Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.
Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempaan Jiwa
Kegelapan di dalam Gua Salju Abadi bukanlah kegelapan yang mati, melainkan kegelapan yang bernapas. Setiap desau angin yang menghantam dinding es terdengar seperti bisikan dari masa lalu yang terkubur. Di tengah platform batu hitam yang dikelilingi oleh pusaran badai es Abyss, Aura Zephyra telah kehilangan hitungan waktu. Bagi dunia luar, waktu baru berjalan beberapa minggu. Namun di dalam ruang isolasi magis ini, jiwa remajanya telah bertarung melawan rasa sakit yang membekukan selama lebih dari enam bulan.
Pakaian kultivasi putih yang dikenakannya kini dilapisi oleh kristal-kristal es tipis yang membentuk pola seperti pelindung zirah. Rambut peraknya yang semula terurai lembut kini tampak lebih kaku, memancarkan pendar keperakan yang benderang setiap kali ia menarik napas.
Di dalam ruang kesadarannya, Aura sedang berdiri di tengah-tengah badai salju batinnya sendiri. Di hadapannya, samar-samar muncul bayangan Gavin Elrod. Bayangan itu tersenyum dengan kejam, memegang pedang yang bersimbah darah, persis seperti momen pengkhianatan di altar kuil.
Kau lemah, Aura ... kau hanyalah batu loncatan untuk takhtaku, bisik bayangan itu, suaranya menggema di dalam kepala Aura, mencoba meruntuhkan fokus mentalnya.
Aura di dalam bawah sadarnya menatap bayangan itu tanpa rasa takut. Dulu, bayangan ini adalah mimpi buruk yang membuatnya terbangun dengan keringat dingin. Namun kini, itu hanyalah bahan bakar untuk apinya.
"Kau salah, Gavin," desis Aura. "Aku bukan batu loncatanmu. Aku adalah tebing tinggi tempat kau akan jatuh dan hancur berkeping-keping."
Dengan satu sentakan kehendak yang kuat, Aura menggerakkan tangan spiritualnya. Seberkas tombak es murni melesat dari kegelapan jiwanya, menembus dada bayangan Gavin hingga sosok ilusi itu hancur menjadi serpihan debu es yang tak berbekas.
Bummm!
Di dunia nyata, mata Aura terbuka lebar. Sepasang manik mata birunya kini tidak lagi memiliki warna putih yang dominan, melainkan memancarkan cahaya biru es murni yang menyala seperti bintang musim dingin. Inti sihir di dalam dadanya berdentum keras, melepaskan gelombang kejut magis yang menyapu bersih seluruh pusaran badai salju di sekeliling platform dalam radius sepuluh meter.
Sirkulasi energinya telah berubah. Saluran sihir yang semula sempit dan rapuh kini telah melebar, dilapisi oleh es kuno yang mengalirkan energi dengan kecepatan dan kepadatan yang luar biasa.
"Tingkat keempat ... aku hampir mencapai tingkat kelima sihir es kuno," gumam Aura, suaranya terdengar lebih berat dan berwibawa, tidak lagi seperti gadis remaja belasan tahun yang rapuh. Napas yang dihembuskannya membentuk kabut putih yang begitu padat hingga langsung membekukan udara di depannya menjadi butiran salju halus.
Ia merasakan tubuh fisiknya menjadi jauh lebih ringan namun sekeras baja meteorit. Kekuatan ini bukan lagi sekadar sihir manipulasi cuaca seperti yang dimiliki para penyihir angin bias. Ini adalah kekuatan mutlak untuk mengunci, membekukan, dan menghentikan konsep kehidupan itu sendiri.
Aura berdiri dari posisi bersilanya. Gaun kultivasinya berdesir pelan saat ia melangkah menuju tepi platform. Di bawah kakinya, es secara otomatis terbentuk, menyediakan jalan setapak yang kokoh di atas jurang kegelapan tanpa perlu ia merapalkan mantra. Latihan di dalam gua ini telah melatih insting magisnya hingga ke titik di mana sihir es telah menjadi bagian dari refleks tubuhnya sendiri.
Namun, ia tahu perjalanannya belum selesai. Untuk mencapai tingkat kelima—tingkat di mana ia bisa memanifestasikan domain mawar es abadi yang mampu membekukan satu kota dalam sekejap—ia membutuhkan pemicu yang lebih besar. Dan pemicu itu tidak akan ia temukan dalam kesunyian gua ini. Ia membutuhkan benturan nyata dengan dunia luar.
Selagi Aura menempa kekuatannya di dalam rahim es Utara, atmosfer politik di Ibu Kota Eldoria justru semakin memanas seperti minyak yang disiram api.
Di dalam ruang bawah tanah rahasia kediaman Klan Elrod, obor-obor sihir menyala dengan api berwarna ungu kehitaman, memancarkan bau belerang yang menyengat. Ruangan itu tidak memiliki jendela, dan dindingnya dipenuhi oleh coretan simbol-simbol kuno yang dilarang oleh kekaisaran—simbol dari sihir hitam Abyss.
Gavin Elrod berdiri di tengah ruangan, menatap sebuah wadah perunggu besar yang berisi cairan hitam yang bergejolak. Di sampingnya, tiga orang berjubah hitam dengan wajah yang tertutup topeng perak berdiri dalam posisi merapalkan mantra berbisik. Mereka adalah para tetua dari tiga klan besar yang telah bersekutu dengan Klan Elrod: Klan Api Bara, Klan Tanah Hitam, dan Klan Bayangan.
"Bagaimana perkembangannya?" Sebuah suara berat terdengar dari kegelapan di sudut ruangan. Duke Gerald Elrod melangkah maju, matanya menatap wadah perunggu itu dengan keserakahan yang membara.
"Semuanya berjalan sesuai rencana, Ayah," jawab Gavin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kejam yang licik. "Ekstrak batu sihir hitam yang kita selundupkan dari perbatasan barat telah berhasil memurnikan sirkulasi energi gelap ini. Dalam waktu kurang dari dua tahun, cairan ini akan cukup kuat untuk mengorosi Segel Besar di perbatasan Utara tanpa memicu alarm sihir kekaisaran."
Salah satu tetua berjubah hitam mendongak, suaranya parau seperti gesekan batu. "Namun, Duke Gerald, pernikahan antara Pangeran Kaelen Vane dan putri dari Klan Zephyra telah mengubah peta kekuatan. Klan Zephyra akhir-akhir ini mulai membatasi penjualan batu sihir angin mereka ke pasar ibu kota, dan mereka mengalihkan pasokan mereka langsung ke Utara. Hal ini menghambat pembuatan alat mekanik sihir kita."
Gavin mengepalkan tangannya mendengar nama Aura dan Kaelen disebut. Rasa terhina karena dicampakkan secara sepihak di depan para pemimpin klan masih membekas kuat di dadanya.
"Klan Zephyra hanyalah sekumpulan penyihir angin yang sombong. Raymond Zephyra berpikir dia aman karena telah menjual putrinya ke Utara. Dia tidak tahu bahwa tindakannya justru mempercepat kehancuran keluarganya."
Gavin melangkah mendekati meja kayu yang dipenuhi peta wilayah Eldoria. Ia menunjuk ke arah titik yang menandai posisi Istana Serigala Es di Utara.
"Biarkan Aura bersenang-senang di sana untuk sementara waktu. Bulan depan, ujian sihir kekaisaran untuk para remaja klan akan diadakan di ibu kota. Sesuai hukum kekaisaran, semua penerus klan besar yang berusia di bawah dua puluh tahun—termasuk mereka yang telah menikah—wajib hadir untuk mempertahankan status klan mereka."
"Kau berpikir Aura akan kembali untuk ujian itu?" Duke Gerald menyipitkan matanya.
"Dia harus kembali jika dia tidak ingin Klan Zephyra dicoret dari daftar empat klan besar ibu kota ...," Gavin menyeringai, matanya berkilat sadis. "Dan ketika dia menginjakkan kakinya kembali di tanah ibu kota ini ... dia tidak akan lagi memiliki perlindungan militer penuh dari Kaelen Vane. Di dalam arena ujian sihir, kematian dan cedera berat adalah hal yang legal. Aku sendiri yang akan turun ke arena untuk menghancurkan kultivasinya, merobek kesombongannya, dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal."
Keserakahan dan dendam Gavin telah membutakan matanya dari kenyataan bahwa Aura yang akan ia hadapi nanti bukan lagi gadis remaja naif yang bisa ia kendalikan dengan kata-kata manis.
Kembali ke Istana Serigala Es, pintu Gerbang Gua Salju Abadi tiba-tiba bergetar hebat. Lapisan es hitam yang mengunci gerbang tersebut perlahan mencair dari dalam, sebelum akhirnya pintu raksasa itu bergeser terbuka dengan suara gemuruh yang keras.
Sesosok tubuh melangkah keluar dari dalam kabut putih yang padat.
Kaelen Vane, yang telah menunggu di luar koridor bawah tanah bersama Boris, langsung menegakkan tubuhnya. Matanya yang merah delima melebar sesaat saat melihat perubahan pada diri Aura.
Gadis itu berjalan dengan keanggunan yang mutlak. Gaun kultivasi putihnya kini tampak bersih tanpa sebutir debu pun, namun aura dingin yang memancar dari tubuhnya begitu pekat hingga membuat Boris secara refleks mundur dua langkah untuk menahan napas. Setiap langkah yang diambil Aura meninggalkan pola bunga mawar es kecil di atas lantai koridor batu yang langsung membeku.
Aura menatap Kaelen, dan untuk pertama kalinya setelah sebulan di dunia luar (atau satu tahun di dalam gua), senyuman tipis yang tulus terukir di wajahnya.
"Aku kembali, Kaelen."
Kaelen melangkah mendekat, mengabaikan hawa dingin ekstrem yang membakar udara di sekitar mereka. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pergelangan tangan Aura. Berbeda dengan sebelumnya di mana energi Aura terasa liar dan merusak, kini energi es di dalam tubuh Aura mengalir dengan sangat tenang, patuh, dan sangat dalam seperti samudra es bawah tanah.
"Tingkat keempat puncak ...," Kaelen bergumam, rasa kagum yang mendalam terpancar dari suaranya yang berat. "Dalam waktu yang begitu singkat, kau telah melompati batas yang bahkan bagi para jenius Utara membutuhkan waktu sepuluh tahun. Kau benar-benar sebuah keajaiban, Aura."
"Aku tidak memiliki kemewahan waktu untuk berjalan lambat, Kaelen," jawab Aura, menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Bagaimana situasi di dunia luar selama aku berada di dalam?"
Boris melangkah maju, memberikan penghormatan sebelum berbicara dengan nada serius. "Yang Mulia Ratu, selama Anda berada di dalam gua, sebuah dekrit dari istana kekaisaran ibu kota telah tiba. Ujian Sihir Remaja Kekaisaran akan diadakan dalam waktu tiga minggu dari sekarang. Klan Elrod telah menyebarkan rumor bahwa Klan Zephyra akan mundur dari ujian karena ketakutan, yang dapat menyebabkan klan keluarga Anda kehilangan hak istimewa mereka di ibu jota."
Mendengar informasi itu, sepasang mata biru es Aura berkilat tajam dengan kecemerlangan yang mematikan. Ia tidak terkejut, ini adalah taktik yang persis sama dengan apa yang dilakukan Gavin di kehidupan lalunya untuk menekan posisi ayahnya.
"Mundur?" Aura mendengus remeh, sebuah tawa dingin lolos dari bibirnya. "Gavin pasti mengira aku sedang bersembunyi di Utara sambil menangis di pojok kamar. Dia sengaja menggunakan ujian ini untuk memancingku kembali."
Kaelen menyipitkan matanya, memancarkan aura protektif yang pekat. "Kau tidak perlu pergi jika tidak mau, Aura. Jika Klan Elrod berani menyentuh Klan Zephyra, pasukan ksatria hitamku bisa meratakan perbatasan mereka besok pagi."
Aura menyentuh lengan Kaelen, memberikan tatapan menenangkan yang sarat akan ambisi. "Tidak, Kaelen. Jangan gunakan pasukanmu untuk masalah ini. Ujian ini adalah panggung yang sempurna yang disiapkan oleh Gavin untuk kehancurannya sendiri. Dia ingin melihatku di arena? Maka aku akan datang dan memberikannya pertunjukan yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya."
Aura membalikkan tubuhnya, menatap ke arah luar jendela koridor di mana badai salju Utara masih mengamuk dengan megah.
"Ini adalah awal dari kembalinya aku ke ibu kota. Pembalasan dendam ini ... akan dimulai dari arena ujian sihir itu. Aku akan memastikan bahwa setiap pasang mata di Eldoria melihat bagaimana boneka porselen yang mereka remehkan ini berubah menjadi badai es yang akan menelan keserakahan mereka."
Kaelen menatap punggung Aura yang tegak, dan sebuah senyuman bangga yang berbahaya terukir di wajah tampannya. "Kalau begitu, bersiaplah, istriku. Tiga minggu dari sekarang, Serigala Es Utara akan mengawal ratunya kembali ke ibu kota untuk menuntut darah."