Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beri aku waktu untuk sendiri
Tiara sedang berjalan pulang menuju rumahnya sambil membawa dua bungkus nasi uduk.
Saat hendak memasuki halaman rumah, ia melihat seorang pria berdiri tak jauh dari pagar. Pria itu tampak mondar-mandir sambil sesekali melirik ke arah rumah mereka. Karena sama-sama tidak memperhatikan langkah, keduanya nyaris bertabrakan.
“Punya mata nggak sih?” bentak Tiara kesal.
“Ups... maaf,” jawab pria itu sambil mengangkat kedua tangannya.
Namun alih-alih segera pergi, pria tersebut justru memperhatikan Tiara beberapa saat. Tanpa sadar, matanya mengamati gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Baginya, Tiara adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat dari jarak sedekat itu. Tubuhnya ramping, kulitnya cerah, dan rambut panjangnya yang terurai tampak berkilau terkena sinar matahari pagi.
Meski hanya mengenakan pakaian rumah dan rambutnya masih sedikit berantakan, kecantikannya tetap sulit diabaikan. Pria itu sampai berdecak kagum dalam hati.
“Ngapain lihat-lihat?” bentak Tiara lagi.
Pria itu tersentak.
“Nggak kok.”
Tiara menatapnya tajam selama beberapa detik sebelum akhirnya berlalu menuju rumah.
Sementara itu, pria berambut gondrong yang membawa gitar tersebut masih berdiri mematung. Pandangannya terus mengikuti sosok Tiara hingga gadis itu menghilang di balik pintu rumah.
“Siapa ya, nama gadis itu?” gumamnya.
Entah kenapa ia jadi penasaran.
“Tunggu dulu... kenapa dia masuk ke rumah Yudha? Jangan-jangan dia saudaranya Yudha?”
Pria itu tak lain adalah Ucok, pengamen yang kemarin disewa Yudha untuk menjebak Kinanti. Sayangnya, rencana itu gagal total karena Daffa lebih dulu menemukan dirinya tertidur di kamar Yudha.
Ucok menggaruk tengkuknya sambil terus menatap rumah bercat biru itu. Saat itulah seorang ibu paruh baya melintas di depannya.
“Maaf, Bu,” panggil Ucok.
Perempuan itu berhenti dan menoleh.
“Iya?”
“Saya mau tanya. Yudha itu punya saudara berapa?”
Perempuan itu langsung mengernyit curiga.
“Kamu siapa kok tanya-tanya soal keluarganya Yudha?”
Ucok terkekeh canggung.
“Ehm... Saya cuma penasaran saja.”
Perempuan itu masih menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
“Yudha itu anak sulung. Dia punya adik perempuan namanya Tiara dan adik laki-laki namanya Daffa.”
“Oh... begitu ya.”
“Sudah ya. Saya buru-buru.”
Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu kembali melanjutkan langkahnya.
“Ternyata benar... gadis itu adiknya Yudha,” gumam Ucok.
Beberapa detik kemudian ia menggeleng cepat.
“Ngapain juga mikirin cewek segala?”
Ia menertawakan dirinya sendiri.
Padahal tujuan kedatangannya pagi itu bukan untuk memikirkan Tiara. Ia datang untuk menagih upah yang dijanjikan Yudha. Meski tugasnya gagal, menurutnya ia tetap berhak mendapatkan bayaran.
Ucok lalu kembali menatap rumah Keenan. Hari itu akhir pekan. Sekolah sedang libur. Kalau beruntung, Yudha pasti ada di rumah dan ia bisa langsung meminta penjelasan sekaligus menagih uang yang sampai sekarang belum ia terima.
Pria itu merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponsel jadul miliknya. Dengan cepat ia mencari nomor Yudha dan menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar beberapa kali, namun, tak ada jawaban. Ucok mengerutkan kening. Ia mencoba lagi. Tetap tidak diangkat.
"Sial! Pasti anak itu sengaja menghindar!" gerutunya kesal.
Ia kembali menekan tombol panggil berkali-kali. Sayangnya hasilnya tetap sama. Yudha tak pernah menjawab teleponnya. Rasa kesal mulai menguasai dirinya. Dengan rahang mengeras, Ucok mencoba menghubungi nomor itu sekali lagi.
Kali ini panggilannya bahkan tak tersambung.
Ucok terdiam beberapa saat. Lalu ia mencoba sekali lagi. Tetap gagal. Seketika wajahnya berubah muram.
"Brengsek!" umpatnya geram.
Ia akhirnya sadar. Nomornya telah diblokir.
"Setelah nolak ngasih upah, sekarang nomor gue diblokir? Kurang ajar banget tuh bocah!"
"Kamu kan yang kemarin di rumah Pak Keenan. Ngapain di sini?"
Ucok menoleh cepat. Seorang warga yang kemarin ikut berkumpul saat Daffa berteriak memanggilnya perampok sedang berdiri beberapa meter darinya.
Ucok langsung memasang senyum canggung.
"Nggak apa-apa, Pak. Kebetulan lewat saja."
Meski pria itu tidak terlihat sepenuhnya percaya, ia tidak bertanya lebih jauh.
Ucok pun tak punya pilihan selain meninggalkan tempat itu. Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh ke belakang. Tatapannya tertuju pada rumah bercat biru itu. Rumah yang menjadi awal dari semua kekesalannya.
Beberapa detik kemudian, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Kamu mau main-main sama Ucok ya?"
Matanya menyipit.
"Baiklah... gue ikuti permainan lo."
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Kalau lo nggak mau main secara baik-baik, berarti kita main dengan cara yang lebih kasar."
Ucok melanjutkan langkahnya. Sementara itu, tanpa Yudha sadari, masalah yang selama ini berusaha ia tutupi perlahan mulai berubah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Dan ketika saat itu tiba... Bukan hanya dirinya yang akan terkena akibatnya.
Sementara itu, Kinanti baru saja selesai membereskan kamar kostnya yang sederhana. Meski tidak luas, tempat itu cukup nyaman untuk ditinggali.
Di sudut kamar, Daffa sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan dan robot kesayangannya. Wajah bocah laki-laki itu tampak ceria, seolah tak pernah terjadi apa pun. Kepolosan anak-anak memang sering kali menjadi penawar luka bagi orang-orang dewasa di sekitarnya.
“Daffa... ikut Tante belanja, yuk,” ajak Kinanti sambil merapikan jilbabnya.
Daffa langsung menoleh dengan mata berbinar.
“Aku boleh beli es krim nggak, Tante?”
Kinanti tersenyum.
“Boleh dong.”
“Asyik!”
Bocah itu segera bangkit dari lantai. Sebelum pergi, ia menoleh ke arah mainan-mainannya yang masih berserakan.
“Kalian aku tinggal sebentar ya. Jangan berkelahi.”
Kinanti tak kuasa menahan senyum melihat tingkah lucu Daffa.
“Ayo, Tante.”
Kinanti baru saja hendak melangkah menuju pintu ketika ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar. Ia meraih ponsel itu dan melihat nama pengirim pesan….Keenan.
Perlahan ia membuka pesan tersebut.
>>Terima kasih... makanannya enak sekali. Aku berharap kamu mau kembali ke rumah ini dan kita bisa makan bersama lagi>>
Mata Kinanti seketika terasa panas. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya. Jujur saja, ia tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan Keenan. Apalagi setelah pria itu selalu berusaha membelanya dan memperlakukannya dengan begitu baik.
Namun, apa yang dilakukan Yudha dan Tiara sudah melampaui batas kesabarannya. Ia butuh waktu. Butuh ruang untuk menenangkan hati dan pikirannya.
“Pesan dari Ayah ya, Tante?” tanya Daffa yang berdiri di sampingnya.
Kinanti mengangguk pelan.
“Ayah bilang apa?”
“Ayahmu mengucapkan terima kasih. Katanya masakan Tante enak.”
Beberapa saat kemudian Daffa kembali berkata,
“Ehm... Tante.”
“Ya?”
“Gimana kalau kita ajak Ayah tinggal di sini?”
Kinanti mengernyit heran.
“Tinggal di sini?”
“Iya. Biar Tante nggak capek-capek kirim makanan buat Ayah setiap hari.”
Ucapan polos itu membuat hati Kinanti menghangat sekaligus terasa nyeri.
“Nggak bisa begitu, Sayang. Karena Mas Yudha dan Mbak Tiara nggak mungkin tinggal sendirian di rumah.”
Daffa langsung menggembungkan pipinya. “Mas Yudha sama Mbak Tiara sudah jahat sama Tante. Biarin saja mereka tinggal berdua.”
Kinanti hanya tersenyum tipis. Ia paham Daffa sedang kecewa. Namun, bagaimanapun juga Yudha dan Tiara tetap kakak-kakaknya.
“Ayo, kita belanja sekarang.”
Daffa mengangguk semangat.
Kinanti kembali menatap layar ponselnya. Matanya berhenti pada pesan dari Keenan selama beberapa detik. Jarinya sempat bergerak, seolah ingin membalas. Namun akhirnya ia mengurungkan niat itu. Perlahan ia mengunci layar ponselnya.
“Maaf, Mas. Aku masih butuh waktu untuk sendiri.”
Mahesa hemmmm ada something ini