membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.
bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.
mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.
dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 2
...2: Chelsea Louis...
...****************...
...****************...
"Cih... Menyebalkan!" Dengan perasaan dongkol yang tertahan, Valdrik terpaksa membalikkan badan dan melarikan diri, menghilang dengan cepat di balik kepulan asap medan perang.
...----------------...
Valdrik Mortis melesat pergi meninggalkan medan pertempuran dengan suasana hati yang membara oleh kekesalan. Namun, sang pengkhianat tidak berniat pergi begitu saja tanpa menorehkan ancaman.
"Tunggu saja... aku akan mendatangi kalian lagi! Dan hari itu akan menjadi hari peringatan kematian kalian!" lolongan arogannya bergema lantang di tengah kepulan asap.
Arvendel tidak berniat membiarkan kesombongan itu berlalu tanpa ganjaran. Sudut bibirnya terangkat sinis. "Mau kabur? Tidak semudah itu. Soul Slaying Technique!.."
Arvendel menghentakkan kakinya. Seketika itu juga, seberkas energi pekat berwarna biru laut melesat membelah angkasa, memancarkan aura kecemasan yang sangat mencekam. Serangan itu bergerak meliuk secepat kilat, mengejar bayangan Valdrik.
Valdrik yang merasakan bahaya instan langsung menoleh. Ia panik. Tanpa sempat menghindar, ia mengerahkan seluruh sisa energinya untuk memperkuat pertahanan fisik, memicu pelindung tubuhnya aktif secara masif dan barrier magis di sekujur tubuhnya muncul demi menahan hantaman.
Blam!... Serangan Arvendel menghantam telak. Namun, segala bentuk perlindungan fisik dan barrier yang dibangun Valdrik sama sekali tidak berguna. Pelindung itu utuh, tetapi tubuh Valdrik mendadak menegang hebat.
"Arghhh!". Valdrik melengking kesakitan, merintih di tengah pelariannya. Rasa sakit yang luar biasa menusuk langsung ke pusat kesadarannya.
Teknik Arvendel sama sekali tidak mengincar daging atau tulang, melainkan mencabik jiwanya dari dalam.
"Sial! Sialan!" desis Valdrik dengan napas tersengal dan keringat dingin yang mengucur deras. "Seharusnya aku mendengarkan peringatan Forsaken Shadow Witch untuk segera pergi sejauh mungkin tanpa memprovokasi kedua keparat itu!.."
Dengan jiwa yang terluka, Valdrik mempercepat tubuhnya memacu diatas langit, dan menghilang sepenuhnya dari area kekaisaran.
Di tempat arvendel berdiri sekarang terlihat dirinya mendengus puas. Meskipun serangan barusan tidak sampai merenggut nyawa Valdrik, setidaknya luka jiwa itu akan menyiksanya dalam waktu yang lama.
"Nah, sekarang... saatnya mengurus anak ini," gumam Arvendel, menatap tubuh Kenzie yang masih terbaring pingsan di atas tanah, sebelum akhirnya menggendong remaja itu di punggungnya.
...----------------...
Sementara itu, dari arah reruntuhan yang lain...
Seorang anak gadis yang usianya sebaya dengan Reinzie tengah berlari kencang. Wajahnya yang cantik dan imut tampak kotor oleh debu, dipenuhi kepanikan yang luar biasa.
"Rein! Rein! Bangun, Rein!" teriaknya parau, berharap suaranya mampu menembus kesadaran pangeran muda itu.
Gadis kecil itu adalah Chelsea Louis, putri dari seorang jenderal veteran terkemuka yang memegang benteng pertahanan Kekaisaran Laurent.
Langkah kaki Chelsea terhenti mendadak saat ia berhasil mencapai titik tempat Reinzie terkapar. Namun, di saat yang bersamaan, sesosok pria dewasa berpakaian abu-abu bercorak muncul dari balik puing-puing bangunan. Sebuah tombak panjang terselip kokoh di punggungnya.
Pria itu adalah Vargan. Chelsea yang melihat kehadiran orang asing yang mencurigakan, dengan refleks yang luar biasa polos langsung menghunus belati kecil dari pinggangnya. Ia mengacungkan senjata itu ke arah Vargan, mencoba memasang wajah segarang mungkin demi menggertak sang pendekar.
"Tolong diam di tempat!" ancam Chelsea, suaranya gemetar namun penuh sarat keberanian. "Jika Anda berani melangkah maju, aku akan menusuk anda dengan belati ini!"
Vargan tertegun sejenak, lalu senyum lembut mengembang di wajahnya yang tegas. Baginya, gertakan gadis kecil ini justru terlihat sangat menggemaskan. Demi menunjukkan bahwa dirinya bukanlah ancaman, Vargan mengangkat kedua tangannya dengan santai.
"Aku datang untuk menolong teman Kecilmu. Bukan untuk mencelakainya. Jadi, kumohon turunkan senjatamu," ucap Vargan dengan nada setenang mungkin.
Chelsea menyipitkan matanya, menyeringai waspada. "Aku meragukan ucapan Anda, Tuan. Walaupun aku masih anak-anak, aku tidak akan tertipu dengan mudah!"
"Sungguh, aku sangat serius dengan perkataanku," Vargan terkekeh pelan. Namun tetap memperlihatkan sikap ramah "Bagaimana kalau aku membuktikannya padamu sekarang?"
"Dengan cara apa?" tuntut Chelsea
Vargan merogoh kantong pinggangnya, lalu mengeluarkan sebuah butiran obat yang memancarkan aroma herbal yang sangat pekat dan menenangkan. "Lihatlah. Ini adalah pil penyembuh tingkat tinggi. Harganya sangat mahal, dan aku akan memberikan pil ini secara cuma-cuma untuk temanmu."
Chelsea memandangi pil di tangan Vargan, lalu beralih menatap mata pria itu. Melihat sikapnya yang tenang dan pil berharga itu... sepertinya dia tidak berbohong, batin Chelsea menilai dengan sangat seksama.
Kepolosan khas anak-anak akhirnya membuat rasa waspada Chelsea melunak. Ia menurunkan belatinya. "Baiklah, aku percaya pada Anda."
"Terima kasih atas kepercayaannya, Gadis Kecil," ujar Vargan seraya mengulurkan pil tersebut. "Ambil ini, dan masukkan ke dalam mulut temanmu."
"Baik." Chelsea menerima pil itu dengan patuh dan segera membantu Reinzie meminumnya.
...----------------...
Berselang beberapa menit kemudian, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Arvendel tiba di tempat itu dengan Kenzie yang terkulai pingsan di punggungnya.
Melihat kedatangan pria misterius lain yang membawa pangeran pertama, Chelsea kembali tersentak panik. Tanpa pikir panjang, ia kembali mengangkat belatinya dengan waspada, mengarahkannya tepat ke wajah Arvendel dengan pandangan penuh selidik.
Arvendel tidak memperdulikannya. Tatapan elangnya justru tertuju pada Vargan. "Mengapa kamu lama sekali?"
Vargan menghela napas pasrah, menunjuk Chelsea dengan dagunya. "Lihat sendiri. Aku sedikit kerepotan menghadapi pengawal kecil pangeran ini."
Chelsea yang merasa sedikit panik bertanya dengan sisa keberaniannya, "Siapa Anda sebenarnya?! Mengapa Anda membawa Pangeran Kenzie?!" tuntut Chelsea, suaranya meninggi akibat rasa cemas yang memuncak.
Arvendel melunakkan ekspresi wajahnya, mencoba menampilkan senyum ramah yang menenangkan. "Aku datang untuk memeriksa keadaan pangeran kedua, dan aku sudah mengobati pangeran pertama!..." senyum manis terukir lebar di wajah arvendel.
Sebelum Arvendel sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah lenguhan lemah terdengar dari punggungnya. Kenzie rupanya telah tersadar sejak beberapa saat lalu.
"Chelsea... Tolong hormati Tuan ini. Turunkan belatimu... dan bersikap sopanlah pada beliau," ujar Kenzie dengan nada suara yang sangat lemah, memberikan teguran lembut pada pengawal kecil adiknya.
Chelsea seketika menurunkan senjatanya, wajahnya memerah karena malu sekaligus bersalah. "M-Maafkan Chelsea, Kak Ken..." ucapnya lirih sambil menunduk dalam.
Arvendel terkejut lalu ia menimpali perkataan Kenzie, "Tidak apa-apa. Sangat wajar baginya untuk menaruh rasa curiga, melihat situasi di sekitar kita sedang kacau balau seperti ini, sangat wajar baginya untuk waspada pada orang yang ia tidak kenali." potong Arvendel. suaranya terdengar berat namun penuh dengan kebijaksanaan yang menenangkan hati.
Kenzie mengangguk lemah di pundak Arvendel. "Terima kasih, Tuan, karena telah memaklumi kelakuan adik kecilku ini."
Di saat obrolan itu berlangsung, dampak pil penyembuh Vargan mulai bekerja. Kelopak mata Reinzie bergerak perlahan, sebelum semua orang menyadarinya dan akhirnya mata reinzie terbuka sepenuhnya. Kesadarannya telah kembali.
Kenzie meliriknya dan melihat adiknya telah siuman akhirnya hatinya lega, "Rein! Kamu akhirnya siuman!" Kenzie bergegas turun dari gendongan Arvendel dengan tubuh yang masih goyah. Ia berlutut di samping adiknya, wajahnya dipenuhi kecemasan yang sangat mendalam. "Apakah ada bagian tubuhmu yang terluka, Rein?"
Reinzie mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan jiwanya yang sempat melayang. "Kak Ken... Aku... aku baik-baik saja." Namun, detik berikutnya, ingatan tentang pertempuran malam itu menghantam kepalanya. Tatapan Reinzie mendadak panik.
"Kak, bagaimana dengan keadaan Ayahanda dan Ibunda? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya reinzie menuntut kepastian
Kenzie tertegun. Lidahnya mendadak kelu. Ia tahu kebenaran mengerikan di balik ledakan serangan milik Valdrik, namun ia tidak sanggup menghancurkan hati adiknya yang baru berusia dua belas tahun itu.
"Aku... aku juga tidak tahu dengan pasti, apakah mereka baik-baik saja, Rein," dusta Kenzie, suaranya bergetar menahan perih di dada.
"Lalu, di mana Ayahanda dan Ibunda sekarang, Kak? Kenapa mereka tidak ada di sini?" cecar Reinzie lagi, menatap kakaknya penuh harap.
"Mereka... Mereka ada di..." Kenzie menggantung kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak mampu melanjutkan kebohongan itu.
Melihat keraguan Kenzie, Arvendel memutuskan untuk mengambil alih situasi. Ia melangkah maju, memutus kalimat Kenzie dengan suara datar tanpa ekspresi.
"Kaisar dan kedua permaisuri telah tiada. Mereka meninggal akibat dampak langsung dari serangan dahsyat milik Valdrik," ucap Arvendel, menyampaikan fakta pahit itu secara telanjang tanpa berniat menutup-nutupinya.
Deg!... Jantung Reinzie seakan berhenti berdetak. "T-Tidak mungkin... Bagaimana bisa Ayahanda dikalahkan begitu saja? Anda bohong!"
Air mata Reinzie menetes tanpa bisa ia bendung lagi. Dadanya mendadak sesak, dihantam oleh gelombang kesedihan yang teramat berat dirinya terima.
Melihat adiknya hancur, Kenzie tidak bisa tinggal diam. Sebagai kakak tertua, ia memaksakan diri untuk bergerak maju, menarik tubuh kecil Reinzie ke dalam pelukan hangatnya.
Di dalam hatinya, Kenzie juga menangis darah. Namun, di depan sang adik, ia merasa harus mengunci emosinya. Ia harus terlihat kuat dan tegar agar bisa menjadi sandaran yang pantas bagi adiknya yang kini kehilangan arah.
"Kak Ken... Apakah perkataan Tuan itu benar?" tanya Reinzie di sela tangisnya, tubuhnya gemetar hebat di dalam dekapan Kenzie.
Kenzie memejamkan mata erat-erat, menguatkan hatinya sebelum menjawab apa adanya. "Kemungkinan besar... begitu, Rein. Kakak juga jatuh pingsan akibat hantaman energi dari jurus Valdrik yang begitu dahsyat..."
Reinzie mendongak, menatap wajah Kenzie dengan pandangan terluka. "Apakah Kakak tidak sedih dengan kematian Ayahanda dan Ibunda? Mengapa... mengapa Kakak terlihat seperti baik-baik saja?!"
Pertanyaan polos namun menusuk itu meruntuhkan pertahanan terakhir Kenzie. Topeng ketegaran yang ia bangun dalam sekejap hancur berkeping-keping. Pertanyaan adiknya menyadarkan Kenzie bahwa ia hanyalah seorang bocah berumur lima belas tahun yang kini sebatang kara.
Kenzie tak kuasa lagi menahan bendungan air matanya. Tangisnya pecah seketika. Tubuhnya ikut gemetar, dan ia terpaksa membekap mulutnya sendiri dengan tangan agar isak tangisnya yang rapuh tidak terdengar semakin menyedihkan di hadapan sang adik. Kedua pangeran Laurent itu menangis sejadi-jadinya di atas puing-puing kejayaan keluarga mereka.
Arvendel mengalihkan pandangannya ke arah langit malam yang kian pekat. Ia tahu momen duka ini harus diakhiri demi keselamatan mereka semua.
"Para Pangeran, sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini sebelum Valdrik atau para monster mendeteksi keberadaan kita," interupsi Arvendel tegas, memotong pusaran duka yang ada di tempat itu agar mereka tidak terjebak lebih lama di tanah kekaisaran yang telah runtuh, arvendel sengaja berbohong demi menghemat waktunya agar mereka segera pergi dari tempat kacau ini.
...****************...
setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..