NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Nadira membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia masih memikirkan Mahesa yang menghukum satpam dan ibunya sendiri karena mereka sudah menyiksanya. Terbesit sesuatu dalam hati Nadira yang tidak ia mengerti. Tapi Nadira tak bisa melupakan bagaimana kejamnya Mahesa. Pria itu sangat menakutkan dan sangat membencinya, mungkin saja Mahesa melakukan semua itu hanya karena tidak ingin Nadira mati terlalu cepat seperti ucapannya selama ini.

Tak terasa hari mulai berganti malam, Nadira tak keluar kamar sejak sampai di rumah ini. Nadira merasa bosan dalam kamar itu, tapi jika ia keluar, ia takut akan membuat masalah lagi.

Di sisi lain, Diana terlihat kewalahan menenangkan Keano yang terus menangis. Diana terlihat sedang mengadu pada Mahesa di ruang kerjanya.

"Mahesa, Keano terus saja menangis. Mama sudah melakukan semuanya untuk menghibur Keano tapi tidak berhasil. Mama takut Keano akan sakit lagi kalau terus menangis seperti ini." Diana terlihat panik.

Mahesa yang sedang bekerja menghentikan aktivitasnya, " Ma, biarkan Nadira yang menenangkannya."

Diana tidak menyangka Mahesa akan berkata seperti itu, Mahesa meminta Nadira untuk menenangkan Keano. "Tidak! Mama tidak akan membiarkan wanita itu menyentuh cucu mama. Dia seorang wanita pembunuh, mana mungkin mama biarkan dia mendekati Keano!." Tolak Diana.

Mahesa berdiri dan menghampiri ibunya, kepalanya terasa sangat pusing mendengar suara tangisan Keano. Mahesa juga merasa kasihan pada Keano yang mulai kembali menangis seperti sebelumnya.

" Pelayan!." panggil Mahesa.

Seorang pelayan datang

" Panggil Nadira ke sini!." perintah Mahesa.

Pelayan itu langsung pergi menjemput Nadira.

" Apa yang kamu lakukan Mahesa?." ucap Diana tak percaya dan menatap marah pada Mahesa. Sementara Mahesa hanya diam tanpa menjawab.

Sementara itu di kamar, Nadira kaget saat seorang pelayan datang menjemputnya. Apalagi saat ia tahu bahwa Mahesa yang memanggilnya. " Kesalahan apalagi yang telah aku buat?." gumamnya dalam hati.

Tak berselang lama ia akhirnya tiba di ruang kerja Mahesa. Di dalam sana ia melihat Diana yang menatap tak suka ke arahnya, serta Keano yang terus menangis dalam pelukan wanita paruh baya itu.

Mahesa menatap Nadira dengan dingin, Nadira menunduk tak berani.

" Ma, berikan Keano pada Nadira!." pinta Mahesa pada sang ibu.

" Apa? Tidak! Kamu ini sudah keterlaluan Mahesa. Keano sedang nangis begini bukannya kamu bantu tenangkan tapi malah menyuruh mama menyerahkan Keano pada pembunuh itu! Mama tidak akan menyerahkan Keano!." Diana sangat marah.

Nadira hanya bisa berdiam diri di tempatnya, ia tak berani bicara.

Mahesa yang mulai khawatir dengan keadaan Keano terpaksa mengambil Keano dari pelukan ibunya.

" Tenangkan dia..." Mahesa menyerahkan Keano kepada Nadira.

Nadira dengan sigap menyambut Keano ke dalam pelukannya.

Diana sangat marah melihat tindakan putranya, " Mahesa! Kamu sudah gila ya!." teriaknya ke arah Mahesa.

Namun, beberapa saat kemudian tangisan Keano berhenti. Keano sudah tenang di dalam pelukan Nadira. Bahkan Keano mulai tidur dalam pelukan Nadira.

Diana terdiam melihatnya, Keano langsung tenang saat berada di gendongan Nadira.

" Mama sudah tahu kan alasan Mahesa meminta Nadira menjadi pengasuh Keano? Putraku hanya bisa berhenti menangis saat bersama Nadira. Aku tidak segila yang mama pikirkan membiarkan Keano di rawat oleh seorang pembunuh, tapi Keano hanya bisa ditenangkan oleh Nadira. Mahesa harap mama bisa mengerti dan jangan keras kepala lagi. Keano bisa saja tidak selamat kalau terus menangis dan sakit, berkat Nadira juga Keano bisa keluar dari rumah sakit!."

Diana mematung tak percaya dengan apa yang ia lihat. Nadira benar benar bisa menenangkan keano.

" Ini tidak benar, pasti ada sesuatu yang dilakukan wanita ini pada Keano. Kamu jangan mudah percaya padanya Mahesa!." ujar Diana masih tidak terima dengan kenyataan yang ia lihat.

" Ma, jangan buat Mahesa marah lagi! Ini demi kesehatan Keano. Mulai sekarang mama harus membiarkan Nadira merawat Keano. Kalau mama bertingkah lagi, Mahesa tidak akan segan memindahkan mama ke mansion milik mama."

Deg

Diana mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Mahesa. Putranya dengan tega mengancamnya hanya demi membela seorang pembunuh. Diana pergi dari ruangan itu dengan perasaan marah.

Nadira yang tak enak hati tahu jika Diana sedang marah padanya, tapi ia tak bisa berbuat apa apa. Sekarang ia hanyalah seorang tahanan bagi Mahesa, dan semua ucapan Mahesa harus ia turuti. Jika saja Keano tidak menangis seperti ini, Nadira juga tidak akan mengganggu Keano. Nadira juga merasa aneh dengan Keano, kenapa bayi mungil itu harus tenang jika dalam pelukannya, sementara di pelukan nenek dan ayahnya ia menangis tanpa henti.

" Nadira! Bawa Keano ke kamarnya. Jangan sakiti putraku, jaga dia dengan baik! Ingat kata kataku!."

Tatapan Mahesa tak berubah, masih tetap dingin dan tajam.

Nadira mengangguk, ia dengan perlahan membawa Keano ke kamarnya.

***

" Kurang ajar! Wanita itu telah merebut perhatian putraku, dan dia juga bisa menenangkan cucuku!. Wanita pembunuh itu harus di lenyapkan. Gara gara dia, Mahesa jadi menghukum ku bahkan tadi Mahesa mengancam akan memindahkan ku ke mansion lama. Lihat saja, aku akan membuat Mahesa membenci Nadira. Aku yakin, Mahesa tidak akan segan membunuh wanita itu jika Mahesa sangat membencinya."

Diana berniat membuat Mahesa semakin membenci Nadira. Dengan begitu Diana bisa hidup dengan tenang. Diana merasa iri pada Nadira yang dengan mudah bisa menenangkan Keano. Padahal Nadira hanyalah orang luar yang telah membunuh ibunya Keano. Sementara ia yang merupakan neneknya sama sekali tidak bisa menenangkan cucunya sendiri.

***

Di dalam kamar Keano, Nadira masih terbayang ucapan Mahesa. Pria itu selalu membelanya. Nadira tahu jika Mahesa melakukan itu semua demi putranya, bukan karena membelanya. Tapi Nadira tidak suka jika Mahesa mengancam Ibunya sendiri. Hal itu pasti akan menimbulkan masalah baru. Apalagi Diana sangat membencinya.

" Aku harus berhati-hati, buk Diana pasti tidak akan diam saja." ujar Nadira sambil menatap Keano yang tertidur di dalam ranjang nya.

Tiba tiba pintu kamar di ketuk dari luar, Nadira langsung berdiri.

" Apa Keano sudah tidur?." tanya Mahesa pada Nadira. Mahesa datang ke kamar Keano setelah selesai bekerja.

" Sudah tuan..." Nadira menunduk tak berani menatap Mahesa.

" Angkat kepalamu!." ujar Mahesa.

Nadira tak bergeming, ia sangat takut.

Namun sesaat kemudian Mahesa malah mengangkat dagunya, mata mereka beradu. Nadira dapat melihat manik biru milik Mahesa yang memancarkan kebencian.

Sementara itu, Mahesa mengalihkan pandangannya pada leher Nadira setelah menatap manik wanita itu.

" Malam ini kamu selamat dari hukuman! Tapi jangan beranggapan bahwa malam malam berikutnya kamu akan bebas. Aku akan menghukum mu kapanpun aku mau!."

Deg

Jantung Nadira berdegup kencang. Ternyata Mahesa tak akan pernah melepaskannya walaupun ia sedang mengasuh Keano.

" Jangan tinggalkan Keano apapun yang terjadi!." ucap Mahesa sebelum ia meninggalkan ruangan.

Nadira mematung di tempatnya, Mahesa menyentuh lehernya sebelum ia pergi. Namun sentuhan itu tidak menyakitkan.

Nadira menelan ludah dengan susah payah, ia pikir ia akan di cekik lagi ternyata tidak. Nadira memutuskan untuk berbaring di sofa. Rasanya begitu tidak nyaman. Tatapan Mahesa sangat dalam, membuat Nadira terjaga cukup lama.

" Kenapa dia menyentuh leherku dengan lembut?." gumamnya pelan.

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!