NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 : Anting siapa?

Alexander masih berdiri di tengah kamar dengan rahang mengeras. Tatapannya kembali jatuh pada sprei yang kusut. Bercak merah itu masih ada di sana. Beberapa helai rambut panjang juga belum berpindah dari tempatnya.

Dadanya terasa semakin sesak. "Aku melakukan apa semalam..."

Ia berusaha memaksa otaknya mengingat. Klub. Minuman. Pak Ganjar. Lalu...kosong. Hanya ada beberapa potongan samar. Suara seorang wanita, aroma sampo yang lembut. Dan seseorang yang terus memanggilnya dengan suara panik.

Namun wajahnya sama sekali tidak muncul. Alexander mengusap wajahnya kasar... sial. Ia memutuskan mandi lebih dulu untuk menjernihkan pikirannya.

Namun saat melangkah menuju kamar mandi, kakinya tiba-tiba menginjak sesuatu. Alexander berhenti, ia menunduk. Sebuah benda kecil berkilau tergeletak di lantai dekat sisi ranjang, lalu ia mengambilnya. Sebuah anting, anting wanita. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap benda itu tanpa berkedip.

Jantungnya berdetak semakin keras. "Astaga..."

Kalau semalam memang ada wanita di kamar ini, berarti semua yang dilihatnya bukan sekadar halusinasi. Anting itu jelas bukan miliknya. Dan jelas bukan milik petugas hotel.

Alexander menggenggam benda kecil itu erat. "Siapa pemilik anting ini ..."

Namun tidak ada jawaban, beberapa menit kemudian ia masuk ke kamar mandi. Air dingin membasahi wajahnya, tetapi kepalanya tetap terasa berat. Semakin ia berusaha mengingat, semakin frustrasi dirinya.

Dua puluh menit kemudian.

Alexander keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi. Ia langsung meraih ponselnya, nama pertama yang dihubunginya adalah Pak Ganjar.

Telepon tersambung cukup cepat.

"Halo, Tuan."

"Pak Ganjar."

"Ya, Tuan?"

Alexander terdiam sesaat sebelum akhirnya bertanya. "Semalam... apa yang terjadi?"

Di seberang sana, Pak Ganjar terlihat bingung. "Maksud Tuan?"

"Setelah dari klub."

"Oh."

Pak Ganjar mengingat-ingat.

"Saya menjemput Tuan."

"Itu aku tahu."

"Lalu kita kembali ke hotel."

Alexander memejamkan mata. "Siapa yang ikut menjemputku?"

Beberapa detik hening.

Kemudian Pak Ganjar menjawab. "Nona Dara, Tuan."

Deg.

Alexander langsung membeku. "Apa?"

"Iya Tuan, karena saat Saya meminta Nona Rina. Nona Rina masih menyelesaikan proposal, jadi yang datang bersama saya semalam adalah Nona Dara."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Alexander tidak mengatakan apa-apa.

Pak Ganjar mulai merasa ada yang aneh. "Tuan?"

Alexander masih diam. Entah kenapa jantungnya terasa jatuh. Potongan-potongan ingatan samar mulai muncul. Seseorang menopangnya, seseorang memanggil namanya dan suaranya terdengar memang sangat mirip... Dara.

"Tuan?" Suara Pak Ganjar kembali terdengar.

Alexander perlahan menunduk. Tatapannya jatuh pada anting yang masih berada di tangannya. Tangannya mulai mengepal.

"Setelah sampai hotel..." suaranya terdengar jauh lebih pelan. "Apa yang terjadi?"

Pak Ganjar berpikir sejenak. "Saya dan petugas hotel membantu membawa Tuan ke kamar."

"Lalu?"

"Nona Dara ikut masuk sebentar untuk memastikan Tuan baik-baik saja."

Deg.

Alexander langsung menutup mata.

"Lalu saya keluar."

Jantungnya semakin berdebar. "Dara keluar kapan?"

Pak Ganjar terdiam. "Itu... saya tidak tahu, Tuan."

Alexander membuka mata perlahan. Tatapannya kosong, anting itu masih berada di telapak tangannya. Dan kali ini, firasat buruk yang sejak tadi menghantuinya berubah menjadi ketakutan yang nyata.

Kalau wanita semalam benar-benar Dara. Maka ada kemungkinan sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Sesuatu yang bahkan tidak ingin ia bayangkan.

Alexander berdiri diam cukup lama. Sampai akhirnya ia berkata dengan suara rendah "Pak Ganjar."

"Ya, Tuan?"

"Tolong cari tahu di mana Dara sekarang."

Pak Ganjar langsung terkejut. "Baik, Tuan."

Telepon terputus.

Alexander masih berdiri di tempat yang sama. Anting kecil itu masih berada dalam genggamannya. Dan Alexander Wiratama Dirgantara merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan.... rasa takut.

Karena jika dugaan terburuknya benar, maka ia harus menghadapi konsekuensi dari sesuatu yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan uang, jabatan, atau kekuasaan.

Suasana kafe hotel pagi itu cukup ramai. Beberapa tamu sedang menikmati sarapan sebelum memulai aktivitas mereka. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan.

Dara dan Rina sudah duduk di salah satu meja dekat jendela. Rina sibuk memeriksa jadwal penerbangan mereka di tablet. Sedangkan Dara hanya menatap secangkir teh hangat di depannya. Nafsu makannya hilang, semalaman ia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, ingatan tentang malam itu kembali muncul. Membuat dadanya terasa semakin sesak.

"Dara."

"Hm?"

"Kamu makan dong."

"Iya."

Namun sendok di tangannya bahkan tidak bergerak. Kini Dara mulai menguncir rambutnya

Rina menghela napas. Lalu tiba-tiba tatapannya berhenti pada telinga Dara. "Dara."

"Iya?"

"Kok anting kamu cuma sebelah?"

Deg.

Dara langsung membeku, refleks tangannya menyentuh telinga kiri... kosong. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Astaga, antingnya hilang.

Dara langsung berdiri.

"Ada apa?" tanya Rina.

"Antingku..."

Dara buru-buru melihat ke bawah meja. Mungkin terjatuh di lantai, di kamar, atau mungkin... Pikirannya mendadak berhenti. Karena untuk sesaat ia teringat kamar Alexander. Wajahnya langsung pucat.

"Dara?" panggil Rina lagi.

Namun Dara sudah menunduk mencari ke sekitar kursi. Saat itulah, sebuah bayangan berhenti di samping meja mereka. Lalu sebuah tangan besar muncul di hadapannya. Di telapak tangan itu terletak sesuatu yang sangat dikenalnya, anting miliknya.

Deg.

Mata Dara membelalak. "Ini kan..."

Tangannya gemetar saat menerima anting tersebut. "Ini anting saya..."

Perlahan ia mengangkat kepala. Dan napasnya langsung tertahan. Alexander, pria itu berdiri tepat di depannya. Sudah mengenakan setelan jas gelap yang rapi seperti biasa.

Namun entah kenapa hari ini wajahnya terlihat jauh lebih dingin. Dan jauh lebih serius, Dara langsung menggenggam anting itu erat. Dadanya kembali terasa sakit, malam itu langsung terlintas dalam pikirannya.

Ia buru-buru mengalihkan pandangan. "Terima kasih, Tuan." Suaranya terdengar pelan.

Alexander memperhatikannya beberapa detik. Tatapannya turun ke wajah Dara. Matanya sembab, meski sudah berusaha ditutupi dengan riasan tipis, tetap terlihat jelas. Dan entah kenapa itu membuat dada Alexander semakin tidak nyaman.

"Dara."

Wanita itu langsung menegang. "Iya, Tuan?"

"Kita perlu bicara."

Deg.

Jari Dara langsung mencengkeram anting di tangannya. Sedangkan Rina yang duduk di samping mereka mulai merasa suasana menjadi aneh.

Tatapan Rina berpindah dari Dara ke Alexander. Lalu kembali ke Dara. "Apa ada masalah, Tuan?" tanyanya bingung.

Alexander tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Dara. Sementara Dara sama sekali tidak berani menatap balik. Kini Alexander melihat Dara berusaha menghindarinya. Dan itu membuat firasat buruk di hatinya semakin kuat.

"Ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan pada Dara," ucap Alexander akhirnya.

Dara menunduk. "Baik, Tuan."

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu percakapan itu adalah percakapan yang paling ingin ia hindari. Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjelaskan apa yang terjadi. Dan Alexander... ia juga tidak yakin siap mendengar jawabannya.

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!