu hingga ia menghilang di balik tikungan koridor lantai dua.
Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi klik yang tajam, suara kunci pintu kayu ek tebal kamar Clara yang berputar dari dalam.
Nathan mengembuskan napas perlahan melalui hidung. Ketegangan tak kasat mata yang sempat memenuhi ruang tengah kini telah mengkristal menjadi fokus dingin yang mutlak. Seluruh emosi manusianya sengaja ia matikan, menyisakan sebuah mesin taktis yang hanya dipandu oleh kalkulasi, angka, dan probabilitas bertahan hidup.
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel satelit yang masih bergetar halus. Layar kristal cairnya menampilkan visual peta satelit dengan tiga titik merah yang berkedip, bergerak lambat dari arah jalan utama menuju perimeter luar kediaman Wijaya.
"Status, Rendra," ucap Nathan sangat rendah. Suaranya hampir tenggelam oleh derai hujan deras yang menghantam jendela kaca ruang tengah.
"Mereka telah memasuki radius seratus meter dari gerbang luar, Bos," suara Rendra terdengar dari earpiece spiral Nathan, sedikit berdesis karena interferensi awal. "Tiga kendaraan minibus hitam yang kita deteksi di pelabuhan tua. Mereka mematikan seluruh lampu utama mobil. Dua menit lagi, mereka akan mengaktifkan jammer frekuensi radio."
"Empat penjaga di pos depan?"
"Sesuai dugaan, mereka tidak menyadari apa pun. Salah satu dari mereka bahkan sedang bermain ponsel di dalam pos. Bagi tim taktis Robert, mereka tak lebih dari sasaran empuk," jawab Rendra, nadanya terdengar dingin sekaligus cemas. "Bos... begitu jammer mereka aktif, komunikasi biasa kita akan terputus. Hanya jaringan satelit militer terenkripsi milik kita yang akan tetap berjalan. Semoga beruntung di dalam sana."
"Aku tidak butuh keberuntungan, Rendra. Aku memiliki persiapan," jawab Nathan datar sebelum memutuskan sambungan.
Tepat saat ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lampu gantung kristal di lobi utama berkedip dua kali, lalu padam sepenuhnya. Kegelapan langsung menyergap kediaman mewah itu, menyisakan cahaya temaram dari luar jendela yang basah oleh air hujan.
Satu detik kemudian, suara dengung frekuensi tinggi yang sangat halus terdengar di udara, sebuah indikasi bahwa alat pengacak sinyal (jammer) berkekuatan tinggi milik musuh telah aktif, memutus seluruh jaringan seluler, Wi-Fi, dan saluran telepon kabel di dalam area rumah.
Kediaman Wijaya kini telah terisolasi sepenuhnya dari dunia luar.
Nathan bergerak dalam kegelapan dengan kehalusan seekor macan tutul yang sedang berburu. Ia tidak menyalakan lampu senter taktis miliknya. Matanya yang telah terlatih untuk bertempur di malam hari dengan cepat menyesuaikan diri dengan kegelapan.
Ia melangkah menuju lorong belakang yang menghubungkan dapur utama dengan pintu akses halaman samping. Di bawah cahaya lampu taman luar yang remang-remang menembus jendela kaca, Nathan memeriksa salah satu jebakan yang dipasangnya beberapa jam lalu.
Sebuah kawat baja tipis yang sangat kuat, terbentang sekitar sepuluh sentimeter di atas lantai marmer, menghubungkan kaki meja makan kayu berat dengan panel dinding dapur. Di bawah temaram cahaya, kawat itu benar-benar tidak terlihat oleh mata telanjang. Jika seseorang tersandung kawat ini, mekanisme pegas kecil yang dipasang Nathan di balik panel akan menarik kawat kedua setinggi leher dengan kecepatan tinggi.
Sempurna, batin Nathan.
Ia kemudian berjalan ke arah tangga darurat di dekat koridor belakang. Dari balik panel dinding kayu yang longgar, ia mengambil pistol taktis berperedam suara kaliber 9 mm yang telah ia persiapkan. Ia menarik slide pistolnya dengan gerakan yang sangat halus—clack—memasukkan satu peluru ke dalam kamar laras. Senjata itu kini siap memuntahkan maut dalam keheningan.
Di luar gerbang besi hitam kediaman Wijaya, rintik hujan yang deras mengaburkan pandangan.
Empat orang penjaga perimeter biasa yang mengenakan seragam safari biru tua berdiri malas di dalam pos penjagaan yang hangat. Mereka sama sekali tidak menyadari ketika tiga sosok pria berpakaian taktis hitam-hitam dengan topeng balaclava muncul dari balik kegelapan semak-semak luar.
Pfft! Pfft!
Dua suara desisan angin yang sangat halus terdengar, hampir sepenuhnya teredam oleh suara gemuruh guntur di kejauhan. Dua penjaga yang berdiri di dekat pintu pos langsung ambruk ke tanah dengan peluru kaliber 9 mm menembus pelipis mereka. Dua penjaga lainnya di dalam pos bahkan tidak sempat berteriak sebelum pintu didobrak kasar dan sebilah pisau taktis merobek tenggorokan mereka dalam hitungan detik.
"Pos depan bersih," sebuah suara serak berbisik melalui radio internal taktis musuh. "Tidak ada perlawanan. Pengacak sinyal berfungsi seratus persen. Mulai penyusupan ke dalam rumah utama."
Tirai gerbang besi luar dibuka perlahan. Dua belas orang bersenjata taktis melangkah masuk dengan langkah-langkah yang teratur, menyebar menjadi tiga tim kecil.
Tim Alpha, yang terdiri dari empat orang, bergerak menuju pintu kaca lobi utama. Tim Beta bergerak memutar menuju halaman samping untuk mengamankan area kolam renang dan dapur. Sementara Tim Gamma, yang dipimpin langsung oleh seorang pria bertubuh tegap dengan bekas luka bakar di tangan kanannya, bersiap mengamankan pintu darurat belakang.
Mereka bergerak dengan rasa percaya diri yang tinggi. Berdasarkan informasi dari orang dalam Megantara, rumah ini seharusnya kosong dari pertahanan militer setelah kepergian Elena dan Hendra. Bagi mereka, misi malam ini hanyalah sebuah penculikan kilat yang mudah: masuk, cari Clara Wijaya di kamarnya, bawa pergi, dan bersihkan jejak.
Mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja melangkah masuk ke dalam sangkar pembantaian yang telah dirancang dengan presisi militer tertinggi.
Nathan berdiri diam di lantai dua, bersandar pada pilar marmer besar yang menghadap langsung ke arah balkon lobi utama. Dari posisinya, ia bisa melihat pintu kaca lobi depan yang mulai digerogoti oleh alat pemotong kaca taktis milik Tim Alpha.
Ia tidak mencoba menghentikan mereka dari luar. Ia sengaja membiarkan mereka masuk ke dalam rumah. Di area terbuka seperti halaman luar, jumlah musuh yang mencapai belasan orang akan menyulitkan Nathan yang bergerak sendiri. Namun di dalam rumah, di dalam labirin koridor sempit yang setiap sudutnya telah ia petakan, jumlah musuh tidak lagi menjadi keuntungan.
Di dalam ruangan sempit, taktik penyergapan satu-lawan-satu adalah wilayah kekuasaan mutlak Nathan.
Prang.
Bunyi pecahan kaca yang sangat halus terdengar dari arah dapur bawah. Tim Beta telah berhasil menjebol pintu kaca samping dan mulai melangkah masuk ke dalam area dapur yang gelap.
Nathan tersenyum tipis, sebuah garis dingin tanpa kehangatan di wajahnya. Ia perlahan menuruni tangga darurat belakang, bergerak tanpa suara seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan dinding.
Di dalam dapur utama, dua orang anggota Tim Beta berjalan dengan sangat hati-hati. Mereka mengangkat laras senapan serbu pendek mereka ke depan, memetakan kegelapan menggunakan lampu senter taktis yang dipasang di bawah laras senjata. Cahaya senter mereka menari-nari di atas permukaan meja marmer dapur yang mengilat.
"Lapor, dapur bersih. Kami bergerak menuju lorong tengah," bisik salah satu penyusup ke dalam radio komunikasinya.
Pria itu melangkah maju satu langkah. Kakinya yang mengenakan bot militer menyentuh kawat baja tipis yang terbentang di dekat lantai.
Tink.
Bunyi detak logam kecil yang sangat halus terdengar. Sebelum pria itu sempat memproses suara apa itu, mekanisme pegas di balik dinding dapur terlepas dengan kekuatan penuh.
WUSH!
Kawat kawat baja kedua melesat horizontal setinggi leher. Dengan kekuatan tarikan pegas baja militer, kawat tipis itu mengiris kulit tenggorokan pria itu dengan presisi yang mengerikan, hampir memotong arteri utamanya seketika.
Pria itu langsung jatuh berlutut, tangannya mencengkeram lehernya yang kini menyemburkan darah segar dalam jumlah besar. Ia mencoba berteriak, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah suara gelembung udara dan darah yang tersedak di tenggorokan.
Temannya yang berdiri di belakang langsung panik. Ia memutar laras senjatanya ke arah kegelapan lorong, mencoba mencari sumber serangan. "Yuda! Ada apa?! Sial, ada jebakan di—"
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan hitam meluncur keluar dari balik lemari es besar.
Nathan muncul seperti hantu. Tangan kirinya bergerak dengan kecepatan kilat, menangkap laras senapan serbu pria itu dan mendorongnya ke atas, sementara tangan kanannya yang memegang pisau lempar berujung karbon hitam menghujam tepat ke bawah dagu pria tersebut.
JLEB!
Pisau karbon itu menembus tulang lunak di bawah dagu dan langsung menusuk otak kecil pria tersebut. Tubuh penyusup kedua langsung kaku seketika, matanya melotot kosong sebelum Nathan menahan tubuhnya agar tidak jatuh menghantam lantai dengan keras.
Nathan meletakkan kedua jasad itu di sudut dapur yang paling gelap dengan gerakan yang sangat rapi. Ia mengambil dua senapan serbu pendek milik musuh, memeriksa magasinnya, lalu membuang senjatanya ke dalam tempat sampah besar di dekat pantry. Di dalam rumah yang sempit, suara tembakan senapan serbu terlalu bising dan bisa membuat Clara ketakutan. Nathan lebih memilih menggunakan pistol berperedam suara miliknya atau pisau untuk menyelesaikan sisanya.
Ia melirik jam taktis di pergelangan tangan kirinya.
Dua menit sejak mereka masuk. Dua musuh dilumpuhkan. Tersisa tiga belas orang.
Tiba-tiba, suara derak radio komunikasi dari jasad penyusup di lantai terdengar samar. "Beta Dua, Beta Satu, bagaimana situasi di dapur? Kami tidak menerima laporan rutin kalian. Jawab."
Nathan tidak menjawab. Ia hanya mengambil radio tersebut, mematikan dayanya, lalu berjalan kembali ke dalam kegelapan koridor tengah.
Tarian kematian di kediaman Wijaya baru saja dimulai, dan Nathan bersiap menyambut kelompok berikutnya yang akan melangkah masuk ke dalam lorong sunyi yang penuh dengan kawat-kawat mautnya.