NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 JANGAN PILIH KAMPUS KARENA MURAH

Naya duduk di sebelah ibu, membuka berkasnya satu per satu. Ibu memperhatikan setiap lembar dengan hati-hati, seolah dokumen-dokumen itu adalah benda rapuh yang bisa hancur kalau disentuh terlalu kasar. Sesekali ibu mengusap ujung kertas, membaca nama Naya, lalu tersenyum kecil dengan mata basah.

Arkan memperhatikan mereka.

Kemudian ia membuka ponselnya diam-diam.

Ikon emas berbentuk huruf T masih ada di sudut layar. Saat disentuh, layar ponsel berubah seketika. Tidak ada animasi berlebihan. Hanya tampilan gelap elegan dengan garis-garis emas yang menyusun beberapa menu.

[SISTEM TRILIUNER ABSOLUT]

[Status: Aktif]

[Saldo Adaptasi Awal: Rp2.999.999.9xx.xxx]

[Otoritas Aset Level 1: Aktif]

[Estimasi Aset Dapat Dikendalikan: Rp25.000.000.000.000]

[Prioritas Terdeteksi: Keluarga]

Di bawahnya, ada beberapa pilihan:

[Aset Lokal]

[Perlindungan Hukum]

[Rekening Cadangan]

[Properti Layak Huni]

[Kendaraan]

[Riwayat Risiko Sosial]

Arkan menatap menu itu lama.

Properti Layak Huni.

Kendaraan.

Dua kata itu terasa seperti pintu menuju hidup baru. Namun setiap kali membayangkan ibu masuk rumah besar secara tiba-tiba, Arkan bisa melihat wajah takutnya. Ibunya bukan orang yang mudah menerima perubahan mendadak. Seumur hidup, perempuan itu terbiasa mengukur segalanya. Harga beras, biaya obat, listrik, uang bensin, uang makan, bahkan jumlah lauk di piring.

Kalau Arkan tiba-tiba berkata mereka harus pindah ke rumah mewah, ibu mungkin bukan bahagia dulu.

Ia mungkin panik.

[Sistem menyetujui analisis.]

[Perubahan ekstrem dapat menimbulkan penolakan emosional.]

[Rekomendasi: transisi bertahap.]

Arkan sedikit terkejut.

“Tumben kau tidak menyuruh langsung beli mansion.”

[Sistem tetap merekomendasikan pembelian tempat tinggal baru.]

[Namun sistem memahami bahwa keluarga Tuan Rumah tidak terbiasa menerima kenyataan yang terlalu masuk akal bagi sistem tetapi terlalu tidak masuk akal bagi manusia.]

Arkan memandangi layar.

Untuk pertama kalinya, sistem terdengar… membantu.

Tidak sepenuhnya menyebalkan.

Lalu sistem melanjutkan.

[Opsi transisi tersedia.]

[1. Rumah kontrakan premium sederhana.]

[2. Rumah cluster aman dan nyaman.]

[3. Rumah pribadi modern ukuran sedang.]

[4. Mansion keluarga.]

[5. Kawasan pribadi.]

[Rekomendasi awal: opsi 2.]

Arkan menatap daftar itu.

Rumah cluster.

Aman.

Nyaman.

Tidak terlalu mencolok.

Mungkin itu masuk akal. Tidak seperti mansion. Tidak seperti gedung besar. Hanya rumah yang lebih baik. Tempat ibu bisa tidur tanpa mendengar bocor saat hujan. Tempat Naya bisa belajar tanpa terganggu suara tetangga bertengkar. Tempat mereka bisa menyimpan barang tanpa takut tikus menggigit kardus.

Namun tetap saja, membeli rumah dalam kondisi ini terasa terlalu cepat.

Arkan menutup layar ponsel ketika Naya menoleh.

“Bang,” panggil Naya.

“Hm?”

Naya memegang salah satu berkas, matanya mulai bercahaya lagi meski masih ada jejak tangis di sana. “Kalau berkas sudah keluar, Naya bisa daftar kampus, kan?”

Arkan menatap adiknya.

Dulu, pertanyaan itu akan membuatnya menghitung biaya pendaftaran, biaya perjalanan, biaya kos, biaya hidup, uang makan, buku, seragam, laptop, dan semua angka yang selalu terasa seperti tembok.

Sekarang, pertanyaan itu terdengar berbeda.

Bukan lagi apakah mereka mampu.

Tapi sejauh apa Naya berani bermimpi.

“Bisa,” jawab Arkan pelan.

Naya menunduk sedikit. “Yang dekat-dekat sini aja nggak apa-apa, Bang. Kampus mana pun asal bisa kuliah.”

Arkan terdiam.

Kalimat itu seharusnya membuatnya lega.

Namun justru membuat dadanya terasa sakit.

Naya tidak memilih berdasarkan mimpi.

Ia memilih berdasarkan rasa takut membebani keluarga.

Arkan menatap ibu. Perempuan itu juga diam, mungkin memikirkan hal yang sama. Selama ini mereka memang sering mengajari Naya untuk realistis. Jangan minta yang terlalu mahal. Jangan berharap terlalu tinggi. Jangan membandingkan diri dengan anak orang kaya. Jangan menyusahkan abang.

Namun hari ini, Arkan merasa aturan itu harus dihentikan.

Ia menatap Naya lebih lama.

“Naya,” ucapnya pelan, “mulai sekarang jangan pilih kampus karena murah.”

Naya mengangkat wajah.

Ibu juga menoleh.

Arkan melanjutkan dengan suara rendah, tetapi tegas. “Pilih kampus yang paling bagus buat masa depan kamu.”

Ruang tamu kecil itu hening.

Naya menatap Arkan seperti tidak yakin mendengar kalimatnya dengan benar. “Bang, kampus bagus itu mahal.”

“Abang tahu.”

“Kosnya mahal. Biaya hidupnya juga. Kalau di ibu kota—”

“Abang tahu.”

“Terus…”

Arkan mencondongkan tubuh sedikit. Ia tidak tersenyum besar. Tidak berbicara seperti orang yang mendadak sombong. Wajahnya justru tenang, meski di dalam kepalanya masih ada ketakutan yang belum selesai.

“Tugas kamu bukan mengecilkan mimpi karena takut biaya,” katanya. “Tugas kamu belajar dan pilih yang terbaik. Urusan biaya, biar Abang yang pikirkan.”

Naya menatapnya lama.

Matanya mulai basah lagi.

“Bang, Naya nggak mau jadi beban.”

Arkan menggeleng pelan. “Kamu bukan beban.”

Suara itu keluar lebih lembut daripada sebelumnya.

“Kamu alasan Abang bertahan.”

Ibu menunduk, mengusap sudut matanya.

Naya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis, tetapi gagal. Ia menutup wajah dengan berkasnya sebentar, lalu tertawa kecil di antara air mata.

“Abang ngomong gitu bikin Naya makin nangis.”

Arkan akhirnya tersenyum tipis.

Di dalam kepalanya, sistem berbicara.

[Keputusan pendidikan terdeteksi.]

[Rekomendasi: universitas terbaik di ibu kota.]

[Estimasi biaya: sangat kecil.]

[Manfaat jangka panjang: tinggi.]

[Catatan: akhirnya Tuan Rumah menggunakan uang untuk sesuatu yang tidak memalukan.]

Arkan mengabaikan bagian terakhir.

Namun ia menyimpan satu hal.

Universitas terbaik di ibu kota.

Itu terdengar jauh.

Terdengar besar.

Terdengar seperti sesuatu yang dulu tidak berani mereka bicarakan di rumah kecil ini.

Tapi mungkin, mulai hari ini, mereka memang harus belajar menyebut hal-hal besar tanpa merasa bersalah.

Ibu menatap Arkan dengan wajah cemas. “Kan, Ibu tahu kamu mau bantu Naya. Tapi jangan sampai kamu memaksakan diri.”

Arkan menatap ibunya.

Kalimat itu dulu selalu masuk akal.

Hari ini, untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak lagi berlaku.

“Bu,” ucap Arkan pelan, “Arkan nggak sedang memaksakan diri.”

Ibu terdiam.

Arkan belum bisa menjelaskan semuanya. Belum bisa membuka angka. Belum bisa mengatakan bahwa uang yang mereka butuhkan untuk hidup layak kini bukan lagi masalah terbesar.

Namun ia bisa mulai dari satu hal.

Membuat keluarganya berhenti takut memilih yang terbaik.

Ia menatap Naya lagi. “Malam ini kita cari daftar kampus. Bukan yang paling murah. Yang paling bagus.”

Naya memeluk berkasnya.

Kali ini, air matanya bukan hanya karena takut.

Ada harapan di sana.

Harapan yang belum berani tumbuh terlalu tinggi, tetapi sudah mulai keluar dari tanah.

Sistem tiba-tiba menampilkan pemberitahuan kecil di sudut ponsel Arkan.

[Prioritas baru terbentuk.]

[Program Keluarga Naik Kelas: aktif.]

[Langkah awal disarankan:]

[1. Pendidikan Naya.]

[2. Kesehatan Ibu.]

[3. Tempat tinggal baru.]

[4. Kendaraan layak.]

[5. Penyelesaian kuliah Tuan Rumah.]

Arkan membaca daftar itu dalam diam.

Poin terakhir membuat dadanya sedikit sesak.

Penyelesaian kuliah Tuan Rumah.

Ia sudah lama tidak memikirkan dirinya sendiri.

Terlalu lama.

Naya masih punya masa depan.

Ibu harus dijaga.

Rumah harus diperbaiki.

Utang harus dilunasi.

Hidup harus ditata.

Tapi kuliahnya sendiri?

Mimpi yang ia tinggalkan di tengah jalan itu tiba-tiba kembali mengetuk pintu.

Arkan menunduk, menatap tangannya.

Dulu, ia pikir ia berhenti sementara.

Lalu sementara berubah menjadi entah sampai kapan.

Sekarang, sistem mengingatkannya bahwa ia juga punya hidup yang belum selesai.

[Sistem mencatat reaksi emosional.]

[Catatan: Tuan Rumah juga manusia, bukan hanya mesin penanggung beban keluarga.]

Arkan diam.

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa, terasa paling menusuk hari itu.

Sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, suara dari luar rumah terdengar.

“Bu Sari! Naya sudah pulang belum?”

Arkan mengangkat wajah.

Ibu menoleh ke arah pintu.

Naya segera mengusap matanya.

Suara itu milik Bu Lilis, tetangga sebelah yang terkenal terlalu cepat mencium kabar orang lain. Perempuan itu sering muncul dengan alasan meminjam garam, bertanya kabar, atau sekadar “lewat”, padahal tujuannya hampir selalu sama: mencari cerita baru untuk dibawa ke warung depan.

Arkan menahan napas.

Sistem langsung berbicara.

[Subjek sosial eksternal terdeteksi.]

[Kategori: tetangga penyebar informasi.]

[Potensi risiko rumor: tinggi.]

[Rekomendasi: batasi informasi.]

Arkan menatap pintu rumah yang belum tertutup rapat.

Bu Lilis muncul di ambang pintu dengan senyum lebar yang terlalu penasaran.

“Eh, sudah pulang rupanya.” Matanya langsung turun ke map di tangan Naya. “Wah, berkasnya keluar?”

Naya spontan memeluk mapnya lebih erat.

Ibu mencoba tersenyum sopan. “Iya, Lis. Alhamdulillah.”

Bu Lilis masuk setengah langkah tanpa benar-benar dipersilakan. Tatapannya bergerak cepat dari wajah Naya ke Arkan, lalu ke helm tua di tangan pemuda itu.

“Syukurlah. Tapi katanya tunggakannya lumayan, ya?” ucapnya dengan nada prihatin yang terlalu dibuat. “Akhirnya dapat uang dari mana, Kan?”

Ruangan kecil itu kembali hening.

Arkan menatap Bu Lilis.

Hari ini, ia baru saja menghadapi Pak Hendra, sistem sinis, saldo tiga triliun, otoritas aset dua puluh lima triliun, dan pertanyaan keluarganya sendiri.

Ia tidak punya tenaga untuk menghadapi tetangga yang datang membawa rasa penasaran berkedok kepedulian.

Namun sebelum Arkan menjawab, sistem berbicara dingin di kepalanya.

[Subjek mencoba menggali informasi finansial.]

[Rekomendasi respons: singkat, tidak memberi celah.]

Arkan menarik napas pelan.

Lalu ia tersenyum tipis.

“Rezeki keluarga, Bu.”

Bu Lilis berkedip, jelas tidak puas.

“Rezeki dari mana?”

Arkan menatapnya tenang.

“Dari tempat yang legal.”

Senyum Bu Lilis sedikit kaku.

Ibu menatap Arkan dengan cemas, tetapi tidak memotong.

Naya menunduk, menahan napas.

Bu Lilis tertawa kecil. “Wah, sekarang Arkan sudah pandai rahasia-rahasiaan ya.”

Arkan tidak membalas tawa itu.

Ia hanya berdiri perlahan, masih dengan pakaian sederhana, jaket lama, dan sepatu yang bekas lemnya terlihat jelas. Namun entah kenapa, saat ia berdiri, ruang tamu kecil itu terasa sedikit berubah.

Bukan karena ia menaikkan suara.

Bukan karena ia menunjukkan uang.

Tapi karena untuk pertama kalinya, Arkan tidak merasa perlu menjelaskan hidupnya kepada orang yang hanya ingin menjadikannya bahan cerita.

“Bukan rahasia, Bu,” ucapnya pelan. “Cuma bukan urusan semua orang.”

Bu Lilis terdiam.

Di dalam kepala Arkan, sistem memberi komentar puas.

[Respons meningkat.]

[Level ketegasan: cukup.]

[Catatan: Tuan Rumah mulai menunjukkan tanda-tanda tidak mudah diinjak.]

Jeda sesaat.

[Namun pakaian masih belum mendukung aura tersebut.]

Arkan menahan napas.

Sistem benar-benar punya bakat menghancurkan suasana.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!